8. Cemburu Berat

2367 Kata
Sarah menghela napas keras, tidak sabar melihat cara Ali mengemudi, lambat seperti siput. Ia melirik jam digital di pergelangan tangannya, sudah dua puluh menit lebih dan mereka masih di jalan? Padahal jarak rumah Sarah dan sekolah tidaklah begitu jauh. "Dek Sarah kenapa?" Ali bertanya karena melihat Sarah berkali-kali menghela napas. "Kak Ali gak bisa ya lebih cepet gitu nyetirnya? Lamban banget sih!" Bukannya tersinggung atau sakit hati, Ali malah tersenyum. "Kak Ali cuma ingin lebih lama saja berdua sama Sarah, memangnya gak boleh?" What? Sarah mendengus keras. Belum sempat menjawab Ali, ponselnya berdering. Syukurlah, setidaknya dia bisa terhindar dari gombalan Ali yang selalu sukses membuat seluruh tubuhnya geli seperti dikerubutin ulat bulu. Hii... "Halo! Sapa nih!" "Hahaha... jutek banget neng pagi-pagi?" "Jawab dulu ini siapa atau gue matiin nih?" "Iya... iya... sorry, ntar pulang sekolah Bang Dika jemput ya, kebetulan lagi main ke rumah Tante." "Ohh elo Bang? Mau ngapain jemput-jemput segala?" "Nraktir makan aja, gak boleh ya?" "Apa? Makan? Wuahahahaha... boleh kok boleh, Sarah boleh minta apa aja kan?" Sarah langsung semangat begitu mendengar kata 'makan'. "Beres..." "Oke, Sarah tungguin nih, awas klo gak jadi!" "Iya, iya... mpe ketemu ntar siang ya... bye." "Oke." Sarah mengantongi lagi ponselnya dengan wajah berbinar. Yuhuu, bakal dapat makan gratis nih, lumayan. Otak Sarah mulai berpikir kira-kira makanan apa saja yang akan ia minta pada Dika. "Siapa yang barusan?" Ali pura-pura tidak tahu. Padahal telinganya sudah panas mendengar Sarah menyebut nama Bang Dika. "Bang Dika." Sarah menjawab sambil lalu. Pikirannya masih berkeliling seputar restoran, warung atau rumah makan di sekitar sekolahnya. "Mau ngapain?" "Apa sih, cuma mau nraktir makan siang kok." "Trus Sarah mau?" "Ya iyalah... makan gratis gitu looooh..." "Sarah suka sama bang Dika?" tanya Ali tanpa basa-basi. "Heh? Ya sukalah, dia kan sodara Kak Ali." Sarah heran. "Bukan itu maksud kak Ali." "Trus apa dong?" Sarah memasang wajah lugu. "Cinta." "Apa?! Buahahahaha....wkwkwk...." Sarah meledak tertawa. Haduuh, lucu sekali kak Ali ini. Cinta? Sama Bang Dika? Amit-amit deh. Bukan tipe Sarah dia mah. "Kenapa malah tertawa?" Ali bertanya kalem. Kalem diluar, tapi bergejolak di dalam. "Kak Ali lucu. Hahaha.... haduh, perut Sarah sakit nih jadinya. Aduh... hehehe..." Sarah memegang perutnya yang kaku karena tertawa terlalu keras. "Jangan terlalu keras tertawanya. Lagipula kenapa harus tertawa? Kak Ali bertanya serius, dek Sarah." "Kak Ali konyol sih. Haha... mana mungkin Sarah Cinta sama cowok cantik macam bang Dika? Wkwkwk.... kurang Garang dia itu jadi cowok." Sarah meracau sambil mengusap air mata tawanya. Ali terdiam. Memikirkan ucapan Sarah. Cowok cantik? Kurang garang? Apa Ali juga seperti itu di mata Sarah? Apa Ali harus berubah jadi garang? Tapi garang yang kayak gimana? Apa yang tubuhnya penuh tato, tindik dimana-mana, rambuk jabrik, otot keker? Alamak itu bukan style-nya. Ali menghela nafas pelan. Kenapa susah sekali untuk terlihat dimata Sarah? "Kak Ali kenapa?" Sarah heran melihat Ali mengemudi sambil melamun. "Mau Sarah gantiin aja nyetirnya, gak konsen gitu." "Ehh? Gak papa. Ehm, kenapa Sarah suka sama cowok bertato, berotot, dan banyak tindik dimana-mana?" tanya Ali. "Hahh?! Emang Sarah pernah bilang gitu?" "Lha barusan, katanya suka cowok garang." Sarah kembali meledak tertawa sampai air matanya keluar. "Haduuh, perut Sarah sakit, hahaha... udah deh Kak Ali jangan bercanda terus. Hahahha..." Sarah mengelap air matanya. Sesekali tawanya masih terdengar. Ali meringis. Jadi sejak tadi, Sarah mengira dirinya hanya bercanda? "Dek, kak Ali serius." "Ohh serius ya? Hahaha... jangan samain cowok garang sama cowok berandalan dong kak, beda itu." Sarah menahan tawa. "Bedanya dimana?" "Lha iya beda. Kalo yang Ali sebut tadi itu ciri cowok berandalan tuh. Nah, kalo cowok garang itu emm... gimana ya jelasinnya... yah pokoknya gitu deh. Sebangsa Iko Owais, Jo Taslim, Bruce lee, Andi lou, ya gitu deh..." "Kalau Justin Bieber, Ariel Noah, Aliando Syarief?" pancing Ali "Bah!! Cowok cantik semua itu mah. Modal tampang doang. Sekali tendang juga tepar mereka. Hahaha...." Ali manggut-manggut. Senyum kemenangan terukir di wajahnya. Bagaimana pun kalau dibanding Dika, Ali lebih mendekati kriteria cowok idaman Sarah. Diam-diam begini Ali sudah mengantongi sabuk hitam, Ali juga beberapa kali juara lomba memanah, berenang juga jago, jadi masih bisalah dibanggakan. **** Sepulang sekolah, seperti yang sudah dijanjikan, Dika sudah menunggu Sarah di luar gerbang sekolahnya. Ia tertawa lebar ketika melihat Sarah berlari ke arahnya sambil berteriak memanggil namanya. "Bang Dikaaaa...!" Dika melambaikan tangan untuk menjawab teriakan Sarah. Gadis unik yang sudah berani mencuri perhatiannya. Ia merentangkan tangan bersiap memeluk Sarah ketika gadis itu sudah dekat. Hah! Sepertinya dia harus menahan malu karena Sarah tidak menyambutnya sesuai yang ia perkirakan. Gadis malah mengajaknya ber-tos ria. Ya, harusnya Dika sudah tahu ini. Di belakang Sarah, Ali mengikuti dengan wajah kaku. Ia tidak suka dengan sikap Dika yang sembarangan. Seharusnya Bang Dika tahu jika Sarah itu bukan lagi cewek bebas. "Bang," sapa Ali kaku seraya mengulurkan tangan untuk menyalami Dika. Sama. Dika juga menyambut uluran tangan Ali dengan ekspresi kaku di wajahnya. "Waaahh... ponsel Sarah ketinggalan di gudang nih," ucapan Sarah membuyarkan adu mata antara Ali dan Dika. "Kak Ali, Bang Dika tungfu sini bentar ya, Sarah ceper kok," ujar sarah langsung melesat lari kembali masuk ke dalam sekolah. "Bang Dika ada urusan di sini?" tanya Ali. "Hmm, sore nanti bang Dika diminta gantiin papa dan mama, menghadiri pernikahan anak dari rekan bisnis mereka. Rencana mau ajak Sarah untuk nemenin sebentar," jawab Dika setengah melamun. Ia membayangkan jika saja saat ini Sarah masih sendiri, mungkin dirinya pun akan langsung mengikat Sarah dan meng-klaimnya sebagai miliknya. Tapi sayang, itu hanya angan-angan. Sarah sudah ada yangmemiliki. Pertemuan pertama mereka, membuat Dika tak bisa melupakan Sarah. "Cewek bang Dika kan banyak, bisa diajak satu kan?" Ali tak bisa menutupi nada tidak suka dalam suaranya. "Hmm... lagi gak ada cewek, males lah sama mereka... ribet banget." Dika menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Pikirannya terus mengingat Sarah. "Tumben bang Dika betah jomblo? Kata budhe, bang Dika selalu ganti yang baru, seminggu sekali. Jadi tiap sabtu pasti beda lagi ceweknya." Ali berusaha tersenyum. Perasaannya mengatakan ada yang tidak beres. Dika terlihat berbeda dari biasanya. Dika selalu ceria dan percaya diri, tidak pendiam dan formal seperti ini pada Ali. Dika mengatur nafas sambil memijit pangkal hidungnya. Akhir-akhir ini kepalanya sering pusing karena memikirkan sesuatu yang tak pasti. "Apa yang bisa lo kasih buat Sarah?" Tembak Dika langsung. "Wah, maksud bang Dika apa nih? Ali gak ngerti." Ali pura-pura bingung. Padahal Ali sedikit bisa membaca arah pembicaraan Dika. Firasat Ali benar. Dika tertarik pada istrinya. Dika tersenyum. Senyum yang dipaksakan. "Gue suka sama Sarah. Gue serius." Ali terkejut. Benar-benar tak menyangka Dika akan berkata sejujur ini padanya. Awalnya Ali mengira Dika akan berusaha menutupi ini darinya. "Bang, kita saudara. Sejak kecil kita sering bareng-bareng. Ali berharap, jangan hanya karena masalah sepele seperti ini, hubungan kita jadi renggang." "Sepele ya? Oke, gue juga gak ingin persaudaraan diantara rusak. Makanya gue pingin ngomong langsung sama lo. Gue mau minta secara baik-baik. Bisa lo serahin Sarah sama gue?" Tubuh Ali mengejang. Rahangnya mengeras. Amarahnya mencapai puncak. Ini sudah keterlaluan. "Sarah bukan barang bang!" "Gue tau. Gue udah mikirin ini ribuan kali, tapi setiap harinya gue mikirin Sarah, perasaan gue makin kuat. Sejak kita ketemu dirumah eyang, gue stalking Sarah. Mulai dari i********:, twitter, dan facebooknya. Sarah beda, dia gadis yang gue cari selama ini. Gadis yang gue butuhin." Ali memejamkan mata, mengatur nafas. Ia mengepalkan tangan menahan emosi. Inilah yang Ali khawatirkan. Akan banyak saingan ketika mereka menyadari kelebihan Sarah. Sarah menarik dengan caranya sendiri. Ia tidak secantik gadis-gadis yang kebanyakan perawatan di salon. Tapi, kecantikan alami Sarah menjadi daya pikat tersendiri bagi cowok-cowok yang males ribet dan ingin serius. "Maaf bang, Ali gak bisa. Bang Dika bisa meminta apapun dari Ali, tapi tidak dengan Sarah." Dika mengangguk sambil menghela nafas keras. Ia sudah memperkirakan hal ini. Tidak akan mungkin Ali bersedia melepaskan Sarah dengan mudah. Dika yakin Ali sangat mencintai gadis itu. Jika tidak, Ali tidak mungkin mengikat Sarah dalam pernikahan secepat ini, bahkan di usia Ali yang tergolong masih muda dan masih bersekolah. "Gue tau, lo bakal jawab seperti itu," ujar Dika sendu. "Sorry bang, bukan maksud Ali untuk mengecewakan bang Dika. Nanti pasti bang Dika akan cepat melupakan Sarah, buktinya bang Dika mudah sekali kan cari pacar." Ali berusaha mencairkan ketegangan diantara mereka. Dika menggeleng. "Lo gak ngerti Al. Gue gak pernah mencintai mereka. Mereka yang mengemis minta jadi pacar gue. Gue gak pernah tau apa itu cinta, sampai gue ketemu Sarah. Gue tau, gue salah karena mencintai milik lo. Tapi gue gak menyesalinya Al. Yang gue sesali cuma satu. Kenapa harus elo yang lebih dulu ketemu Sarah." Ali bergeming. Ia tak bisa membayangkan jika Sarah bertemu dengan bang Dika lebih dulu. Bagaimana jika Ali bertemu Sarah, setelah gadis itu resmi menjadi milik Dika? Hanya memikirkan kemungkinan itu saja sudah membuat Ali merasa frustasi. Rasa-rasanya Ali bisa memahami perasaan Dika. Ali mendekati Dika dan duduk di sebelahnya. Ali menepuk-nepuk pundak Dika. "Sabar bang. Ali yakin suatu saat bang Dika bakal nemuin cewek yang jauh lebih baik dari istri Ali." Ali sengaja menekankan kata 'istri Ali' untuk menegaskan pada Dika bahwa Sarah bukanlah gadis bebas. *** Laras memindahkan acara makan siang keluarganya di teras belakang rumah. Begitu Kakak sepupunya telpon untuk memberitahu bahwa Dika akan berkunjung ia pun sudah repot memasak banyak makanan, jadi sekalian saja ia meminta Ali dan Sarah untuk datang dan makan siang bersama. Kebetulan Raihan juga libur kerja, Alya dan Fatih juga sudah ada di rumah. Dika menelan sedikit kekecewaannya karena gagal makan siang bersama Sarah. Tante Laras menghubungi Sarah dan meminta Sarah dan Ali untuk makan siang di rumah mereka di saat yang tidak tepat. Sarah, meski gadis urakan tapi tak pernah ingin mengecewakan orang tua, sehingga dia pun membatalkan acara makan siangnya dan mengajak Dika bersama-sama pulang ke kediaman Om Rayhan. Ali makan dengan tidak tenang. Sejak tadi ia memergoki Dika mencuri pandang ke arah istrinya. Ali melirik Sarah. Istrinya itu terlihat cuek saja dan sibuk dengan makanannya sendiri. Sarah seperti tidak menyadari di meja ini ada dua orang laki-laki yang menaruh hati padanya. Tak sengaja Ali mengarahkan tatapannya ke abangnya, Fatih. Fatih terlihat terkekeh geli melihat Sarah makan. What? Bang Fatih? Ya Tuhan, jangan bang Fatih juga. Aarrrgghhh... kenapa banyak sekali laki-laki di dunia ini? "Bang Dika kenapa?" Ali tersentak mendengar Sarah menyebut nama Dika. Sontak ia menoleh ke arah Sarah. "Bang Dika kelilipan?" Sarah bertanya lagi karena melihat mata Dika berkaca-kaca. "Ehh... ohh... iya, bang Dika kelilipan." Dika salah tingkah karena kedapatan memandangi Sarah. Semua yang ada di meja makan saat ini melihat ke arahnya "Sini... Sarah tiupin. Sarah jago loh kalo disuruh niupin orang kelilipan. Rontok sekalian bulu matanya hehehe..." Semua yang ada di meja tersenyum mendengar kelakar Sarah. Ali menahan tangan Sarah. "Biar kak Ali, kamu lanjutin makan." "Udah gapapa kok." Dika mengucek matanya. Sebenarnya bukan kelilipan. Dika hanya tanpa sadar mengeluarkan air mata saat memandangi Sarah. Gadis yang ia cinta, namun tak bisa digapai. Sarah tersenyum kemudian melanjutkan makannya. "Adek mau tambah ayam lagi?" Ali menawarkan. "Uhukk.. ahakk., uhuk uhuk..." Sarah langsung tersedak makanannya mendengar ucapan Ali. Cowok sinting! Sudah dibilang berapa kali jangan panggil 'Adek'! Sarah mengumpat dalam hati. Ali membelalak ketika melihat bukan hanya dirinya yang mengulurkan segelas air putih pada Sarah. Alya, Bang Dika, dan Ya Tuhan... Bang Fatih. Kenapa bang Fatih jadi ikut-ikutan perhatian pada istrinya? Ali mendengus kesal. "Sarah makannya pelan-pelan..." Fatih terkekeh melihat Sarah makan, belepotan bumbu di pipinya. "Ini tisu." Dika mengulurkan tisu pada Sarah, langsung disahut oleh Ali. Ali mengelap pipi dan hidung Sarah. "Sini, kak Ali suapin aja, biar gak belepotan gini kalo makan ayam?" Ali mengambil piring Sarah dan menyuapi Sarah perlahan. "Engh, kak Ali gak makan juga?" tanya Sarah saat melihat Ali hanya menyuapi dirinya saja. "Kak Ali sudah kenyang." Sarah melihat Fatih dan Dika juga tak menghabiskan makanan di piringnya. Sarah mencibir. "Bah! Cowok cantik semua rupanya." Mereka semua melihat Sarah heran campur bingung. Cowok cantik? "Kenapa pada ngeliatin Sarah?" tantang Sarah. "Cowok cantik?" Fatih mengulang ucapan Sarah. "Iya... bang Fatih, bang Dika, Kak Ali kan cowok cantik semua," jawab Sarah cuek sambil lanjut mengunyah makanannya. "Maksud Sarah apa? Bang Dika gak ngerti." Sarah mencibir. "Tuh liat piringnya." Fatih dan Dika melihat piring makan mereka. Kenapa memangnya? "Apa namanya kalo bukan cowok cantik? Makan aja bersisa, makannya dikit, gayanya mirip cewek alay yang sok-sok an diet, gak doyan makan kalo di depan cowok. Padahal kalo sendirian, makannya segunung, kayak orang kesetanan. Hahahaha...." Sarah ngakak. Alya dan Bunda terkikik. "Kak Sarah tau aja." "Taulah, tiap istirahat selesai, kalau lagi males masuk kelas, Sarah bantuin ibu kantin cuci piring. Makanan sisa numpuk satu karung. Gak sayang tuh makanan dibuang-buang?" Fatih, Dika dan Ali tersenyum kecut. JLEB banget deh sindiran Sarah. "Sarah kasih tau nih. Sarah sama kawan-kawan Sarah, Demon, Ronald, Randy dan Jack. Kita kalo pesen makanan apapun, selalu ludes tak bersisa. Kita kompak kalo makan. Hehehe..." "Bukannya itu rakus namanya?" Celetuk Alya. "Hmm... gak juga. Paling enggak tanggung jawab aja sama makanan yang sudah dipesan atau diambil di piring kita. Hargai yang masak. Jangan sampai bikin mereka sedih karena dikira kita gak doyan makanan mereka. Sekalipun gak enak, ya habisin aja. Kalian kalo tau anak jalanan, mau makan aja susah. Harus ngais sampah, cari makanan sisa orang. Mereka gak mikir itu makanan basi, enak atau gak. Yang penting perut ke isi." Sarah tersenyum. Semua yang berada di meja makan tertegun. Satu tamparan keras dari seorang Sarah. Ali memandang istrinya dengan takjub. Gak salah pilih dah pokoknya. Meski tingkahnya kadang mirip preman, tapi hatinya mulia seperti malaikat. "Cowok garang itu makannya banyak hahaha..." Sarah ngakak melihat Fatih dan Dika kembali mengisi piring mereka dengan makanan. Ali pun tak mau kalah. Ia juga ingin disebut cowok garang. Ali makan dengan kesal, mengapa bang Fatih dan bang Dika juga ikutan mau jadi cowok garang? Selesai makan malam, mereka semua duduk bersandar di sofa ruang keluarga. Perut mereka benar-benar kekenyangan. Biarlah kenyang, abang ikhlas... asal jadi cowok garang. Hahaha! Laras dibantu Alya merapikan meja makan dengan senyum cerah mereka di wajahnya. Belum pernah masakannya habis, ludes tak bersisa seperti siang ini. Laras tersenyum kecil mengingat ucapan Sarah yang seperti cemeti itu. Menantunya itu memang unik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN