Kereta kencana berhenti perlahan di depan rumah singgah berarsitektur indah dari batu putih dan kayu jati, dikelilingi taman kecil dengan bunga kenanga yang semerbak. Angin malam bertiup lembut, menggoyangkan lentera-lentera minyak yang berjejer di sepanjang jalan masuk. Ayu, Kirana, Nayla, dan Aria menatap bangunan itu dengan takjub. “Astaga…” ucap Nayla menatap sekeliling, matanya berbinar. “Ini… ini kan villa Mas Wiryajaya di masa kita! Tapi bedanya, di sini jauh lebih megah dan penuh aura kerajaan.” Ayu mengangguk cepat. “Iya, bahkan taman di sampingnya pun mirip. Cuma di masa kita udah jadi kolam ikan.” Sekar tersenyum lembut mendengar celotehan adik-adiknya. “Mungkin… tempat ini memang sudah ditakdirkan untuk kita,” ucapnya pelan, suaranya bening seperti desir air. Ia menapaki ana

