Untuk menyiapkan bekal yang istimewa, Najwa sudah mengerahkan banyak tenaga. Wanita itu berangkat nyaris Dzuhur, membawa beberapa kotak bekal dan meminta Bagas untuk mengantarnya menggunakan motor butut lelaki itu. Sesampainya di halaman sebuah gedung rumah sakit, senyum Najwa mengembang. Diucapkannya terimakasih kepada Bagas yang menolak uang pemberian Najwa, bayaran atas kesanggupan Bagas yang bersedia mengantarnya pergi ke tempat kerja suaminya.
“Aku tinggal, ya Naj. Kalau butuh tumpangan lagi, tinggal hubungi aku.” Sebelum pergi Bagas berpamitan. Najwa mengangguk, setelah lambaian kecil Bagas melaju pergi menggunakan motornya.
Najwa memasuki gedung rumah sakit. Beberapa perawat dan dokter yang mengenalnya langsung menyapanya, meskipun tidak mengenal mereka, Najwa membalas sapaan mereka satu-persatu. Najwa nyaris tersesat di lorong-lorong rumah sakit yang cukup ramai dan berisik. Tak lama sampai di depan ruang kerja suaminya yang kosong.
“Sayang?” Najwa memanggil dari luar dan membuka pintu. Tak ada sahutan dan memang tidak ada Loco. Najwa menghela napas, lalu memilih untuk menunggu. Sambil memangku beberapa kotak bekal, wanita itu menduduki sebuah sofa krem yang ada di tempat kerja suaminya.
Derap langkah membuat Najwa yang nyaris menutup mata langsung terjaga. Pintu dibuka tanpa diketuk, binaran di mata Najwa yang sempat mengira itu Loco langsung redup saat melihat seorang perawat masuk. Gadis itu terperanjat kaget karena melihat Najwa, map dan berkas-berkas yang dia dekap melayang ke angin dan terhempaskan ke lantai.
“Anda siapa?” Wanita itu bertanya bingung, dipungutnya setiap kertas yang dia jatuhkan.
“Ah, Bu Najwa, istrinya Pak Loco ‘kan?” Awalnya jutek, senyum manis mengembang di bibir perawat cantik. Gadis itu berubah lengket, didekatinya Najwa dan disalaminya. Najwa menyambutnya dengan canggung. Perawat dengan bibir ranum itu melirik kotak-kotak bekal yang Najwa bawakan untuk Loco, apa yang mengisi kepalanya tentu saja tepat sasaran. “Mengantar makan siang untuk Pak Loco, ya Bu?”
Najwa mengangguk. Meskipun sedikit sungkan, diumbarkannya banyak senyum. “Suamiku dimana, ya?”
“Pak Loco, mah lagi nggak ada di sini, Bu.” Perawat tersebut memberitahu, “dia lagi ada kerjaan di lain rumah sakit. Seorang konglomerat yang meminta Pak Loco untuk mengobati istrinya secara langsung.”
“Begitu, ya?” Kedua mata Najwa panas. Kenapa Loco tidak memberitahunya? Sesibuk apapun Loco, lelaki itu pasti memiliki waktu satu menit saja untuk mengirimi Najwa pesan, memintanya untuk tidak hadir atau mengirim alamat rumah sakit lain.
“Kamu tahu dimana alamat rumah sakitnya? Masih di Jakarta ‘kan?”
Yang ditanyai mengangguk lalu memberikan alamatnya kepada Najwa. Tidak mau merepotkan Bagas, Najwa memilih untuk menaiki taxi. Bolak-balik wanita itu memberi intruksi kepada sopir untuk mengantarnya ke sebuah rumah sakit yang namanya tertera di kertas yang tergenggam oleh tangannya.
Satu jam lebih buang-buang waktu, Najwa akhirnya sampai di tujuan. Meskipun lingkungan sekitar asing, wanita itu memaksakan diri untuk masuk ke dalam rumah sakit. Najwa menanyakan suaminya kepada resepsionis, yang memberitahunya di ruangan mana pasien yang Loco urus.
Najwa tidak mau menganggu pekerjaan suaminya. Najwa hanya ingin melakukan tugasnya sebagai istri. Jika dipikirkan lagi kenapa mereka serenggang ini, semuanya terdengar wajar karena kurangnya komunikasi di antara mereka. Najwa ingin memperbaikinya, demi kelangsungan rumah tangga mereka di kedepannya.
Kepalan tangan Najwa yang hendak mengetuk pintu urung saat melihat seorang wanita yang terbaring di brankar disuapi oleh Loco. Najwa memerhatikan mereka dari kaca luar, Loco yang lupa janji Najwa yang akan membawakannya bekal makan siang dan ternyata lelaki itu makan berdua dengan seorang wanita. Loco terus menyuapinya, wanita cantik itu menerima setiap suapan Loco dengan senyum lebar.
Air mata Najwa luruh saat Loco menerima suapan wanita itu yang ingin balas menyuapinya. Lelaki itu mengunyah, lalu mengembangkan senyum untuk wanita itu. “Pantas tidak memberitahuku ada jadwal di lain rumah sakit, kalian ingin bermesra-mesraan ternyata.” Najwa berkata ketus, dibuangnya semua kotak bekal ke tong sampah lalu menjauhi ruangan tersebut. Langkah Najwa mengentak meninggalkan lorong rumah sakit. Lain kali, Najwa tidak akan datang ke tempat kerja suaminya lagi.
***
“Lagi. Icha suapin lagi.” Wanita dewasa itu bertingkah seperti anak kecil.
Loco yang baru saja menelan suapan kedua dari wanita itu menghalau tangannya. “Cukup Icha, Pak Dokter nggak boleh kenyang, soalnya Pak Dokter udah ada janji dengan istri Pak Dokter untuk memakan bekal makan siang buatannya.” Lelaki itu melirik arloji di tangannya, resah memikirkan cara bagaimana lepas dari wanita autisme itu agar bisa kembali ke rumah sakitnya, pasti Najwa sudah menunggu.
“Makanannya belum habis. Pak Dokter harus abisin. Nanti Leo marahin kita.” Tingkah kekanakan wanita itu bukan dibuat-buat, tapi memang kerja otaknya yang bermasalah. Sekalipun statusnya sekarang adalah seorang istri dan Ibu, Icha yang bernama asli Falencia memang sudah menderita Autisme sejak kecil. Syaraf otaknya bermasalah, membuatnya tidak bisa berlaku dewasa seperti wanita seumurannya, tingkahnya akan terus seperti anak-anak selamanya.
“Tidak bisa, Icha. Pak Dokter pergi dulu, ya? Kalau kita berduaan terus, nanti Leo cemburu, loh.”
“Ih, Pak Dokter.” Icha terus memaksa. Tangannya kesusahan menggenggam sendok, memaksa untuk menyuapi Loco sekali lagi. “Habisin dulu. Ya? Ya? Icha mohon.”
Loco yang sudah bangkit baru saja hendak kembali duduk dan menerima suapan wanita itu lagi. Mendadak tangis Icha meledak. Wanita itu membanting kotak makanan di pangkuannya dan menjerit-jerit. Loco langsung kewalahan untuk menenangkan Icha yang hilang kendali. Wanita itu memberontak dalam kungkungan kedua lengan Loco.
Icha memaki Loco sambil menangis seperti anak kecil. “Pak Dokter jahat! Pak Dokter jahat! LEO! LEO! Leo, Pak Dokter jahat!” Sebelum Icha menyakiti dirinya sendiri menggunakan benda-benda tajam, Loco mengikat kedua pergelangan tangannya menggunakan dasi. Wanita itu masih memekik keras, memancing keributan yang terdengar sampai luar ruangan. Beberapa perawat membantu Loco untuk mengatasi Icha. Wanita itu masih menggila selayaknya perempuan yang memiliki gangguan syaraf.
Leo berlari melewati lorong menuju ruangan istrinya. Lelaki itu terlihat cemas, plastik di tangannya yang berisi makanan manis yang digemari anak-anak jatuh ke lantai. Melihat kehadiran Leo, berangsur Icha berubah tenang. Wanita itu berhenti menangis dan memberontak. Apalagi saat Leo mendekat dan memeluknya. Setiap kecupan yang dihadiahkan lelaki itu membuat Icha tenang sambil menenggelamkan kepala ke dadanya.
“Sudah kubilang, Loco. Apapun permintaan Icha jangan ditolak. Aku hanya meninggalkannya sebentar, maaf jika aku menghancurkan rencana makan siangmu bersama istrimu. Tapi Icha memang sangat menyayangimu dan dia membutuhkanmu sekarang.” Leo terlihat kesal dan merasa bersalah secara bersamaan. Beberapa jam yang lalu, Icha menggila seperti ini karena ingin bertemu Loco. Leo terpaksa memaksa temannya itu untuk datang kemari dan berjanji akan membiarkan Loco kembali ke rumah sakitnya setelah menemani Icha sebentar saja. Tapi Icha malah memaksa Loco untuk tidak pergi dan menetap lebih lama.
“Sekarang sudah lewat tengah hari. Najwa pasti menungguku.”
“Kenapa tidak minta saja dia datang kemari?” Leo menyahut sambil menepuk-nepuk p****t Icha, berusaha menidurkannya.
“Jarak dari sini ke rumah sakitku jauh. Aku takut Najwa tersesat mencarinya.” Loco menghela napas.
Lelaki itu membalik langkah dan hendak pergi, suara Icha yang parau mencegatnya.
“Pak Dokter mau ninggalin Icha? Jangan pergi, Pak Dokter … Leo selalu sibuk. Kalau nggak ada Pak Dokter, siapa yang bakalan nemanin Icha? Icha dan bayi Icha nggak mau kesepian.” Air mata Leo menetes saat Icha berkata seperti itu. Tangan besar lelaki itu mengusap perut Icha yang berisi dan menciumi kening istrinya yang asin oleh keringat.
“Please,” Leo ikut memohon.
Tak ada pilihan, Loco berjongkok di depan tubuh Icha. “Pak Dokter pergi sebentar, ya? Nanti Pak Dokter janji bakal balik lagi, sambil bawa teman baru. Pak Dokter nggak akan biarin Icha sendirian. Tapi bukan hanya Icha, Icha juga punya teman yang bisa kesepian tanpa Pak Dokter.” Loco berusaha membujuknya. Icha luluh begitu saja, kepalanya mengangguk dan membiarkan Loco pergi.