9. Pilihan

1391 Kata
"Lo sekarang jarang kumpul bareng kita lagi Sar? Lupa ya, mentang-mentang sudah ada pacar baru," protes Demon sambil merebut bola basket dari tangan Sarah. "Iya nih, nyesel jadinya kita-kita cariin lo pacar." Ronald menambahkan. "Bukan gitu guys, semingguan kemarin nyokap, bokap gue lagi di rumah, makanya gak bisa kumpul bareng kalian," nawab Sarah. Gak enak juga sebenarnya pada keempat sahabatnya ini. Sejak kecil mereka selalu sama-sama. Cuma mandi aja yang gak sama-sama. "Hah?! Kok gak kabarin kita?" Randy terkejut. Ia menghentikan men-dribble bola dan menatap Sarah. "Pulang sekolah juga kayaknya Lo lebih pilih bareng sama si kutu kupret itu dibanding kita," ujar Demon sinis. Sarah menatap bergantian keempat sahabatnya. Wajah mereka penuh peluh dan keringat. Sarah melempar bola basket ke arah Randy. Ia berjalan ke tepi lapangan dan duduk selonjor disana. Keempat sahabatnya mengikuti dan duduk di sekitarnya. "Sorry, nyokap bokap yang minta dia buat ngejagain gue, selama mereka gak ada." Sarah berusaha menjelaskan semasuk akal mungkin alasan dirinya sekarang lebih sering pulang dan pergi sekolah bareng Ali. Ia belum siap untuk jujur kepada keempat sahabatnya jika dirinya sudah menikah dengan Ali. "Dia siapa?" "Kak Ali," jawab Sarah kalem. Demon, Ronald, Randy dan Jack membelalak tak percaya. Ali? Si kutu buku itu? Beruang kutub? Makhluk aneh? Culun? Cupu? Gak juga sih, cuman gaya Ali lebih mirip bapak-bapak daripada anak muda. Kurang gaol getoh. "Jadi, sekarang kita nomor dua nih?" Demon terlihat kesal. Sejak malam pensi itu, ia baru sadar bahwa ternyata selama ini sahabatnya, Sarah adalah seorang cewek, cewek yang lumayan cantik. Bukan hilang ingatan atau lupa, tapi karena terlalu sering bersama dan beraktiftas selayaknya cowok, alam bawah sadar Demon secara otomatis mengenali Sarah sebagai seorang laki-laki. "Bukan gitu guys, mungkin nyokap bokap ngerasa gue terlalu sering ngerepotin kalian." "Lo ngomong apaan sih Sar? Kita sohib dari kecil. Gak ada istilah ngerepotin segala." Randy tersinggung. "Iya gue tau, makasih banget buat kalian semua." "Lo sudah sedekat apa dengan keluarga si beruang kutub?" Demon menyelidik. Males banget nyebut namanya. "Hmm... ya, lumayan deket. Gue udah kenal adiknya, abangnya, ayah dan bundanya." "Kapan lo bakal putusin si kutu kupret itu?" Demon kembali bertanya. "Kak Ali, Demoonn... bukan kutu kupret." Sarah menjitak kepala Demon. "Jadi, lo belain dia?" Demon berteriak jengkel. Randy, Jack dan Ronald memandang heran pada Demon. Tumben si playboy kelas teri itu berteriak seperti gadis alay. Biasanya juga mulutnya penuh rayuan gombal pada siapapun. "Kok lo nyolot sih?" Sarah ikut berteriak. "Siapa yang nyolot?" Demon tak terima dikatakan nyolot. "Lo...." Sarah menuding wajah Demon dengan telunjuknya. "Gue gak ngerti masalah lo apa sama gue, tapi kalo lo ngerasa keberatan gue ada di sini, fine... " Sarah berdiri. Refleks Demon ikut berdiri dan menarik tangan Sarah. "Sorry..." ucapnya lirih, "Sorry... gue gak tau kenapa gue jadi sensi gini. Gue gak keberatan lo di sini kok." Sarah menoleh dan mendelik menatap Demon, ia mendengus "Sekali lagi lo bertingkah seperti banci, gue hajar lo," ancam Sarah. "Sorry..." Demon mengedipkan sebelah matanya ke arah Sarah sambil tersenyum sinting. Randy, Ronald dan Jack menghela nafas lega. Sesaat tadi mereka mengira Sarah dan Demon bakal berantem. Sepanjang persahabatan mereka, belum pernah sekalipun mereka bertengkar. Karena prinsip mereka, tidak ada drama dalam persahabatan diantara laki-laki. Nah, mereka tidak sadar lagi kalau Sarah bukan laki-laki. "Ehh tapi tunggu dulu Sar, gue perhatiin sejak tadi ada yang aneh sama lo, tapi apa, gue juga gak tau." Jack meneliti Sarah dari atas sampai bawah. "Apaan?" Sarah mengangkat sebelah alisnya heran. "Kalian perhatiin juga gak sih guys? Ada yang berubah nih dari Sarah." Jack meminta pendapat ketiga temannya yang lain. "Sarah waktunya potong rambut tuh, udah panjang." Randy nyeletuk sekenanya. "Iya, itu juga... rambutnya sudah mulai panjang, tapi bukan itu sih yang bikin beda." Jack masih mengamati Sarah sambil berfikir. "Sarah agak kurusan kayaknya ya?" Demon menimpali. "Ya memang terlihat sedikit kurus, tapi bukan itu." Jack masih mengamati Sarah. "Udah deh, jangan mengada-ada." Sarah berkata jengah sambil merebahkan dirinya di samping teman-temannya berbantalkan bola basket. Mereka berempat mengamati Sarah. Memang ada perubahan yang mencolok, tapi apa? "Ahahh! Gue tau!" teriak Demon. "d**a lo makin gedhe!" Demon histeris sambil menunjuk gundukan di d**a Sarah. Sarah sontak bangun dan duduk sambil memukul kepala Demon, "g****k! Kalo kedengaran yang lain gimana?" bentak Sarah. "Sorry... sorry...," Demon mengusap kepalanya yang kena pukul Sarah. Randy, Ronald dan Jack akhirnya mengamati d**a Sarah. Iya, ini yang beda. Biasanya rata kok. Pantes aja tadi pas main basket kayak aneh gitu, ternyata benda ini. Sarah menggampar kepala ketiga temannya yang lain, "Jaga ya itu mata!" "Wooaaaahhh... lo pake Bra?" tanya Jack takjub. "Serius? Sejak kapan Sar?" Randy penasaran. "Lo suntik silikon ya? Perasaan minggu kemarin belum tumbuh deh?" Ronald menyimpulkan. "Sialan kalian! Gimanapun gue cewek normal kali. Biasanya gue pakein korset aja biar rata dan gak ganggu kalau olahraga." Sarah menjelaskan acuh saja. Ia kembali berbaring berbantalkan bola basket, mengabaikan tatapan kurang ajar keempat sahabatnya. "Waaahh... Sar, boleh pegang gak? Sumpah penasaran gue..." "Boleh, tapi gue pastiin setelah itu rumah lo pindah di kuburan." "Wkwkwk... Rasain lo, ngomong gak dipikir." "Namanya penasaran. Terakhir kali pegang pas bayi guys." "Nah, pacar lo? Gak penasaran!" "Se-upil, gak nafsu gue." "Hahahha..." "Udah ah jangan bahas ginian. Males gue." "Iya... sorry..." "Tapi serius, lo cantik." "Sekali lagi lo ngomong cantik, gue tabok lo!!" "Buaahahahaha.... dasar cewek aneh." "Ya udah deh, lo ganteng." Mereka bersenda gurau dan tertawa ngakak dengan suara yang tidak di rem, terdengar sampai ke seberang lapangan. Mereka tak sadar sejak tadi sepasang mata mengamati dari bawah pohon cemara di samping lapangan. Dia merasa iri dan cemburu melihat interaksi diantara kelima sahabat itu. Siapa? Tebak aja sendiri. Kesabarannya habis saat melihat tangan salah satu dari mereka melingkar di pundak Sarah, satu yang lain mengacak-acak rambut Sarah. Sedangkan Sarahnya sendiri dengan santainya menyandarkan kepalanya di pundak salah satu dari mereka. "Dek Sarah!" Ali menghampiri Sarah dan keempat sahabatnya dengan d**a bergemuruh menahan api cemburu. "Ehh, Kak Ali? Ada apa? Bukannya lagi pelajaran ya?" Sarah bertanya heran. "Hmm, seharusnya pelajaran. Dek Sarah sendiri kenapa ada di sini, bolos?" "Gak sih, dikeluarkan aja dari kelas," jawab Sarah santai. Ali terkejut, "Kenapa?" "Gak ngerjain tugas. Kan kemarin Sarah bolos, mana tau ada tugas?" "Bisa tanya ke temen kan?" Ali tak mau menerima alasan. "Wkwkk... kak Ali bercanda? Liat teman Sarah juga ikutan dikeluarkan dari kelas." Sarah ngakak sambil memegang perutnya. Ali diam. Matanya melihat ke arah tangan Demon yang asyik nangkring di pundak Sarah. Ali membayangkan dirinya menyerang Demon dan mematahkan tangannya. Menyenangkan sekali rasanya. Tapi, sayangnya itu cuma khayalan. "Ikut kak Ali sekarang!" Tegas Ali. Sarah bimbang. Ia melirik ke keempat sahabatnya. "Ayo!" Ali menarik tangan Sarah sedikit kasar. "Weeits... jangan kasar bro!" Jack menepis tangan Ali. "Lo, cuma pacar Sarah. Jadi, jangan belagu! Ok?" Randy memperingatkan Ali. "Masih pacar, jangan sok ngatur." Ronald mendelik ke arah Ali. "Kalo lo udah jadi suami Sarah, lo bebas berbuat sesuka hati lo. Tapi pacar? Mimpi aja lo kalo bisa ngatur-ngatus Sarah!" Demon berkata keras. "Begitu ya?" tanya Ali tenang. "Dek Sarah, ikut kak Ali sekarang juga!" Ali berkata lebih tegas. "Ehh... i-iya kak." Sarah gelagapan. Ia segera berdiri dan melepas rangkulan Demon. Ali menarik tangan Sarah, hendak membawanya pergi. "Aahh..." Sarah mengaduh saat Demon juga menarik tangannya yang satu lagi. Alhasil Demon dan Ali saling tarik-menarik. "Berhenti!!" Sarah mengibaskan tangannya dari cekalan Ali dan Demon. "Sakit tau! g****k banget sih jadi orang!" "Sar, sorry... sakit? Sumpah sorry banget. Mana, gue lihat yang sakit." Demon bermaksud memegang tangan Sarah, tapi kalah cepat. Ali sudah menarik tubuh Sarah dan menyembunyikannya di balik badannya. "Aku yang akan mengobati, Sarah." Ali berkata tenang dan dalam. Demon dan Ali perang mata. Tidak ada yang mau mengalah diantara mereka. "Demon... Kak Ali... please udah dong!" Sarah memohon sambil menarik-narik lengan Ali, mengajaknya pergi dari lapangan. Ali menurut saat Sarah menariknya pergi meninggalkan lapangan. Sampai di tepi lapangan Sarah , mendengar Demon berteriak. "Saraaah... lo tentuin sekarang juga. Pilih kita berempat atau dia!?" Sarah menoleh dengan tatapan ngeri tak percaya. Apa-apaan ini? "Setuju. Dek Sarah, sekarang juga kamu pilih, kak Ali atau mereka." Memilih? Kenapa harus memilih? Sarah tidak mau memilih. "Guys... kak Ali. Tidak bisakah kita...." "Tidak!!!" Belum selesai Sarah berbicara, mereka semua kompak menjawab Tidak! Bagaimana Sarah harus memilih? Mereka semua pentig bagi Sarah. Kak Ali? Ya awalnya dia hanyalah cameo dalam kehidupan Sarah, tapi... entahlah...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN