Keesokan harinya, langit Yogyakarta tampak jernih, awan berarak perlahan seolah ingin ikut menyambut hari baru. Udara pagi yang masih sejuk berembus lembut ketika Sekar dan rombongannya bersiap untuk berangkat menuju Taman Sari. Kali ini, mereka tidak menaiki mobil—melainkan dua delman yang telah disiapkan oleh pihak keraton. Suara derap kaki kuda dan derit roda kayu di jalan batu menciptakan suasana klasik yang seakan membawa mereka mundur ke masa silam. Sekar duduk di delman pertama bersama Wiryajaya, sementara Aria dan ketiga adiknya menaiki delman kedua. Sesampainya di kompleks Taman Sari, suasana tenang langsung menyambut mereka. Dinding-dinding batu putih yang mulai kusam dimakan waktu tetap berdiri gagah, memantulkan cahaya pagi dengan keanggunan yang tak lekang oleh zaman. Burung

