“Ndre.” Usapan lembut di bahunya membuat pria itu menoleh, dan menunjukkan senyuman tipis. “Makan, ya. Dari kemarin kamu belum makan apa-apa,” bujuk mamanya entah untuk ke berapa kali. Namun kepala pria itu masih saja menggeleng. Jangankan untuk makan, menelan saliva saja tenggorokannya terasa sakit. “Maaf, ya, Nak. Ini salah kami.” Terdengar isakan, dan Andre hanya bisa mengelus punggung tangan mamanya yang kini merangkul bahunya. “Andai saja—“ “Ssstt.” Andre menggeleng, mengusap air mata yang kini mengalir dari kedua mata mamanya. “Kalian hanya ingin yang terbaik untuk aku. Dan, ini semua murni kesalahanku, Ma. Mungkin saat ini waktunya aku menerima karma dari perbuatanku di masa lalu.” Andre menghela napasnya yang terasa sesak. Pandangannya beralih menatap jendela kamarnya yang ter

