14. Tak menjamin apapun

1440 Kata
Happy Reading . . . "Suprise!" terdengar suara terompet juga ledakan kertas berwarna yang mengejutkan kedatangan Kavin. Jangankan ikut tertawa, bahkan garis senyum pun tak menghiasi wajah Kavin. Sebenarnya Setya sudah tahu kalau hal ini akan terjadi, hanya saja Alana tetap ingin melakukannya setidaknya hanya sekali seumur hidup, Kavin harus merasakan betapa menyenangkannya diberi kejutan, pertanda kalau kepedulian orang-orang padanya bukan hanya sekadar kata. "Saya nggak suka kejutan. Kalau lupa, biar saya ingatkan," ujar Kavin tanpa berekspresi. "Kan, apa gue bilang," lenguh Setya, menyindir Alana. "Aku cuma mau ngasih selamat atas pengangkatan kamu, dan aku mau kamu tahu kalau disuprise-in itu hal yang menyenangkan." "Nggak buat saya! kalau mau ngasih selamat, ya ngasih selamat aja. Nggak usah bikin ruangan saya berantakan," balas Kavin, "ada tempat dan waktunya juga kemarin, kenapa masih harus di sini juga?! aneh." "Yah, yahh, susah kalau udah ngambek," gumam Setya, "lo tuh kalau marah lihat-lihat orangnya dulu, kenapa? masa cewek cantik gini lo masih tega marahin, sih?!" "Betul juga kata temen kamu, Kavin." Aby menepuk pundak Kavin pelan. Kavin mendelik pada Setya, meski tanpa bersuara namun ia sudah mengatakan banyak hal dengan cara seperti itu dan Setya pun memahami banyak hal juga meski hanya dengan melihatnya. "Gue, deh, gue yang beresin." Setya hendak membuka pintu, namun belum sampai ia memegang engsel, pintu ruangan sudah lebih dulu dibuka oleh seseorang dari luar. Brak! "Saya mau bicara!" Krik! krik! Wajah garang Nesya seketika melumer. Ia dihadapkan dengan sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya. Nyatanya sepagi ini di dalam ruangan Bosnya sedang diadakan pesta, terlihat dari banyaknya kertas warna berhamburan di lantai, dan ia sendiri adalah tamu tak diundang yang datang di waktu yang salah. "Siapa yang buka pintu nggak pakai perasaan begini?" terdengar suara dari balik pintu, "nggak lihat apa, ada orang lain yang kena getahnya?!" Setya mengusap jidat mengkilatnya yang mungkin sekarang sudah berwarna kemerahan akibat terbenturan dengan kayu jati. Nesya tak membayangkan betapa menyedihkannya penampakkan wajahnya saat ini. Ia tertunduk lesu sambil menautkan kedua tangannya. "Maaf! saya minta maaf. Saya salah." Nesya terus mengucapkan kata maaf sambil berjalan mundur untuk sampai pada batas pintu, keluar ruangan, membuka jendela, lalu meloncat dari sana untuk mengubur rasa malunya. "Kamu, tuh, tadi bilang sama Kavin kalau marah harus lihat-lihat dulu orangnya, kamu sendiri malah melakukannya." Aby menghampiri Nesya, membuat gadis itu mau tak mau diam di tempat. "Iya, Om. Tapi lihat-lihat kesalahannya juga. Kalau sampai merusak daya tarik saya begini, saya juga marah." "Maaf!" ucap Nesya lagi, tapi kali ini ia memamerkan wajahnya, membuat Setya terkejut bukan kepalang. "Nesya Lituhayu?" ucap Setya. Kedua alis Nesya saling bertautan, "kita saling kenal?" Setya menganggukkan kepalanya, "mulai saat ini!" mengulurkan tangan, "Setya Purnama." Sebenarnya Nesya sungkan, apalagi melihat hasil dari kelakuannya yang harus pria itu terima. Tapi ia tak mungkin melakukan kesalahan lagi dengan menambah sakit pada tangan pria itu jika ia membiarkannya terulur lama. "Nesya Lituhayu." "Gue tahu." Tangan keduanya tertaut cukup lama, terlebih lagi karena Setya masih tak memercayai apa yang ada di hadaoannya saat ini, sedangkan Nesya masih merasa sungkan meski hanya meminta melepaskan tangannya sendiri. Eghm! Kavin berdeham. "Apa yang mau kamu bicarakan, sampai membuat pintu saya rusak?" Pernyataan Kavin tentu saja membuat Setya terhenyak. Ia menghampiri pintu berukuran besar dan berbahan kuat itu lalu memukulnya beberapa kali. "Pintu lo nggak akan rusak walaupun digebukin kayu, Kav. Jidat gue yang jadi korban di sini." "Sekali lagi saya minta maaf!" Nesya membungkukkan tubuhnya, ia masih sangat merasa bersalah. "No!" Setya menghampiri Nesya, "gue paling nggak bisa lihat cewek memohon. Tanpa lo minta pun gue udah maafin lo, kok." "Tapi apapun alasannya dia nggak berhak bersikap seperti tadi. Nyelonong masuk apalagi dengan cara yang kasar. Bukan cerminan sekertaris, tapi lebih ke preman di pasar," tutur Alana. "Mendingan sekarang kamu keluar, Atasan kamu sedang ada acara pribadi, seharusnya sekertaris paham betul." "Kamu yang keluar," pungkas Kavin pada Alana. "Kav?" "Kamu nggak sadar, kamu juga udah bikin saya marah?" "Tapi apa yang aku lakuin nggak separah apa yang dia lakuin." "Kenyataannya kamu yang membuat saya lebih marah." Hal yang wajar untuk Kavin bisa semarah itu. Lebih menyakitkan rasanya ketika seseorang tahu ketiaksukaan orang lain, tapi masih saja melakukannya. Alana terlalu menganggap enteng. Tanpa bisa berkata lagi, Alana pun keluar dari ruangan dengan diikuti Aby dan juga Setya setelahnya. Meninggalkan Nesya dan Kavin di sana. "Ka-kalau begitu, saya juga pamit keluar." "Apa yang mau kamu bicarakan?" Kavin bertanya, membuat kaki Nesya kembali terpaku. Nesya menggelengkan kepalanya cepat, "tadi saya cuma lagi eror!" memukul pelan kepalanya, "sekali lagi saya minta maaf." "Kenapa kamu sangat mudah mengucap maaf," Kavin merendahkan tingginya untuk sekadar melihat jelas wajah yang gadis itu berusaha sembunyikan, "dan mudah melakukannya lagi." Kavin menyentuh dagu Nesya lalu mengangkatnya, membuat wajah Nesya terekspos dengan jelas. Merah pada pipinya sampai ke ujung hidung bengirnya yang ikut berubah warna. Kedua bola mata yang tampak berair, namun bukan karena menangis, melainkan kandungan air pada matanya yang cukup tinggi. Garis bibir yang begitu jelas terukir, kini sedang kehilangan buah bibir bawahnya yang sedang tenggelam dalam mulut pemiliknya. "Jangan lakukan ini di depan siapapun," kavin menarik bawah bibir Nesya dengan ibu jarinya. Kedua mata Nesya melebar, sontak kakinya bergerak mundur beberapa langkah untuk membuat jarak dengan Kavin. Perasaannya campur aduk. Apakah ia harus marah? tapi mana bisa ia melakukanya pada seseorang yang lebih pantas marah. "Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?" "Saya lupa!" ucap Nesya sekenanya, "nanti kalau ingat, saya ke sini lagi." *** Meta belum sekalipun mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang menampilkan kontak sosok yang sedang ia pikirkan. Dimas tidak akan menghubunginya, kalau bukan Meta yang menghubunginya lebih dulu. Tapi kali ini, ia harus membuat alasan apa untuk bisa bertemu dengannya? "Eh?" Meta tak sengaja menekan story w******p Nesya, "ini, kan, di mobilnya Dimas." Dalam hitungan detik ia pun beranjak dari tempat tidurnya--tanpa perlu bersiap lagi--hanya tinggal bergegas pergi ke tempat di mana ia seharusnya berada. Kunci mobil sudah Meta genggam, namun kemudian ia menaruhnya kembali dan memilih untuk memanggil taksi online. Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit Meta sudah sampai ke tempat di mana story w******p milik Nesya direkam, seharusnya mereka berdua berada di sini sekarang. Sembari berjalan, Meta sibuk mengedarkan pandangannya, sampai akhirnya sesuatu yang begitu ia kenali terekspos. Namun apa yang ada di hadapannya saat ini membuat senyum Meta yang hampir terukir berubah menjadi garis-garis tipis pada keningnya. "Nesya!" Meta meraih lengan Nesya yang hampir menyentuh bibir Dimas lagi setelah satu kali sesudahnya yang tidak tercegahkan. "Lo ini apa-apaan?!" geramnya. "Huh?" Nesya seakan membeku, kedatangan Meta yang tiba-tiba membuatnya kebingungan. "Lo ngapain sentuh-sentuh pacar gue kayak gitu?" Meta membuat tubuhnya menjadi penghalang antara Dimas dan Nesya. "Bibir Kak Dimas kering, jadi aku cuma.." Meta mendengus, "lo nggak bawa lipgloss apa? kenapa musti dari bibir lo, dan dipeper ke bibir orang lain. Jijik tahu, nggak?" "Tapi gue nggak keberatan." Dimas berpindah posisi, kini ia yang membuat tubuhnya sebagai penghalang antara adiknya dan Nesya. "Kalau lo nggak suka, yaudah, jauh-jauh aja dari gue, gue nggak maksa." "Aku cemburu!" pungkas Meta kemudian, meraih lengan Dimas yang hendak beranjak meninggalkannya. "Sekarang ada hati yang perlu kamu jaga, kamu nggak bisa sedeket itu sama Nesya." "Nesya itu adek gue. Gmana caranya gue nggak deket sama adek gue sendiri?!" "Orang yang udah lo anggap ade, maksud kamu? hubungan kayak gitu nggak bisa ngejamin apapun." Dimas menarik sebelah ujung bibirnya lalu menatap Meta lekat. "Maksud lo, gue bisa punya perasaan sama orang yang udah tumbuh bareng gue sejak kecil?" "Bukan hal yang nggak mungkin, kan?" balas Meta, membalas tatap Dimas. Sejak tadi Nesya hanya seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa, menjadi topik yang dibicarakan namun tidak dianggap keberadaannya. Tapi, bukankah ia sudah cukup dewasa untuk ikut campur? "Bisa, aku ikut ngomong?" "Nesya diem. Ini masalah Kakak." "Tapi semuanya kayak gini gara-gara Nesya." "Nggak ada gara-gara kamu. Dianya aja yang nggak masuk akal " "Aku nggak akan ngulangin hal kayak tadi lagi." Nesya bersikeras, kini ia yang menjadi penghalang antara Meta dan Dimas. "Kamu itu apa-apaan, sih?" Dimas meraih lengan Nesya, membawa tubuh gadis itu berhadapan dengannya. "Kamu itu masih kecil, nggak usah ikut campur urusan orang dewasa." "Kapan, sih, kamu bisa nganggap aku dewasa?" Nesya menghela napasnya panjang, seutas kalimat itu mampu membuat kedua matanya kini berair. "Apa yang Meta bilang itu bener, hubungan adek-kakak bukan sedarah nggak bisa ngejamin apapun, karena kanyataannya selama ini aku suka sama kamu bukan sebagai adik ke kakaknya, tapi selayaknya wanita dewasa." "Nggak usah ngaco!" Dimas meraih lengan Nesya, "Kita pulang." "Kak Dimas juga tahu, kan?" menghempaskan pegangan Dimas, "berapa lama lagi mau pura-pura nggak tahu?" Bersambung . . . Jangan lupa klik love dan tinggalkan komentarnya juga :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN