12. Menggemparkan satu dinasti

1403 Kata
Flashback On "Kenapa sih, Pah? kok, Papa nutupin mata Kavin? Kavin nggak bisa lihat, kan, jadinya." "Namanya juga kejutan, jadi Kavin nggak boleh lihat dulu." "Mulai hari ini, Kavin nggak suka kejutan." "Kok, gitu?" "Kavin nggak suka dibikin penasaran, Pah, Ish!" "Selamat ulang tahun anak kesayangan Papa sama Mama," tutur seseorang yang pertama kali Kavin lihat di antara lilin yang menyala. Cup! Kavin mengecup kening wanita itu. Walau menerima protes karena perlakuannya yang tiba-tiba itu sesuatu yang membahayakan, sebab ibunya sedang dalam keadaan membawa kue dengan lilin yang masih menyala. Tak ingin mendengar lebih banyak ocehan, Kavin pun hendak meniup lilin-lilin itu, tapi tangan sang ibu malah menutup mulutnya. "Do'a dulu." "Buat apa? lagian semua yang Kavin mau, sudah ada di depan Kavin, kan?" Fyuh! Kavin tak mendengarkan penuturan ibunya. Ia meniup lilin tanpa lebih dulu membuat permohonan. Dan 1 jam kemudian, semua yang Kavin mau seketika hilang dalam sekejap dan tak pernah kembali. Ya, Kavin kehilangan dunianya. Seharusnya ia meminta agar apa yang ada di depannya saat itu untuk selalu berada di sisinya. Kavin telah salah. Ia melakukan kesalahan yang begitu besar. Kesalahan yang tidak mungkin bisa Kavin perbaiki seumur hidupnya. Flashback Off "Pak?" panggil Nesya, "Pak Kavin?!" kesalnya kemudian. Bagaimana tidak? pria itu tiba-tiba memeluknya. Apa kata orang nanti? tidak, bukan nanti, tapi sekarang. Kavin memeluknya di hadapan semua orang, bahkan Alana sendiri terkejut dengan kelakuan Kavin yang tanpa terduga. "Kamu sakit?" tanya Alana, mengambil alih posisi Nesya yang baru saja terbebas dari pelukan Kavin. Ya, Kavin memang terlihat lemas. Bahkan Nesya sendiri keberatan karena ikut menahan bebannya, tapi bukan berarti pria itu dapat memilih tubuh kecil Nesya sebagai tempat untuknya bertumpu. Nesya tidak sekuat itu. Dan sekarang masalahnya bukan hanya sebatas itu, banyak kamera yang merekam kejadian yang baru saja terjadi. Nesya pun sampai urung turun dari panggung karena di bawah sana sudah banyak orang yang sedang mengatur pertanyaan untuknya. Nesya dapat mengetahuinya dari sorot mata mereka padanya. Acara tetap berlanjut sebagaimana mestinya, hanya saja pemilik acara yang sebenarnya tidak dapat mengikuti rangkaiannya sampai selesai. Kini Kavin sudah berada di sebuah ruangan yang dikhususkan untuknya dengan ditemani Alana juga seorang dokter yang diminta untuk memeriksa keadaan Kavin. "Pak Kavin hanya kelelahan saja, Anda tidak usah khawatir." "Kalau cuma kelelahan nggak mungkin kayak tadi!" protes Alana, "periksa lagi yang bener, atau ..." "Alana!" Kavin bersuara, mencoba menghentikan sikap berlebihan dari temannya itu. "Saya nggak apa-apa." "Jelas-jelas kamu itu kenapa-kenapa, Kavin! aku nggak pernah ya, lihat kamu sampai kayak tadi. Aku nggak mau kalau ternyata kamu itu sakit parah, cuma gara-gara nggak kedeteksi sama macam dokter yang meriksanya asal-asalan." "Kalau Anda tidak cukup puas dan tidak percaya dengan kemampuan saya, Anda bisa meminta Dokter yang menurut Anda jauh lebih mampu. Saya permisi!" "Dok?" Kavin memaksa diri untuk bangun dari sofa, "maafkan teman saya, nggak usah diambil hati." "Alana, minta maaf," pinta Kavin. "Kok? aku cuma ngomonh apa adanya, lagian aku nggak salah, kenapa harus minta maaf?!" "Minta maaf, se-ka-rang!" ulang Kavin menambah penekanan dalam tiap suku kata yang diucapkannya. Alana mendengus. Untuk kesalahan yang benar-benar disadarinya saja, ia enggan untuk mengucapkan kalimat pertanda kalah itu, apalagi pada sesuatu yang menurutnya sama sekali tak ada yang salah. "Alana!" kesal Kavin, yang kata-katanya sama sekali tidak digubris. "Tidak usah berlebihan, Pak. Saya ..." "Maaf!" ucap Alana kemudian, "atas ketidaksopanan saya." Ya, letak kesalahan Alana ada pada bagian yang satu itu. Ia memikirkan letak kesalahannya, sampai akhirnya menemukannya, dan itu pun karena Kavin yang meminta. Kalau tidak, malas sekali harus repot-repot melakukannya. Kavin menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sudah mengenal gadis ini sejak lama, dan selama itu pula Alana tidak pernah merubah perilaku buruknya. Sepertinya ia akan terus bersama gadis ini hanya untuk meluruskan apa yang tidak seharusnya gadis itu lakukan. "Eghm!" Alana berdeham, guna mencairkan suasana yang sempat hening. "Tadi, kenapa tiba-tiba kamu meluk sekertaris kamu itu? kamu salah orang atau .." "Nesya?" Kavin mengingat sesuatu yang tidak seharusnya ia lupakan, dan tanpa aba-aba lebih dulu ia pun segera beranjak dari tempatnya, meninggalkan Alana dan rasa penasarannya yang bahkan belum semuanya terlontarkan. *** Dimas bersandar punggung pada kursi kebesarannya dengan posisi kedua kakinya yang ditaruh di atas meja. Entah mengapa hari ini ia merasa sangat melelahkan, sedangkan pekerjaannya masih menumpuk. Biasanya ada seseorang yang merecokinya, yang walaupun menambah keribetan tapi cukup menyenangkan untuknya, setidaknya membuang rasa bosannya. Tapi kini perecok itu sudah punya kesibukannya sendiri, bahkan sampai tak memiliki waktu untuk merecokinya lagi. Dalam ketenangan Dimas yang sedang asik memandang langit-langit ruangan, tiba-tiba sesuatu menghalangi pandangannya, dua lembar karcis bioskop. "Taraaa!!" kejut Meta, menampilkan dirinya. "Eh, Meta?" Dimas membenarkan posisi duduknya, "ngapain ke sini?" "Ngajak kamu nonton!" ucapnya to the point, "ada film bagus banget." "Kerjaan gue masih banyak, liat aja, tuh!" menunjukkannya dengan gerakan mata ke arah meja, tempat di mana laptopnya masih menyala. Meta melenguh, "sebentar doang, paling 2 jam, nggak bisa?" Terlihat Dimas yang sedang menimang-nimang keputusannya, Meta pun menampilkan puppy eyes nya agar menambah keyakinan untuk Dimas yang tidak akan menyesal jika sampai mau meluangkan waktunya. "Oke." "Eh? serius?" "Yaudah, gue beres-beres dulu." Meta mengangguk semangat, "gue tunggu di luar." Bersamaan dengan keluarnya Meta dari ruangan, telepon pun Dimas berdering, menampilkan sebuah kontak yang tadi sempat ia pikirkan. "Ha.." ucapan Dimas di balik telepon terjeda karena seseorang di seberang sana mendahuluinya bicara dengan intinasi suara yang tak biasa. "Pelan-pelan, Nes, ngomongnya. Kenapa?" Belum sampai 5 menit Meta menunggu, Dimas sudah menampikkan dirinya, namun sayang, bukan untuk pergi dengannya seperti yang baru saja keduanya setujui. "Sorry, gue harus jemput Nesya. Kita nontonnya lain kali aja, ya," tutur Dimas sebelum akhirnya meninggalkan Meta. "Nesya lagi, Nesya lagi," dengus Meta. "Sampai kapan lo mau hidup dalam bayang-bayang adik lo itu, sih, Dimas?! sampai kapan?" Butuh waktu 30 menit untuk Dimas sampai di lokasi yang telah adiknya kirimkqn melalui fitur share lokasi dalam pesan w******p. Sepertinya acara berlangsung di lantai yang terlihat terang benderang itu, lantai dengan 5 deretan jendela dari bawah, tempat di mana Dimas berdiri sekarang. Baru saja Dimas hendak masuk ke dalam gedung, ia disuguhkan pemandangan seseorang yang dicarinya sedang digandrungi orang-orang berperlengkapan kamera dan pengeras suara. "Bukankah Anda sekertaris dari Pak Kavin?" "Saya dengar, Anda baru saja bergabung di perusahaan Ardana Group's?" "Apa hubungan Anda dengan Pak Kavin Ardana?" "Mengapa Pak Kavin memeluk Anda seperti tadi?" "Sedekat apa hubungan Anda dan Bapak Kavin?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dengan bertubi-tubi dan tak ada satu pun yang bisa Nesya jawab. Lagipula apa yang bisa ia katakan? bahkan ia sendiri oun tidak tahu-menahu mengenai apa yang Kavin lakukan padanya tadi. "Sa-saya.." belum sempat Nesya membuka mukutnya dengan sempurna, seseorang sudah menyeruak kerumunan lalu hendak membawanya pergi. Tapi itu hanya rencana, nyatanya Dimas menjadi ijut terjebak dalam lingkaran setan itu. "Bisa tolong jelaskan, siapa pria ini?" Nesya mendelik ke arah Dimas, perilakunya yang gegaba membuat keadaan malah bertambah runyam. "Apakah kalian sedang terjerat cinta segitiga?" "Ah, bukan, bukann!" elak Nesya, "dia, dia ini.." "Saya calon suaminya!" pungkas Dimas, sontak membuat semua orang yang sedang mengambil gambar ikut tertohok, begitu pun dengan Nesya. "Calon suami dari wanita yang kalian pertanyakan hubungannya dengan pria lain." "Tapi tadi, tadi.." "Saya di sini!" terdengar suara lain yang tak lagi asing. “Saya orang yang memiliki jawaban atas pertanyaan kalian.” Kavin membuat perhatian semua orang teralih padanya. *** Ponsel Dimas telah berdering ke sekian kalinya, melihat sang pemiliknya sama sekali tidak berniat untuk menerima panggilannya tersebut membuat Nesya berinisiatif untuk mewakili. “Nggak usah diangkat,” ujar Dimas, membuat Nesya mengurungkan niatnya, tapi tidak dengan rasa penasarannya. “Ini Meta, loh.” Dimas mengangguk, “tahu. Biar gue hubungin lagi pas udah nyampe rumah aja. Ribet. Lagi nyetir.” “Biasanya juga nggak apa-apa. Siapa tahu, penting.” “Nesya!” Dimas mengambil alih ponsel miliknya, “ngak nurut banget, sih, kalau dibilangin.” Ting! Notifikasi pesan masuk. “Kalau kamu nggak dateng, biar aku pergi nonton sendiri aja!” Nesya membaca pesan yang Meta kirimkan. “Jadi tadi ...” “Gue nggak akan pergi.” “Eh, kok, gitu? Lagian ini baru jam 8 juga, kan. Kak Dimas bisa nyusul, kalau perlu aku bisa turun di sini, biar aku naik taksi.” Selain memberi ijin padanya untu dekat dengan seorang gadis, tapi Nesya juga seperti mendukung dan sekarang malah seolah mendorongnya. Ini terlalu berlebihan untuk Nesya lakukan kalau hanya sekadar menganggap Meta baik untuknya. "Lagian kapan, sih, gue awet sama 1 cewek?" Bersambung . . . Jangan lupa klik love dan tinggalkan komentarnya juga yaa.. sebagai tanda kalau kalian mendukung cerita ini :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN