8. Menggali lubang sendiri

1789 Kata
"Kok udah rapi, mau ke mana?" tanya Dimas. "Kak Dimas lupa, sekarang aku udah punya kerjaan?" Dimas menautkan kedua alisnya, nampaknya kalimat yang gadis itu katakan lebih cocok diperuntukkan pada dirinya sendiri. Bahkan Dimas masih ingat bagaimana Nesya mengadu padanya sambil menangis sampai semalaman, tidak ingin pergi ke perusahaan tempat kerjanya lagi. "Kalau gitu, siapa yang semalem nangis sampe bikin baju gue basah?!" Dimas mengusap dagunya, menyindir sengan cara yang halus. Nesya mengangkat bahunya singkat, "masih mending bajunya nggak dibuat lap ingus," balasnya, bersikap seolah tidak ada yang salah. Nesya mungkin bisa saja melupakan kesalahan orang lain, tapi bagaimana bisa ia melupakan kesalahannya sendiri? itu sangat tidak bertanggungjawab. Lagipula sekarang perasaannya sudah jauh lebih baik, dan belum tentu orang yang telah ia buat dalam masalah sudah membaik seperti dirinya. Lengan Dimas menyentuh tembok, membuat jalan Nesya terhalang. "Gaji gue masih cukup buat nafkahin kalian berdua, jadi lo nggak perlu kerja." "Em, em!" Nesya mengacungkan telunjuknya lalu menggerakkannya ke kiri dan ke kanan. "Buat nafkahin bunda aja, gue nggak termasuk!" "Kenapa nggak? lo adek gue." "Tapi kita nggak ada hubungan darah. Karena yang berhak dapetin nafkah buat yang nggak punya hubungan darah, cuma hubungan suami-istri." Hening. "Jadi, kalo Kak Dimas tetep mau, Kak Dimas bisa jadiin aku..." "Eghm!" Dimas berdeham. "Cepet turun, udah hampir telat. Gue nggak mau lo kena masalah lagi." Tanpa menunggu Nesya menyahut, Dimas sudah mengambil langkah lebih dulu. Jelas sekali lelaki itu menghindari topik pembicaraan Nesya. Ya, sudah biasa. Tapi, apakah Nesya lelah? justru gadis itu semakin gencar mengubah silsilah keluarganya yang tidak terncana itu. "Aku bakal bayar semua biaya hidup aku, nanti!" teriak Nesya, mengikuti ke mana Dimas pergi. Selepas mendengar kalimat terakhir Nesya, kaki Dimas berhenti tepat di anak tangga pertama. Dimas tak bisa terima apa yang baru saja gadis itu katakan. Sebenarnya apa yang Nesya pikirkan? Nesya menganggapnya apa? Namun ketika Dimas hendak memutar tubuhnya untuk melakukan protes, kakinya tergelincir. "Kak Dimas?!" Nesya menarik lengan Dimas, namun bukannya terhindar dari keterjatuhan, ia hanya mengalihkan arah jatuh, setidaknya tidak akan sesakit terguling dari anak tangga paling atas. "Awh!" ringis Nesya, pasalnya ia harus menebus kejadian yang telah berusaha ia gagalkan. Ketidakpercayadirian Nesya dapat mengimbangi beban Dimas, membuat Nesya menyalurkan seluruh tenaganya, dan karena sebab itu pula Dimas hilang keseimbangan lalu berakhir terjatuh menimpa tubuh mungil gadis yang bahkan besarnya saja hampir setengah badan milik Dimas. Lain halnya dengan Dimas, lelaki yang menimpa tubuh Nesya sepertinya belum menyadari apa yang telah terjadi. Kedua mata Dimas memang terbuka, tapi ringisan Nesya tidak mampu membuat lelaki itu sadar sampai akhirnya sebuah gigitan berakhir pada bahu Dimas. "Arggghh!" erang Dimas. "Jangan salahin aku!" kata Nesya yang akhirnya sudah terbebas dari beban. "Kalau nggak gitu, aku bakal kehabisan napas tadi," tambahnya sembari menstabilkan saluran pernapasannya. "So-sorry," ucap Dimas tergagap, "lo nggak apa-apa, kan?" "Menurut Kakak, aku jatoh ke lantai terus ditambah badan Kakak.." "Ssstt!" Dimas menyimpan telunjuknya pada bibir Nesya. "Kalo Mama denger, ntar bisa salah paham." "Salah paham kenapa?" Nesya menautkan kedua alisnya, "kita, kan, adek-kakak. Kita juga udah pernah saling liat,..." Nesya tak melanjutkan ucapannya, hanya saja gerakan matanya mampu membuat Dimas mengerti dan bahkan membuatnya terkejut bukan kepalang. "Nesya?!" lenguh Dimas, gemas pada gadis yang kini sudah berhasil lolos dari jangkauannya. "Please, jangan bikin gue lupa kalau lo itu adek gue," gumam Dimas, menatap sosok yang sedang sibuk mengumbar senyum memabukkan itu padanya. *** "Aduh! apes baget, sih?!" Nesya memijit pundaknya sendiri akibat terjatuh dengan Dimas, tadi. Bahkan kekhawatirannya saja belum terobati, tapi ia harus juga merasakan kesakitan hal lainnya. "Pagi, Pak!" Nesya segera berdiri, menyapa sosok yang kedatangannya telah ia nantikan. Kavin hanya mengangguk, tanpa melihat keberadaan Nesya. "Pak Kavin, tunggu!" Nesya menyusul Kavin, "u-untuk masalah kemarin, sa-saya, eghmm," menepuk pipinya sendiri, karena tidak bicara dengan lancar, "saya mau.." "Pagi!" kedatangan seseorang menyela Nesya, dan tentu saja merebut fokus Kavin dari gadis itu. Nesya mengabsen tubuh wanita yang baru datang itu, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Semuanya begitu mencolok. Bukan warnanya, tapi mengenai ukuran baju yang kurang bahannya. Nesya mengernyit ngeri, tapi setelah melihat raut wajah yang Kavin tampilkan pada wanita itu berbanding jauh dari yang Kavin berikan padanya, sepertinya Kavin menyukainya. Entah mengenai busana yang wanita itu pakai, atau bahkan memang wanitanya lah yang sebagai objeknya? "Ada apa, pagi-pagi begini?" tanya Kavin setelah adegan cium pipi kanan cium pipi kiri khas ibu-ibu arisan. "Maaf nggak telfon dulu, aku pikir bisa nemuin kamu langsung di sini." "Aku-kamu?" gumam Nesya, "hubungan mereka apa, sih? pacaran?" batinnya. "Masih tentang project lama atau yang baru mau jalan?" "Ohhhh masalah kerjaan," batin Nesya lagi. "Kita bisa obrolin di ruangan kamu?" usul wanita itu. "Dih, gatel!" delik Nesya masih membatin. "Oke." "Eh?" Nesya menghela jalan Kavin. "Saya masih belum selesai bicara." "Siapa kamu? berani-beraninya ngomong kayak gitu sama pemimpin tertinggi di perusahaan ini?!" "Dia Nesya, sekertaris baru saya," sahut Kavin, membawa tubuh wanita yang menghadang Nesya kembali ke posisinya. Merasa diperkenalkan secara resmi, Nesya pun tersenyum manis pada wanita yang menatapnya sinis. Mungkin lebih kepada mempetlihatkan kepuasannya, walau hanya wanita itu yang mengerti maksudnya. "Nesya Lituhayu, sekertari barunya Pak Kavin Ardana!" mengulurkan tangan. "Alana Juwita, rekan kerja atasan kamu. Sudah hampir 10 tahun kita bersama," Alana menerima uluran tangan Nesya. Glek! Nesya menelan salivanya berat. Ia kalah telak. "Eghmm!" Kavin berdeham, membuat kedua tangan yang masih tertaut di depannya segera melepaskan diri. "Kamu mau bicara apa?" "Sa-saya.." "Kamu bisa temui saya setelah kamu memikirkan apa yang akan kamu bicarakan. Jangan buang waktu saya." Kavin masuk ke dalam ruangannya, tentunya membawa Alana bersamanya. "Dasar mata keranjang!" hardik Nesya, kembali duduk di tempatnya. Hening. Nesya melihat kedua manusia yang katanya sedang berbicara mengenai pekerjaan itu di dari dinding kaca ruang kantornya, sampai akhirnya Kavin memergoki dirinya dan sekarang ia malah menatap dirinya sendiri. "Eh? kok, bisa?" Nesya menyentuh kaca yang berubah fungsi itu. Ini memang memukau, tapi jika memikirkan apa yang terjadi di dalam, itu sangat licik. "Kalau dia bisa baik ke cewek itu, harusnya dia juga bisa baik ke aku. Cuma masalahnya, harus ada cara." Nesya menampilkam senyum tak terbaca, "dan kayaknya aku tahu apa yang harus aku lakuin sekarang." *** "Sekertaris kamu ke mana?" heran Alana, setelah keluar ruangan dengan diiringi Kavin. "Masih baru udah kabur-kaburan. Kalau kayak gini terus, kamu harus cari yang lain, tentunya yang ngerti kerjaan. Aku bisa bantu." "Aku pulang dulu." Alana mengecup pipi kanan dan pipi kiri Kavin. Ya, selalu gadis itu yang berinisiatif. "Sampai ketemu besok." Kavin mengangguk, "hati-hati." Baru saja Kavin masuk ke dalam ruangannya dan hendak menutup kembali pintu, seseorang menahannya. "Bapak nyari saya?" Kavin terhenyak, bahkan ia hampir terjatuh kalau saja tangannya tidak segera bertumpu pada pintu, membuatnya tertutup. "Kena, kan?" batin Nesya, "emang dasar cowok m***m, lihat kayak gini aja udah oleng." "Ka-kapan kamu ganti baju?" Nesya melihat dirinya sendiri, untuk memastikannya kembali. "Dari tadi saya pakek baju ini, kok!" bohongnya, "bapak aja yang nggak sadar." Rok sebawah lutut Nesya berubah menjadi 1 jengkal di atas lutut, kemeja pasnya berubah jadi kekecilan ditambah 2 kancing atas yang ia biarkan terbuka sebagai pelengkap, gincu pada bibirnya ia buat merah merona, juga rambut terurainya yang ia ikat, hanya untuk menambah kesan sexy. Tidak, Nesya tidak berganti pakaian seperti yang pria itu bilang, ia hanya menggunting rapi roknya, dan kemeja yang ia pakai, ia hanya menalikan kedua ujung bawah kemejanya, maka ukurannya pun mengerucut. "Jadi, apa yang mau kamu..." Kavin yang hendak berdiri kembali dibuat terduduk oleh Nesya yang mendorong tubuhnya pelan. Nesya menjatuhkan bokongnya di atas meja Kavin, persis seperti apa yang wanita tadi lakukan. "Saya minta maaf untuk masalah kemarin," Nesya membuat satu kakinya bertumpu pada kakinya yang lain tepat di hadapan Kavin, "Bapak udah nggak marah, kan?" menyentuh tengkuk Kavin, lalu menjalar pada lehernya. "Saya betul-betul nggak sengaja," bisik Nesya, membuat bibirnya bersentuhan dengan daun telinga Kavin. "Sudah tidak ada lagi masalah," ujar Kavin dingin, "kembali bekerja." Kavin sama sekali tidak menampilkan sedikitpun perlakuan Kavin yang sempat Nesya bayangkan. Apakah aksinya ini kurang menggoda? Respon yang pria itu tunjukkan hanya biasa saja, selain hanya rasa kaget ketika tadi melihatnya berubah penampilan. Kalau benar, Bos-nya itu mata keranjang maka ekspresi yang Kavin tunjukkan bukan yang seperti sekarang ini. Tapi, kalau dugaannya kali ini salah, maka sudah pasti Nesya sedang menggali lubangnya sendiri. "Kamu pikir, kamu bisa menggoda saya?" Kavin bersuara, kini wajahnya sudah sangat dekat dengan Nesya, bahkan gadis itu merasa terkejut dengan hal tak terduga yang pria itu lakukan. Tangan Kavin terangkat, menyentuh kancing kemeja Nesya. Suhu ruangan yang tadinya dingin pun berubah memanas. Keringat dingin sudah bercucuran dari pelipis Nesya. "Bekas kerokannya kelihatan!" "Huh?" Dahi Nesya mengkerut, "ke-kerokan?" Nesya salah besar. Ia pikir Kavin akan melucuti bajunya, bahkan jika itu terjadi Nesya tidak akan bisa melakukan perlawanan, bahkan ia sendiri yang memberikan umpan. Tapi yang terjadi adalah Kavin mengancingkan kembali kancing kemejanya, dan entah kapan bawah kemeja yang ia ikat pun sudah terlepas. "Nggak sekalian ditambah bau balsemnya?" Kavin bersuara lagi. "Ish!" Nesya turun dari meja, "bekas kerokan kayak gima--ahwww!" ringisnya kemudian setelah menyentuh area bahu yang Kavin tuduhkan. "Maksud Bapak, ini?" Nesya menarik kerah kemejanya, memperlihatkan bekas kemerahan pada bahunya. "Keluar!" "Tapi ini bukan bekas.." "Bukan urusan saya!" sela Kavin, "dan saya harap kamu nggak ngelakuin hal semacam ini pada siapapun lagi, atau jika itu bukan saya.." Kavin mengikat kedua lengan kemeja miliknya pada pinggang Nesya, menghalangi kaki jenjangnya yang terekspos, "kamu akan jadi bahan tertawaan karena bekas kerokan kamu itu." "What?!" Nesya membalas tatap Kavin. "saya bilang itu bukan.." "Paham?" sela Kavin lagi, tak mau mendengar. Nesya menghela napasnya panjang. Apakah ini juga termasuk pekerjaan sekertaris juga? mengakui apa yang Bosnya percaya, bahkan jika itu bukan hal yang sebenarnya. Tidak adil. Kavin membawa dagu Nesya, menagih jawaban atas pertanyaannya. Glek! Wajah Kavin sangat dekat. Nesya kesulitan bernapas. Nesya menutup rapat kedua matanya, ia butuh fokus agar mulutnya dapat mengeluarkan suara. "I-iya, Pak. Saya mengerti!" pungkasnya cepat, kemudian segera beranjak keluar ruangan. "b**o, b**o, begooo!!" rutuk Nesya sambil memukul-mukul kepalanya. "Ngapain, sih, gue?! masih mending kalau berhasil, kalau hasilnya--akh ini juga gara-gara jatoh tadi malah dibilang bekas--ishh." Di tengah-tengah konflik batin Nesya, tiba-tiba sebuah kotak tersimpan di atas mejanya. "Ini apa?" Dion mengangkat bahunya, "tadi ada kurir yang nganter. Di tulisannya, sih, buat kamu." "Eh?" Nesya ikut memastikan, "tapi aku nggak pesen apa-apa." "Kalau gitu, buka aja. Mungkin di dalem ada nama pengirimnya." Nesya membuka tutup kotak. "Baju?" gumamnya. Thank's, Mr. Kavin Ardana We'll wait for your next order. "Dari Pak Kavin?!" Dion bersuara setelah bersama-sama membaca sebuah note yang ada di dalamnya. "Baju perempuan?" herannya lagi. "Apa buat cewek tadi pagi?" pikir Nesya, "rekan kerja bisa sedetail ini?" Bersambung . . . Jangan lupa klik love nya biar ada notif kalau update bab baru:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN