"Permisi, Pak. Pesanan Bapak sudah datang." Nesya menyimpan kotak yang ia bawa di atas meja Kavin.
"Itu buat kamu."
"Sa-ya?" Kedua mata Nesya mengerjap tak paham.
"Nggak mungkin buat saya pakai, kan?"
"Tapi saya pikir ini buat.."
"Buat?" ulang Kavin, membuat Nesya tak segan untuk melanjutkan ucapannya.
"Maaf, saya nggak bisa menerimanya."
"Dan saya nggak bisa kehilangan nama baik saya karena kamu," pungkas Kavin menohok, membuat Nesya kembali memutar tubuhnya, melihat pemilik suara yang telah tega mengatakan hal yang begitu kasar padanya. "Kamu itu sekertaris saya, dan saya nggak mau orang lain mengatakan hal buruk tentang kamu."
"Eh?"
"Saya nggak akan membiarkan penilaian buruk orang lain mengotori semua hal tentang saya, karena kamu sekarang adalah bagian dari saya."
Nesya memutar matanya. Selama ini ia bisa sangat tidak peduli dengan tanggapan orang lain, lalu sekarang, bagaimana ia bisa menjaga tanggapan orang lain mengenai atasannya melalui diri sendiri?
"Tetep aja saya nggak bisa."
"Saya nggak perlu ijin siapapun."
"Pak Kavin bilang, kalau Bapak nggak akan membiarkan oran lain memandang buruk Pak Kavin, kan? dan saya nggak bisa biarin orang menganggap kalau Pak Kavin sama saya ada apa-apa."
"Maksud kamu?"
"Tadi Dion lihat isi kotaknya, kalau dia tahu Pak Kavin beli ini buat saya, nanti dia bisa mikir kalau ..."
"Kita punya hubungan spesial?"
Nesya mengangguk. "Harusnya Pak Kavin bilang dulu, mungkin tadi saya akan..."
"Ppffftt!" Kavin terkekeh, "ini cuma baju. Nggak akan ada hal yang seperti itu. Lagipula akan sangat lebih mencurigakan kalau kamu memakai jas saya."
Nesya membuka ikatan jas yang masih melekat pada pinggangnya, "saya bisa seperti ini sampai jam pulang."
"Kamu bukan satu-satunya, jadi kamu nggak usah geer."
"Apa dia bilang? geer?" geram Nesya dalam hati. Pria itu telah salah dalam mengartikan maksudnya.
"Baik kalau begitu. Akan saya terima." Nesya membawa kembali kotak yang memang diperuntukkan padanya.
"Jangan diterima doang, tapi dipakek!"
"Iya, .."
"Se-ka-rang!!"
"Baik, Bapak Kavin!" ujar Nesya penuh Penekanan. "Terima kasih atas perhatiannya. Saya sangat tersanjung," memaksa senyum, "tapi saya akan menganggap ini sebagai hutang!" pungkasnya kemudian, mencabut barcode yang masih tergantung, melampiaskan kekesalannya yang sama sekali tidak bisa ia keluarkan.
"Emang dia pikir dia siapa?" gusar Nesya setelah berhasil keluar dari ruangan Kavin. "Ya, ya, ya, dia emang bos besar, tapi bukan berarti dia bisa ngelakuin apa yang dia mau, kan? termasuk beli ini tanpa.." ucapannya terhenti, "what?! Se-sepuluh juta?" kejutnya, melihat angka yang tertera pada barcode yang masih ia pegang. "Gaji sebulan aja nggak cukup, Nesya! gimana cara balikinnya?!"
Meski kegalauan tidak sampai di sana, tapi Nesya tetap berusaha fokus dengan pekerjaannya. Untung saja Bos pembawa masalahnya itu tak keluar dari ruangannya bahkan sampai jam pulang sekalipun. Sebenarnya Nesya heran, mengapa bisa ada manusia yang sampai sebetah ini dengan pekerjaannya, yang melupakan segalanya seperti tak ada hari esok.
Apakah ia langsung pulang, atau harus ijin dulu? sebenarnya ia malas melihat wajah pria itu, terlebih lagi karena membuat Nesya mengingat dosanya yang harus mengembalikan uang sebesar harga baju yang dipakainya ini. Kerja saja baru beberapa hari, bukannya untung, malah mines 2 bulan gaji.
Tak mau melakukan kesalahan lagi, dengan berat hati Nesya pun mengetuk ruangan Kavin yang sudah seperti kandang Buaya baginya. Belum sempat Nesya berbicara, penghuninya sudah mendahului maksud Nesya.
"Kalau udah waktunya pulang, pulang aja," ujar pria itu, tanpa mengalihkan fokus dari lembaran kerjanya. "Bukan anak Tk lagi, kan?"
Nesya geram. Ia amat geregetan. Tak bisakah pria itu bersikap baik? setidaknya menghargai perilaku sopannya, karena ia pun memaksa diri untuk melakukan ini. Rasanya ingin sekali ia mengacak-ngacak tumpukan kertas yang berbaris rapi di atas meja milik Bosnya itu sekarang juga. Namun apalah daya, yang ia bisa lakukan hanya mengangguk paham untuk patuh dan undur diri seperti apa yang pria itu suruh.
Belum habis ketidaksenangannya atas yang baru saja terjadi, kini di depan kantornya ia dihadapkan dengan sosok lain yang tidak bagus untuk emosinya. Nesya yang tidak ingin menambah penyakit hati pun bersikap seolah tak melihat, namun sepertinya seseorang yang ia ingin hindari tidak memikirkan hal yang sama.
"Nesya, tunggu!" wanita itu menghadang jalan Nesya. "Salah gue apa, kenapa lo bilang sama Dimas kalau gue udah dorong lo? gue nggak ngelakuin itu."
Nesya mengangkat bahunya, "nggak apa-apa. Cuma iseng aja."
"Apa? kok lo tega, sih?"
"Intinya, kalau Kak Dimas emang suka sama kamu, dia pasti merjuangin kamu, nggak peduli apa pun."
"Masalahnya, dia bukan cuma jauhin gue, tapi dia jauhin semua cewek yang nggak lo suka."
"Nah itu kamu tahu. Dia Kakak aku, dan aku nggak mau kalau dia sampai salah milih cewek. Nggak salah, kan?"
Meta meraih lengan Nesya, "tapi gue bener-bener sayang sama Dimas. Please, kasih gue kesempatan. Kalau perlu, gue bisa buktiin sama lo. Gue bisa kasih apa pun yang lo minta."
"Apa yang aku minta?"
Meta mengangguk.
Nesya menarik lengannya, "maksud kamu, aku orang yang bisa disogok?"
"Bukan kayak gitu, maksud gue.."
"Sorry-sorry to say, ya!" potong Nesya, melewati tubuh Meta.
Meta menghela napasnya panjang. Satu-satunya kunci agar ia bisa mendapatkan Dimas adalah adiknya, tapi kalau kenyataannya seperti ini, ia bisa apa lagi?
"10 juta!"
Meta mendongak, melihat pemilik suara yang baru saja memilih pergi setelah penolakannya kembali menghampirinya.
"Gimana? 10 juta bisa, nggak?"
"Eh?"
"Ck! lama. Yaudah kalau nggak mau."
"Bisa!" pungkas Meta. "Gue bisa kasih lo 10 juta."
"Jangan salah paham," ujar Nesya, "bukan mau jual restu, aku cuma mau lihat kesungguhan lo aja."
Meta mengangguk cepat. "Gue tahu." Mata sendunya pun seketika menjadi berbinar. Ia telah berhasil menembus tembok terbesar yang menghalangi cintanya.
"Mana?"
"Se-sekarang gue nggak bawa cash. Tapi habis ini gue pasti langsung transfer, gue janji." Meta memeluk Nesya, "thank's! Gue akan gunain kesempatan yang lo kasih sebaik mungkin."
***
Tok! Tok!
"Boleh masuk?" suara Nesya di depan pintu kamar Dimas.
"Biasnya juga langsung masuk," sahut Dimas, membuka pintu. "Kenapa jadi sungkan begitu? humm."
"Ntar kayak waktu itu lagi, mergokin Kak Dimas ganti ba.."
"Sssttt!" Dimas menyimpan jarinya di depan bibir Nesya untuk membuatnya diam, "jangan keras-keras, nanti Mama denger."
"Kita, kan, adek-kakak!" Nesya menjauhkan tangan Dimas yang membuatnya sulit berucap, "Kak Dimas lupa, sama kata-kata Kak Dimas sendiri?"
"Yaudah, mau apa? tumben nyamperin."
"Ini malem Minggu, kenapa di kamar doang?"
"Biasanya juga gitu."
"Tapi aku mau keluar,"
Dimas menarik satu ujung bibirnya, "adek gue udah gede? masa, sih? kok gue nggak percaya."
"Yaudah kalau nggak mau." Nesya menghentakkan kakinya, hendak pergi.
"Iya-iya!" tahan Dimas. "Kok ngambekan, sih, sekarang?!"
"Serius?"
Dimas mengangguk, "Sana, siap-siap dulu."
Cup!
Nesya mengecup pipi Dimas. "Yang ganteng, ya!" serunya senang, lalu kemudian berlari kecil kembali kamarnya.
Berbeda dengan Dimas, ia masih mematung di tempatnya, merasakan sesuatu yang aneh, namun 1 detik kemudian ia pun segera membuyarkan ketidakjelasannya, atau ia akan membuat Nesya menunggu lama.
30 menit berlalu. Dimas yang sudah rapi dengan gaya kasualnya kini berada di depan pintu kamar Nesya, namun telah berkali-kali ia panggil, gadis itu tak juga menampakkan batang hidungnya.
"Aku di bawah!" terdengar suara Nesya dari lantai bawah.
Dimas pun bergegas menuruni anak tangga. "Lo udah si.." ucapannya terhenti, sebab yang ada di hadapannya sekarang bukanlah Nesya, melainkan gadis yang kedatangannya sudah ia tolak berkali-kali.
"Ngapain lo di sini? udah gue bilang ..."
"Siapa yang ngajarin Kak Dimas kasar ke cewek?" kedatangan Nesya menyela perlakuan Dimas yang hendak membawa Meta keluar, "apalagi sama cewek cantik. Itu pantrangan buat cowok."
"Kok, lo belum siap?"
"Terus, aku harus jadi kambing conge, gitu? ya, kali."
Dimas yang baru pertama kali mendapati perlakuan yang seperti ini dari adiknya, merasa tidak percaya, ia menaruh banyak curiga. Apa mungkin Meta melakukan hal buruk pada Nesya, sampai-sampai adiknya itu merubah pikirannya?!
"Aku serius!" Nesya membalas tatap Dimas yang masih menaruh tanya. "Nggak mungkin, kan, aku terus-terusan jadi penghalang hubungan Kak Dimas? lagian kelihatannya Kak Meta baik, jadi kali ini aku baik-baik aja."
Cup!
Sebuah kecupan mendarat pada kening Nesya. "Gue tahu, lo bisa sedewasa ini."
"Sorry, gue udah kasar sama lo," ucap Dimas kemudian pada Meta.
"Aku bisa ngelakuin apapun demi kita."
Tangan keduanya saling bertautan di depan mata Nesya. Begitu erat, seperti tak terlepaskan. Seiring perginya mereka, begitu juga senyum Nesya yang ikut menghilang. Entah mengapa, hatinya begitu sakit. 1 persoalannya telah selesai, namun malah datang persoalan lainnya. Tapi kali ini, apakah ia bisa menghadapinya? melihat Dimas dengan gadis lain. Lalu bagaimana dengannya? dengan perjuangannya untuk menjadi dewasa hanya agar Dimas melihatnya sebagai gadis, bukan adiknya lagi. Apakah nanti akan baik-baik saja? apakah ia bisa mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya kembali?
Bersambung . . .
Jangan lupa klik love nya yaa.. untuk bukti kalau kalian mendukung cerita ini :)