13. Menjatuhkan harga diri

1460 Kata
Happy Reading . . . Kavin kembali ke ruangan tempat di mana acaranya masih berlangsung. Ia mengedarkan matanya ke segala arah, mencari keberadaan sosok yang telah ia buat dalam masalah. Tapi, bukan hanya Nesya yang tak bisa ia temukan, tapi para manusia yang seharusnya berada di samping panggung pun tak ada di sana, hanya tersisa tripod dan beberapa alat berat saja. “Bapak lihat Nesya nggak?” tanya seseorang dengan mata yang masih sibuk mengitari ruangan. “Nesya sekrtaris saya? Saya juga lagi nyari.” “Bapak juga nyari dia?” kaget Rasyid, “benar-benar ya, anak itu, bikin masalah aja bisanya. Bapak tenang aja,nanti kalau ketemu, saya bawa dia ke hadapan Bapak.” Kavin mengangkat tangannya, memberi tanda agar pria berjiwa wanita itu berhenti. “Ngapain kamu nyari Nesya?” Rasyid menunjukkan sepasang sepatu yang dibawanya. “Hasil karya saya nggak akan sempurna kalau tanpa ini. Gimana kata orang nanti, saya nggak akan membiarkan..” “Saya yang minta,” sela Kavin. “Maksud Bapak?” “Saya yang minta Nesya nggak pakai sepatu yang kamu bawa itu.” Kavin menjelaskan maksud dari ucapan sebelumnya, “dan tadi kamu bilang apa? biang masalah? maksud kamu, saya?” Rasyid tehenyak, ia menampilkan kedua telapak tangannya untuk menyangkali apa yang Kavin tuduhkan. Tadi sore, ia mungkin masih bisa memaksakan kehendaknya pada Kavin, tapi sekarang pria itu sudah disahkan sebagai pengganti dari Ray Abiputra, otomatis sekarang ia harus melayani Kavin dengan baik sebagaimana ia melayani Atasan pendahulunya. “Saya yang bersalah.” Rasyid menundukkan kepalanya, “saya minta maaf.” Kavin kembali melakukan pencariannya tanpa meminta Rasyid menyudahi sikapnya, entah berapa lama sampai akhirnya pria itu menyadari ketiadaan Kavin di hadapannya lalu kemudian menyudahi posisi itu dengan sendirinya. Kini Kavin sudah beranjak keluar ruangan, pasti Nesya sedang berusaha melarikan diri dari para pengkorek informasi. Dan benar saja, Kavin menemukan sekumpulan manusia yang sedang bergerombol dengan kilat cahaya yang tak berhenti keluar dari kamera. “Saya di sini!” Kavin bersuara, membuat semua perhatian teralih padanya. “Saya orang yang memiliki jawaban atas pertanyaan kalian.” Layaknya kucing diberi ikan, sama halnya dengan para wartawan yang kini segera beralih posisi untuk mengerubungi Kavin dan membuat Nesya terbebas dari jeratannya. “Ini pertama kalinya Bapak tidak mengindar dari awak media dan justru membuka diri, apakah ada alasan khusus untuk itu?” “Kebetulan ini hari yang membahagiakan untuk saya, jadi nggak ada salahnya saya membagi kebahagiaan ini, kan?” “Ayok pulang,” Dimas meraih lengan Nesya, namun gadis itu tak kunjung bergerak. “Nes?” “Uhmm?” Fokus Nesya dari Kavin terputus. “Lo nggak apa-apa, kan?” Dimas membingkai wajah adiknya yang terlihat lesu, “lagi-lagi gue telat, maaf.” Nesya mengusap lembut tangan milik Dimas yang masih menyentuh wajahnya, “nggak apa-apa, kok. Makasih udah dateng.” Kavin melihat kepergian Nesya dan sosok yang juga ia lihat saat itu di sorum. Perlakuannya pada Nesya begitu hangat, sangat berlebihan jika hanya teman, dan terlalu intens jika anggota keluarga. Apakah ada hubungan dari selain keduanya? Masalahnya sekarang Kavin tidak mau apa yang tidak ia pikirkan itu adalah kebenarannya. *** Sesampainya di rumah, Nesya masih berlagak marah. Entah mengapa, Dimas sama sekali tidak mengerti dengan sikapnya kali ini. Padahal ia yang dianggap Nesya sedang mengorbankan diri pun tidak begitu memikirkannya, toh Meta tidak akan sampai semarah itu sampai berimbas pada hubungan keduanya yang bahkan baru saja dimulai. “Oke, oke, sekarang gue nemuin Meta.” Dimas berucap tepat sebelum Nesya menghilang di balik pintu kamarnya. “Gue bakal jelasin ...” “Serius?” sela Nesya, menghampiri sosok yang sudah ia diamkan selama perjalanan pulang. And see! sekarang bahkan wajah muram Nesya berubah menjadi berseri-seri, dan di saat yang bersamaan Dimas baru menyadari bahwa gadis di depannya sekarang ini sangat cantik. Riasan yang begitu mencolok menghiasi wajah Nesya, tidak seperti biasanya yang selalu dihiasi dengan warna-warna natural, warna yang dapat memanipulasi semuanya dari luar. Semua orang yang melihatnya pertama kali pasti akan memiliki kesan yang sama rata. Menganggap Nesya merupakan sosok kalem, tak banyak tingkah, penurut, dan penuh kehangatan. Padahal kenyataannya hampir 80% di luar dari itu. “Kak?” Nesya mengibaskan tangannya di depan wajah Dimas yang malah melongo. “Yaudah sana, ngapain masih di sini?!” “Kalau gitu gue pergi dulu,” ucap Dimas. Nesya mengangguk dengan menampilkan senyumnya yang masih teredar, “Tapi sekarang lo langsung tidur, ya. Jangan tungguin gue pulang.” Dimas mengusap lembut kepala Nesya lalu beranjak pergi. Perlahan senyum Nesya memudar, bersamaan dengan punggung Dimas yang kian menghilang dari jangkauannya. “Nggak usah nungguin?” gumamnya miris. “Tapi gue minta, lo jangan terlalu deket sama Dimas. Meskipun lo adiknya, tapi gue cemburu.” Nesya menjatuhkan dirinya di atas kasur lalu menenggelamkannya di balik selimut. Kalimat yang Meta ucapkan saat memberinya uang kembali terngiang. Bagaimana pun caranya, ia harus segera mengembalikan uang itu demi mengambil kembali apa yang seharusnya ia miliki. “Apa tadi harusnya aku nggak naruh uang itu di saku Kavin? Lagian dia kan udah nolak,” pikir Nesya, “tapi tetep aja aku udah bilang sendiri kalau aku bakal balikin uangnya dia, aku nggak bisa narik kata-kataku sendiri, kan?” ucapnya lagi, “eh tapi cuma dia sendiri yang tahu, kan? nggak akan masalah kalau aku jadi pengecut di depan Kavin, lagian aku udah rendah banget di mata dia. Nanggung.” *** Semalaman suntuk Nesya menyiapkan diri, bahkan jantungnya saja sudah berdegup sejak matahari menyapa paginya. Apa menjatuhkan harga diri selalu sesulit ini? kalau memang benar, biar ini ia lakukan untuk pertama dan terakhir kali. Ia berjanji. Maka dari itu, untuk menjadi yang hanya satu-satunya ia harus melakukannya sebaik mungkin. “Nes, kamu tahu, semalem Dimas dari mana? Pulangnya malem banget, jadi sekarang susah, tuh, dibanguninnya.” “Eh, Kak Dimas belum bangun?” Nella mengangguk, “coba, deh, kamu yang bangunin. Bunda nggak tega banguninnya.” Tanpa kembali berucap, Nesya pun menuju kamar Dimas. Namun tak lama kemudian ia pun kembali ke ruang makan. “Sama, Bun. Kasian.” “Yaudah, deh. Biar 1 jam lagi Bunda bangunin.” Dalam perjalanan menuju kantor, pikiran Nesya melayang. Ia merasa bersalah atas pemaksaaannya tadi malam pada Dimas, padahal jelas-jelas ia melihat kalau Dimas dalam keadaan lelah, untuk bisa menjemputnya saja itu merupakan sesuatu yang patut diapresiasi, tapi harus ditambah beban yang lainnya. “Ini semua gara-gara si Bos pembuat masalah itu!” geram Nesya, mengepal kuat kedua tangannya. “Mbak?” panggil sopir. “Eh, iya. Kenapa, Pak?” “Mbak nggak apa-apa, kan?” Kedua alis Nesya saling bertautan, “nggak apa-apa, kok. Kenapa emang? Aneh banget.” “Maaf sebelumnya, tapi mbak jangan remes jok saya kayak gitu. Mana kukunya panjang-panjang lagi. Nanti rusak. Mobil ini bukan punya saya, pendapatan sehari-hari juga nggak seberapa.” “Kok, jadi curhat, Pak?” “Nggak boleh emangnya? Sombong amat.” “Maaf, deh, Pak. Saya lagi kesel aja sama orang.” “Saya juga lagi kesel sama orang, orangnya ada di belakang saya sekarang.” “Di belakang Bapak? Saya, dong?” “Untung cantik, Neng. Jadi saya diemin.” “Yaudah iya, nanti ongkosnya saya tambahin.” “He he. Gitu, dong.” Nesya melihat ekspresi si Sopir dari kaca spion, sepetinya sejak tadi ia hanya menimpali candaannya yang dianggap serius. Dan sekarang, ia kecolongan lagi. Nesya harus membayar lebih dengan uang pas-pasan yang ada di dalam dompetnya. “Udah sampe, Neng.” “Iya, iyaa. Sabar!” ketus Nesya, merogoh dompetnya. Tapi saat melihat apa yang ada di dalamnya, lembar sepuluh ribuan yang semalam ia lihat masih bertegger di sana sudah berganti warna. “Kalau kehabisan uang, bilang. Nggak mungkin, kan, gue ngecekin dompet lo terus?” tulisan yang yang tertera pada selembaran berlogo patimura, uang satu-satunya milik Nesya yang tersisa. “Mau turun nggak, Neng. Malah senyum-senyum.” “Nih!’ Nesya menyodorkan selembar seratusribuan, “ambil aja kembaliannya. “Eh? Lebihnya banyak banget, Neng,” pria paruh baya itu iku turun dari mobilnya. “Nggak apa-apa. Saya lagi seneng,” balas Nesya sambil melambaikan tangan yang posisinya kian menjauh. “Kalau gitu, saya juga ikut seneng, Neng,” sahut si sopir membalas lambayan tangan Nesya yang kian menghilang. Penuh kesabaran, perhatian, penyayang, peka. Apa lagi yang wanita butuhkan selain hanya seputar itu? dan Dimas memiliki semuanya. Tak heran kalau selama ini banyak wanita yang mengelilingi Dimas, Lalu apa Nesya akan membiarkan mereka mendapatkannya? Mimpi. Setelah selama ini ia menjaga Dimas hanya untuknya, maka tidak akan ada yang berubah. Nesya akan memperjuangkannya sampai Dimas benar-benar mau melihatnya sebagai wanita. “Pak!” Nesya menghadang Kavin. Dengan perlu sedikit perjuangan akhirnya ia bisa menyusul langkah pria itu. “Saya nggak telat, kan?” “2 menit.” “Huh?” “2 menit lebih lambat dari saya. Kamu tahu, kalau sekertaris harus datang lebih dulu sebelum Bosnya?” Hening. Bahkan belum apa-apa saja pria itu sudah menjatuhkannya lagi, dan bahkan sepagi ini saja bukan hambatan untuknya. “Bisa, kamu beri saya jalan?” ucap Kavin lagi, lantas membuat tubuh Nesya berpindah posisi sesuai permintaan, bahkan Nesya tidak merasa untuk menggerakkan tubuhnya. Pria itu bukan hanya bisa memerintahnya secara sadar, tapi juga tubuhnya, seolah perintah itu ia terima langsung oleh otaknya. Aura baik yang Nesya pancarkan karena perlauan manis Dimas seakan tersulut habis. Kedua tangan Nesya mengepal kuat, tidak, kali ini ia tidak boleh kalah. Seperkian detik tubuh Nesya sudah berbalik arah, berjalan menuju ruangan tempat di mana Kavin berada. “Saya mau bicara!” Bersambung . . . Jangan lupa klik love dan tinggalkan komentarnya juga :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN