20

1556 Kata
“Dariel, aku pulang deluan ya!” “Oke, hati-hati!” Dariel menghembuskan nafas sedih saat teman kelasnya yang tadi menemani di taman sekolah sudah lebih dulu dijemput oleh orang tuanya. Sekarang hanya tersisa dirinya sendirian di taman, sudah benar-benar sendirian. Walau masih banyak anak-anak yang bermain di lapangan sekolah namun Dariel tidak mengenal mereka. Bocah dua belas tahun itu beberapa kali melirik ke arah ponselnya. Apakah ia harus menghubungi orang tuanya? Kinara atau Adrian? Atau Natasha?  “Banyak orang tua jadi pusing juga ya,” keluh bocah itu geleng-geleng. Jangan ditanya dimana Chandra, pria itu sudah lebih dulu menjemput Razkana ketika jam pelajaran bocah itu habis. Sebelum meninggalkan sekolah, Om Chan sempat berpesan bahwa dirinya akan dijemput Kinara atau Adrian. Om Chan ingin mengajak Razkana berjalan-jalan, sebenarnya pria itu menawari untuk ikut.  Namun, Dariel menolak. Ia tahu bahwa Om Chan ingin memiliki waktu berdua dengan Razkana agar mereka cepat menjadi akrab. Lagi pula jam belajar Dariel masih panjang. Ia pulang ketika pukul dua siang sedangkan Razkana pukul sebelas. Dariel memutuskan ingin menelpon Kinara, ia mencari kontak sang Bunda. Lalu memencet icon bergambar gagang telepon, bocah itu mengerucutkan bibirnya ketika panggilan pertama hingga ke lima tak diangkat. Nampaknya Kinara benar-benar tangah sibuk, pembukaan toke kue Bundanya akan diadakan akhir minggu ini. Dan, Dariel sangat tahu jika mengerjakan sesuatu, ibunya itu akan benar-benar serius. Seperti membuatkan bekal bertema kartun untuknya dan Razka saat lomba di sekolah mereka. "Dorrr!” "AAAAA!" Dariel terkejut ketika bahunya tiba-tiba ditepuk dari belakang. Orang yang mengagetkannya itu malah tertawa membuat bocah itu ingin memakinya. Bagaimana jika jantungnya copot, hah? "Mommy!" sunggut Dariel gemas. Astaga, maafkan dirinya yang hampir memaki Ibu kandungnya sendiri.  Sedangkan Natasha malah terus tertawa melihat ekspresi kesal anaknya. "Iyel, lagi ngelamunnin apa emangnya sampe Mommy panggil tadi enggak denger?”  tanya Natasha sambil mengelus rambut coklat anaknya. Wanita itu tengah mengenakan blouse dan rok selutut yang membuatnya nampak cantik dan sexy. "Ngelamun kenapa Iyel ganteng banget," ujar Dariel percaya diri. "Yah, jelaslah. Mommynya siapa gitu dulu?" Seperti buah tak jatuh dari pohonnya, Dariel menatap takjub Mommynya yang begitu percaya diri. "Euwwww." Dariel tiba-tiba berlagak ingin muntah dan membuat Natasha gemas ingin mencubit pipi tembem anaknya. "Awwwww, sakit Mommy. Nanti pipi Dariel kempes gimana?" "Nanti Mommy tiup lagi dong!” Dariel cemberut, pipinya menggembung dan itu membuat Natasha ingin kembali menarik pipi anaknya tapi seolah tahu bahwa ada acanaman, anaknya itu menangkupkan pipinya dengan kedua tangan mungil itu, seolah menjaga miliknya dari predator ganas. "Jangan cubit lagi!" ujarnya wajah kesal yang membuat Natasha gemas. “Iya, iya. Maafin Mommy ya,” kata Natasha mengelus pipi anaknya yang memerah. “Mommy kok ada disini?” tanya Dariel bingung.  “Mommy barusan tadi rapat deket sini, eh, lewat sekolah Iyel. Jadi mampir deh,” jawab Natasha. “Oh, cuman mampir ya,” bocah itu mengerutkan bibirnya. “Rencananya cuman mampir, Mommy udah kangen banget sama Iyel. Malahan Mommy kira udah pulang tadi.” Wanita itu melirik jam tangannya yang menujukkan pukul dua lebih lima belas menit. Tumben anaknya telat dijemput lima belas menit? “Kalo kangen itu diajak jalan-jalan dong,” sahut Dariel. “Eh emang mau jalan-jalan sama Mommy?” tanya Natasha dengan senyum mengembang.  “Boleh tapi ada syaratnya,” kata Dariel berlaga misterius. “Apa?” tanya Natasha tersenyum geli. "Mommy yang bayar semuanya!" seru bocah itu dengan senyum lebar. "Siap!” —— Dariel sedari tadi tak berhenti untuk tersenyum, seolah besok ia tidak akan bisa tersenyum lagi. Pipinya yang memerah kerena kepanasan seolah ia abaikan karena saat ini hatinya tengah berbunga-bunga. "Jangan senyum terus dong, Yel. Mommy jadi ngeri deh." Anak laki-laki itu melirik seorang wanita yang masih dengan stelan kantornya duduk disampingnya sambil memberikan sebuah air mineral. "Iyel kan seneng, Mom!" ujarnya polos dengan masih tersenyum lebar. Natasha terkekeh saja, wanita itu mengambil tisu bayi yang berada didalam tasnya. Ia tahu betul bahwa kulit Dariel begitu sensitif, anak itu tidak bisa menggunakan tisu biasa. Salahkan saja itu kepadanya, karena ia yang menurunkan itu pada Dariel. Dariel memejamkan matanya saat Natasha mengelap perlahan wajahnya. Anak laki-laki itu menikmatinya, saat ia menjadi prioritas, saat keinginnanya terkabul dengan mudah tampa harus mendengar penjelasan atau apapun. "Mom, nanti naik itu ya!" Dariel berseru sambil menunjuk ayunan raksasa yang nampak begitu menganggumkan dari bangku taman yang ia lihat.  Iya, mereka sedang ada di taman hiburan. Dariel yang mengusulkannya, sedangkan Natasha hanya bertanya kenapa tidak pergi ke Mall saja? Dan jawaban yang keluar dari mulut anak itu membuat Natasha terenyuh dan segera memeluk anaknya. "Soalnya kalo ke taman hiburan, Iyel enggak bisa naik itu-ini, pasti Bunda enggak bolehin. Soalnya Babang orangnya penakut, terus adek Azi suka nangis kalo Babang sama Iyel tinggal pergi. Jadi Iyel pengen banget main sepuasnya di taman hiburan!" "Kita naik itu ya, Mom?" pinta Dariel dengan wajah memalas. Natasha melirik jam tangannya, sudah menunjukan pukul setengah empat sore. "Udah mau jam empat, kita makan dulu ya, Yel?" tanya Natasha sedikit khawatir pasalnya kini sudah terlalu lewat dari jam makan siang. Salahkan saja ia tidak menyuruh Dariel makan siang terlebih dulu sebelum bermain. Dariel mengangguk, ia tiba-tiba menjadi lapar saat Mommynya mengajak makan. "Ayok, Mom! Iyel juga udah lapar banget!" Natasha tak tahu mengapa anaknya menjadi semenggemaskan ini, andai dulu ia cepat menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih berharga dari seorang anak sebagai ibu. Ia tidak akan meninggalkan Dariel pada Adrian. "Mom?" tanya Dariel bingung saat Natasha tak beranjak dari tempatnya sama sekali bahkan saat ia menarik tangan ibunya itu. Malahan kini Natasha mensejajarkan tubuhnya menjadi setinggi Dariel. Tangan Natasha menyentuh pipi Dariel, sedangkan anak itu sudah menutup matanya, ia pikir Mommynya itu akan mencubit pipinya. Tapi, setelah lama ia menunggu, ibunya itu belum juga mencubit pipinya padahalkan Dariel sudah siap.  "Maafin Mommy ya, Yel." Jantung Dariel tiba-tiba berdetak lebih cepat. Kilasan keburukan Natasha tentang dirinya tiba-tiba berputar di kepalanya. Semuanya, semua memori itu berkumpul di ingatannya. Sakit. Itu yang Dariel rasakan saat ia kembali mengingatnya kembali. Dariel melapaskan tangan Natasha yang berada di pipinya dan hal itu membuat air mata yang sedari Natasha tahan untuk tidak turun malah terjun bebas dengan cepatnya.  "Mommy jelek kalo nangis." "Hah?" Natasha terdiam dengan ekspresi yang menurut Dariel lucu. Anak laki-laki itu dengan cepat memeluk ibunya dengan erat. "Bunda Nara selalu ngajarin Iyel untuk memaafkan, nanti masuk enggak disayang Allah kalo enggak dimaafin." Dan, air mata Natasha kembali turun dengan derasnya, bukan karena kesedihan, namun karena kebahagian yang tak terkira. “Sekarang ayo kita makan!” ajak Natasha. “Tapi, Iyel mau beli es krim dulu. Boleh Mom?” Wajah anak laki-laki itu benar-benar memelas, bola matanya nampak berbinar membuat Natasha tak tahan untuk menolaknya. “Boleh, tapi tadi Iyel makan siang enggak di sekolah?” “Makan kok, Mom!” jawabnya membuat Natasha lega. Ia kemudian memberi uang Dariel untuk membeli es krim. Bocah itu menerimanya dengan riang dan berlari sambil melompat-lompat menuju stand es krim yang berada tak jauh dari mereka. Saat sedang menunggu anaknya membeli es krim, dering ponselnya membuat Natasha mengambil ponsel yang tadi ia simpan didalam tas. “Halo?” “.....” “Astaga, lo benar-benar ganggu waktu gue!” “.....” “Oke, iya. Kita bertemu nanti, tempatnya bakal gue kirim.” Natasha segera menutup ponselnya ketika melihat Dariel berjalan dengan hati-hati karena membawa dua buah es krim. “Untuk Mommy,” kata Dariel menyerahkan es krim dengan rasa vanilla. Rasa kesukaan wanita itu. “Makasih Iyel!” ujar Natasha sambil mengambil es krim dari tangan anaknya. Keduanya menikmat es krim sambil sesekali bercerita tentang wahana yang baru mereka naik tadi. “Mommy tadi teriak-teriak waktu kita naik bianglala hahah,” ejek Dariel sambil menujuk wahana yang pertama kali mereka coba saat sampai disini. “Sekarang udah bisa ya ngejek Mommynya,” ujar Natasha sambil membersihkan lelelahn es krim coklat di sekitar bibir Dariel. “Dariel senang banget hari ini!” katanya sambil menatap Natasha dengan wajah gembiri. “Rasanya enggak mau hari ini berakhir tapi....” “Tapi kenapa?” tanya Natasha penasaran. “Tapi, enggak jadi, deh,” katanya sambil tertawa membuat Natasha pura-pura mendengus kesal. “Yuk, sekarang kita makan. Mommy udah lapar nih.” “Ayooo!” balas Dariel dengan berseru. Bocah dua belas tahun itu lansung menggengam tangan Ibu kandungnya dengan erat. “Iyel udah tinggi banget sekarang ya?” tanya Natasha sendu ketika menyadari bahwa Dariel sudah setinggi dadanya. “Iya dong, kan Dariel mau jadi tinggi kayak ayah!” Untung Restauran yang mereka akan kunjungin tidak terlalu jauh dari taman hiburan, sehingga Natasha bisa bernafas lega karena Dariel tidak perlu menunggu lama untuk mengisi perutnya. Saat hendak masuk ke dalam restoran, ia langsung mengirimkan nama tempat itu pada seseorang yang hendak menemuinya. "Duduk disana aja, Mom!" tunjuk bocah dua belas tahun itu  pada meja yang berada di luar restauran. Dariel menarik-narik tangan Mommynya yang tidak meresponnya, ia mendongak. Pantas saja, ternyata Natasha sedang fokus pada ponselnya. "Oh, maaf honey. Iyel tadi mau dimana?” tanya Natasha sambil menjauhkan ponselnya sebentar.  “Mau disana Mom!” tunjuknya lagi membuat Natasha mengangguk. Mereka kemudian menduduki bangku yang dipinta Dariel. Natasha segera memanggil pelanggan untuk memesan makanan. Ponselny kembali berdenting, wanita itu menghembuskan nafasnya jengah. Dibuka pesan dari pria itu lalu memutar bola matanya ketika rentetan pesan dimana letak tempat Restoran Natasha sekaran. Astaga, apakah pria itu tahu ada aplikasi yang bernama maps sehingga orang-orang bisa menemukan tempat yang mereka tuju? Hah, dasar sudah tua! “Eh? Kok pelayannya udah pergi Yel?” “Makanannya udah Iyel pesan kok, Mom.” Natasha merasa tak enakan karena terlalu fokus dengan ponselnya. Ia kemudian menonaktifkan ponselnya dan memasukannya ke dalam tas. Seterah orang itu sampai kesini atau tidak. “Mommy,” panggil Dariel. “Hem, ada apa sayang?” “Iyel minta maaf, Mommy jadi sibuk gara-gara Iyel,” ujar bocah itu sambil menundukan kepalanya. Natasha yang melihat itu terenyuh, ia sama sekali tidak terganggu dengan acara jalan-jalannya mereka, bahkan Natasha rela berhenti bekerja agar bisa menghabiskan waktu dengan anaknya. “Hei, Mommy enggak ngerasa Iyel bikin Mom sibuk.” Wanita itu menangkup wajah anaknya. “Ini hanya karena pria siala— astaga. Pokoknya Mommy enggak keganggu sama Iyel. Oke?” Dariel menganggukan kepalanya.  “Iyel jangan pernah berpikir seperti itu, okey? Senyum dong!” “Hehehehe,” bocah itu terkekeh ketika Natasha mencubit hidungnya. “Mommy itu lagi nungguin seseorang. Nah itu dia!” Dariel mengalihkan pandangannya, matanya membulat saat melihat orang yang dimaksud Natasha. Dan, nampaknya pria itu juga ikut terkejut. “Kakak?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN