19

1363 Kata
“Aduhh, kenapa cucu Oma bisa jatuh kayak gini, sih?”  Abel tersenyum kecil ketika Oma Sarah yang baru masuk dari kamar inapnya langsung memeluknya pelan. Wanita paruh baya itu mengurai pelukannya, ekspresinya terlihat benar-benar khawatir. “Arya baik-baik aja kan? Ada yang sakit enggak?” Bocah sembilan tahun itu menggelengkan kepalanya pelan. Sekarang, ia tengah memejamkan matanya menikmati elusan Oma Sarah pada perban yang membalut luka di kepalanya. Rasanya  hangat dan menyenangkan. Apa seperti ini rasanya memiliki nenek? batinnya. “Papa udah manggil detektif untuk menyelidiki jatuhnya Arya. Ada noda bekas minyak di tangga, tapi noda itu nampaknya langsung dibersihkan pelakunya.” Opa Dhani tidak bisa melihat siapa pelaku itu yang mencelakai cucunya sebab di dalam rumahnya tidak memiliki cctv, itu semua karena permintaan isterinya yang mengatakan seperti diintai jika dipasangi kamera pengawas. Dan, jangan pernah mengatakan bahwa pria paruh baya itu berlebihan karena menyewa detektif untuk menyelidiki jatuhnya Arya, sebab Opa Dhani tidak ingin terjadi sesuatu pada cucu yang akan mewarasi perusahaanya. Arga memperhatikan ekspresi wajah isterinya yang berubah khawatir. Penyebab jatuhnya Abel bukan karena kelalaian anak sendiri itu namun karena seseorang yang berniat jahat. Pasti isterinya menyambungkan hal ini dengan kehilangan Arya. “Selama anak kalian dalam masa pemulihan Mama mau Arya tinggal di rumah Mama ya,” pinta Oma Sarah sambil menatap putra dan menantunya. “Kayaknya biar Arya biar tinggal sama kami aja, Ma.” Aya benar-benar berusaha memperhalus perkataannya agar tak melukai hati mertuanya.  “Lho kamu bukannya kerja, Aya? Kamu mau meninggalkan Arya yang sedang sakit seorang diri?” tanya Sarah menatap menantunya, wanita muda itu tak bisa berkata apa-apa lagi ketika pertanyaan dari mertuanya keluar. Skak mat! “Pokoknya Mama mau Arya tinggal di rumah Mama sama Papa,” final Sarah tidak mau dibantah lagi. Aya mendengus sembunyi-sembunyi, ia memang tidak akan pernah menang dengan mertuanya. Dirinya dan Sarah seperti memiliki sesuatu yang tidak membuat mereka cocok. Itu juga yang membuatnya amat begitu senang ketika mereka akan pinda ke luar negeri saat usia Arya tiga tahun. Isteri Arga itu ingin jauh-jauh dari mertuanya. Dua hari di rumah sakit, Abel akhirnya bisa pulang ke rumah namun masih belum diperbolehkan untuk beraktivitas seperti biasa. Sarah langsung menyiapkan kamar dengan bertema kartun untuk cucu kesayangannya itu. Aya sungguh menganggapnya berlebihan, padahal mereka tak akan sampai seminggu disini. Aya sudah siap dengan stelan kantornya, ia turun dari tangga dan melihat Abel tengah menonton kartun ditemani mertuanya. Arga sudah berangkat lebih dulu dan dirinya harus memesan taksi online. Sarah benar-benar memonopoli Abel darinya. Yah, walaupun Aya dan Arga ikut menginap disini. Namun, mereka seperti tidak memiliki kesempatan untuk bersama anak itu. Selalu ada Oma Sarah didekatnya dan Aya cukup malas berdekatan dengan mertuanya itu. “Adek, Ibu pergi kerja dulu ya. Nanti siang udah pulang kok.” “Sudah sana, nanti kamu telat Aya. Arya baik-baik aja kok sama Mama.”  Aya berusaha tersenyum lalu mengangguk, namun perkataan anaknya kemudian membuat hari Aya yang awalnya sudah buruk kembali bersinar terang.  “Ibu hati-hati ya!” ———- “Mas aku mau pulang ke rumah kita!” “Lho emangnya kenapa yang?” tanya Arga bingung. “Eh, sealt-beltnya dipasang,” kata lelaki itu pada isterinya yang baru saja masuk ke dalam mobil dengan wajah cemberut.  Saat hendak pulang dari kantornya tadi, Arga sempat menelpon Aya untuk mengajak pulang bersama ke rumah orang tuanya. Sebab wanita itu tidak membawa mobil ke rumah Dhani dan Sara. “Mas masih tanya kenapa?” Aya memasang sabuk pengamannya ketika Arga mulai menjalankan mobil. Apa suaminya itu tidak melihat wajahnya yang nampak menderita ini? “Mas lihat kamu enjoy aja disana.” “Mama Mas ngeselin,” terang Aya blak-blakan. “Mama kamu itu memonopoli Adek, Mas. Sampai aku aja enggak boleh pamitan sama adek.” Arga terkekeh melihat ekspresi sebal isterinya. “Mama udah lama enggak ketemu sama cucu—-“  Perkataan lelaki itu tiba-tiba terhenti ketika mengingat bahwa saat ini mereka sudah memasang bom yang tinggal menunggu waktu untuk meledakan keduanya. Mereka telah membohongi keduanya. Bagaimana perasaan Sarah dan Dhani ketika mengetahui bahwa cucu yang saat ini mereka sayangi tak lebih dari orang asing? “Kenapa Mas?” tanya Aya saat melihat ekspresi wajah suaminya yang berubah.  “Enggak kok.” Arga mengelak. “Di kantor tadi sibuk?” tanya pria itu pada isterinya yang menatapnya.  Aya menghela nafasnya panjang ketika mendengar pertanyaan suaminya. Wanita itu menyenderkan tubuhnya di jok mobil. “Banyak banget, Mas. Ada karyawan yang ketahuan penggelapkan dana. Papi sampe marah sama aku. Untung kecurangan itu cuman berlaku seminggu dan enggak terlalu merugikan. Padahal tadi aku mau pulang—- astaga mas!” “Kenapa yang? Ada yang tinggal?” Aya menggeleng sambil meringgis. “Aku udah janji sama Abel untuk pulang jam makan siang.” Wanita itu menggigit bibirnya, gelisah. Bagaimana jika Abel menuggunya? “Gimana kalo adek nunggu aku, Mas?” Aya cemas. Ia tidak bisa betapa kecewanya anak itu, “Nanti kamu jujur aja kalo lagi ada pekerjaan yang banyak, Adek pasti ngerti kok.” Aya mengangguk sambil menghela nafasnya. Selama perjalanan menuju rumah Aya benar-benar dihantui rasa takut akan kekecewaan Abel. Anak itu benar-benar membuatnya berubah begitu cepat menyayanginya. Namun, tetap untuk mengisi bagian hatinya yang kosong, Abel tak akan pernah bisa menggantikan Arya. Aya buru-buru keluar dari mobil ketika mereka baru saja sedetik sampai di garasi. Arga sampai menahan kekhawatirannya jika sang isteri terjatuh.  Wanita itu terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah ketika tak menemukan Abel berdiri didepan Rumah menungguinya . Bisik-bisik suara dari arah taman rumah mertuanya membut Aya yakin bahwa anaknya berada disana.  Aya menghela nafasnya ketika melihat Abel tengah berada diayunana membelakanginya. Bocah itu tengah disuap oleh Sarah. Ah, apakah dirinya berharap Abel menungguinya? “Adek,” panggil Aya. Bocah sembilan tahun itu lansung memutar tubuhnya, bola matanya membulat ketika melihat orang yang ia tunggu-tunggu hadir. “Ibuuuu!” “Ibu baik-baik aja kan? Ibu enggak kenapa-kenapakan?” tanya Abel beruntun membuat Aya mengerutkan kepalanya bingung. “Arya nungguin kamu lama, cucu Mama itu khawatir sama Ibunya yang enggak pulang-pulang.” Aya bisa menangkap nada kesal dari mertuanya. “Sampai-sampai enggak mau makan dan baru mau makan sekarang. Pekerjaan kamu memang sesibuk itu Aya? Tidak bisa memberi pesan ke Mama? Kalo tidak bisa menepati tidak usah berjanji.” “Maa...” Arga menyusul isterinya, ia yang mendengar dan merasa perkataan sang Ibu menyakiti hati isterinya. “Tidak usah membela yang salah, Arga. Kamu juga, pagi-pagi sudah berangkat, memangnya ada anak kalian lagi di kantor itu?” kedua pasang suami isteri menundukan kepalanya.  “Kalian jangan mencontoh Mama dan Papa, Arga. Biar kami saja yang menanggung sesal di hari tua karena  tidak bisa menikmati waktu kecil kamu dan kakak kamu. Kalian beruntung punya anak pengertian seperti Arya.” Setelah mengatakan itu Sarah meninggalkan anak dan menantunya yang serasa ditampar oleh perkataan wanita paruh baya itu. Perkataan Sarah memang benar. Mereka berdua benar-benar hampir sediki melebihkan perkerjaan kantor daripada urusan keluarga. Kapan terakhir kali mereka berjalan bersama? “Ibu sama Ayah udah makan? Oma masak sup kentang. Enak banget lhoo!” seru Abel sambil tersenyum lebar menatap kedua orang tua angkatnya. Ia tahu Aya dan Arga baru saja di marahi oleh Oma Sarah. Anak itu bermaksud menghibur kedua orang tuanya. Aya ikut tersenyum kecil, wanita itu merendahkan posisinya menjadi sejajar dengan anaknya. “Maafin Ibu yang enggak tepatin janji ya,” ujarnya menyesal.  Abel menggeleng pelan. “Adek enggak papa kok, yang adek takutin Ibu yang kenapa-kenapa karena enggak jadi pulang.” “Ayah juga minta maaf ya, dek.” Arga mengikuti posisi isterinya. Abel yang mendengarnya tergelak. “Kenapa maaf-maafan, sih? Belum lebaran tahu!” Arga dan Aya ikut tergelak, kedua suami isteri itu kemudian saling pandang. “Kenapa, Mas?” tanya Aya saat melihat sang suami menatapnya lekat. “Gimana kalo kita liburan?” tanya pria itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sang anak. “Wah liburan?! Adek mauuu!” serunya sambil mengangguk-angguk, bola matanya bersinar. Bibirnya melengkungkan sebuah senyum bahagia. Aya yang melihat semangat Abel untuk pergi liburan merasa ikut senang. Namun, apakah ia bisa untuk meninggalkan kantor ketika weekdays? Apalagi baru-baru ini tertangkap seorang karyawan yang menggelapkan dana. Tapi, ia akan kembali mengecewakan bocah itu jika tidak jadi mengabulkan acara jalan-jalannya. Arga melirik isteri yang nampak berpikir, astaga, pria itu lupa bahwa di kantor isterinya baru terjadi penggelapan dana.  “Kamu bisa yang?” tanya Arga ragu. Sedikit menyesal karena mengeluarkan ide di waktu yang tidak tepat. “Bisa dong, Mas!” jawab Aya sambil menganggukan kepalanya. “Aku juga merasa lelah banget sama kegiatan kantor, capek.” Proses adaptasi dari perusahaan yang sekarang membuat wanita itu sedikit lelah. “Kita mau kemana, dek?” “Puncak!” seru Abel cepat. Ia selalu mendengar teman-teman di sekolah menghabiskan waktu liburannya di tempat itu. Katanya disana dingin dan sangat menyenangkan. “Oke, besok pagi-pagi kita berangkat ya!” “Terima kasih Ibu Ayah!”  “Sama-sama,” jawab Aya. “Arya, pisang goreng coklatnya udah siap!” Sarah muncul dari pintu rumah yang menguhubungkan ke taman. “Woah, sebentar Omaa!” teriak Abel kemudian berlari menuju Oma Sarah. “Arga kamu juga masuk! Bawa Aya juga!” “Baik, Ma!” Aya tersenyum ketika mendengar panggilan Sarah, wanita paruh baya itu baik. Dan, tidak ingin anak-anaknya terjatuh seperti dirinya dahulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN