18. Luka

1525 Kata

Sarah sengaja turun belakangan untuk Sarapan. Ia malas berlama-lama dengan Ali dan Fariha. Entah kenapa hatinya masih sakit, apalagi semalam Ali tidak juga menyusulnya ke kamar. Bahkan saat makan malam pun Ali seperti lupa padanya. Beruntung Fatih membawakannya makan malam juga syrup penurun demam. Sampai di anak tangga terbawah, langkah Sarah terhenti. Ia mendengus pelan. Kursi tempat biasa ia duduk di sebelah kiri Ali sudah terisi. Sarah tersenyum sinis, 'Gue pake cara lo Al', batin Sarah. Sakit hati dan dikecewakan, sudah biasa bagi Sarah, jadi menutupi itu semua sangatlah mudah. Sarah memasuki ruang makan dengan sikap yang diusahakan sewajar mungkin. "Pagi Bunda... Ayah... pagi semua..." Sarah menyapa mereka semua. Ia menghampiri Laras dan mencium pipinya. "Bunda, maaf Sarah gak bis

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN