7. Menelantarkan Gelar Dokter

1472 Kata
“Jangan pergi,” cekraman kuat tangan Najwa di punggung telanjangnya membuat Loco urung bangkit. Wanita yang dibalut selimut itu menenggelamkan wajah di perut suaminya, membuat Loco tidak bisa menghindar. Loco duduk di atas kasur, menyisiri rambut Najwa yang meletakkan kepala ke perut kerasnya, wanita itu menahan kedua paha Loco agar tidak bisa berangkat bekerja. Diciuminya kulit suaminya, berharap Loco luluh dan betah berlama-lama bersamanya. “Kamu hari ini bolos kerja aja, ya?” Najwa memasang wajah memelas, berusaha membujuk suaminya. Loco terlihat keberatan, Najwa begitu cekatan untuk merayunya. Mendadak menjadi ahli wanita itu berpindah ke pangkuan Loco, duduk di sana, lalu menenggelamkan tubuh depan ke d**a suaminya, Najwa memasukkan kepalanya ke ceruk leher Loco. Memohon di sana. “Di sini, temani aku.” Najwa menarik kepalanya, menatap lekat wajah Loco lalu menciumi pipi suaminya. “Ya? Ya?” Dengan anggukan lemah Loco menyetujui. Najwa yang bahagianya tidak terkira memeluk kepalanya erat. Loco menipiskan bibir, ternyata menomorduakan pekerjaan dan menomorsatukan Najwa cukup menyenangkan. Najwa turun dari pangkuan Loco, menarik-narik lengan suaminya. “Kita mandi dulu, jama’ah lalu sarapan. Setelah itu, kamu mau ‘kan kuajak jalan-jalan?” Tanpa kalimat Loco mengangguk dan menurut. Najwa jingkrak-jingkrak, diseretnya Loco menuju kamar mandi setelah mengambil selimut untuk handuk mereka berdua. Di bawah guyuran air, Najwa menyenderkan kepala dan pipi ke d**a suaminya, memainkan tangan ke pinggangnya dan mereka melakukan sedikit gerakan dansa. Menggunakan tangan besarnya yang basah oleh rintikan air, Loco mengusap kening Najwa, merapikan anak-anak rambutnya dan mencium keningnya. Najwa keluar dari kamar mandi lebih dulu. Melihat Loco yang tidak terburu-buru karena hendak berangkat bekerja, membuat wajah wanita itu semringah. Loco berlama-lama di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri menggunakan guyuran air dari shower. Najwa yang keluar dari kamar mandi dengan bungkusan selimut di tubuhnya mengambilkan suaminya pakaian. Langkah wanita itu masih riang, untuk pertamakalinya Loco menyampingkan pekerjaannya dan menomorsatukan Najwa. Najwa memilih dalaman, celana dan kemeja terbaik untuk suaminya, yang paling bagus menurutnya di dalam lemari. “Sayang, handuk?” Loco memanggil. Najwa langsung memberikannya selimut, wanita itu sudah memakai dalamannya. “Nggak ada handuk, ya?” Loco mengambilnya dari tangan Najwa dengan senyuman tipis. “Di handuk cuma ada bau tubuhku saja. Tapi selimut bekas semalam, ada aroma kita berdua.” Mendengar alasan Najwa yang terlalu mengada-ngada Loco hanya tertawa ringan. Apa kata istrinya saja, untuk hari ini Loco akan menuruti semuanya. Digunakannya selimut dengan dua aroma itu untuk mengeringkan tubuh. Loco melangkah keluar dari kamar mandi, memerhatikan Najwa yang masih memilihkan pakaian untuknya. “Terimakasih.” Kalimat Loco terdengar manis, Najwa baru menyadarinya. Perubahan sikap Loco meskipun tidak seberapa. Loco memakai pakaiannya, Najwa membantunya memperbaiki kerah kemejanya. Usapan tangan Najwa di d**a bidangnya membuat Loco tersenyum tipis, satu kecupan mesra melayang di pipi Najwa sebagai balasannya. “Kamu pakai baju dulu, gih. Setelah ini kita jama’ah.” Loco mengingatkan Najwa yang sekejap lupa kalau dia akan kedinginan jika hanya memakai dalaman. Najwa meminta Loco untuk memilihkannya pakaian. Awalnya Loco kebingungan, tapi pilihannya jatuh pada sebuah gaun indah yang tergantung di lemari. Gaun terlama, yang menjadi hadiah pertama Loco untuk Najwa sebelum mereka menikah. Di mata Loco gaun itu masih begitu cantik, apalagi saat membayangkan masa lalu Najwa menemui orangtuanya dengan memakai gaun yang dia hadiahkan. Mereka salat Subuh berjama’ah. Belum berdoa, baru saja menyelesaikan salam, Najwa langsung memeluk istrinya dari belakang, menjerat lehernya kuat. Derai tawa Loco terdengar lagi. Istrinya memang sangat manja, sayangnya Loco minim perhatian. Mereka memasak sarapan bersama, Najwa menanti sang dokter membawakan sepiring nasi goreng ke mejanya. Karena jika ada di rumah, selain bekerja Loco memang suka masak dan bersih-bersih. “Kita mau jalan-jalan kemana?” Najwa mengulum senyum. Sambil mengunyah nasi goreng, wajahnya mencerminkan apa yang dia bayangkan. Loco menjawab sambil menyuap, “terserah kamu saja.” Baru saja hendak memasukkan suapan kedua ke dalam mulutnya Najwa menangkap sendok yang diarahkan suaminya, lalu menelan nasi goreng milik suaminya. Bukannya marah, Loco hanya menipiskan bibir. “Bagaimana kalau kita ke Bandung? Pakai mobil, perjalanannya dari sini ke Bandung memang akan memakan waktu, tapi itu yang menjadi letak spesialnya.” Tawaran Najwa memang terdengar buruk di telinga Loco. Bukan masalah letaknya, tapi waktu yang habis karena itu. Lain lagi ceritanya, jika mereka ke sana naik pesawat dan pulang segera, agar Loco bisa kembali bekerja di rumah sakit. “Tidak naik pesawat saja? Nanti kamu capek dan masuk angin.” Kalimat itu adalah kata lain penolakan halus dari Loco. Loco memang tidak pernah menolak langsung permintaan Najwa. Jika wanita itu meminta sesuatu, Loco tidak akan serta-merta menolaknya, lelaki itu menawarkan lain waktu, yang tidak pernah dia tepati. Loco sadar betapa buruk dirinya sebagai seorang suami. Yang bukan memberikan kejelasan, malah menyenangkan Najwa dengan janji palsu. “Nggak, pokoknya kita ke sana pakai mobil. Nggak seru berangkat pake pesawat, terlalu cepat sampai terlalu cepat pulang.” Jika Najwa memaksanya seperti itu, maka Loco kehilangan kalimat untuk menghindar. Karena bibir Loco memang tidak terbiasa untuk menolak, meskipun terbiasa membual. Akhirnya Loco mengangguk. Lelaki itu tersenyum pasrah, “baiklah. Cepat habiskan semua ini agar kita bisa berangkat lebih awal dan pulang lebih cepat.” “Kenapa harus pulang lebih cepat?” Najwa tidak suka dengan kalimat terakhir Loco. “Habis ke Bandung, kita pindah kota lagi mau nggak? Jogja misalnya? Surabaya! Baliiii!” Najwa jingkrak-jingkrak, tubuhnya nyaris melanting-lanting. Telapak tangan Najwa menepuk-nepuk bahu kokoh Loco. Wajah keberatan Loco berubah terhibur, Najwa yang riang itu membuat suasana hatinya membaik. Loco mengangguk lagi. Lelaki itu tidak kuasa menolak. Kalimat ‘kita berangkat lain kali aja, ya’ sudah tidak berarti lagi di situasi seperti ini. “Kalau begitu kira-kira kita pulang setelah berapa minggu?” “Dua minggu?” Najwa sejenak berpikir, mengacungkan dua jemarinya. Angka itu membuat Loco pias, tidak bisa membayangkan bagaimana rumah sakit tanpanya. Bagaimana Icha dan Leo tanpanya. Bagaimana semua pasiennya tanpanya. Dan bagaimana respon orangtuanya jika Loco menelantarkan pekerjaan dan rumah sakitnya sampai selama itu? “Nggak, nggak.” Najwa menggeleng cepat, angka yang dia ajukan semakin menjadi-jadi. “Sebulan!” Loco terperanjat, membuat raut wajah Najwa yang menyadarinya berubah. “Kamu keberatan?” Loco langsung menggeleng, “tidak, bukan itu maksudku.” Loco memberikan senyuman agar Najwa tidak jadi kecewa. “Aku tidak keberatan. Sepertinya aku bisa mengambil cuti sebulan. Tidak ada yang keberatan.” Loco menggenggam tangan Najwa, berusaha menyalurkan rasa bahagianya, agar senyuman wanita itu kembali. Benar saja, Najwa semangat lagi sekalipun di dalam hati Loco resah. Tidak ada yang keberatan katanya? Tentu saja Loco berbohong. Pasien di rumah sakitnya, lebih banyak Loco yang menangani. Icha istrinya Leo sangat bergantungan kepada Loco sejak mereka bertemu, karena Icha berpikir Loco lebih perduli padanya daripada Leo. Apalagi, keduaorangtuanya. Keduaorangtua Loco memercayakan rumah sakit kepadanya. Karena Loco sendiri yang memintanya dahulu. Loco memohon kepada orangtuanya untuk memercayakan rumah sakit padanya karena Loco ingin membahagiakan Najwa dengan masa depan yang lebih terjamin. Makanya, Loco mengerahkan semuanya, sampai lupa, yang Najwa butuhkan bukan hanya material tapi juga cinta dan perhatian. Loco tidak mungkin menolak permintaan Najwa atau menurunkan angka yang ditawarkan wanita itu. Sudah berapa tahun Loco seperti menelantarkan wanita ini, kali ini saja, Loco akan memanjakannya dan membuat senyum yang terbit di wajah wanita menjadi permanen. “Selama perjalanan, kita akan menginap dari satu hotel ke hotel yang lain berarti ….” senyum Najwa begitu lebar saat mengkhayal. Loco begitu senang memandanginya. “Sesuai misi yang kamu mau, kita akan mengusahakannya dengan mengganti suasana kamar dari malam ke malam ‘kan? Ayo semangat, dong. Siap obat kuat? Siap tenaga?” Najwa yang terlalu bersemangat memercikkan semangat yang sama untuk suaminya. “Makannya udah ‘kan?” Najwa melirik piring Loco yang bersisakan beberapa suapan lagi. Loco langsung menghabiskannya, Najwa menarik suaminya untuk bangkit karena piringnya sudah sejak tadi kosong. Wanita itu langsung mengemasi barang-barang, bajunya dan baju Loco dimasukkannya ke dalam koper pink besar yang diperkirakan akan cukup untuk mereka menghilang selama sebulan. Dengan semangat, mendadak Najwa yang lembek itu menjadi kuat. Wanita itu bisa membopong sebuah koper besar untuk diseret keluar rumah dan dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Melihat istrinya yang bersemangat, Loco terkekeh kecil. Andai Najwa mendengar tawa itu, semangatnya akan semakin membara. “Masih jam enam, Najwa. Kamu buru-buru sekali.” Loco keluar dari rumah dan menguncinya dari luar. Bagas yang memerhatikan mereka dari halaman bengkelnya terlihat masam mendapati kebersamaan Najwa dan Loco, padahal Bagas kira semakin hari hubungan mereka akan semakin renggang yang akan berujung perceraian. Najwa yang duduk di dalam mobil menggerakkan tangannya, meminta Loco untuk memasukkan kepalanya ke dalam mobil. Najwa menarik tengkuk suaminya, menciumnya, membuat Loco hilang kendali. Kedua tangan Loco mencekram pipi Najwa yang memanas, lebih ditahannya kepala wanita itu untuk mempermudah Loco menyedot rasa manis. Loco menjauhkan diri sejenak dan membuka pintu mobil, masuk lalu menghimpit istrinya yang menyambutnya antusias. Mereka kira di pagi buta seperti ini tidak ada yang melihat, Bagas yang terus mengawasi mereka hanya bisa membatu dengan mata merah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN