"Kakak?!"
Dariel membulatkan matanya. Terkejut.
"Ayah?!"
Anak laki-laki itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Ibu kandungnya yang tampak biasa-biasa saja. Tidak ada binar atau cahaya seperti saat Bundanya menunggu sang Ayah pulang. Malah kini Dariel bisa melihat tatapan malas dari Mommynya ketika Ayahnya berjalan mendekat ke arah mereka.
"Kenapa harus hari ini, sih?" ujar Nata sedikit kesal melihat mantan suaminya yang sekarang menjadi partner kerjanya.
"Butuhnya hari ini, Nat,” jawab Adrian sambil duduk di meja yang sama dengan mereka.
"Kenapa enggak kemaren-maren atau besok? Kayak enggak ada hari lain lagi." Waktunya bersama Dariel jadi terganggu karena pria yang pernah menjadi suaminya itu.
Dariel memalingkan mukanya beberapa kali, ke arah Mommynya, lalu kembali ke arah Ayahnya, bolak-balik. Begitu terus. Sampai Dariel merasa kepalanya sedikit pusing.
"Ayah sama Mommy enggak flashback kan?" tanya Dariel khawatir.
Anak laki-laki itu sedikit merasa resah saat mendengar percakapan dari Ayah dan Ibu kandungnya. Terasa sangat dekat. Dan, itu membuat Dariel sedikit khawatir. Walaupun Natasha adalah ibu kandungnya, Dariel rasa yang menjadi jodoh Ayahnya adalah Bundanya, Kinara.
"Mommy enggak selera sama bapak-bapak anak tiga, Yel,” ejek Natasha.
"Ayah juga udah punya isteri kok," ujar Adrian sombong membuat Natasha mendecih.
"Gue palakorin lagi baru tau rasa lo."
"Coba aja kalo lo berani? Gue penggal kepala laki bule lo itu."
Natasha mengerutkan keningnya. "Gue sama Aiden belum nikah ya, enggak usah buat gosip-gosip deh, Yan. Mentang-mentang lo sering disuruh Nara buat beli sayur di pasar, lo jadi rempong kayak ibu-ibu."
"Oh, belum nikah? Paling nanti ditinggal lagi. Emang ada yang tahan sama lo?"
"Mulut lo, Yan. Kalo beneran terjadi, lo gue palakorin lagi."
"Lo yang mulai deluan!"
"Lo!"
"AYAH MOMMY!! KAKAK IYEL LAPAR!! ARGHHHH!" teriak Dariel kesal ketika melihat kedua orang tuanya malah beradu mulut. Anak laki-laki menghela nafas kesal ketika akhirnya kedua orang dewasa itu berhenti dan menatapnya dengan cengiran yang Dariel tidak butuh. Ia butuh makan. Lapar!
"Maafin Mommy ya sayang. Ayah Iyel itu emang rada suka cari masalah. Ayok kita makan!" ajak Natasha sambil mengelus kepala Dariel sedangkan Adrian yang tak suka mendengar ucapan Natasha ingin kembali membantah namun saat melihat tatapan tajam yang seperti berkata 'anak lo mau makan, bukan dengar kita berantem' dan akhirnya.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Natasha memberikan biskuit kepada Dariel untuk mengganjal perut sebentar. Sedangkan ia dan Adrian sudah mulai sibuk dengan pekerjaan mereka berdua.
Seharusnya Adrian bertemu dengan Bos Natasha yang tak lain dan tak bukan adalah Aiden, kekasih dari Natasha, namun pria itu harus kembali ke negara asalnya karena ada urusan yang penting disana. Dan, Andrian adalah orang yang paling malas untuk menunda pekerjaan, jadi ia membicarakan pada Aiden bahwa Natasha saja yang menggantikannya.
Awalnya Aiden tak suka karena ia tahu Natasha dan Adrian adalah mantan suami isteri. Tapi, saat Adrian mengatakan bahwa dia melakukan ini semua agar pekerjaan cepat selesai dan bisa berlibur dengan keluarga kecil. Akhirnya Aiden setuju dan Natasha sebenarnya tidak mau karena malas di cap palakor lagi namun saat Adrian menawarkan memberikan izin bertemu dengan Dariel, Natasha langsung setuju.
"Jadi, lo ngerti kan apa aja yang kita bahas hari ini."
"Lo pikir gue sebego itu ya? Mana mungkin gue bisa jadi sekretaris Aiden!" ujar Natasha galak sekaligus menyombongkan diri bisa menjadi sekretaris seorang Aiden, pengusa yang ternyata lebih kaya dan tampan, plus muda.
"Mana ada, sih, laki-laki yang nolak di kasih yang enak-enak."
"Lo ngajak ribu ya Adrian?! Sini lo ma—"
"Stop! Stop! Kalo Ayah sama Mommy berantem lagi bakal hancur ini Restauran ini."
"Kakak kebanyakan nonton sinetron sama Babang, jadi alay."
"Tau, nih. Iyel lebay."
Kok sekarang kompak ngatain anaknya sendiri. Batin Dariel.
"Giliran ngebully anaknya sendiri aja kompak," cibir Dariel yang malah membuat Natasha dan Adrian tertawa.
"Sekarang Kakak, eh, Iyel, eh, eh?" Dariel menggaruk kepalanya tak gatal. Disaat seperti ini, ia bingung ingin memanggil dirinya apa.
Diam-diam Natasha dan Adrian saling melirik, mereka merasakan hal yang sama. Sedih. Tak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk Darie sehingga anak itu sedikit kesulitan saat bertemu dengan orang tua kandungnya yang telah terpisah.
"Iyel aja, Ayah kangen Iyel yang cadel," ujar Adrian membuat Dariel menangguk malu-malu. Itu kan jaman dia masih kecil dan imut. Sekarang udah besar tapi masih tetap imut. Itu Dariel yang bicara.
"Iyel, jadi penasaran. Kok sama Ayah sama Mommy bisa sedeket ini?" tanya bocah dua belas tahun itu menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Jadi—" Adrian dan Natasha kompak ingin berbicara dan itu membuat Dariel kesal karena rasa penasaran yang begitu menggunung.
"Jadi Ayah sama Mommy itu sahabat dekat, dulu banget,” ujar Natasha lebih dulu.
"Sahabat?" tanya Dariel bingung. Ia hanya tahu bahwa Ayah dan Ibuk kandungnya ia adalah mantan suami isteri.
"Dulu, waktu di LN, Mommy dan Ayah itu teman kecil. Tetanggaan juga enggak, sih?” tanya Natasha sebab memori masa kecilnya perlahan sudah ia lupakan. “Beda dua rumah, rumah Antony sama Sam.”
“Dan, ternyata orang tua Mommy dan Ayah berencana menjodohkan kami.”
"Padahal saat itu Mommy sudah punya pacar. Dan, Mommy sama sekali enggak suka sama pernikahan kita dan akhirnya Mommy kabur setelah beberapa lama tinggal sama Ayah Iyel. Tapi, yang mengejutkan lagi saat itu Mommy sedang hamil kamu, setelah Iyel lahir dan Mommy minggalin Iyel ke Ayah. Bodoh banget ya, Mommy."
"Lo emang bodoh. Gue udah ganteng plus kaya lo sia-siain."
"Jangan bahas masa lalu, ah."
Adrian hanya tertawa sedangkan Dariel tersenyum lebar. Ia kira orang tuanya akan saling bermusuh seperti diceritakan oleh teman-temannya yang tak memiliki keluarga yang utuh. Tapi, kini Dariel bisa berbahagia karena bisa merasakan hal ini.
"Iyel senang. Ayah sama Mommy bisa akrab."
Adrian dan Natasha terdiam, lalu senyum kecil mengukir bibir mereka.
"Mommy nanti temuin Iyel sama Daddy Aiden ya!"
Natasha membulatkan matanya.
"Mampus lo!" Adrian tertawa j*****m.
——-
Dariel pulang bersama Adrian. Anak laki-laki itu terus memasang senyum lebarnya hingga mobil mereka berhenti tepat didepan garasi. "Langsung mandi ya, Kak?" kata Adrian ketika Dariel hendak melepaskan sabuk pengaman.
"Oke, Yah!"
Dariel membuka pintu mobil dengan semangat namun ia menjadi ragu saat melihat Nara, Bundanya berserta Raziel yang berada di gendongan. Jangan lupakan Razkana yang terus menggoda adik kecilnya itu.
"Woah, anak-anak Ayah udah pada harum," sapa Adrian sambil mengambil Raziel dari gendongan Isterinya. Bayi itu terkekeh geli ketika rambut halus di dahi Adrian menyentuh kulitnya.
"Ayah, Babang sama Dedek mau ke taman!" seru Razkana. "Kami bosan," ujarnya dengan bibir cemberut.
"Yaudah, Ayok kita ke taman!" seru Adrian balik membuat Razkana membulatkan bolat matanya. “Yeeee! Mau beli es krim!”
"Kamu enggak capek, Mas?" tanya Nara.
"Enggak kok, lagi pula besok libur. Mas aja anak-anak dulu ya."
Dariel yang melihat Ayah, Razkana dan Raziel ingin pergi ke taman segera mempercepat membuka tali sepatunya. Namun naasnya, tali sepatunya terlilit dan membuat Dariel susah untuk membuka sepatunya.
"Dibuka pelan-pelan, Kak." Tiba-Tiba saja Nara sudah berada dihadapann Dariel, wanita itu berjongkok didepan anaknya dan membantu Dariel membuka sepatu.
"Makasih Bunda," ujar Dariel lirih. Anak itu sudah hendak beranjak dari tempatnya membuka sepatu. Namun, saat Dariel merasakan genggaman di tangan kecilnya, anak laki-laki itu menghentikan kakinya.
"Kakak?"
"Iya, Bun?"
"Bunda boleh tanya?" tanya Nara dengan suara pelan. Dariel menangguk.
"Kakak tadi kemana aja? Kok pulangnya terlambat? Maaf enggak angkat telepon kakak, Bunda lagi sibuk banget tadi. Maafin Bunda ya?” ujar Kinara merasa bersalah pada anaknya. Toko kuenya sebentar lagi akan buka dan masih banyak harus yang dipersiapkan sebelum toke itu mendaptkan pelanggan pertamanya.
“Iya, Bun. Kakak enggak papa kok.” Bocah itu menganggukan kepalanya.
“Kakak dijemput sama Ayah ya? Terus ikut Ayah ke kantor?” tanya sang Bunda karena kepulangan Dariel bersama dengan Adrian.
Dariel menatap wajah Kinara. Apa yang akan nanti Bundanya katakan jika tahu dirinya masih bertemu dengan Natasha? Namun, ia tidak berniat berbohong dengan Bundanya. Ia harus jujur.
“Kakak ketemu sama Mommy Natasha, Bun,” ujarnya membuat Kinara mengerutkan dahinya.
“Terus kenapa bisa pulang sama Ayah?”
“Ternyata Mommy ada kerjaan sama Ayah. Jadi tadi kami makan bareng deh.”
Wajah Kinara nampak tak suka saat mendengar penuturan Dariel. “Kak, Bunda udah berapa kali bilang sama kakak untuk enggak ketemu saat wanita itu!” tegas Kinara membuat Dariel hanya bisa menatap wanita yang merawatnya.
“Tapi, kenapa Bun? Mommy udah baik kok. Tadi Kakak dijemput Mommy waktu Bunda enggak bisa jemput kakak. Mommy bawa Kakak jalan-jalan ke taman dan naik wahana yang seru.” Dan, yang paling penting Mommynya sudah meminta maaf tentang kesalahannya di masa lalu.
“Bunda lagi sibuk bukan enggak bisa jemput Kakak,” kata Kinara. “Terus gimana kalo wanita itu cuman pura-pura baik sama Kakak? Sama kayak dulu? Wanita itu licik kak!”
Dariel tidak tahu mengapa, hatinya sangat sakit saat mendengar perkataan Kinara. Ia tahu bahwa Natasha pernah berbuat jahat tapi itu dulu. Dan, sekarang setelah waktu berlalu, Mommynya sudah sadar bahwa perlakuannyan dulu itu salah.
“Mommy enggak pura-pura,” kata Dariel sambil menatap Kinara dengan mata coklatnya yang nampak terluka. Oh, Kinara baru menyadari bahwa ia sudah menyakiti hati anaknya dengan perkataannya
“Mommy tulus sayang sama Dariel karena Dariel anak kandungnya,” kata bocah itu.
“Apa Bunda juga sayang Dariel?” tanya anak itu tiba-tiba membuat Kinara bingung.
“Tentu saja Bunda sayang Kakak,” jawab Kinara tanpa menunggu lagi.
“Walaupun Kakak bukan anak Ayah?”
“M-maksud Kakak?” tanya Kinara semakin bingung.
“Kadang Kakak ngerasa kalo Bunda sayang sama Kakak, karena Kakak anak kandung Ayah. Pria yang Bunda cintai. Gimana kalo Kakak bukan anak ayah? Kakak hanya orang asing?”
“Kak—-“
“Kakak juga ngerasa kalo Bunda bukan takut kehilangan Kakak karena kedatangan Mommy. Bunda hanya takut kehilangan Ayah.”
Dariel menunduk, mengambil sepatunya yang ada di lantai. Bocah itu berjalan pelan sambil menahan air matanya agar tak tumpah. Nara yang melihat itu tak sanggup mengejarnya, ia tak sanggup lagi mendengar kata-kata dari anaknya.
"Oh, iya, Bun." Dariel menghentikan langkahnya. "Bunda enggak usah khawatir sama Kakak karena wanita itu Ibu kandung Kakak.”