Anna mengamati tiga bangunan rumah dengan bentuk yang berbeda. Satu bangunan terlihat lebih dominan. Dibangun dengan gaya sederhana seperti rumah tinggal pada umumnya. Sementara dua bangunan lain, berdiri berhadapan, mengapit satu rumah besar tadi. Berbeda dengan bangunan utama, dua bangunan itu memiliki dua pintu yang Anna tebak adalah tempat untuk disewakan untuk para pelancong. “Kalau weekend biasanya ada yang ngisi. Untuk sabtu besok juga sudah ada yang booking.” Anna seketika menoleh, dan tersenyum pada pria setengah baya yang menyambutnya tadi. Pria ini adalah orang kepercayaan ayahnya untuk mengelola tempat ini. “Semua pemasukan sudah saya masukkan ke data rekening ini. Sekarang Mbak Ana lebih berhak untuk memegangnya.” Pak Ahmad, nama pria itu, menyodorkan sebuah buku tabungan

