2. Ksatria Wicaksana Adiningrat

1285 Kata
Ksatria Wicaksana Adiningrat merupakan anak lelaki pertama dari pasangan Maryam Adiningrat dan Tirto Adiningrat. Pria yang biasa di panggil Satria ini memiliki seorang adik perempuan bernama Dinda Ayu Adiningrat. Jarak antara Satria dan sang adik terpaut cukup jauh, Satria tahun ini akan menginjak usia 33 tahun sedang sang adik berusia 21 tahun. Cukup jauh rentang usia mereka terpaut 12 tahun, dan hal itu juga salah satu penyebab sifat sang adik yang sangat manja dan segala sesuatu harus diturutin. Cukup sering membuat mami dan papinya pusing termasuk dirinya sendiri. Seperti sekarang ini. Gadis berusia 21 tahun ini sudah berada didepan Satria, dan seperti biasa tidak pakai aba-aba ataupun mengetuk pintu terlebih dahulu tapi langsung saja masuk ke dalam ruangan kerja sang kakak. Dan ini masih pagi tapi sudah sampai disini, jam disudut layar komputernya menunjukkan angka 08.45. “Mas...” “Mas, Satriaaa...” Dinda mengentak-hentakkan langkahnya sembari menghampiri sang kakak, berusaha menganggu konsentrasi sang kakak dengan menggoyang-goyangkan lengannya karena sang kakak tak jua menjawab panggilan dari dinda. “Hmmm.” Jawaban khas yang selalu Satria berikan jika dirinya enggan hanya untuk sekedar berbasa-basi. “Ck!” “Sibuk banget emang mas?” “Aku, mau ngomong nih!” Kesal rasanya ketika mendapati sang kakak yang terkesan cuek tak acuh. Sembari bersedekap dinda memajukan kepalanya berusaha untuk melihat, sebenarnya apa yang sedang dikerjakan oleh sang kakak ? Beneran sibuk atau sok sibuk saja!. “Kamu ngapain disini? Gak kuliah?” Memutar bola matanya malas. Bukannya merespon ajakan ngobrol Dinda, Satria malah mengajukan pertanyaan. Memang kakaknya ini agak lain, cuek, dingin, kalau ngomong irit, tapi sekalinya ngomong nyelekit. Bisa-bisanya dia punya kakak seperti, lihat saja dari tadi fokusnya bahkan gak berubah lurus fokus liatin layar komputer kerjanya. Ck! “Nah itu dia. Ini berkaitan sama kuliah aku!” “ Ih Mas, Satria! Kalau diajak ngobrol itu liat kesini dongg! Bukan ngeliatin kekomputer muluu!! Yang ajak ngobrol tuh disini, berarti liatnya ke akuuu!” Sungguh kesalnya menjadi-jadi lantaran respon Satria yang terkesan tak peduli dan tak mau tau. Menghela nafasnya kasar sembari memejamkan mata dan menggaruk alisnya yang sebenarnya juga tak gatal. Memutar kursi ke arah sang adik yang berada tepat di sisi samping kanannya. “Apalagi ini.” “Mau ngomong apa cepetan. Mas banyak kerjaan, kamu bisa liat sendirikan.” Satria berusaha memberikan pengertian kepada sang adik bahwa sibuknya benar-benar dalam artian SIBUK. Bukan hanya pura-pura sibuk, lantaran memang begini keadaanya Satria selalu disibuk kan dengan berkas-berkas atau meeting dan meeting yang lainnya. “Gitu dong!” “Jadi gini. Kampus aku bakal ngadain acara Study Tour gitu, tapi gak sekedar jalan-jalan doang kita bakal ada kegiatan sosialisasi bersama masyarakat...hmm mirip kaya KKN sih tapi bukan, pokoknya gitu deh!” “Acaranya bakal berlangsung 5 hari. Mas Satria kan tau yahh...” Dinda menjeda omongannya, menatap sang kakak dengan raut wajah memelas. Berharapan agar sang kakak bisa membantunya untuk mendapatkan izin dari mami dan papi. “Mami sama Papi gak bakal gitu aja kasih aku izin buat ikutt.. bantuin aku pliss bujukin merekaa mass..plisss,” Menyatukkan kedua tangannya tanda memohon, memasang muka semelas mungkin. Alasannya ya agar kakaknya iba dan segera membantu untuk membujuk kedua orang tuanya. Maklum saja, anak paling bungsu perempuan satu-satunya pulak. Tak segampang itu perihal pergi keluar kota tanpa mami dan papinya. Satria hanya memperhatikan adik perempuannya itu. Selalu begitu, Satria akan dimintai sebagai backup untuk membujuk mami dan papinya. “Maasss..” Menghela nafas malas. Akhirnya Satria menyanggupi keinginan sang adik. Biar cepat selesai, biar cepat juga ia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. “Hmm,” “Nanti malam mas pulang kerumah. Dan bantu ngomong ke Mami Papi.” “Sekarang kamu pulang. Mas mau lanjut kerja lagi!” “Aaaa Mmas ku emang yang baik paling ganteng sedunia!! Makasih Mas, Satria.” Girang Dinda mendapatkan lampu hijau dari sang kakak. Terlampau bahagia gadis itu sampai memeluk sang kakak, kemudian pergi begitu saja setelah mendapatkan apa yang dia mau. Satria hanya memperhatikan langkah sang adik. “Emang saya pernah jelek?” Batinnya. ———— Kalau ada yang bilang Satria hanya pura-pura sok sibuk dan sebagainya. Katakan kepadanya suruh orang tersebut menggantikan dirinya 1 hari saja. Lalu apa masih bisa mengatainya sok sibuk. Ya, semenjak dirinya yang menggantikan sang papi menjadi CEO 5 tahun yang lalu. Kesibuk demi kesibukan pun tak bisa ia hindari. Pekerjaan seolah-olah tiada henti, berada dikantor seharian dengan bertumpuk-tumpuk berkas. Atau tak pernah dikantor barang seharipun untuk meeting dan meeting. Tirta Holding Corporation, itulah nama perusahaan raksasa milik keluarganya. Perusahaan yang bergerak dibidang pengadaan jasa konstruksi sektor minyak, gas dan petrochemical ini sudah berdiri jauh bahkan sebelum Satri lahir. Ya sang papi berkerja keras untuk membangun bisnis mereka yang sekarang termasuk Top 3 perusahaan minyak dan gas terbesar di indonesia. Tidak itu saja. Bahkan gedung tempatnya berdiri sekarang juga merupakan salah satu bisnis yang dimiliki keluarganya. Gedung THC Tower yang memiliki 57 lantai ini tentunya tidak hanya dihuni oleh kantor pusat induk Tirta Holding Corporation saja, lantai-lantai yang kosong di sewakan ke beberapa perusahan lain yang membutuhkan kantor. Dengan beban besar yang diemban oleh Satria sekarang, tak hayal membuatnya sangat sibuk. Acap kali dia juga harus pergi turun lapangan langsung demi mantau proyek berjalan dengan lancar. Belum lagi harus meninjua beberapa anak perusahaan dan cabang yang tersebar dibeberapa kota lainnya selain di jakarta. Hari sudah menunjukkan jam makan siang. Satria baru saja menapaki kakinya dilobi THC Tower, dia baru saja menyelesaikan beberapa pertemuan penting diluar kantor. Tak terasa perutnya segera minta diisi, pertemuan tadi memakan waktu yang cukup lama Satria pun tak sempat untuk mengisi perutnya. “Max, Jangan lupa antar makan siang ke ruang saya.” Satria memberi perinta kepada asistennya sebelum keluar dari lift. “Baik Sir, Apa ada pesanan khusus yang diinginkan?” Max bertanya kalau-kalau bosnya ini menginginkan sesuatu. “Tidak. Apa saja yang penting bisa di makan.” “Oh iya nanti saya akan pulang kerumah mami papi. Kamu dan driver gak perlu antar. Biar saya nyetir sendiri.” Ucap Satria begitu saja ketika pintu lift terbuka dan langsung menuju keruangannya tanpa menunggu jawaban dari Max. “Baik, Sir!” Max tetap menjawab kendati sang tua tak mendengarnya lagi. —— “Sekarr..” Maya mengejutkan sahabatnya ini yang dari tadi tidak merespon ajakkannya untuk berbicara. Sekar yang tak fokus pun merasa sedikit terkejut. “Ck! Apaan sih May, Bikin jantungan tau gaak.” “Lagian dari tadi diajak ngobrol bengok mulu. Kenapa sih? Lagi ada masalah ya? Jangan-jangan kurang sajen nih pas jam makan siang tadi.” Cecar Maya. “Apaan gak lah. Udah ah lanjut kerja sana..” Sekar mendorong teman sejawatnya itu untuk segera kembali ke kubikelnya. Kota jakarta sore ini diguyur hujan yang cukup deras. Sekar sudah ada di lobi kantor, sudah dari 5 menit yang lalu hanya menatap rintik hujan yang turun membasahi ibu kota. Dia teringat lupa memasukkan payung portable yang biasanya siap sedia ditas. “Haaaahh..” Membuang nafas kasar. Entah kenapa sekar melakukannya. Hari ini dia sedang tidak mood saja, Maya sudah pulang duluan bersama pacarnya. Sekarang dia sendiri masih stuck di teras lobi kantor. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat. Akhirnya Sekar memutuskan untuk berlari menghadang hujan menuju halte tempat biasa dirinya menunggu busway. Sebenarnya halte tersebut tak terlalu jauh, tapi dengan kondisi hujan terderas seperti ini cukup untuk membuatnya basah kuyup begitu sampai di halte. Dengan bermodalkan tas kerjanya sebagai pelindung kepala Sekar berlari dengan sekencang mungkin dan hati-hati agar tak tergelincir. “Aah lumayan basah.” Sekar berbicara sendiri. Sambil mengibas-ngibaskan pakainya yang terkena hujan. Meneduh dibawah halte sembari menunggu busway. Terlihat beberap orang berlarian menuju ke halte yang sama dengannya ada yang berpasangan satu payung berdua. Sekar lagi-lagi hanya menjadi penonton. “Romantisnya. Orang-orang kok bisa punya pacar ya.” Batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN