"Halo?"
"....."
"Saya sudah meminta izin untuk hari ini. Jadi, kamu tanya sama sekretaris saya saja untuk berkas itu.”
Aya menekan tombol merah pada ponselnya dan tak lupa mematikan benda persegi itu agar tidak ada yang menganggunya lagi entah untuk ke berapa kalinya, sebelum memasukannya ke dalam tas. Tatapannya yang semula tertuju pada jalanan yang nampak macet beralih ke arah bangku belakang, tepat pada seorang anak laki-laki yang menatap ke arahnya.
"Kenapa, dek?” tanyanya ketika bocah itu menatapnya dengan lekat.
“Apa permintaan adek bikin Ibu repot?” tanya Abel. Oh, dia benar-benar memerankan aktingnya dengan baik.
"Enggak, malahan Ibu senang,” jawab Aya. Arga yang mendengarnya ikut tersenyum, tidak menyangka bahwa anak yang mereka adopsi beberapa minggu yang lalu dapat merubah isterinya dengan cepat.
Arya, cepat pulang, nak. Ibu sudah berubah. Batin Arga.
"Seneng kenapa?" tanya Abel sambil memijit kepalanya yang tiba-tiba pusing. Anak itu nampaknya masuk angin akibat jendela yang terus terbuka dari mulai perjalanan hingga tak lama lagi mereka akan sampai.
"Bisa jalan-jalan sama Ayah dan adek."
Abel mengangguk saja sambil terus mengurut-urut kepalanya yang terasa pusing. Tentu saja, Aya yang termasuk ibu protektif melihat perubahan wajah Abel. "Kenapa, nak?"
Anak itu langsung menghentikan pijitannya lalu mendongak sambil menatap wajah Aya. Entah mengapa hati Abel terasa bergetar saat mendengar ucapan Aya barusan. Hanga. . Andai ia bisa merekamnya, pastilah ia sangat berbahagia. Apalagi jika panggilan itu memang tertuju padanya.
Jadi Arya. Jadi Arya. Jadi Arya.
Abel tersedar dari lamunannya lalu dengan cepat mengucap mantra itu dalam hatinya. Mantra yang membuatnya dihempaskan ke bumi setelah diterbangkan di atas langit.
"Kembung." Abel menepuk-nepuk perutnya dengan memasang ekspresi tak enak. Arga ikut menoleh memperhatikan Abel. "Jendelanya tutup, dek. Masuk angin kamu itu," ujarnya yang dituruti Abel.
Sedangkan Aya begerak mencari minyak kayu putih di dalam tasnya. "Nih, dek," ujar Aya sambil memberikan minyak itu kepada Abel. Pria kecil itu mengambilnya dari tangan sang Ibu namun nampak kesusahan saat mengoleskan minyak kayu putih diatas perutnya karena kondisi tangan kanan yang masih terasa ngilu jika digunakan.
"Pindah ke depan aja, dek,” saran Aya. “Biar bisa Ibu olesin.”
"Enggak sempit, Bu?" tanya Abel sambil memajukan tubuhnya ke arah depan. Setelah mendepat gelengan dari Aya, anak itu pun bergerak untuk pindah duduk ke depan.
Rencananya Abel hanya ingin berdiri didepan Aya ketika wanita itu mengoleskan minyak kayu putih, namun karena kondisi tubuhnya yang berdempetan dengan dashboard membuat Abel harus menjaga tubuhnya agar tidak jatuh ke arah Aya.
"Masuk angin ini, Dek."
"Iya, tadi jendela kacanya lupa—“
Dukkk!
"Ehh!"
Abel membulatkan matanya saat tiba-tiba tubuhnya jatuh kedalam pelukan Aya. Tubuh anak itu menegang seketika, bersamaan dengan perasaan asing merambat ke hatinya. Dari jarak sedekat ini, Abel sudah bisa mencium aroma apel dari ibu angkatnya itu.
Oh! Tidak pasti Aya akan marah.
"Duduk dipangku Ibu aja, Dek."
Entah memang tubuh Abel yang ringan atau Aya yang memiliki kekuatan ajaib. Wanita itu dengan mudah memutar tubuhnya sehingga sekarang sudah berada di pangkuan Aya, saling berhadapan. Masih dengan detak jantung yang menggebu-gebu.
Abel mendongakan kepalanya ke atas saat Aya sedang mengoleskan minyak kayu putih ke atas perutnya. Oh, jangan sanpai ada yang menyadari bahwa pipi Abel kini telah seperti tomat.
"Kok pipi adek merah?"
Abel menutup wajahnya. "Ayah..." rengeknya.
"Yeee! Akhirnya sampe juga!" lega Abel saat merasakan bosan dengan perjalanan yang cukup jauh.
"Dipangku juga kamu, Dek."
Abel menyengir kemudian menggandeng tangan Aya dan Arga menuju sebuah hotel yang berada di kawasan puncak. "Kok rame banget, Yah? Kan bukan hari libur?" Abel celinguk-celinguk melihat sekitarnya yang ramai dengan pengunjung. Karena kebetulan hotel yang mereka pesan berada dekat dengan tempat wisata.
Aya mengangguk setuju mendengar pertanyaan Abel. "Padahal weekdays ya, Mas?” tanyanya pada sang suami.
“Bener yang. Apa kita mau cari Villa aja?” tawarnya pada sang isteri.
“Kayaknya enggak perlu Mas. Hotelnya kan juga dekat sama tempat wisata.”
"Arga?!”
Keluarga kecil itu mengalihkan pandangan mereka ke arah seorang perempuan dengan dress mini berjalan ke arah mereka. Apa Tante itu tidak masuk angin? tanya Abel dalam hatinya. Pasalnya ia yang sudah mengenakan baju hangat saja masih masuk angin.
"Hei! Long time no see you." Wanita itu bercepika-cepiki kepada Arga sambil memeluk laki-laki itu namun Arga langusung mengurainya karena merasa tak nyaman.
"Mas, aku sama Abel kedalam deluan."
Aya langsung menggandeng tangan Abel menuju hotel meninggalkan Arga yang masih berada di parkiran, pria itu marasa ada tingkah isterinya.
"Hei, juga. Maybe next time kita bakal ngobrol lagi."
Arga langsung meninggalkan wanita itu yang terkejut karena ditinggalkan begitu saja. Sedangkan pria dewasa itu mulai paham dengan wajah isterinya yang tiba-tiba masam. Ia langsung mensejajarkan langkahnya dengan isteri dan anaknya.
"Kenapa yang?” tanya Arga pura-pura tidak tahu. Namun, sebenarnya ia tahu bahwa Aya sedang cemburu.
"Nggak apa-apa," jawab Arga.
"Pasti ada apa-apanya," celetuk Abel ikut-ikutan.
Aya masih memasang wajah datarnya lalu berjalan meninggalkan dua laki-laki itu beda usia itu lebih dahulu. Arga mengerutkan keningnya sedangkan Abel melebarkan cengirannya.
"Ibu kenapa, Dek?"
"Ibu cemburu, Yah.” Abel paham, ia ingat ketika Kinta bersikap seperti ini saat ada anak perempuan yang datang ke Panti. Temannya itu cemburu karena Abel lebih dengan dengan anak baru itu.
“Cemburu kenapa?” pancing Arga ingin mengetahui pengetahuan Abel tentang wanita.
"Ibu kayaknya gak tahan sama Tante alis jajargenjang tiga puluh derajat itu peluk-pelukin Ayah,” ujar Abel sambil mengelus alisnya yang lumayan lebat, membayangkan jika alisnya jika seperti itu juga. Arga tertawa mendengar penuturan Abel, lalu pria itu menggengam tangan anaknya itu untuk segera menyusul Aya.
Setelah menaiki lift dan berjalan melewati beberapa kamar, akhirnya pasangan anak dan ayah itu sampai di kamar yang mereka pesan. Aya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar hotel.
Abel langsung melebarkan matanya saat melihat satu ranjang king size yang terlihat sangat empuk. Pasti akan sangat nyenyak jika tidur disana. Aya nampaknya benar-benar kelelahan, lihat saja wanita itu kini sudah lebih merebahkan tubuhnya diatar kasur. Tanpa menunggu terlalu lama Abel juga ikut menyusul Aya di atas kasur, yang diikuti pula oleh Arga setelah laki-laki itu mengunci kamarnya.
"Berat Ayah!" rengek Abel saat Arga memeluk perut Abel dari samping. Padahal sekarang dirinya juga tengah memeluk Aya yang kini tengah memejamkan matanya dengan posisi menghadap lurus. Mereka tidur dengan posisi Abel yang berada ditengah.
Karena mendengar keributan kecil didekatnya perlahan kelopak mata Aya terbuka dan langsung disuguhkan pemandangan yang membuatnya terenyuh. Abel yang sedang memeluk pinggangnya sambil tertawa karena Arga menggelitiki perut bocah itu.
"Ayahh.... Geli!!" bocah itu memekik ketika Arga tak memberi ampunnya.
"Hahahahah... Yahhh.. Hahahh!"
"Udah Mas. Udah. Nanti adek gak mau makan,” lerai Aya.
Abel dan Arga sontak mendongak kepalanya saat mendengar suara Aya. Abel semakin mengeratkan tubuhnya ke dalam pelukan ibu angkatnya itu. Tangan mungil Abel yang memeluk perut Aya berubah menjadi usapan-usapan halus pada perut wanita itu. Membuat Aya tiba-tiba teringat dengan ucapan Dokter saat ia memeriksakan kondisinya sebelum berangkat liburan.
Sebenarnya Arga yang terus meminta dirinya untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Tapi, Aya enggan. Ia tidak mau berharap bahwa mual-mualnya saat ini menandakan bahwa dirinya tengah mengandung.
"Buk Aya tidak hamil. Asam lambungnya sedang naik, itulah yang menyebabkan bilau mual-mual." Walau ia sudah sekuat hati untuk tidak kecewa mendengar penuturan dokter, Aya tetap merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
"Adek pengen banget punya adek, ya?" tanya Aya sambil mengelus rambut hitam Abel. Ah, Aya jadi ingat Arya jika seperti ini. Anaknya itu akan memeluknya seperti ini jika sedang sedih atau kesal.
Abel menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Aya dan menghentikan usapannya perut wanita itu. "Enggak kok. Punya adeknya nanti aja, tunggu Allah ngasih. Mungkin sekarang belum waktunya, adeknya mungkin masih mau main-main dulu di langit,” jawabnya terdengar bijak.
Anak itu mengubah posisi tubuhnya menjadi lurus ke depan, kepalanya menghadap langit-langit kamar hotel itu. "Tapi, kalo nanti adeknya adek udah ada, mau jadi Aa yang hebat." walau cuman sementara.
"Mau dipanggil Aa, Dek?" tanya Arga ikut merubah posisinya menghadap lurus.
"Heem." Abel mengangguk.
Lalu anak itu merayap ke atas kasur, sehingga kini kepalanya sudah bersebelahan dengan kepala Ayah dan Ibunya. Anak laki-laki itu tersenyum lebar ke Aya.
"Ibu jangan dipikirin terus, nanti ada waktunya kok. Tenang aja, percaya sama Adek." Lalu kepalanya bergerak lagi ke arah Arga. "Dan untuk Ayah jangan menyerah. Semangat!"
"Adek sayang Ayah sama Ibu,” ujarnya mengecup kedua pipi Aya dan Arga.
“Makasih adek,” ujar Aya yang terharu mendengar ucapan Abel. Bocah itu benar, semua akan ada waktunya.
“Wah, tenang aja dong. Ayah paling semangat kalo urusan bikin adik!” Setelah mengatakan itu, Arga harus menelan ludahnya saat melihat tatapan tajam maut Aya.
“Bercanda, Bu,” ujar Arga menirukan suara Abel.
“Yaudah ayo tidur dulu, sore nanti Ibu bangunin.” Mereka memang sampai pada pukul dua siang sehingga masih memiliki waktu untuk istirahat hingga sore. Ketiganya langsung memejamkan matanya sebab sudah sangat kelelahan.
Namun, lima menit kemudian, Abel kembali membuka matanya. Ia melirik pelan-pelan ke arah Arga dan Aya yang nampaknya benar-benar lelah, keduanya terlelap dengan mata terpejam dan nafas yang teraratur.
Bocah sembilan tahun itu menghela nafasnya, apakah semua ini benar? Apakah dengan dirinya yang bersandiwara ini benar? Apakah Aya dan Arga tak akan kecewa bahwa selama ini mereka Abel bohongi?
Namun, Abel tidak bisa berhenti ditengah jalan. Tentang Om Bara yang berada di kamar inap hari itu membuat dirinya yakin bahwa pria yang menjadi sepupu Arga itu memiliki hubungan dengan kehilangan Arya.
Entah darimana perasaan itu muncul namun Abel meyakinkan bahwa Om Bara adalah orang yang berbahaya. Bagaimana orang yang sengaja mencelakinya di tangga itu adalah Om Bara?
“Duh,” ringis bocah itu. Jika memikirkan sesuatu yang berat rasanya kepala Abel kembali sakit. Ia kemudian mencoba untuk memejamkan matanya lagi, segera menyusul kedua orang tuanya ke alam mimpi.
Ia berjanji untuk menemukan Arya. Setidaknya itu adalah balas budinya pada kedua orang tua angkatnya itu.