18

1438 Kata
Bel pulang sekolah di salah satu sekolah dasar sudah berbunyi sejak tadi, namun seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun masih berada didepan kelasnya, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.  “Babang mana sih? Tumben telat.” Setiap hari jum’at, entah itu kelas satu hingga kelas enam akan pulang di waktu yang sama sebab para lelaki muslim wajib mengikuti ibadah sholat jum’at. Dariel menghela nafasnya, ia kini berada didepan pintu kelasnya, menyandarkan punggungnya ke pintu. Sesekali matanya melirik ke arah dalam kelas yang sudah sepi, tiba-tiba bocah itu merasakan ada seseorang yang memantaunya dari dalam kelas. “Krkkkkk...” Bocah dua belas tahun itu langsung berlari terbirit-b***t ketika mendengar kursi di dalam kelasnya bergerak, padahal tidak ada siapapun didalam sana. Hiiiii! Dariel akhirnya memutuskan untuk menyusul adiknya, ia harus turun dulu dari lantai dua untuk menuju kelas adiknya yang berada di bawah. Saat di tangga, ia bisa melihat di lapangan bola ada adiknya yang nampak asik main. Pantas saja, batin Kakak dari Razkana itu.  Ia kemudian berjalan menuju ke arah pinggir lapangan, melambaikan tangannya ke arah Dariel yang kebetulan sedang diujung. Razkana yang menyadari kehadiran kakaknya terkejut, bocah itu milirik jam tangannya. Huh, sudah jam 11. Anak lelaki itu tidak sadar bahwa dirinya berada di dekat gawang, dimana biasanya tendangan penuh kekuatan diarahkan ke arah sana. Sial, salah satu anggota tim lawan Razkana sedang menggiring bola ke arah gawang. Dariel yang melihatnya meneguk ludahnya kasar, badan bocah yang hendak menendang bola itu hampir sebesarnya. Jika adiknya terkena tendangan dari bola itu, maka habislah. “Babang awasss!” teriak Dariel ketika bola itu melesat dari tendangan yang sialnya nampak hendak mengarah ke adiknya. “Huh?” Razkana mendongak, matanya membulat ketika bola berkecepatan tinggi itu ke arahnya. Ketika bocah itu yakin bola itu akan mengenainya, Razkana segara menutup matanya rapat-rapat berharap rasa sakitnya nanti tidak berbekas agar Bundanya tak khawatir. Perlahan Razka membuka matanya ketika belum juga merasakan hantaman dari bola itu. “Oom coklat?” Dariel yang berada dipinggir lapangan menghela nafasnya lega, jantungnya tadi serasa ingin copot. Walau ia suka sekali berkelahi dengan Razkana namun ia amat menyayangi adiknya itu. Ia berterima kasih pada lelaki dewasa yang tiba-tiba berdiri didepan Razkana sehingga bola itu mengenai punggungnya. “Lho bolanya kena Oom?” tanya Razkana.  Chandra bernafas lega ketika ia masih sempat menyelamatkan anaknya, yah walaupun itu hanya bola dengan kecepatan tinggi tetap saja akan membuat anaknya terluka. “Oom enggak papa?” “Papa baik-baik aja, Razka.” Ingin sekali rasanya Chandra mengatakan hal itu namun sekarang bukanlah waktu yang tetap. “Om baik-baik aja kok, enggak kerasa,” tawa renyah dari pria didepan Razkana membuat bocah itu mengerjapkan kedua bola matanya, entah mengapa Om Chandra seperti superhero yang menyelamatkannya. Ia kemudian tersenyum lebar. “Lho Om penculik?” Dariel yang menyusul ke lapangan setelah mengusir adik-adik kelasnya yang bermain bola agar segera pulang terkejut. “Nama Om Chandra dan enggak akan menculik kalian.” “Terus mau ngapain kesini?” tanya Dariel dengan mata menyipit, silau karena matahari membuatnya tak bisa bisa melihat jelas. “Om mau jemput kalian, mulai detik ini dan seterusnga Om yang akan menjemput kalian.” “Om memang nyelamatin Babang tapi bukan berarti Aku bakal percaya aja,” kata Razkana sambil menatap tajam pria itu. Chandra tersenyum kecil, tatapan bocah itu mengingatkannya pada seseorang ketika ia menatap Kinara. Ah, ayah dan anak sama saja. “Coba Kakak buka ponselnya, Bunda kalian pasti udah beri pesan.” Dariel langsung mengambil ponselnya yang berada di saku celananya, ada sebuah notifikasi pesan diantara notif game di ponselnya.  Kak, nanti ada Om Chandra yang akan jemput kalian. Om Chandra itu teman Bunda jadi kalian enggak usah takut. Bilang sama Om Chan untuk enggak kebut-kebutan. Bunda sayang kalian. “Bener kak?” tanya Razkana sambil mengusap keringatnya. Dariel mengangguk.  “Lho Mang Tejo gimana?” sahut Razkana bertanya. “Mang Tejo sekarang jadi sopirnya Bunda kalian yang lagi sibuk sama toko kuenya.” Kinara memutuskan untuk membuka toko kue, bukan karena uang yang diberikan suaminya kurang malah sangat banyak, suaminya juga yang mendanai toko itu. Adrian tahu bahwa Kinara kadang bosan dengan rutinitasnya sebagai seorang Ibu, jadi pria itu membukakan sebuah toko kue untuk isterinya. Dengan syarat Kinara hanya boleh pergi ke sana tiga kali kesana setiap minggu. Dan, Kinara menyutujuinya dengan antusias.  “Oke deh,” angguk kedua kakak beradik jtu kompak. “Ayo pulang,” ajak Om Chan. “Babang capekk terus tas masih di kelas,” keluh anak itu membuat Dariel mendengus. Kalo sudah kumat menjadi adik yang menyusahkan seperti ini, Ia kadang ingin menendang adiknya itu jauh-jauh. “Biar Kakak yang ambilin.”  “Makasih Kakakkk!” seru Razkana tersenyum lebar. Chandra ikut tersenyum memperhatikan keduanya, persaudaraan mereka begitu manis. “Babang mau Om Chan gendong?” tawar pria itu membuat Razkana nampak antusias. “Boleh emang,Om? Kata Ayah sekarang Babang kayak karung beras, berat.” Bocah itu merenggut kesal, ia ingat semuanya tertawa ketika Adrian mengatakan itu. Padahal Ayahnya itu hanya bercanda. “Enggak dong.” Chandra merubah posisinya menjadi jongkok. “Sini Om ilap dulu keringatnya.” Pria itu menyuruh anaknya mendekat, ketika melihat Razkana tepat didepannya, Chandra merasakan hatinya seperti ditusuk-tusuk. Pria itu mengelap keringat anaknya dengan tisu yang ia bawa. Chandra sudah mempersiapkan semua tentang anaknya.  “Babang ganteng ya,” ujar pria itu tanpa sadar. Chandra menahan air matanya agar tak jatuh, Razkana sama sekali tak mirip dengan Ibunya, Raya. Bocah itu malah mirip sekali dengan dirinya sewaktu kecil. Apakah ini hukuman untuknya? Bola mata bocah itu nampak bulat ketika menginginkan sesuatu, hidungnya kecil mancung dengan bibir yang tipis. Pipi gendut dan saat sedang kepanasan, buntalan itu memerah. “Iya dong, Babang ganteng kayak Ayah.” “Kayak Ayah?” Chandra tersenyum lebar. “Iya, Babang mau kayak Ayah Adrian. Ganteng, keren, pintar terus kayaa!” Nyessss.... Sumpah demi apapun ini lebih sakit dari putus cinta. Lebih mengenaskan dari ditolak perempuan didepan umum. Lebih menyedihkan daripada ditinggal nikah. “Oh, iya. Ayah Adrian emang hebat.” Chandra mengela nafasnya, mau berharap Razkana membanggakannya? Jangan bermimpi bung! Mungkin jika ia tidak menemui anaknya itu sekarang, bocah itu tidak akan pernah tahu bahwa Chandra ada. Lalu kontribusinya terhadap hidup Razkana apa? Selain darahnya mengalir di tubuh bocah itu, jangan lupakan ia pernah memaksa Raya untuk menggugurkan Razkana. “Bang, ayo pulang!” “Om Chan cepetan gendong!” seru Razkana tak sabaran. Chandra terkekeh, ia berjanji suatu saat nanti Razkana akan membanggakannya. Pria itu kemudian memutar tubuhnya, bocah itu langsung naik ke punggung Ayah kandungnya. Razkana langsung menyamankan tubuhnya, kepalanya langsung ia sandarkan di bahu pria itu. “Ayoo Om Chan!” “Ish, Babang enak banget!” Dariel mendengus iri. “Mobilnya mana Om?” tanya Razkana celingak-celinguk saat mereka sudah berada di luar gerbang sekolah. Chandra tersenyum canggung. “Kita pulangnya naik motor ya?”  “Emang Om Chan bawa helm untuk Babang sama aku?” sahut Dariel yang tidak keberatan pulang dengan apapun. Asalkan aman dan bisa membuatnya sampai di rumah. “Tenang, udah Om beli dong. Keselamatan kalian adalah yang paling penting.” Ia sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari setelah Kinara dan Adrian memberikannya kesempatan untuk berdekatan dengan anaknya. “Motor Om Chan buruk, Ayah Adrian punya motor yang besar lho,” kata Razkana ketika Chandra membawa kedua anak itu mendekati motor maticnya. “Babang enggak boleh kayak gitu,” tegur Dariel, kedua orang tua mereka mengajarkan untuk sederhana dan tidak mencela orang yang kurang dari mereka. “Om Chan udah baik mau jemput kita.” “Iya, deh,” sahut Razkana. “Babang udah pernah duduk didepan belum? Kalo belum cobain, rasanya mantap lho!” Chandra berusaha untuk merasa sakit hati, oh ayolah. Razkana itu masih kecil dan Chandra sendiri pun tahu motornya benar-benar butuh perbaikan. Tapi, uang dari mana? Gajinya sudah habis untuk membayar kontrakan dan makannya sehari-hari. Ia juga harus menabung untuk pendidikan Razkana. Bagaimana pun Razkana ini tanggung jawabnya. Ia tidak bisa terus membebani Adrian dan Kinara sebab Razkana adalah anak kandungnya. Anak itu menampilkan wajah penasarannya. Chandra langsung menurunkan Razkana dan memasangkan helm yang sudah ia beli untuk kedua anak itu. “Wah, helmnya pas!” “Helmnya pas, Kak?” tanya pria itu pada Dariel. Chandra terkekeh ketika bocah itu sedang selfie dengan helm di kepalanya. “Hah? Pas kok, Om.” Bocah itu kembali memasukan ponsel ke dalam sakunya. “Nah, sekarang ayo kita pulang!” Setelah memastikan Razkana dan Dariel sudah aman, Chandra memulai menghidupkan mesin motornya. “Siapp?” tanya Chandra. “Siapp!” kompak kedua kakak beradik itu. “Woahhhh!” Razkana berseru girang ketika merasakan angin menembus wajahnya. Bocah itu seperti orang hutan yang baru saja tiba di kota. “Seru banget, Om!” Chandra merasa amat bahagia ketika bisa membuat Razkana bahagia, sungguh ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan untuknya. Ia kemudian melirik Dariel dari kaca spion. “Gimana Kak seru?” “Om jangan ngebut-ngebut!” “Ah, Kakak enggak asik. Ngebut lagi Om!” “Jangan Om!” “Lagi Ommm!” ———— Sepuluh menit kemudian mereka akhirnya sampai di rumah. Razkana makin tersenyum girang ketika melihat sebuah mobil yang ia kenali milik Ayahnya berada di garasi. “Wah ada Ayah!” serunya bersemangat. “Om Chan makasih ya! Dadah!” “Eh, Ba——“ pria itu mengehela nafasnya ketika Razkana sudah berlari masuk ke dalam rumah. Nampaknya, kehadiran Adrian tak akan pernah tergantikan sebagai ayah terbaik untuk bocah itu. “Ini helmnya, Om Chan. Makasih ya.” Chandra mengangguk sambil berusaha tersenyum. “Iya, sama-sama.” “Oh, iya. Om Chan itu sebenarnya siapanya Babang, sih?”  Chandra mengerutkan dahinya. “Emang kenapa, Kak? Om Chan kan sopir kelian sekarang.” “Daripada sopir, Om Chan lebih mirip kayak Ayah Babang, deh.” Chandra terkekeh, anak sulung Adrian ternyata memang cerdas. “Iya, Om Chan adalah ayah kandung Babang,” akunya pada bocah itu. Dariel mengangguk. “Oke deh. Aku enggak penasaran lagi, bye Om Chan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN