23

1516 Kata
Aya yang pertama kali bangun ketika jam menunjukan pukul lima sore. Wanita itu merenggangkan badannya yang terasa kram. Isteri dari Arga itu tersenyum ketika melihat pemandangan didepannya yang menghangatkan hatinya, Abel yang sedang memeluk Arga. Mungkin sekitar lima menit lagi untuk membangunkan suaminya, batin Aya. Nampaknya yang benar-benar lelah disini bukanlah dirinya, melainkan Arga. Pria itu mendengkur cukup kuat pertanda bahwa lelaki itu tidak sungguh lelah, hal itu membuat Aya geleng-geleng karena sang suami selalu tak pernah menampilkan wajah lelahnya. Tatapannya beralih ke arah Abel yang tidur memunggunginya, tangan Aya perlahan mengusap punggung bocah itu. Dirinya benar-benar berharap bahwa pengalaman kelam anak sembilan tahun itu pada keluarga sebelumnya tidak membuatnya tekurung hingga menjadi anak yang suram. Namun, mengingat kelakukan Abel yang selalu membuat orang tertawa di sekitarnya, Aya berharap jika itu bukan bentuk kesepian bocah itu. Ia ingin Abel baik-baik saja.  Bahkan Oma Sarah dan Opa Dhani bahkan nampak jatuh cinta pada Abel di pertemuan pertama mereka. Malahan wanita paruh baya yang menjadi mertua Aya, sempat ingin ikut karena tak rela kehilangan Abel. “Mama mau ikut kalian ke Puncak,” kata Oma Sarah saat makan malam, ketika Arga mengatakan bahwa besok pagi mereka akan pergi berlibur. “Oma mau ikut? Woah rame nanti ya!” seru Abel sambil mengunyah makanannya dan namuntak lama kemudian bocah itu mendapat teguran dari Aya. “Mama sama Papa saja,” kata Opa Dhani. “Biarkan Arga dan Aya bersama Abel jalan-jalan, Ma.” Opa Dhani nampaknya mengerti ketika melihat raut wajah Aya yang nampak berubah. Pria itu tahu bahwa anak dan menantunya ingin memiliki waktu bersama dengan cucunya. “Tapi, masa Mama harus berpisah dengan Arya lagi?” rengek Oma Sarah benar-benar tidak mau berpisah dengan cucunya. Abel yang melihatnya terkekeh. “Nanti kalo pulang, Arya ke tempat Oma lagi kok,” kata Abel berusaha menenangkan Oma Sarah. Anak laki-laki itu tersenyum kecil, betapa beruntungnya menjadi Arya, anak laki-laki itu memiliki orang-orang yang sangat menyayanginya. Dan, terkutuklah orang yang menculik bocah itu. “Betul ya? Arya nanti nginap di rumah Oma setelah pulang?” “Iya, Oma cantik.” Oma Sarah nampak terkekeh mendengar rayuan Abel, begitu juga dengan semua yang ada di meja makan ikut tertawa. “Hoaaaaam!” Arga merentangkan tangannya ketika akhirnya ia terbangun. Sudah lama rasanya ia tidak merasakan senyenyak ini ketika tidur. Nampaknya ia harus sering-sering mengajak anak dan isterinya berlibur. “Eh?” Dahi pria itu mengerut saat hendak bangun namun tubuhnya terasa berat. “Pelan-pelan Mas, nanti adek bangun.” Sontak perhatian Arga beralih ke arah isterinya yang sedang menyandarkan tubuh di kepala kasur. “Udah bangun dari tadi yang?” tanya pria dewasa itu sambil sesekali menguap.  Aya mengangguk, namun ia kembali merebahkan tubuhnya disamping Abel. Ia perlahan melepaskan tangan bocah itu dari tubuh suaminya. “Peluk Ibu aja, dek.” Arga terkekeh ketika mendengarnya, namun takjub karena Abel menerut yang Aya katakan. Bocah itu hanya terusik kecil ketika isterinya melepas tangan Abel dan mengarahkan memeluk Aya. “Nghhh kentang...” Aya dan Arga sontak saling pandang ketika mendengar gumanan Abel, bocah itu langsung memeluk erat tubuh Aya. “Aku enggak salah dengar kan, Mas?” tanya Aya pada suaminya. “Enggak yang, Adek kayaknya benar-benar lagi mimpi makan kentang.” Lalu pria itu tertawa renyah. “Mas,” panggil Aya ketika keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. “Hem?” dehem Arga sebagai jawaban. “Bagaimana jika nanti Abel mendapatkan ingatannya? Apa Abel akan marah sama kita karena membohonginya?” Arga tak langsung menjawab pertanyan dari Aya, sebenarnya ia juga sedang memikiran hal yang sama ketika melihat wajah tenang Abel. “Mas juga enggak tahu yang.” Arga menatap isterinya. “Tapi yang pasti Mas enggak nyesal bertemu Abel dihidup Mas,” jawab pria itu beralih menatap bocah sembilan tahun itu.  “Tapi, aku takut Mas. Kehadiran Abel membuat kita melupakan Arya.” Aya sangat ingin sekali ketika dirinya terbangun di suatu hari nanti, Arya dan Abel akan membangunkannya dengan menggedor-gedor pintu dan berebut minta dibuatkan bekal yang enak. “Maafkan Mas yang sampai saat ini tidak bisa menemukan Arya,” sesal Arga. Entah berapa kali maaf lagi yang harus ia katakan pada isterinya namun Arga tak tahu harus mengatakan apa lagi. “Kita pasti akan menemukan Arya, pasti.” Arga menatap yakin isterinya. “Suata saat nanti kamu akan berteriak kesal kerena dua jagoan kita bermain dan membuat rumah berantakan.” “Aku akan menunggu waktu itu, Mas.” “Ughh..” Perhatian Aya dan Arga beralih ke arah Abel yang bergumam, perlahan anak laki-laki sembilan tahun itu membuka matanya. “Adek bangunn...” katanya lirih sambil menguap. Arga terkekeh melihat tingkah Abel, pria itu kemudian mengangkat tubuh anaknya. “Woahh!” pekik Abel ketika merasakan melayang.  “Kita berenang yuk, dek?” ajak Arga sambil membuka pintu kamar hotelnya menuju balkon. Kamar hotel yang dipesan Arga adalah tipe suite yang didalamnya memiliki kolam berenang sendiri. Abel memelotokan matanya ketika melihat air kolam yang nampaknya tidak dangkal. “Adek enggak bisa berenang ayah!” panik bocah itu. “Nanti Ayah lepasin ditengah, deh,” ujar Arga pura-pura tidak mendengar perkataan anaknya. “Ibuuu tolong Adekkk! Ibuu!” Aya yang bukannya mengkhawatirkan Abel malah tertawa. Tentu saja ia tahu Arga tak akan melakukan itu pada anaknya, jika pria itu melakukannya Aya sendiri yang akan turun tangan untuk menepuk kepala suaminya itu. “Satu...” “Dua...” “Tiga... byurrr!” Arga yang menggendong Abel dengan posisi koala merasakan lehernya dipeluk erat oleh anaknya ketika mereka masuk kedalam air. Cukup lama mereka tengelam, Arga kemudian kembali naik ke permukaan. “Hah...hah!” Pria itu malah terkekeh ketika Abel nampak mengambil nafas sebanyak-banyaknya. “Gimana seru kan dek?” tanya Arga seperti tak merasa bersalah. Abel memberengutkan bibirnya. “Jangan dilepas, yah,” katanya nampak ketakutan. “Iya, dek. Mana mungkin Ayah lepasin adek.” Pria itu kemudian membawa Abel yang berada digendongannya menuju tepi kolam dimana Aya sudah menunggu disana dengan menjulurkan kaki. “Maafin Ayah ya,” ujar Arga merasa bersalah ketika Abel sudah duduk disamping Aya. “Enggak papa kok, yah.”  “Mau Ayah ajarin berenang enggak?” tawar Arga membuat Abel nampak antusias. “Ayah mau?” “Mau dong!” angguk Arga. Aya yang melihatnya tersenyum. “Tiga puluh menit aja ya, Ibu mau mandi deluan.” “Siap bos!” ———- “Kita mau kemana, Bu? Yah?” “Tebak mau kemana?” kata Arga membuat Abel mencebikan bibirnya. Anak laki-laki sembilan tahun itu sudah tampan dengan sweater bergamar kartun dan celana joger serta sepatu sneakers yang membuat menjadi keren. Menurutnya. “Adek tunggu aja, biar kejutan!” sambung Aya yang membut Abel semakin penasaran. Saat sudah hampir mendekati tempat tujuan Aya dan Arga mengajak Abel berwisata. Bocah itu memekik senang ketika tahu kemana mereka akan pergi. “Kita mau ke kebun binatang, Bu?” seru Abel bersemangat. Bocah itu berdecak woah beberapa kali ketika mereka telah membeli tiket masuk dan lainnya.  “Kita enggak turun, Bu?” tanya Abel pada Aya. Aya tersenyum. “Enggak dong, kita lihat hewan-hewannya dari dalam mobil. Nanti Abel juga bisa kasih makan.” “Woahh kerenn!” pekik anak laki-laki itu membuat kedua orang tuanya ikut tersenyum. Maklum ia sangat jarang mengunjungi tempat wisata seperti ini, harga tiketnya terlalu mahal. “Ada jerapah, Yah!” teriak Abel ketika melihat ke arah jendela. Hewan yang memiliki leher panjang itu nampak memukau menurut Abel. “Wah ada Ibu juga!”  Aya dan Arga mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan Abel. Namun saat mengetahui hewan apa yang ditunjuk  Abel, Arga tak tahan untuk menahan tawanya. “Adek samain Ibu sama singa?” tanya Aya pura-pura kesal. “Iya, soalnya Ibu seram dan ganas,” ujar bocah itu. “Tapi, adek suka!” Setelah puas mengelilingi kebun binatang, Arga memutuskan untuk mengajak isterinya makan siang di salah satu tempat makan di daerah sana. “Mau makan apa yang?” tanya Arga pada isterinya. “Aku lagi kepengen makan bakso, deh, Mas.” Lalu wanita itu menolehkan pandangannya ke bangku belakang. Nampak Abel tengah sibuk dengan oleh-oleh yang ia dapat di kebun binatang. Sebuah boneka singa. “Adek mau makan apa?”  “Bakso juga, Bu.” Mereka kemudian berhenti di salah satu tempat makanan yang menjual bakso. Kondisinya yang ramai membuat Arga yakin makanan-makannya pasti enak. “Adek deluan sama Ayah aja, biar Ibu yang pesan.” Abel mengangguk, melepas genggaman tangannya pada Aya dan berganti mengenggam tangan Ayahnya. Setelah memesan, dua bakso dan satu mie ayam. Aya kemudian menyusul suami dan anaknya. Tak lama kemudian pesanan mereka sampai. Arga dan Abel terkesima ketika melihat Aya makan. Wanita itu langsung melahap satu pentol bakso bulat-bulat. “Mau aku pesankan lagi yang?” tanya Arga ketika mangkok isterinya sudah tinggal setengah. “Mau tapi pentol baksonya aja.” Arga tersenyum lalu mengangguk, rasanya sudah lama tak melihat isterinya makan selahap ini. Ketika mereka kehilangan Arya, selera makan Aya begitu juga dengan selera hidupnya nampak hilang. Hal yang sama juga terjadi pada Arga. “Maaf, Mas. Baksonya sudah habis, tinggal mie ayamnya lagi.” “Terima kasih. Pak.” Arga kembali dengan raut nampak tak enakan, apalagi saat melihat wajah Aya yang begitu berharap. Dan, lihatlah mangkok bakso wanita itu sudah kosong. “Baksonya sudah habis yang,” sesal Arga, Aya langsung merubah raut wajahnya menjadi kecewa. “Kita beli di tempat lain lagi nanti ya?” tawar Arga. “Pasti baksonya enggak seenak yang ini, Mas.” “Ibuu...” “Ibu mau bakso adek enggak?” “Eh?” Aya mengerutkan dahinya ketika Abel mendorong baksonya yang tersisa masih banyak. Bahkan bisa dibilang belum tersentuh, karena bocah itu memakan mienya saja. “Enggak usah, dek. Besok aja kita beli lagi.” Abel menggeleng, ia tahu Aya benar-benar ingin bakso itu. “Adek enggak mau bakso, maunya mie ayam sama kayak Ayah,” ujarnya sambil terkekeh. “Beneran dek?” tanya Aya nampak antusias. “Iya, Bu.” “Ayah pesenin mie ayamnya dulu ya.” “Makasih yah.” Abel tersenyum ketika Aya nampak lahap memakan baksonya. Anak itu sebenarnya juga ingin memakan baksonya, namun tidak terlalu besar seperti Aya. Lagi pula ia bisa memakan mie ayam. “Dek... aaaa.” “Eh? Untuk Ibu aja. Itu mie ayamnya adek.” “Aaaa... pokoknya adek harus coba.” Abel akhirnya membuka mulutnya, enak. Namun, rasanya tak sebahagia melihat Aya nampak lahap memakan makannnya. Arga tersenyum melihatnya, ia kemudian meminta Abel untuk segera menyantap mie ayamnya.  “Pake saos, dek.” “Enggak mau, pedass,” kata Abel membuat Aya dan Arga terkekeh. Dering ponsel membuat Arga menghentikan kegiatan makannya, ia pamit sebentar pada anak isterinya ketika melihat nama si pemanggil yang merupakan orang suruhannya.  “Halo?” “......” “Apa? Kalian sudah menemukan jejak pelakunnya?” “....” “Baiklah. Saya akan segera kesana!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN