BAB 17

2128 Kata

Malam kian larut. Lentera mengapung di atas kolam, musik rakyat mengiringi tari-tarian yang dipersembahkan oleh para seniman. Aria terlihat sedang berbincang dengan seseorang di dekat taman bunga seorang panglima muda berperawakan gagah dengan mata tajam dan senyum ramah. “Rakai Darmawangsa,” katanya sambil menunduk sopan. “Panglima muda di bawah komando Jendral Mahesa.” Aria tertawa kecil. “Namamu hampir sama dengan gebetan ku di masa-- eh maksudku, namamu indah sekali!” Rakai menatapnya bingung. “Gebetan?” Aria buru-buru tersenyum kaku. “Maksudku… temanku yang gagah juga.” Mereka berdua tertawa. Entah kenapa, malam itu Aria merasa nyaman. Ada sesuatu di mata Rakai yang begitu mirip dengan Rangga. Mata yang hangat, penuh perhatian, tapi juga memancarkan keberanian yang membuatnya sul

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN