10. Tak seperti biasanya

1802 Kata
"Ini uang untuk mengganti baju yang Bapak belikan kemarin." Nesya menyimpan sebuah amplop coklat di atas meja Kavin. "Pantrang mengambil kembali apa yang sudah diberikan. Saya yakin, kamu tahu pepatah lama itu." "Itu berlaku untuk seseorang yang mau menerima pemberiannya, beda halnya dengan yang tidak mau menerimanya." "Kalau gitu, kamu bisa memberikannya pada orang lain." "Mana bisa, ngasih barang bekas?" "Maksud saya, uang yang kamu bawa ini! banyak orang yang membutuhkannya, saya yakin, nggak akan ada orang yang mau menolaknya." "Ta-tapi.." "Kalau sudah selesai bicara, kamu boleh keluar!" sela Kavin. "Jangan buang waktu saya, dan ini," menggeser amplop coklat yang Nesya taruh di atas mejanya lebih mendekat pada Nesya, "berikan pada yang membutuhkan." Nesya mengepal tangannya kuat. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun, dan sebelum meledak ia pun memilih segera keluar dari ruangan Kavin, atau dengan lebih lama melihat wajah pria itu akan membuatnya semakin dibuat naik darah. "Sok banget, sih, jadi orang?!" rutuk Nesya, "nggak bisa banget hargain niat baik orang lain. Dia nggak tahu apa, apa yang gue korbanin demi dapetin uang ini?!" "Nesya?" panggil seseorang, "saya mau bicara sama--kamu baik-baik aja, kan?" "Ba-baik, kok, Pak!" Nesya memaksa senyum pada wajah memerahnya. "Masih pagi, kenapa wajahnya sudah kusut begini?" telisik Abi, "apa sepagi ini Kavin sudah menyulitkan kamu?" "Eh?" "Ck! anak itu kapan anak itu tidak terlalu keras. Biar saya kasih tahu anak itu." "Ah, nggak, kok, Pak!" tahan Nesya, "saya cuma..saya habis makan pedes, makanya ini lagi kepedesan. Huwh." Nesya mengipas-ngipas mulutnya, bersikap seperti apa yang baru saja ia akui. "Benar begitu?" Nesya mengangguk cepat. Biar saja ia simpan sendiri, daripada harus melibatkan orang lain, apalagi orang itu adalah yang pangkatnya lebih tinggi dari Bosnya. Mungkin di depannya ia akan selamat, tapi di belakang? bahkan sebelum itu, mungkin Kavin telah membuatnya hilang tanpa jejak. "Bagus kalau begitu." "Maksud Bapak, saya kepedesan itu bagus?" "Eh, bukan." Abi tertawa renyah, "maksud saya, saya sedang nggak mau kesal sama Bos kamu itu, karena malam ini ada kejutan untuk dia." "Kejutan?" Abi mengangguk. "Acara pengangkatan Kavin menjadi CEO, dan saya butuh bantuan kamu." "Sa-saya?" heran Nesya, menunjuk wajahnya sendiri. Entah apa yang bisa ia lakukan untuk hal sebesar ini. Abi kembali mengangguk. "Sepulang kerja, kamu ke ruangan saya." "Pulang kerja?" Lagi-lagi Abi mengangguk. "Tenang saja, akan saya hitung lembur." "Lembur?" "2x lipat." Kali ini Nesya yang mengangguk semangat. Wajah sendunya seketika berubah sumbringah. Bagaimana tidak? ia perlu mencari pendapatan lebih, semakin cepat ia mendapat banyak uang, semakin cepat ia mendapatkan Dimas kembali padanya. *** Dering telepon menjeda aktifitas Kavin di depan laptop yang seperti tak pernah ada habisnya. Tak sampai satu menit, teleponnya terputus secara sepihak. Siapa lagi kalau bukan Ray Abiputra? satu-satunya manusia yang dapat meminta Kavin mengabaikan pekerjaannya sementara waktu, yang bahkan tak perlu jawaban karena pria itu hanya menerima satu ketentuan. Terlaksana. Seperti yang terjadi barusan, pria itu hanya menuturkan maksudnya, lalu menyudahi teleponnya begitu saja. Kavin melihat arloji di tangannya, baru waktunya makan siang, tapi pimpinan tertinggi perusahaannya itu malah meminta karyawan dipulangkan, bahkan tanpa potongan gaji. Bukankah merugikan? Terkadang ia bingung, pamannya itu mengurus perusahaan sampai sebesar ini, benar-benar berjiwa pengusaha, atau hanya ingin amal?! Kalau begini caranya, ia memang perlu cepat menggantikan posisi pria yang kian menua itu. Atau rank yang sudah perusahaannya dapat selama ini akan menurun. Kavin meraih jas yang ia taruh di atas sofa, namun setelah memakainya, ia merasakan keanehan, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Dan benar saja, ada sesuatu di sakunya. Ukuran jas yang pas dengan postur tubuhnya, tentu saja akan membuatnya merasakan jika ada sesuatu yang lain dari apa yang Kavin pakai. "Amplop?" Kavin mengeluarkan benda yang tak kecil itu dari sakunya. "Eh, kok?" Apa sekarang bawahannya itu sedang manantang dirinya? beraninya gadis itu tidak menuruti keinginannya. Lagipula ia tidak bisa mengambil kembali apa yang sudah diberikannya. Kavin harus menemui gadis keras kepala itu. "Nes.." ucapan Kavin menggantung. Tak ada siapapun di meja sekertarisnya. "Kamu kihay sekertaris saya?" ujar Kavin pada seseorang yang baru saja ingin menyapanya. "Nesya?" "Iya. Dia." Memang wajar saja gadis itu tak dikenal sebagai sekertarisnya. Sebab memang Nesya tidak terlihat seperti sekertaris yang lainnya, yang selalu mengiringi ke mana pun Bosnya pergi. "Baru aja pulang, mungkin ada 10 menitan." "Eh?" "Ada lagi, Pak?" "Tolong umumkan hari ini pulang cepat." "Kebetulan semuanya sudah pulang, Pak." Krik! krik! Kavin mengedarkan pandangannya. Ia baru menyadari kalau suasana kantornya sudah sangat sepi dan tak ada satu orang pun yang berlalu-lalang seperti biasanya "Ini, saya juga mau pulang." "Bagus!" ujar Kavin, tak mau terlihat bodoh di depan karyawannya sendiri. "Apa Pak Abi yang ngasih tahu kalau hari ini pulang cepat?" "Sekertaris Bapak sendiri, Nesya. Kalau Pak Abi, tadi pagi beliau ke sini sebentar, lalu pulang lagi." "Ah, iya. Saya tahu itu." Kavin berdalih. "Mau pulang, kan? silakan." "Kalau begitu, saya permisi." Apa sekarang Kavin mulai tersisihkan? ia jadi orang kedua yang tahu mengenai informasi sepenting ini? yang benar saja! Bahkan jika mau, ia bisa saja menarik kembali keputusan ini dan membuat para karyawannya kembali bekerja saat ini juga. Sayangnya ia masih menghormati Abi, seseorang yang telah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Sesampaimya di rumah, Kavin tak bisa menemukan keberadaan pamannya. Sampai sebuah telepon dari seseorang yang ia cari menghubunginya, tapi bukannya menjawab segala pertanyaan, pria itu malah membuat Kavin semakin bertanya-tanya. "Apa stylist buat kamu sudah datang ke rumah?" "Kavin nggak akan ngelakuin apa yang Om minta, sebelum Om kasih tahu apa yang sebenarnya." "Kamu nggak mau cepet gantiin posisi Om di kantor?" "Mau lah. Biar nggak ada yang namanya pulang sebelum waktunya." "Kalau gitu, nggak usah banyak tanya." Tut! tut! tut! Telepon terputus. Kavin hanya bisa menghela napas panjang. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan hal semacam ini, tapi lama-lama gedeg juga! untung orang tua. "Maaf, Pak, apa saya sudah bisa menjalankan tugas saya?" ucap seseorang dari balik tubuh Kavin. "Anda siapa?" "Kebetulan saya stylist yang Pak Abi minta untuk.." "Oke!" sela Kavin. "Dimulai dari mana?" Pria dengan setelan jas itu pun membuat suara dari kedua tangannya yang ditepuk, lalu setelahnya bermunculanlah beberapa manusia lainnya yang dapat dipastikan bahwa mereka adalah satu kesatuan dari sebuah tim. Kavin terkejut, ia tak mengetahui kalau ada hal semacam ini. Ia bisa menerima kalau hanya satu saja yang menyiapkan dirinya, tapi tidak dengan ramai-ramai seperti ini. Rasanya seperti ia akan dipakai menjadi bahan percobaan. Bukannya mempesona, ia malah meniadi badut lampu merah. "Stop! berhenti di sana." Kavin mengintruksi. "Saya bisa menyiapkan diri saya sendiri, jadi ..." "Maaf! tapi ini perintah Pak Abi," pria yang menjadi pimpinan dari 6 pria jadi-jadian lainnya--terlihat dari pakaian super ketat juga jari-jari tangannya yang lentik--menahan pintu yang hendak Kavin tutup. "Anda nggak tahu siapa saya? saya CEO dari Ardana groups. "No, no, no! Kalau hari ini anda tidak kami urus, maka anda tidak akan pernah menjadi CEO dari Ardana groups." Brak! Pintu kamar tertutup, mengurung Kavin dengan sekumpulan pria yang tak bisa Kavin percaya. "Cuss!" Pria bertuliskan Rasyid pada name tag nya memberi intruksi pada anggota yang lainnya untuk memulai yang menjadi bagiannya. Ternyata pria yang pertama ia lihat meyakinkan pun tak jauh beda. Sungguh, baru kali ini Kavin salah menilai kepribadian seseorang. Dengan nama semacok itu, kenapa bisa kelakuannya bisa menjadi berbanding terbalik? "Kalau dalam pertemuan formal anda bisa memanggil saya Rasyid," ucap pria yang merasakan tatapan aneh dari Kavin, "tapi kalau sudah berkutat dengan pekerjaan saya yang menyenangkan ini, panggil Rasyida ihii," tambahnya dengan intonasi suara yang dilembutkan. Kavin bergidik ngeri. Tapi ia tidak bisa melakukan apa pun, atau jika ia melakukan perlawanan sekarang maka ia harus menghadapi makhluk berjiwa perempuan yang tak hanya satu, masalahnya adalah tubuh mereka tetap saja lelaki, bahkan otot-otot tangannya pun menonjol di balik baju ketatnya. "Selesai!" seru sosok yang sudah mengaplikasikan makeup pada wajah Kavin. Sebenarnya Kavin menolak, tapi ia kalah. Lihat saja kedua tangan dan kakinya baru terbebas dari pegangan mereka yang memaksanya untuk ini. "Gimana? bagus, kan?" Garis alis terlihat lebih tebal, kelopak mata yang diberikan sedikit warna membuatnya terlihat lebih segar, Garis mata akibat kurang tidur semalam pun kini tak lagi terlihat. "Makeup itu perlu untuk wajah yang sedang dalam keadaan kekurangan, sehingga dapat terlihat sempurna seperti biasanya. Itu fungsi makeup untuk kaum pria." "Kalau fungsi buat makhluk seperti kalian?" "Bagi kami, ya sesuai kebutuhan," sahut Rasyid terkekeh. *** "Kalau bilang apa yang sebenarnya, anak itu pasti nggak akan mau datang," Abi menarik satu ujung bibirnya. "Ulang tahunmu kali ini harus berkesan," gumamnya. "Hari ini Pak Kavin ulang tahun, Pak?" Nesya menyahuti ucapan Abi yang tak sengaja terdengar. "Ssstt!" Abi berdesis, suara Nesya begitu lantang. Membuat semua pekerja yang sedang menghias ruangan melihat ke arahnya. "Jangan keras-keras, biar mereka tahu setelah acaranya berlangsung." "Kalau semuanya tahu bagus, dong, Pak. Acaranya pasti akan semakin meriah." "Tidak untuk Kavin," lenguh Abi. "Anak itu nggak pernah mau merayakan ulang tahunnya, bahkan nggak ada yang tahu kapan ulang tahunnya selain saya. Tapi kali ini, saya akan membuat pengumuman yang tidak pernah semua orang dengar. Lagipula setelah menjadi CEO, dia tidak bisa lagi menyembunyikan identitas aslinya." Nesya mendengarkan penuturan Abi begitu serius. Meski topik pembicaraannya merupakan orang paling menyebalkan yang pernah ia temui seumur hidupnya, tapi kali ini telinganya tidak menjadi panas dengan mendengar namanya disebut. Telepon Abi berdering, pria itu mengangkatnya dan meminta Nesya untuk mengawasi pekerjaan yang menjadi petugas dekorasi. Ya, ia dibayar lembur hanya untuk melihat ini. Kalau bisa, bosnya ulang tahun saja setiap hari. Dengan begitu ia bisa mendapat bayaran lebih tanpa perlu mendapat perlakuan sarkastik dari manusia satu itu. Di tengah-tengah Nesya sedang menjalankan tugasnya untuk melihat-lihat pekerjaan yang hampir selesai, tiba-tiba sesuatu menimpa tubuhnya lalu kemudian penerangan padam. "Eh, apa ini?!" Tak ada siapa pun di ruangan ini. Nesya sendiri. tak ada yang menyadari apa yang terjadi padanya. Dan sekarang entah benda apa yang menimpa Nesya, hanya saja benda tersebut malah melilit tubuhnya. Tanpa ada penerangan begini membuat Nesya kesulitan untuk melepaskan diri, pergerakannya pun semakin terbatas. Dalam kesibukan Nesya, terdengar langkah kaki yang menghampiri. Nesya tidak menyadarinya, hanya saja seperkian detik kemudian seuatu menyala, sesuatu yang melekat pada tubuhnya. Benda yang melilit tubuh Nesya ternyata sebuah lampu tumblr. Nesya memerlukan waktu untuk mengembalikan penglihatannya, bersamaan dengan penekan tombol turn on pada pusat lampu tumblr yang masih belum mengalihkan pandangannya dari seseorang yang tubuhnya terlilit benda berkelap-kelip di hadapannya. Ketidaksadaran Nesya atas apa yang terjadi pada dirinya justru membuat Kavin tak mampu berkedip. Bukan lampu berkelap-kelip yang membuat keindahan seperti seharusnya, tetapi sosok asing yang kini berada di tengah-tengah benda berkedip itu mulai membuat keindahan yang biasa terlihat menjadi tak seperti biasanya. "Pak Kavin?" panggil Nesya entah yang ke berapa kali, sampai akhirnya Kavin menyadari saat kini Nesya satu langkah berada di hadapannya. "Tolongin, kek. Nggak punya niat baik apa?!" Bersambung . . . Jangan lupa klik love dan tinggalkan komentarnya juga yaa.. sebagai tanda kalau kalian mendukung cerita ini :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN