"Kinara?"
"Natasha?"
Perempuan berambut blode itu tersenyum melihat Kinara yang tertegun, lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil cat krayon yang sedang disentuh dirinya dan wanita dihadapannya. Sehingga benda itu sudah berada ditangan Natasha sepenuhnya. "By the way, terima kasih sudah mau mengalah." Wanita itu tersenyum girang.
Natasha memasukan krayon itu kedalam kantong belanjanya dengan sombong. Dan hal itu tidak luput dari pandangan Nara yang mulai memelototkan matanya. "Hei, aku yang pertama menyentuh krayon itu!" tukas Nara membuat Natasha mengerutkan keningnya. "Tapi, krayon itu sudah berada di kantong belanjaku sekarang."
"Aku tidak peduli! Krayon itu untuk anakku!" Natasha menepis tangan Kinara yang ingin merebut alat pewarna itu dari keranjang belanjaannya.
"Krayon itu juga untuk anakku!" seru Natasha tak mau kalah sambil menyembunyikan keranjang belanjanya di belakang tubuh.
Nara mengangkat satu alisnya. "Siapa lagi anakmu? Banyak pacar, banyak anak! Dasar!" umpatnya.
"Jaga mulutmu! Anakku hanya satu. Dariel!" seru Natasha berapi-api seolah ia baru saja melemparkan bara api pada lawannya, membuat Kinara yang melihat itu tersulut api emosi akibat bara api yang dilemparkan wanita didepannya.
"Asal kau! Dariel itu anakku! Anak yang sudah kamu buang!” tekan Kinara pada kata terakhirnya membuat Natasha mencelos. “Hah?!”
Natasha berdecak. “Ck, ck. Ternyata kamu perempuan yang selalu menyimpan masa lalu ya, Kinara. Kasihan sekali Adrian terjebak dengan wanita sepertimu.”
Ibu dari Raziel itu sontak menajamkan bola matanya saat mendengar nama suaminya disebut oleh Natasha. Alarm was-was berbunyi di kepalanya. Kenyataan bahwa wanita bertubuh seksi dihadapannya ini adalah mantan kekasih dari suaminya, tak lupa bahwa Adrian dan Natasha adalah orang tua kandung dari Dariel.
Natasha menghembuskan nafasnya jengah saat melihat pelototan dari Kinara. Oh, ayolah, sebenarnya ia tak ingin mengatakan itu. Ia hanya tidak suka dengan sifat Kinara yang memaksakan kehendaknya.
Apalagi mengetahui fakta penyebab Dariel tak jadi menginap di rumahnya minggu kemaren karena wanita yang berstatus ibu tiri dari anaknya ini tak mengizinkannya karena takut terjadi apa-apa pada Dariel. Hey, mereka hanya akan menginap, menghabiskan malam dengan menonton sambil memakan pop corn dan satu ember es krim, bukan berenang di suang sss!
Awalanya Natasha menjadikan Kinara sebagai role model sebagai ibu yang baik, wanita itu bisa mencintai sepenuh hati anak yang bukan lahir dari rahimnya, seperti Dariel dan Razkana.
Dan, saat wanita itu melahirkan anak kandungnya, kasih sayang dan perhatiannya tetap sama pada Dariel dan Razkana. Tidak ada yang berubah. Natasha mendengar itu semua ketika ia bertemu dengan Dariel secara sembunyi-sembunyi. Yah, walaupun ia merasa sedikit cemburu saat anaknya mengatakan itu.
Namun, saat mengetahui bahwa yang melarang Dariel bertemu dengannya adalah Ibu tiri anaknya sendiri, ia kecewa. Natasha sangat tahu kelakukannya di masa lalu memang tak bisa dimaafkan, tapi ia ingin berubah. Dan, ia tahu semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.
"Oke, Nara. Sekarang kita permudah saja." Wanita yang Nara ketahui adalah mantan pacar Adrian dan ibu kandung dari Dariel itu nampak ingin bernegoisasi. "Kemaren saat aku bertemu Dariel. Aku melihat-lihat isi tasnya dan aku melihat krayonnya sudah habis. Dan saat aku bertanya. Dia mengatakan sesuatu yang membuatku menjanjikannya ini. Dia berkata. 'Apakah Dariel boleh meminta krayon baru dari Mommy?' itu yang dikatakannya."
"Dia meminta padaku Nara. Dan, sekarang aku bertanya. Apa dia meminta padamu juga?" tanya Natasha.
Tidak.
Dariel tidak pernah meminta sesuatu padanya. Anak itu tidak meminta krayon ini kepadanya.
Tentu saja ia paham apa maksud dari ucapan wanita yang kini berdiri dihadapannya. Namun, ia tidak bisa membalas ucapan wanita itu dengan mudahnya. Tentu hal itu membuat Natasha kini berada di atas awan ketika melihat lawannya diam tak berkutik.
Nara memang jarang membeli kebutuhan Dariel, hanya sesekali, karena biasanya Adrianlah yang sering membelinya. Ia hanya sering membeli kebutuhan Razka dan sekarang bertambah menjadi kebutuhan Raziel. Mereka kedua sepakat untuk membagi tugas dan kebetulan Adrian yang begitu paham dengan kebutuhan Dariel, begitu juga dengan Kinara yang paham dengan apa yang diinginkan Razkana.
Pernah satu kali mereka bertukar tugas dan berakhir semua yang mereka beli tak terpakai. Entah Dariel yang alergi dengan sabun ini, Razkana yang tak suka shampo beraroma jeruk. Dan lain-lainnya.
Tapi itu semua bukan karena Nara tidak memperdulikan Dariel. Namun, anak itu tidak pernah meminta sesuatu padanya selain barang-barang yang diberikan Adrian. Namun, kenapa Dariel lebih memilih meminta sesuatu pada Natasha dari pada dirinya?
Padahal dirinyalah yang sudah menyangi anakku dengan segenap hati. Namun, kenapa sekarang Nara menjadi tak dianggap?
Apa ini hanya karena ia seorang ibu tiri?
Apa karena Natasha yang diceritakan Dariel sudah berubah menjadi baik hadir kembali di hidup bocah itu?
Kinara akhirnya meninggalkan Natasha tanpa krayon, ia segera menuju kasir untuk membayarkan alat lukis milik Razkana. Sedangkan Natasha hanya mengehendikan bahunya melihat kepergian Kinara. Wanita dengan stelan kantor itu memutuskan untuk mencari keperluannya yang lain.
Saat membayar alat lukis Razkana, Kinara memikirkan apa yang menyebabkan Dariel melanggar janjinya untuk tidak bertemu lagi dengan Natasha. Dan, alasan anak itu memilih meminta sesuatu pada Natasha? Padahal jika ia memintanya pada Nara atau adrian pasti akan dibelikan.
Ditengah lamunannya, matanya tak sengaja menatap ke arah etalase yang berada di belakang penjaga kasir. Sebuah botol minum bergambar superhero favorit Dariel berbuat Kinara tanpa sadar tersenyum, salah satu botol minuman bocah itu kemarin pecah.
“Mbak, botol minumnya itu ditambahin juga ya,” kata Kinara akhirnya.
Setelah membayar barang-barangnya Kinara segera menujur parkiran tempat dimana sang suami dan anak bungsunya menunggu. Ia meletakan barang belanjaan itu di kursi belakang.
“Haloo Bundaa!”
Kinara menggeleng kepalanya ketika melihat Raziel yang begitu lucu dengan rambutnya yang diikat sehingga membentuk sebuah tanduk. Bayi beberapa bulan itu nampaknya menjadi korban keisengan Ayahnya.
“Mas tadi aku ketemu sama Natasha,” kata Kinara ketika mobil mereka berjalan menuju rumah. Raziel sudah berada di gendongannya.
“Hemm,” dehem Adrian.
“Ishh, kok Mas enggak tanya, sih?” kesal Kinara karena sang suami nampak tidak peduli.
“Ngapain Natasha disana?” tanya Adrian akhirnya. Ia sesekali menggoda Raziel yang nampak ingin digendongnnya. Bayi itu nampaknya sudah sangat rindu dengan Ayahnya. “Sama bunda dulu ya, dekk....”
“Dia beli sesuatu.” Kinara sengaja tak memberi tahu bahwa mereka sempat adu mulut karena memperebutkan sebuah crayon.
“Oh, terus ngomongin apa aja?”
“Loh kok kamu mau tahu banget Mas? Jangan bilang kamu masih ada rasa sama Natasha? Ingat ya Mas, kamu itu udah punya tiga anak!” Adrian menghembuskan nafasnya, lelah. Ia bertanya seperti agar Kinara tak marah karena ia mengabaikannya.
“Ayah cuman nanya lho bun,” kata Adrian menjelaskan.
“Nanti ujung-ujungnya nanya nomor ponsel.” Nampaknya sisa-sisa bara yang dilemparkan Natasha tadi masih menyisahkan percikan-percikan api yang membuatnya tersulut kesal. Oh, atau memang Kinara akan sangsi ketika mendengar nama wanita itu.
“Yah, enggaklah. Ini disamping Ayah udah ada wanita cantik dan seksi...awhhh!”
“Mulutnya dijaga ada anak kecil!” omel Kinara sambil mencubit pinggang suaminya.
Adrian terkekeh ketika mendengar omelan isterinya, terhibur dengan tingkah Kinara yang masih nampak malu-malu padanya. Lihatlah wanita itu nampak menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan bermain bersama Raziel.
Pria itu paham bahwa Kinara sangat cemburu ketika nama Natasha terdengar, wanita yang pernah sempat bersamanya itu ternyata membuat sang isteri takut. Padahal Adrian sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.
Mobil mereka akhirnya sampai di garasi rumah mereka, kedua anaknya ternyata sudah menunggu didepan rumah.
“AYAHHHH!”
Raziel yang tadi sempat tertidur didalam perjalanan menuju pulang terbangun akibat dari teriakan kakak-kakaknya yang membahana. Dan, Kinara tidak bisa memarahinya karena ia tahu betul bahwa keduanya sangat merindukan sang Ayahnya.
Lihatlah sekarang Dariel dan Razkana sudah berada digendongan Ayah mereka, tak memperdulikan bahwa Adrian merasa lelah karena baru pulang dari perjalanan yang jauh. Ah, pasti nanti lelaki itu akan meminta pijit padanya.
Untung Raziel bisa kembali tidur, ia meletakan anak bungsunya itu didalam ranjang bayinya. Memberi kecupan pada dahi sebagai ucapan selamat tidur.
“Ayah mana, bang?” tanya Kinara saat melihat Adrian sudah tidak ada. Hanya tersisa kedua anaknya yang sedang menonton televisi yang menayangkan kartun.
“Ayah mandi,” ujar Razkana tanpa menoleh pada sang ibu. Hal itu membuat sang ibu berdecak, jika sudah berada didepan televisi yang menayangkan kartu kesukaan keduanya. Mandi dan makan pun dilupakan oleh anak-anaknya itu.
“Kalian sibuk banget, sih, padahal Bunda ada bawa sesuatu lho!”
“Apa Bund? Apa Bun?” Razkana yang paling antusias, bocah itu bahkan meninggalkan Dariel yang masih berada ditempatnya. Bocah dua belas tahun itu hanya melihat ke arah Kinara sekilas lalu kembali menonton televisi.
“Wahh, alat lukisss!” pekik Razka riang. Ia bahkan melompat-lompat sangking bahagianya. “Babang mau ngelukis sekarang,” katanya sambil membawa alat-alat lukis menuju kamarnya.
Wanita itu tertawa melihat Razkana, lihat berapa lama hobi itu akan bertahan pada anaknya. Lalu tatapannya beralih ke arah punggung Dariel yang masih fokus menonton televisi. Sebersit rasa sedih ketika anaknya itu tidak mendekatinya, apa karena Dariel tak mengingkan hadiahnya?
Astaga. Kinara berusaha menghapus semua pikiran-pikiran buruk yang ada di kepalanya. Jika memang Dariel tak mengingkan hadiah darinya, maka ia harus mendengar sendiri alasan dari anaknya itu.
“Kak Iyel, Kak,” panggil Kinara. Anak laki-laki itu menoleh dengan wajah polosya lalu mendekati Ibunya yang berada di atas sofa.
“Kanapa Bun?” tanya Dariel sambil mengerjap bola matanya.
“Kak Iyel enggak mau hadiah dari Bunda ya?”
Kening Dariel mengerut ketika mendapat pertanyaan itu. “Siapa yang bilang? Kak Iyel mau banget kok!”
“Terus kenapa Kakak enggak deketin Bunda tadi?” tanya Kinara sambil mengelus rambut putra sulungnya.
“Emangnya Kakak dapat hadiah?”
“Hah?” tanya Kinara bingung.
Dariel menghela nafasnya. “Temen-temen Kakak cerita kalo mereka udah enggak dapat hadiah lagi karena udah besar. Jadi kakak pikir, kakak juga enggak dapat.”
Kinara langsung menarik Dariel dari pelukannya. “Siapa yang bilang Kakak udah besar, hmm? Siapa yang malam-malam minta ditemenin ambil minum ke bawah?” Wanita itu mencolek dagu Dariel membuatnya tertawa.
“Ini hadiah Bunda untuk Kakak!”
“Woahh Bunda beneran kayak pesulap ya!” bocah itu tersenyum lebar ketika mendapatkan sebuah botol minuman bergambar kartun favoritnya.
“Pesulap?”
“Heem.” Dariel mengangguk. “Bunda selalu tahu apa yang Kakak mau padahal enggak pernah bilang.”
“Kakak sayang Bunda!”