*Davino POV* Aku menghela nafas kasar, saat Lian menutup pintu kamarnya dengan keras. Dia bertanya, dimana aku selama ini karena sering sekali pulang dinihari. Jawaban jujur yang tak aku katakan adalah aku sering ke klub malam. Itulah kenapa aku memilih bungkam atas pertanyannya. Aku melarangnya untuk masuk ke tempat laknat itu, tapi aku sendiri malah datang kesana. Aku jadi tertawa lirih atas kelakuanku. Curang sekalikan aku ini. Mau bagaimana lagi? Aku merasa begitu banyak beban pikiranku akhir-akhir ini. Soal perasaanku terhadap Lian yang semakin hari semakin gila. Soal kegiatan Lian yang aku cari tahu selama di Indonesia 2 tahun kebelakang secara diam-diam dan hasil memata-matai ini juga cukup membuatku shock. Belum lagi ada beberapa masalah juga dengan perusahaan. Satu lagi yang cu

