BAB 14

2617 Kata

Kereta kencana berhenti perlahan di tengah alun-alun desa yang luas, tempat yang akan dijadikan lokasi festival panen. Udara sore terasa hangat dengan aroma tanah dan padi kering yang semerbak tertiup angin. Bendera-bendera kerajaan sudah mulai dipasang di sepanjang jalan, meski masih banyak rakyat yang tampak bekerja dengan wajah lelah dan penuh hati-hati. Begitu kereta berhenti, Mahesa turun lebih dulu lalu menundukkan tubuhnya, membuka pintu, dan mengulurkan tangan untuk membantu Sekar turun. “Silakan, Diajeng.” Sekar menerima uluran itu dengan senyum lembut. Ketika kakinya menginjak tanah, para rakyat yang berada di sekitar lapangan spontan menundukkan kepala, memberi hormat dengan penuh takzim. Ada rasa hormat di sana, tapi juga… kegelisahan. Tatapan mereka campuran antara kagum dan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN