Prakteknya baru selesai jam sepuluh malam dan Farhan merasa sangat lelah sekali hingga rasanya semua tulang-tulang di tubuhnya bisa patah hanya dalam satu kali gerakan pelan. Farhan memijat-mijat tengkuknya dan merentangkan kedua lengannya untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya. Jas dokternya disampirkan di lengan kanannya. Kemeja hitam yang dia kenakan dibiarkan terbuka pada dua kancing bagian atas. Rambutnya terlihat acak-acakan, namun laki-laki itu tetap terlihat tampan seperti biasanya, membuat para perawat yang sedang jaga malam terpesona akan penampilan Farhan tersebut. “Hati-hati dijalan, dokter Farhan...,” ucap beberapa perawat yang melintas berlawanan arah dengannya, membuat Farhan tersenyum tipis dan mengangguk sopan. Para perawat dan dokter di rumah sakit ini sangat

