“Anna, tunggu!” Anna memang tidak memiliki niat untuk berlari. Dia masih terpaku di tempatnya, dengan berbagai pertanyaan yang kini bersarang di kepalanya. Sinta terlihat mengatur napasnya saat berhenti di depan gadis itu. “Lo ngapain, deh, Sin? Becanda lo nggak lucu,” desis Anna sembari melirik Edo yang baru saja sampai dan memilih berdiri di samping Sinta. “Maafin gue, Na. Gue terpaksa.” Sinta menunjukkan raut sedih dan juga terluka. “Jadi tujuan lo itu apa, Sin! Dan lo, Bang. Kenapa lo ikut-ikutan gila kayak Sinta?” Anna yakin di sini Edo hanya bersikap membantu. Semua ide yang entah bertujuan untuk apa ini pasti adalah dari Sinta. “Sebenernya, ini ide gue.” Mata Anna melebar mendengar jawaban pria itu. “Lo gila juga, Bang?” “Ini semua demi kebaikan lo, Na. Gue nggak mau liat

