20. Risti Kritis

1564 Kata

Bambang menghembuskan napas kasar, pikirannya mengawang-awang, teringat akan wajah cantik istrinya yang tiga bulan lalu baru saja ditalaknya. Yah, sudah tiga bulan ini Bambang tinggal di Tasikmalaya, kota kelahiran orang tuanya. Di sini Bambang membantu pamannya berkebun. Tampak matahari akan segera tenggelam, Bambang mengusap peluh yang menetes dengan handuk kecil yang sudah lusuh, beranjak pergi dari gubuk kecil tempatnya melepas penat setelah berkebun. Disusurinya jalan rerumputan dengan perlahan, matanya menatap langit yang sebentar lagi berwarna gelap. Entah kenapa hari ini terasa begitu melelahkan bagi Bambang, dadanya sesak mengingat istrinya yang sangat dia rindukan namun rasa itu tertutupi rasa ego seorang lelaki yang merasa telah benar-benar dibohongi selama ini. Setelah berja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN