13

1518 Kata
Abel pernah bertanya sesuatu hal pada temannya di sekolah atau ketika teman-teman Panti yang sudah memiliki keluarga berkunjung ke Panti untuk sekedar bermain.  Apa rasanya tidur bersama Ayah dan Ibu? Dulu, waktu ia tinggal di sebuah keluarga yang pernah mengadopsinya. Ia pernah meminta hal itu, tidur bersama dengan ia yang berada di posisi tengah. Dipeluk, dibacakan cerita atau diberikan kecupan sebelum tidur. Ia kira itu adalah hal yang bisa dirinya dapatkan ketika memiliki keluarga namun bukannya mendapat pelukan hangat atau kecupan sebelum tidur, ia malah mendapat pukulan pada tubuh mungilnya, membuat Abel harus meringgis dalam sepanjang tidurnya. Ternyata permintaannya itu menyusahkan kedua orang tuanya. Sehingga Abel harus mengubur impian-impian lainnya. Namun, ketika ia kembali diadopsi oleh Aya dan Arga. Abel merasakan bahwa ia aman, ia tidak perlu takut atau khawatir tentang apapun yang bisa menyakitinya. Yah, walau ia hanya pemikirian darinya. Tapi, ia yakin keduanya berpikirannya yang sama. Iyakan? "Ibu, Ayah," panggil Abel ragu-ragu. Dirinya baru saja turun dari kursi meja makan setelah menghabiskan beberapa buah anggur yang diberikan Aya. "Hem?" tanya Arga menanggapi sedangkan Aya hanya menatap bocah  yang nampak hendak mengatakan sesuatu namun tertahan. "Abel boleh enggak tidur sama ayah dan Ibu? Sekali ini saja." Hening. Arga dan Aya saling pandang ketika mendengar pertanyaan Abel. “Kenapa Abel mau tidur sama Ayah dan Ibu?” tanya wanita satu-satunya yang berada disana. Aya menatap bocah yang baru saja meminta untuk tidur bersamanya dan Arga. Ada hal yang membuat hati seperti teriris ketika mendengar permintaan itu. Seharusnya sebagai kedua orang tua, mereka sudah lama mengabulkan permintaan Abel sejak ia diadopsi. Bahkan tanpa perlu bocah itu meminta. Namun, karena k*******n hatinya untuk menerima kehadirannya. Abel mungkin menjalani hari-harinya dengan tersiksa saat itu. Aya berjalan mendekati Abel, wanita itu mengambil posisi tubuh sejajar dengan anaknya. “Kenapa, hem?” “Abel pengen ngerasaiin tidur sama Ayah Ibu, pengen dipeluk...”  Arga yang mendengar perkataan dari Abel terdiam. Pria itu merasakan hatinya seperti diremas dengan sarung tangan berduri, perih dan berdarah. Apa selama ini mereka sudah orang tua yang baik untuk Abel? Apa anak itu bahagia dengan Aya dan Arga yang menjadi orang tuanya? Permintaan sederhana Abel membuat Arga menjadi mengingat Arya. Anaknya itu hampir tak pernah meminta sesuatu, kadang mereka yang memberikan sesuatu yang berlebihan untuknya. Tanpa tahu apa yang sebenarnya diinginkan Arya. Apa anaknya itu bahagia hidup bersama Arga dan Aya? Apa jangan-jangan anaknya itu tak bahagia dan memilih pergi darinya?  Mereka, Arga dan Aya. Keduanya merasa beruntung bisa memiliki anak seperti Arya dan Abel. Saat ini pertanyaan tentang apakah orang tua bahagia dengan anaknya tidaklah menjadi tren. Namun, apakah kini anak-anak mereka bahagia dengan orang tuanya? Anak-anak tidak bisa memilih orang tua mereka. Mereka mungkin harus menerima apapun jenis orang tuanya.  “Abel boleh,” ujar Aya sambil mengelus pipi bocah didepannya. “Kapan pun Abel mau tidur sama Ayah dan Ibu, tinggal dobrak saja.” Wanita itu tersenyum saat mengakhiri kalimatnya. “Beneran, Bu?” tanya anak laki-laki sembilan tahun itu antusias. “Iya, boleh. Tapi, ketuk aja pintunya, enggak usah didobrak,” kata Arga membuat Abel tergelak. Aya menatap sendu pada bocah yang sedang tersenyum dihadapannya. Apakah Abel bahagia tinggal bersamannya? Aya menarik nafasnya lalu perlahan menghembuskannya. Pertanyaan itu tidak akan bisa menemukan jawaban jika Arga dan Aya tidak melakukan sesuatu untuk anak-anaknya. Wanita itu kemudian bangkit dari posisinya. “Sebelum tidur jangan lupa sikat gigi, cuci tangan dan cuci kaki. Mengerti?” tanyanya menatap Abel dan Arga bergantian. “Siapp, Bu!” hormat keduanya kompak. Abel kembali ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengambil bantal, guling serta sikat gigi. Ia ingin sikat gigi bersama Arga. Sedangkan Aya memilih untuk mengganti bajunya dengan piyama agar lebih nyaman. “Abel yang menang!” “Ayah dong!” “Abell..” “Ayahh....” “Berhenti!” Aya berteriak ketika masuk dan melihat apa yang ayah dan anak itu kerjakan di dalam mandi. Ternyata Abel dan Arga tengah berlomba siapa yang menyikat gigi dengan cepat. Aya menatap tajam suaminya, kenapa ia merasa seperti mengurusi dua anak laki-laki?! Apa suaminya iti tidak tahu jika gusi dan bibir keduanya bisa saja terluka jika tak sengaja terkena sikat gigi ketika berlomba seperti itu? “Kumur-kumur dan cepat naik ke atas kasur!” Bagaikan titah Ratu, dayang-dayang seperti Arga dan Abel hanya bisa tunduk dan menuruti perintah Aya. Keduanya dengan cepat membersihkan mulut dan keluar dari kamar mandi. Wanita itu geleng-geleng kepala ketika keduanya telah keluar dari kamar mandi, sedikit menarik nafas karena harus membersihkan terlebih dahulu busa-busa dari pasta gigi yang kemana-mana. Setelah itu Aya itu menyikat giginya sebelum keluar dari kamar. Tumben. Batin Aya bersuara ketika Abel dan Arga sudah berada di atas kasur dengan keadaan normal. Ia pikir keduanya sedang melakukan perang bantal atau entah apapun itu yang membuat Aya akan berteriak. “Sini, Bu..” Abel mengusap-usap posisi kosong disamping kirinya.  Aya menuruti permintaan Abel, ia mengambil posisi disamping anak itu sehingga posisi bocah itu kini diampit oleh Arga dan Aya. “Senang?” tanya Aya ketika ia sudah ikut berbaring dengan keduanya. “Seneng banget,” kata Abel mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ia berkali melihat ke arah Arga maupun Aya, memastikan saat ini ia tidak berhalusinasi. Tapi, ketika ia merasakan tangan Aya diperutnya dan tangan Arga yang mengusap rambutnya. Bocah itu merasakan tetesan bernama air mata ingin melesak dari matanya. Abel bahagia. Anak laki-laki sembilan tahun itu sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa ia akan merasakan hal ini juga. Jangan lupa mengingatkan Abel untuk segera mencontreng salah satu to do list impiannya ketika memiliki keluarga. “Tidur Abel...” kata Arga, pria itu sudah menutup kedua kelopak matanya. Mungkin karena terlalu bahagia, bocah yang berada ditengah Aya dan Arga itu tidak bisa menutup matanya. “Abel enggak bisa tidur yah,” katanya sambil mengetuk-ngetuk jarinya di dagu. “Baca doa tidur, pejamkan mata dan tunggu lima menit Abel akan tertidur,” saran Arga tanpa membuka matanya, untung saja sarannya itu langsung diangguki Abel. Bocah itu kemudian membaca doa tidur sedikit keras lalu memejamkan kedua matanya dan menunggu hingga beberapa menit, sesuai perintah dari Arga. “Abel enggak bisa tidur!” keluh anak itu kembali membuka bola mata yang bulat dan terang. Tidak ada tanda-tanda kantuk akan menyerangnya. “Uhhh...” Aya dan Arga mengerang, mereka baru saja—-hampir masuk ke alam mimpi. Namun suara cempreng Abel membuat mereka kembali terbangun. Kedua suami isteri itu akhirnya membuka kelopak mata mereka, saling pandangan dengan dahi berkerut. Aya menggelengkan kepalanya sambil memasang raut wajah lelah bak baru saja menguras pantai sedangkan Arga menghela nafasnya. Nampaknya ia harus menunda tidurnya terlebih dahulu. “Abel mau ayah bacakan dongeng?” Arga hanya tahu itu salah satu dari banyak cara untuk membuat anak tertidur. Jadi ia menawarkan sesuatu yang bisa ia lakukan selagi menunggu kantuk bocah itu datang. “Enggak yah,” bocah itu menggeleng. “Ada yang mau Abel tanya,” katanya dengan dahi mengerut. “Arya itu siapa?” Aya yang hendak menutup matanya sontak kembali terbuka ketika mendengar pertanyaan dari Abel. Ah, apa ia salah dengar? Namun saat melihat raut wajah Arga yang menampakan ekspresi sendu membuatnya yakin dengan apa yang didengarnya. “Kenapa Abel tanya itu?” tanya Arga sambil mengelus kepala bocah itu. Abel yang merasakan usapan di kepalanya mendongak melihat ke arah Ayah. “Soalnya Abel sering nemu mainan atau sesuatu yang ada tulisan namanya, kayak jas hujan tadi. Didalamnya ada nama Arya.” Selain itu Abel pernah menemukan sepatu yang bertuliskan nama Arya, namun hanya tersisa satunya saja. “Arya itu anak kandung Ibu dan Ayah.” Arga dan Abel menolehkan pandangan mereka ke arah Aya, mereka pikir wanita itu sudah tertidur lebih dulu. Terlebih Arga yang tahu bahwa isterinya itu memiliki pekerjaan yang banyak hari ini. “A-anak?”  Abel yang melihat Aya mengangguk, mengerutkan dahinya. “Terus kemana Arya sekarang? Kenapa Abel enggak pernah ketemu?” tanyanya menatap ibu dan Ayah angkatnya bergantian. Bocah itu tak langsung mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Tapi, ia bisa melihat tatapan kedua orang tuanya yang nampak kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari mereka. “Bu? Yah?” tanya Abel lagi. “Arya hilang saat Ayah dan Ibu sampai disini.” Arga tahu, cepat atau lambat Abel akan mengetahui ini semua. Dan, karena bocah itu sudah menjadi bagian dari keluarga mereka, maka tak ada salahnya ia menceritakannya. “Sudah berapa lama?” tanya Abel dengan ekspresi yang tak bisa ditebak. “Dua minggu,” kata Aya. Dua minggu juga ia merasakan sesak di dadanya tiap kali mengingat kehilangan Arya. Tidak ada seorang Ibu pun di dunia ini yang hatinya tidak hancur ketika kehilangan sosok kecilnya. Kilasan saat Aya terkakhir kali menggengam tangan anaknya kembali terlintas. Ia benar-benar tidak tahu bahwa setelah kejadian itu mereka akan berpisah lama. Jika Aya mengetahuinya mungkin ia tak akan pernah melepaskan tangan anaknya. “Jangan cepat-cepat, Arya,” kata Aya yang saat itu baru saja turun dari dari pesawat sambil mengenggam tangan anaknya. “Tapi, Arya udah enggak sabar ketemu Opa sama Oma, Buu!” Arga yang berada disamping isterinya tergelak saat itu. Mengusap lembut surai putra tunggalnya dengan sayang. “Arya sama Ibu deluan saja, biar Ayah yang mengambil barang-barang kita.” “Tapi, barang-barang kita banyak lho, Mas.” Aya tidak mungkin, tidak membawa sesuatu untuk mertua dan orang tuanya, belum lagi adiknya yang cerewet meminta sesuatu yang iconic dari negeri yang tinggali Aya sebelumnya. “Mas bisa—-“ “No! Biar aku bantu,” keukeh Aya. “Tapi, Arya mau segera ke parkiran Bu!” ujar Arya dengan cemburut. Bocah sepuluh tahun itu tahu bahwa ada sopir keluarga Oma dan Opanya yang akan menjemput mereka. Aya yang saat itu tidak bisa membiarkan hanya Arga membawa barang-barang setelah perjalanan beberapa jam akhirnya memutuskan untuk membiarkan Arya untuk pergi ke parkiran lebih dulu. Tentunya dengan hati-hati. Kedua orang tua itu tidak pernah menyangkan lambaian tangan Arya saat itu adalam salam perpisahan untuk mereka.  “Dadah Ibu Ayahhh!” Semuanya terjadi dengan cepat, baik Arga dan Ata tidak  bisa lagi bernafas dengan baik ketika sopir keluarga Arga mengatakan bahwa ia sedikit terlambat sehingga baru datang saat Arga dan Arya sampai di parkiran. Arya hilang. Anak mereka tidak ada. Dan, tidak tahu dimana keberadaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN