24. Bedrest

1414 Kata

Ali menggenggam erat tangan Sarah. Ia duduk di kursi samping ranjang Sarah. Perasaannya campur aduk antara sedih, bahagia sekaligus bingung. Sedih karena melihat kondisi Sarah yang terbaring lemah sampai membutuhkan transfusi darah. Bahagia karena sebentar lagi Ali dan Sarah tidak perlu lagi menutupi hubungan suami istri mereka pada siapapun, sekaligus bingung, bagaimana cara menyampaikan kabar gembira ini pada Sarah. Ali menghela napas pelan. Senyum bahagia tergambar jelas di wajahnya. Satu fase kehidupan sebentar lagi akan berlalu berganti fase lain dalam perjalanan hidupnya. Ali sama sekali tidak menyesali semua yang sudah terjadi. Dengan segala kemampuan dirinya, ia akan memberikan yang tebaik untuk Sarah, calon ibu dari anaknya. Namun ada satu hal yang Ali sesali. Mengapa ia tidak m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN