1. Still Missing You!
Langit ibu kota jakarta hari ini cerah.
Tak begitu terik tak pula mendung. Dan seperti hari-hari biasanya, satria duduk disini, dikursinya, disinggahsana kebanggaannya.
Menatap luar jendela, menjadi sebuah kebiasaannya ketika tidak ada lagi pekerjaan yang bisa ia lakukan.
Pekerjaannya hari ini tidak terlalu padat, meeting dengan beberapa klien dan sisanya hanya dia habiskan dikantor menandatangin beberapa berkas-berkas penting.
Berdiri dari singgahsananya, melangkah kearah dinding kaca yang sedang memperlihatkan beragam aktifitas orang-orang dibawah sana.
Dia hanya diam dan melihat. Tapi sebenarnya ia juga tak tau apa yang sedang dilihat.
Seperti sedang ada yang dipikirkan, tapi tak tau juga apa yang sedang dipikirkan.
Ntahlah, berusaha tak tau atau memang tak mau tau.
Dari tangan kirinya jam sudah menunjukkan angka 15.10, itu pertanda jam kantor sebentar lagi akan usai.
Satria memutar kepalanya kebelakang ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar. Datanglah seorang pria gagah, tapi tak lebih gagah dari satria, pria tersebut yang tak lain adalah asisten pribadinya sendiri, Max.
“Sir, Sebentar lagi jam pulang kantor, apa anda ingin segera pulang sekarang juga? Biar saya hubungin driver untuk segera menjemput anda di bawah?”
Satria menghela nafasnya.
“Sebentar lagi Max, biarkan aku disini sebentar lagi.” Titahnya.
“Baik Sir.”
Menuruti titah sang tuan, Max akhirnya meninggalkan Satria seorang diri di dalam ruangannya.
Ntahlah, satria masih ingin berdiam diri disini sambil memperhatikan segala aktifitas yang terlihat oleh matanya. Dia tak ingin cepat-cepat pulang ke apartment, toh tak ada yang menunggu kepulanganya. Pikirnya begitu.
———
Disinilah dia berada sekarang. Di dalam mobil Land Rover SUVnya, sedang terjebak macet. Inilah yang tak ia sukai dari kota jakarta, MACET. Buat apa buru-buru pulang kalau yang dihadapin juga kemacetan dan kemacetan lainnya. Di dalam mobil ini hanya terisi 3 orang, driver dan asisten pribadinya Max, dan Satria sendiri sang tuan.
Tak ada suara apapun yang mengisi perjalanan tersebut, suara radio pun tidak.
Satria hanya memanfaatkan moment macet dengan mengistirahatkan badannya sejenak, memejamkan matanya dan berusaha untuk rileks. Toh tidak ada yang bisa diperbuat, sudah hampir 30menit stuck di kemacetan.
Setelah menempuh perjalanan hampir memakan waktu satu jam yang hanya diisi oleh kesunyian.
Akhirnya SUV berwarna lantau bronze itu terpakir di lantai basement salah satu apartment termewah di ibu kota jakarta.
“Nanti malam jangan lupa kirimkan saya jadwal untuk hari esok, Max.”
Sesaat sebelum keluar dari mobil, Satria memberi perintah kepada sang asisten.
“Baik, Sir.”
Sembari menganggukkan kepala Max menjawab perintah tuannya.
Satria pun lantas meninggalkan sang asisten beserta driver pribadinya untuk segera menuju
Ke unit apartmentnya.
Unit apartmentnya berada di lantai paling atas.
Disinilah dia didepan unit apartmentnya yang sedang memasukkan password pintu. Terdengar bunyi tanda pintu terbuka, terdengar lagi bunyi tanda pintu kembali terkunci.
Terasa sunyi, hampa.
Seperti, hatinya ?
Sudah 5 tahun ini dia memilih untuk tinggal seorang diri di apartment.
Sebenarnya apartment ini diperuntuk untuk Satria dan pujaan hatinya Lily. Ya, hunian untuk keluarga kecil impiannya.
Tapi sepertinya takdir berkata lain. Sekarang hanya dia seorang yang menghuni apartment tersebut tidak dengan Lily sang kekasih. Kejam memang takdir.
Interior apartment yang didominasikan dengan warna abu-abu dan warna beige tersebut masih sangat sangat sesuai dengan design impian Lily.
Ya walaupun pada awalnya Lily menginginkan warna beige sebagai warna keseluruan dari apartment ini, yang tentu saja ditentang mentah-mentah oleh Satria dan meminta untuk dipadu padankan dengan warna abu-abu. Lily akhirnya menurut saja toh abu dan beige perpaduan yang sempurna, pikirnya.
Tak berselang lama, ponsel genggam yang berada disaku kanan celananya bergetar. Tanda sebuah panggilan masuk dan benar saja, panggilan tersebut dari sang ibu.
Ah sudah lama juga ia tak mendengar suara maminya. Tak perlu lama baginya dan ia pun tak ingin membuat maminya menunggu dan berhujung sebuah omelan.
“Hmm, iyaa, Mi?”
“Cuman HM mas? Udah hampir sebulan mami gak dengar kabar dari kamu, kamu cuman bilang “HM” aja!”
Satri memutar bola matanya malas. Kendati sang mami tak melihatnya.
“Kan ada IYAA MI nya di ujung.”
Jawab satria.
“Kamu ini selalu aja banyak alesan!”
“Kamu kayanya udah lupa kalau punya orang tua ya, Mas?”
“Hampir sebulan tidak ada kabar, terus gak mau pulang lagi kerumah Mami Papi, Iyaa?”
“Mami punya anak laki-laki tapi kayak gak punya..”
Suara yang tadinya sangat semangat sekali ingin ngomel tiba-tiba berubah jadi sendu. Ini yang satria tak suka.
“Mi.. aku sibuk banget.”
“Maaf sampai lupa kasih kabar ke mami.. lagian dari kantor ke apart gak terlalu jauh.. Jadi biar cepat istirahat aku balik ke apartment aja.”
Satria berusaha menjelaskan kepada sang mami.
“Kamu selalu begitu Sat,, banyak alesannya.”
Maryam menjeda ucapannya.
“Kamu belum bisa lupain Lily ya? Ini sudah 5 tahun lebih loh Mas, ikhlas dong, Nak..”
Sang mami semakin sendu. Mengingat sang anak ketika memilih untuk tinggal sendiri di apartment yang sebenarnya akan dijadikan tempat hunia untuk satria dan kekasih hatinya yang tak lain Lily.
Maminya merasa sedih. Memikirkan anak laki-laki satu-satunya yang masih saja terikat oleh masa lalu. Bahkan ini sudah berjalan 5 tahun. Sedalam itukah luka dan dukanya?
Satria menghembuskan nafas kasar. Ia malas sekali kalau mamiya sudah membahas soal ini.
“Mi.. kalau gak ada lagi yang dibahas udahan dulu aja. Satria capek baru banget sampai, dan pengen segera bebersih dan istirahat.”
Selalu begitu respon sang anak ketika Maryam sang ibu menyinggu soal Lily.
“Ya sudah.. selamat istirahat ya cah bagus.. jaga kesehatannya, Mas!”
“Hmm night, Mam.”
———
Dengan segelas kopi pahit yang sudah tak terlalu panas, dan ipad digenggamannya menemani Satria untuk mengecek beberapa jadwal dan pekerjaan untuk hari esok.
Apartment ini ada dua kamar. Satu kamar di jadikkan Satria ruang untuknya bekerja.
Satu sesapan kopi mengingatnya oleh seseorang.
Biasanya orang tersebut yang akan membuatkannya kopi. Tak terasa waktu sudah berjalan 5 tahun, dan selama itu pula Satria masih merindukan orang yang sama.
Tak ingin berlarut-larut. Satria memilih mematikan ipad dan menghentikan aktivitasnya. Memilih beristirahat di kamar pribadinya.
5 menit, 15 menit, bahkan sudah 20 menit berlalu tapi tak juga Satria bisa menemui tidurnya. Hanya berganti-ganti posisi, sampai pada posisi telentang dan membuka mata. Menatap lurus figura yang berada tepat didepannya.
Matanya tak berkedip ketika memandang sebuah foto yang memang sengaja satria panjang dengan sangat besar di dalam kamarnya. Matanya memanas..
“I miss you...”
Lirih. Suara itu sangat lirih. Tak terasa setetes air mata mengalir. Jujur Satria bukan pria cengeng.
Tapi malam ini. Untuk malam ini, khusus malam ini saja. Biar seperti ini, biarkan seperti ini adanya.
Hatinya sesak, hatinya sakit bukan main. Disaat dia merindukan seseorang. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis. Ia tak berdaya.
Untuk malam ini saja, biarkan dia menjadi lemah.