BAB 20

1541 Kata

Langit pagi di atas Keraton Bumi Kencana terlihat begitu jernih, seakan belum mengetahui kabar getir yang akan segera mengguncang seluruh negeri. Sekar berjalan dengan langkah cepat melewati lorong panjang beralaskan marmer putih. Di tangannya, masih tergenggam erat kain merah yang tadi pagi ditemukan menempel pada tombak. Aroma logam darah di kain itu masih samar tercium, tapi yang lebih kuat kini adalah tekad di d**a seorang putri yang telah tumbuh menjadi pemimpin sejati. Mahesa dan para pengawal berjalan di belakangnya, menjaga jarak dengan hormat. Sementara itu, ketiga adiknya — Ayu, Kirana, dan Nayla — serta Aria turut menyertai langkahnya, menunduk dalam setiap kali mereka melewati para abdi istana. Begitu tiba di pendopo utama, Raja Wiryakusuma telah menunggu, duduk di singgasana

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN