“Capek?” Najwa kasihan melihat Loco terlalu memaksakan diri untuk menyetir. Wanita itu bersandar di bahu suaminya lalu memijiti bahu dan lengannya. Loco mengerem mobil saat Najwa mendadak menciumnya, menghalangi pemandangan jalan sepi di depannya karena kepala wanita itu.
“Bahaya, sayang.” Loco berkata pelan. Andai jalan itu ramai mungkin mereka bisa kecelakaan.
Najwa mencabut kunci mobil, disimpannya ke saku gaunnya. Wanita itu duduk di pangkuan Loco, menghadapnya, lalu menciumnya lagi dengan kedua tangan yang melingkar di leher suaminya. Loco pasrah, entah kenapa istrinya mendadak menjadi begitu agresif.
“Sini, gih gantian aku yang nyetir.” Najwa mengusir Loco dari bangkunya.
“Memangnya bisa?” Loco bertanya dengan sebelah alis terangkat.
“Bisa, dong.”
“Kapan belajarnya?”
“Bagas sering ngajarin.” Perempuan itu nyengir.
“Kamu akrab, ya sama dia?”
“Napa? Cemburu?”
Loco menggeleng, “nggak. Cuma kagum aja, persahabatan kalian bisa langgeng sampai sekarang.” Tidak mendapatikan rona cemburu di wajahnya, membuat bibir Najwa manyun.
Najwa memasukkan kunci ke dalam lubangnya, memutar dan menyalakannya kembali. High heels Najwa menekan gas, lalu melajukannya. Loco mengamati sambil mengistirahatkan punggungnya yang keram, jalanan Jakarta yang sempat macet memperlambat perjalanan mereka.
“Najwa! NABRAK!” Loco begitu shock saat mulut mobil oleng dan menabrak sebuah pagar batas. Saat Loco panik—pasalnya di balik pagar itu ada jurang—Najwa malah tertawa tidak enak. Napas Loco terhembus kasar, dadanya berdegup kencang, tidak bisa membayangkan jika mobil mereka benar-benar terjun bebas.
“Menyingkir dari sana, biar aku saja.”
“Ih, maaf.” Najwa menggaruk tengkuk kepala.
Najwa menggendong tubuh istrinya dan memindahkannya ke tempat yang dia duduki. Loco mengambil alih tempat itu lagi, lalu memundurkan p****t mobil untuk kembali ke jalanan.
“Kamu marah?” Najwa memastikan.
Loco menggeleng sambil menyetir.
Najwa paling tidak suka Loco menjawab tanpa kalimat. Wanita itu merasa seperti diabaikan. “Loco?”
“Aku tidak marah,” suara Loco bergetar. Najwa langsung menyentuh d**a suaminya. Jantung lelaki itu berdegup kencang. Setakut itu ‘kah Loco? Najwa melucuti setiap kancing atas kemeja suaminya, dimasukkannya tangan dan diletakkannya ke d**a Loco. d**a Loco benar-benar berdebar kuat karena ketakutan.
“Kamu takut?”
“Bagaimana aku tidak takut?” Loco menyahut kesal.
“Kita baik-baik saja, kenapa harus takut? Setakut itukah kamu jika mati?”
“Aku bukan takut mati, Najwa. Yang kutakutkan kamu kenapa-napa.” Loco membalasnya. Napas lelaki itu terhembus sesak. “Kamu masih ingat, kamu pernah nyaris meninggalkanku belasan tahun yang lalu karena kecelakaan bus? Dari 80 orang yang menumpang, aku sangat bersyukur kamu ada di antara sembilan orang yang selamat, Najwa.”
Najwa terdiam saat mengingat kejadian nyaris belasan tahun silam. “Kamu tahu kenapa aku mengganti jurusanku dan menjadi dokter, selain karena dukungan orangtuaku?”
Najwa menggeleng, selain karena dukungan orangtuanya, Najwa tidak tahu alasannya mengapa Loco yang dulu mengambil jurusan hukum mendadak ganti jurusan. Najwa pikir, Loco hanya menuruti kemauan orangtuanya karena memang mengharapkan Loco mengikuti jejak mereka.
“Itu karena aku berterimakasih kepada seorang dokter yang menanganimu dengan cepat waktu itu. Andai dokter itu tidak memberhentikan mobilnya karena sebuah kecelakaan bus, kamu yang waktu itu sempat selamat jika tidak segera ditangani olehnya, mungkin aku tidak akan pernah melihatmu lagi, seumur hidupku. Bahkan aku tidak bisa menikahimu seperti sekarang.”
Setelah menatap wajah Najwa lekat, Loco mengalihkan pandangannya ke depan. Lelaki itu mencekram setir, lalu menancap gas, melajukannya dengan perlahan.
Najwa meletakkan kepalanya ke pangkuan Loco. Haru terlihat di matanya. Wanita itu menciumi paha suaminya dibalut oleh celana, bibir Najwa berpindah ke lututnya. “Terimakasih.” Suara Najwa lirih, Loco yang masih fokus ke depan—takut mereka kecelakaan—menganggukkan kepalanya kuat tanpa melirik Najwa.
“Aku mencintaimu, sayang.”
“Aku juga,” Loco menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
“Bisa hentikan mobilnya sekarang? Kita masih memiliki waktu lebih dari 29 hari untuk menyelesaikan perjalanan ini.”
Helaan napas Loco terdengar. Najwa menjatuhkan tubuh ke dadanya, Loco mengusap punggungnya dan menciumi kepalanya. Najwa menelusupkan tangan ke d**a suaminya, degupan itu masih begitu keras. Antara takut dan berdebar-debar, karena seorang bidadari kecil kini mendarat di pangkuannya. Najwa mengeluarkan ponselnya dan memamerkan layarnya ke Loco. “Tigapuluh menit dari sini, kita bisa menikmati kamar pertama di hotel yang ada di Bandung ‘kan?”
Akhirnya Loco tertawa.
***
Setiap hari berganti, mereka selalu berganti tempat. Dari Bandung, Cirebon, Tegal, Semarang, Surakarta sampai Surabaya. Di hari yang berbeda dan di tempat yang berbeda, keduanya berkeliling, menikmati jalanan dan wisata. Termasuk hotel-hotel yang ada di sana. Demi membahagiakan Najwa, dan tidak mau apapun menganggu mereka sepanjang perjalanan, Loco mematikan ponselnya. Sesekali dia mengeceknya saat di hotel, ratusan panggilan dari beberapa nomor yang sama benar-benar meneror Loco. Terutama Leo dan keduaorangtuanya. Loco mematikan ponselnya kembali, memilih tidak perduli dan fokus menerbitkan senyum Najwa.
Sudah seminggu lamanya, Loco menelantarkan jabatan dan gelarnya sebagai dokter. Entah berapa orang yang kecewa karena tindakannya, Loco berusaha untuk tidak perduli. Apapun resikonya setelah dia kembali, Loco tidak perduli.
“Bali!” Najwa berteriak senang saat sampai di kota terakhir yang menjadi tujuan mereka setelah berlama-lama di kota-kota sebelumnya.
“Sisa 24 harinya kita habiskan di Bali saja, ya? Soalnya di sini lebih asyik daripada seluruh jagat raya Indonesia!”
Loco mengangguk saja. Apapun kata Najwa akan diturutinya. “Sama satu lagi, hotel di sini pasti bagus.” Najwa iseng menambahkan. Hal yang lebih inti dari tujuan perjalanan mereka, sebagai ganti bulan madu kedua mereka yang selalu ditunda karena pekerjaan Loco.
“Tiap malam kita bisa pindah dari satu hotel ke hotel lain, dong. Di sini ‘kan hotelnya banyak, bagus-bagus pula.” Najwa menggoda suaminya, jari telunjuk wanita itu menelusuri d**a bidang Loco.
“Bagaimana 12 hari di Bali, sisanya kita ke Lombok?” Loco menawarkan.
“Wah, ide bagus.” Najwa setuju. “Ayo!”
“Jujur Najwa,” d**a Loco ringan saat mengatakannya. “Entah kenapa daripada menjadi direktur atau dokter, aku kok lebih suka jadi sopirmu, ya?” Lelaki itu menoleh geli, kekehannya menyusul.
“Oh, ya?” Najwa terdengar tertarik.
“Rasanya lebih menyenangkan saat aku mengendarai mobil ini berjam-jam, mengantarmu sambil memastikanmu baik-baik saat mengambil tumpanganku.”
***
Karena lelah, Loco mencari hotel terdekat. Semalam mereka akan menginap di sini, lalu sesuai permintaan Najwa, besoknya mereka akan berganti hotel lagi. Memang ribet, tapi hal baru selalu membahagiakan Najwa.
Najwa membersihkan diri terlebih dahulu. Loco memberanikan diri untuk mengotak-atik ponselnya. Ratusan panggilan dari Leo tidak diangkatnya sama sekali, apalagi kedua orangtuanya. Jika Loco mengangkatnya, mereka hanya akan marah-marah, Loco paham betul hal itu.
Loco mematikan ponselnya begitu saja saat Leo berusaha menghubunginya sekali lagi.
“Abaikan mereka, nikmati semua ini dan bahagiakan Najwa.” Loco membuat tekad. Senyumnya menyambut Najwa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Loco memeluknya, menciuminya dan menggodanya.
***
14 hari jatah di Bali sudah terlewat. Mereka akan ke Lombok yang tidak jauh menggunakan kapal. Sebelum naik ke dek menyusul Najwa, Loco pergi ke toilet yang ada di dermaga. Dering ponselnya sangat menganggu Loco. Karena merasa diteror oleh dua orang yang sama, Loco membuang ponselnya ke dalam lubang toilet lalu meninggalkannya.
Sebuah tangan menghantam Loco ke dinding. Loco meringis kesakitan, apalagi saat lelaki itu memukulinya lalu tubuh Leo merosot jatuh. Leo bertekuk di depan kaki Loco dan setelah menghajarnya lelaki itu menangis begitu saja.
“Kamu kenapa?” Loco bertanya dingin.
Leo mendongak tajam, “selama ini kamu dimana?! Kenapa saat aku menghubungi kamu tidak mengangkatnya, hah?!”
“Aku berlibur dengan istriku, apa salahnya?” Loco membalas kesal.
“Oke, kamu berlibur bersama istrimu. Itu tidak salah. Tapi salahmu tidak mengangkat teleponku, padahal Icha merindukanmu. Icha pikir kamu sudah tidak memperdulikannya lagi. Kamu tahu Loco, karena berpikir tidak memiliki siapapun yang perduli padanya lagi, istriku yang bodoh itu mencoba bunuh diri selama kamu tidak ada dan tidak bisa dihubungi! Aku sudah berusaha menghubungimu ribuan kali, tapi kamu tidak menjawabnya!”
Leo melampiaskan semuanya. Lelaki itu mengamuk. “Dia menangis setiap hari, berusaha mencelakai dirinya sendiri! Dan sekarang dia keguguran karena terlalu depresi! Anak kami mati karena kebodohanmu! Kamu itu dokter bukan? Kamu sendiri yang berjanji padaku akan merawat Icha dan membuatnya bergantungan? Kamu juga yang berjanji kepada Icha akan selalu ada untuknya sebagai teman, karena Icha menganggap aku sebagai suaminya tidak memperdulikannya?”
Sekalipun menyesal, air mata Loco tidak menetes. “Aku turut berduka, Leo.”
“Dukamu tidak akan mengembalikan nyawa anakku, Loco.”
“Apa salahnya jika aku ingin melihat istriku tersenyum?”
“Dengan menelantarkan tugasmu, begitu? Perlu kuberitahu Loco, bukan hanya aku dan Icha, orangtuamu dan seluruh pasienmu kecewa padamu. Kenapa denganmu? Kenapa bisa lalai seperti ini? Beberapa pasienmu menjemput ajal, kamu saja tidak ada untuk mereka, setidaknya datang ke pemakaman mereka untuk terakhir kali. Banyak orang yang berusaha menghubungimu, tapi kamu terang-terangan mengabaikan mereka. Dengan alasan, ingin membahagiakan istrimu?” Leo tersenyum sinis, “istrimu tidak pantas mendapatkan kebahagiaan itu, Loco.”
“Aku akan naik ke dek, kapal akan berangkat ke Lombok.”
Leo mencegat lengannya. “Bagaimana bisa kamu pergi begitu saja, padahal aku sudah memberitahumu apa yang terjadi? Istriku berusaha bunuh diri, anak kami keguguran, kekecewaan kami kepadamu dan kematian pasien-pasienmu tapi kamu tidak ada untuk mereka?”
“Kamu tidak merasa bersalah, Loco?” Leo mendesak. Dengan mata memerah, lelaki itu bertanya.
“Aku merasa bersalah.” Loco mengiakannya. “Tapi perasaan bersalahku tidak lebih besar dari perasaan bersalahku untuk istriku, karena bertahun-tahun menelantarkannya hanya karena pekerjaan. Bertahun-tahun, Leo. Dan saat aku menelantarkan pekerjaan 21 hari saja, kenapa kalian menyalahkanku sampai seperti ini?”