Untuk pertama kali Najwa terlihat abai saat terdengar deru kencang di halaman rumah. Wanita itu sama sekali tidak perduli, dipejamkannya mata dan pura-pura terlelap, sekalipun suara putaran kunci dan derap langkah suaminya benar-benar mengusik hatinya untuk menyambutnya.
Loco berdiri di ambang pintu, kedua tangannya menenteng kantung plastik berisi makanan. Lelaki itu menghela napas, setelah meletakkan kedua kotak makanannya ke atas meja lelaki itu mendekati ranjang. Memastikan kalau Najwa benar-benar tertidur, Loco melambaikan tangannya di depan wajah wanita itu.
Najwa mempertahankan posisinya, berusaha tidak terganggu saat tangan besar Loco mengusap pipinya. Lalu bibir dingin itu mendarat ke keningnya. Melakukan beberapa penakanan, membuat mata Najwa panas.
Baru saja Loco hendak bangkit dan meninggalkan Najwa di kamarnya, Najwa langsung membuka mata dan menahan lengan suaminya. Cekraman Najwa di lengan suaminya mengerat saat lelaki itu balik menatapnya tanpa berkutik.
“Kamu tidak jadi membawakanku bekal?” Suara dingin Loco memecahkan kesunyian. Najwa mengurai cekramannya, lalu membuang muka. Kesal dengan Loco yang malah terdengar seperti menyalahkannya.
“Aku membawakanmu makanan. Ganti makan siang, kita bisa dinner bersama ‘kan?” Loco menawarkan sambil menggerakkan kepala ke atas meja, Najwa menemukan beberapa makanan yang dibungkus rapi di dalam kotak mahal.
Tak ada jawaban dari Najwa selain anggukan. Loco memamerkan senyum tipis. Lelaki itu membawa makanan yang dia beli ke atas kasur, meletakkannya di antara dirinya dan Najwa, lalu membukanya. Semuanya makanan kesukaan Najwa, tapi entah mengapa Najwa malah tidak berselera.
“Kita makan di sini?”
Ganti meja makan, ranjang besar itu tidak buruk. Mereka bisa menjadikan bantal di pangkuan sebagai meja.
“Kamu juga pasti ingin memakanku setelah ini ‘kan?” Najwa menyahut tanpa nada.
Loco tertawa ringan. Seharusnya itu langkah, tapi Najwa sudah tidak antusias lagi. “Mungkin,” Loco menanggapi, diletakkannya sebuah kotak makanan ke atas bantal. “Untuk misi baru kita, kamu masih ingat ‘kan?” Loco melirik Najwa, menanti jawaban wanita itu.
“Kamu ingin menjadi Ayah,” Najwa menambahkan.
“Dan kamu juga akan menjadi seorang Ibu.” Setelah berbasa-basi ringan, keduanya memakan makanan masing-masing. Loco menyadari Najwa yang kurang lahap, perubahan sifat wanita itu membuat Loco heran.
“Makanannya tidak enak?” Loco memberanikan diri untuk bertanya, meskipun Najwa terlihat seperti manusia tak acuh yang tidak akan membalas pertanyaannya.
“Enak, kok.” Berbanding terbalik dengan jawaban yang keluar dari bibirnya, mulut Najwa tidak semangat memasukkan setiap makanan ke dalam mulut.
“Kamu sudah makan?” Sekalipun Najwa terlihat lesu, Loco pikir mungkin wanita itu kenyang, makananya makanan yang terhidang di hadapannya tidak dilalap dengan semangat.
“Belum.” Najwa menggeleng. Respon Najwa yang ketus itu sedikit membuat Loco kesal. Tangannya tidak sengaja meremuk sumpit, berhenti mengampit sayur-mayur yang ada di dalam kotak di pangkuannya.
Loco merampas kotak makan Najwa lalu bangkit ke dapur. Lelaki itu membuang keduanya ke dalam tong sampah, mengabaikan teriakan heran Najwa. Baru saja Najwa hendak menyusul, Loco sudah kembali ke dalam kamar. Lelaki itu menatap Najwa tajam, mundur dan menggunakan hantaman punggung untuk menutup pintu lalu menguncinya.
“Bilang saja, kalau kamu tidak mau makan denganku.”
Najwa menelan saliva. “Seharusnya aku yang berkata seperti itu.”
“Kamu tidak perlu diam untuk menolakku, Najwa. Katakan saja.” Sekalipun kobaran amarah terlihat di bola matanya, Loco terlihat tenang. Lelaki itu memang jarang marah dan tidak pernah melakukan kekerasan. Bukannya tidak bersyukur mendapat suami yang tidak ringan tangan, Najwa hanya ingin Loco lebih banyak bicara dan memberikannya perhatian, sekalipun diberikan nilai minus dia adalah lelaki tempramen yang suka memaki.
“Jika kamu tidak lapar, katakan padaku. Daripada kamu harus berbohong belum makan dan terpaksa makan bersamaku.”
“Kata siapa aku tidak lapar?” Pertanyaan Najwa terlontar ketus. “Kata siapa aku berbohong padamu dan kata siapa aku terpaksa?” Meskipun Najwa mengusahakan diri untuk tidak terlihat perduli, melihat kehadiran Loco, Najwa sangat bahagia. Sudah berapa tahun mereka menikah, ini adalah kesempatan langkah untuk Najwa yang jarang bisa terjadi.
Loco tidak menjawab. Lelaki itu mendekat dengan kedua tangan lebar yang langsung menangkap kepala Najwa. Najwa tidak bisa menghindar saat Loco mencium kuat pipinya. Kedua tangannya terus meremuk kepala Najwa, membuat wanita itu kesusahan bernapas. Air mata Najwa lolos, saat Loco memindahkan bibirnya ke kening wanita itu. Beberapa gigitan kecil dari Loco di kulit keningnya membuat Najwa meringis.
“Sebenarnya bagi kamu aku ini apa?” Najwa bertanya dengan suara parau.
Loco menempelkan kedua kening mereka dan mengunci sepasang mata indah Najwa. Lelaki itu berbisik tegas, “kamu istriku, Najwa.” Menghindar dari daun cuping Najwa, Najwa bisa merasakan Loco mencium kuat dagunya. Seperti berusaha menyedot setiap pori-pori, yang setelah bibirnya terlepas noda keunguan akan menghiasi dagu lancip wanita itu.
“Aku tidak terlihat seperti istrimu,” sahut Najwa ketus.
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?”
“Tentu saja aku bisa berpikir seperti itu, Loco!” Najwa menghindar, menepis semua tangan Loco agar berhenti menyentuh tubuhnya.
“Untuk kata istri, aku sangat jauh dari itu!” Najwa berteriak lantang. “Kamu jarang pulang. Sesekali menanyakan bagaimana keadaanku di sela-sela waktu kerjamu saja, kamu tidak! Kamu bahkan tidak pernah kepikiran untuk mengabariku atau menceritakan bagaimana hari-harimu di rumah sakit!”
Najwa tidak tahan lagi, Tubuhnya bergetar. Seluruh syarafnya menuntut Najwa untuk melampiaskan semuanya. “Aku memaklumi pekerjaan dan tanggung jawabmu di rumah sakit itu Loco. Kamu memegang kepercayaan orangtuamu yang memercayakan semua itu padamu, gelar, jabatan dan rumah sakit. Tapi aku hanya ingin kamu menelponku saat sempat, setiap hari pulang meskipun beberapa jam kemudian kamu harus pergi lagi, kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama … aku bermanja padamu, kamu menceritakan hari-harimu, aku mendengarkannya sambil menciumi pipimu dan—”
Teriakan Najwa berhenti saat tubuh besar Loco memeluknya erat. Meskipun tangis Najwa sudah meledak, Loco masih terlihat tenang meskipun dari dalam hatinya hancur, tanpa sepengetahuan Najwa, Loco yang menyembunyikan wajahnya diam-diam lelaki itu menangis. Kedua pipinya basah oleh air mata.
Najwa suka pelukan Loco. Tapi ego memerintahnya untuk memberontak saat dipeluk lelaki itu. “Kamu hanya pulang, saat kamu ingin meniduri seseorang! Sampai-sampai membuatku berharap, kamu mengalami hypersex dan ingin meniduriku setiap saat agar kamu pulang setiap hari, Loco! Jika begitu, daripada seorang istri, aku lebih bisa disebut p*****r untukmu! Yang kamu harapkan bayi yang keluar dari rahimmu, akan memanggilmu Ayah! Tapi suatu saat, kamu juga akan menelantarkan anak itu!”
Loco tidak berkata sepatah-katapun. Dari tepukan tangannya di punggung Najwa, lelaki itu berusaha menenangkan Najwa dengan cara sederhana. Najwa berhenti berteriak dan meredam kekesalannya dengan tangisan. Loco memeluknya lebih erat, sebuah pelukan dingin yang perlahan menghangatkan hati Najwa yang sempat dibekukan oleh lelaki itu.
“Apakah kamu tidak mencintaiku, Loco? Makanya kamu memperlakukanku seburuk ini?”
Loco menatap wajah Najwa yang merah dan panas. Loco menampiknya, berkata tulus. “Aku sangat mencintaimu, Najwa. Makanya aku menikahimu, meskipun aku adalah Suami yang buruk untukmu.” Loco menekankan bibirnya di kening Najwa. Lalu menjelajahkan bibirnya kemana-mana. Najwa menenggelamkan kepalanya ke d**a bidang Loco, semulanya Loco yang memaksa untuk memeluknya, kini Najwa yang tidak mau melepaskan pelukannya.