Happy Reading . . . "Tapi kenapa? apa alasannya?" Dimas mencondongkan tubuhnya, "selama ini setiap kali gue bilang nggak, lo slalu dengerin gue." Bibir Nesya mengerucut, apa yang Dimas katakan memang ada benarnya juga. Nesya mulai bertanya pada diri sendiri, satu per satu perubahan dalam dirinya mulai terlihat, terlebih lagi itu mengenai Dimas. Apakah perasaan Nesya pada kakaknya itu mulai luntur? benarkah? apa sesuatu seperti itu benar-benar bisa terjadi? bahkan Nesya sudah memiliki perasaan itu selama belasan tahun. "Lo itu jelek kalau lagi mikir," telunjuk Dimas menekan kening Nesya, "jadi nggak usah banyak mikir." Nesya mendelik tak suka, "ish, enak banget ya kalo ngomong?!" Dimas tak lagi menimpali. Tanpa berkata apapun, tangan Dimas tergerak untuk melepas oversized jacket yang

