"Dek Sarah..." Ali menepuk pelan pipi Sarah yang masih tertidur lelap di sofa ruang kerjanya meski hari sudah beranjak petang.
"Enghh.." Sarah menggeliat, tetap dengan mata terpejam.
"Bangun, sudah sore, kita pulang."
Sarah membuka mata perlahan. Eh? Dimana ini? Ia bangun dan duduk dengan ling lung. Ohh iya, ini masih di toko buku kak Ali.
Kruk! Kriuk!
"Ehh hehehe... kak Ali, Sarah lapar," ujar Sarah sambil mengucek kedua matanya.
"Cuci muka dulu, sekalian pulang kita cari makan." Ali terkekeh melihat tingkah istri labilnya itu, dalam kondisi apapun yang diingat selalu saja soal makanan.
"Sarah mau makan apa?" tanya Ali. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Nasi goreng sama cap jay."
"Oke, kita cari sambil jalan."
"Sarah punya langganan, dijamin enak banget deh pokoknya."
"Oya, dimana?"
"Lurus aja, ntar Sarah tunjukin."
Ali mengangguk setuju, memang untuk referensi makan di luar dirinya tidak terlalu tau, karena jarang makan di luar. Ayah dan Bunda membiasakan kepada ketiga anaknya untuk makan bersama di rumah.
***
"Di sini?" Ali mengerutkan dahi. Ternyata langganan Sarah ialah penjual nasi goreng di pinggir jalan di kawasan depan stasiun. Bukan Ali tak suka, hanya tidak menyangka saja, seorang gadis mau ngemper di pinggir jalan.
"Kak Ali mau pesen apa?" Sarah bertanya penuh semangat.
"Hmm, cap jay aja."
"Ok," Sarah mengacugkan jempolnya, "Pak Jan, cap jay dua, nasgor jumbo satu ya."
"Non Sarah, lama gak pernah mampir." Bapak penjual nasi goreng itu ternyata mengenal Sarah.
"Iya nih pak, lagi dihukum, dikurung di rumah hehehe," jawab Sarah asal.
"Oh gitu. Tunggu bentar ya non. Bapak bikinin yang spesial khusus non Sarah."
"Sip...Makasih pak."
Sarah dan Ali duduk di pinggir trotoar dengan bersila kaki sambil menunggu pesanan mereka siap. Ia menoleh terkejut saat tangannya digenggam oleh Ali. Matanya mendelik melihat Ali tersenyum lembut padanya.
"Kak Ali, jangan gini dong..." Sarah berusaha menarik kembali tangannya, tapi Ali menahannya.
"Kenapa?" tanya Ali kalem,
"Malu diliatin orang, dikira kita pacaran."
"Hmm gitu ya? Apa perlu kak Ali umumin di sini kalau Sarah itu sudah sah jadi istri kak Ali?"
Sarah melotot. "Ja.. jangan dong."
Ali tergelak melihat Sarah gelagapan. Gadis yang unik dan cantik yang telah memikat hatinya.
"Sarah cantik," ujar Ali masih menatap lekat wajah Sarah.
"Risih Kak, apaan sih? udah deh." Sarah menutup mata Ali dengan kedua tangannya.
Ali terkekeh geli. Ia menarik kedua tangan Sarah dan mencium punggung tangannya. Ali tak bisa lagi menahan tawanya saat melihat reaksi Sarah, dia bergidik ngeri sembari menarik tangannya. Ada ya cewek yang gak suka dipuji cantik, gak suka dicium dan gak suka diperlakukan romantis?
"Ini non, cap jay dulu. Nasi goreng, bapak bikinin dulu."
Sarah bernapas lega ketika pak Jan datang membawa pesanan mereka. Demi Tuhan, seluruh tubuhnya sudah seperti dikerubung semut menerima perlakuan Ali. "Hmm... baunya enak. Makasih ya pak."
Sarah menyerahkan sepiring cap jay untuk Ali dan sepiring lagi ia makan sendiri. Sarah makan dengan lahap tanpa mempedulikan Ali yang makan sambil terus menatapnya. Biarin aja dah, mau diliatin kek, mau dipelotin, perut sudah demo minta makan juga.
"Ini non, nasi gorengnya, jumbo spesial seperti biasa."
"Waah, makasih Pak." Sarah menerima sepiring nasi goreng jumbonya dengan mata berbinar.
Ali tersenyum menyaksikan kegembiraan Sarah saat makan. Ia mengambil saputangan dari dalam saku celananya. Ia mengelap pipi dan dagu Sarah yang belepotan kuah cap jay.
"Kak Sarah?"
Ali dan Sarah mendongak mendengar ada yang memanggil Sarah. Seorang anak laki-laki, usia kisaran 9 tahun, dengan wajah kusut dan penampilan yang lusuh menghampiri mereka.
"Beni, sudah malam, kenapa belum balik?" Sarah bertanya Heran. Terlebih Ali, dia pun makin heran karen ternyata Sarah mengenal anak yang bernama Beni itu.
"Belum dapat setoran, Kak."
"Duduk sini." Sarah menggeser duduknya agar Beni bisa duduk diantaranya dan Ali. Ia menyerahkan sepiring nasi goreng jumbo miliknya yang belum tersentuh kepada Beni. "Ini, makan dulu."
Beni menerima sepiring nasi goreng itu dengan mata berkaca-kaca. "Ehh, boleh Beni bawa ke tempat anak-anak?" Memang seharian ini Beni belum makan sesuap nasi pun, tapi bayangan teman dan adik-adiknya yang juga kelaparan membuat dirinya mau tak mau harus berbagi dengan mereka.
Sarah terdiam. Ia tak tega pada anak-anak jalanan ini. Setiap hari mereka harus menyetorkan sejumlah uang hasil ngemis atau ngamen pada ketua preman di sini. Mereka ditarget untuk memenuhi jumlah uang yang harus dibayar, sisanya baru untuk membeli makan. Jika jatah setoran belum terpenuhi, mereka harus menahan lapar seperti Beni saat ini.
"Kalian semua belum makan?" tanya Sarah.
"Belum ada yang dapat setoran, Kak."
"Bang Jali di sana?"
Beni menggeleng, "Bang Jali lagi teler di markas, tapi tetap saja kita belum berani pulang kak."
Bang Jali adalah ketua preman di sini. Dia yang bertanggung jawab atas pengemis dan anak jalanan di daerah stasiun ini. Dia juga yang menyediakan tempat tinggal untuk mereka. Bukan rumah yang layak, hanya sebuah gerbong tua yang sudah tidak terpakai.
"Kak Ali, bawa duit lebih gak?" Sarah berbisik pada Ali.
"Bawa, kenapa?" Ali heran.
"Sarah pinjam dulu boleh?"
"Ya, tapi untuk apa?"
Sarah tidak menjawab pertanyaan Ali, ia menepuk pundak Beni, "panggil yang lain kemari."
Beni mengangguk lalu dengan cepat melesat pergi.
"Buruan mana duitnya." Sarah menadahkan tangan.
"Sarah butuh berapa?"
"Bentar." Sarah berdiri mendekati Pak Jan, penjual nasi goreng.
"Pak, kayak biasa untuk anak-anak, berapa?"
"Untuk mereka? Seperti biasa aja atuh non."
"Ok pak, makasih ya, bikinin yang banyak untuk mereka, kenyangin aja semua."
"Beres, Non." Pak Jan mengacungkan ibu jarinya, seperti sudah terbiasa mendapat pesanan seperti ini dari Sarah.
***
Mereka pulang ketika malam sudah larut. Sarah langsung mandi, gosok gigi dan berangkat tidur.
"Kak Ali, Sarah ngantuk. Tidur dulu ya..."
"Ya, tidurlah dulu." Ali menjawab sembari merapikan kamar mereka yang berantakan karena begitu masuk kamar, Sarah melempar tas sekolahnya ke segala arah, melepas sepatunya sembarangan dan membiarkan seragam sekolahnya tergeletak begitu saja di lantai.
Selesai merapikan kamar dan membersihkan diri, Ali menyusul Sarah ke tempat tidur. Ia memandangi wajah Sarah yang tertidur lelap di sampingnya, masih teringat kejadian di stasiun tadi. Istrinya ini memiliki kepedulian yang tinggi pada orang-orang di sekitarnya. Bisa dibilang dia gadis yang baik, meski kelakuannya diluar batas. Sarah merangkul dan memeluk anak-anak jalanan itu dengan ketulusan yang terpancar di wajahnya, tanpa merasa risih atau jijik meski oenampilan anak-anak itu kumuh dan bau. Dia pun tak segan membantu Pak Jan membagikan nasi goreng kepada anak-anak itu.
Tidak berhenti sampai disitu saja. Setelah memastikan anak-anak jalanan itu kenyang, Sarah menggenapi uang setoran mereka yang kurang. Ya Tuhan, mulia sekali hati gadisnya ini. Bahkan Ali sendiri tak pernah memikirkan hal ini. Rasa cinta Ali pada Sarah semakin kuat. Ya, gadis seperti Sarah patut diperjuangkan dan dipertahankan.
Ali menghela nafas pelan. Ia mengulurkan tangan dan membelai wajah putih Sarah. Ali mendekat dan mengecup kening Sarah. Satu kekhawatiran muncul dalam dirinya, entah mengapa Ali merasa jika Sarah akan meninggalkan dirinya suatu saat nanti.
"I love you... please jangan pernah pergi..." bisik Ali lirih. Ia pun ikut terlelap sambil memeluk tubuh Sarah.