Langkah Sekar berayun perlahan melewati lorong panjang keraton. Dinding-dinding tinggi berhiaskan ukiran jati tampak berkilau terkena pantulan cahaya matahari pagi. Aroma bunga kenanga dan melati yang semerbak menambah ketenangan suasana, membuat Sekar tersenyum kecil. Namun senyum itu justru mengundang tatapan heran dari para abdi dalem yang lewat. “Lho… Ndoro Putri kok sumringah menika?” bisik salah satu abdi wanita pada temannya. “Biasane galak ngeten loh…,” sahut yang lain dengan wajah bingung. Sekar mendengarnya, tapi hanya tersenyum sambil melanjutkan langkah. Dalam hati, ia merasa geli. Jadi selama ini aku dikenal galak? Pantas Ratna tadi gemetaran begitu lihat aku bangun… Ia menuruni tangga batu menuju halaman depan, tempat seekor kuda delman hitam berhiaskan kain beludru bir

