Disinilah Sekar berada. Berbaring ditempat tidurnya, masih betah menatap langit-langit kamar. Salah satu rutinitas wajib sebelum tertidur yaitu bengong, memikirkan hidupnya yang terkesan gini-gini aja.
Diumurnya yang 27tahun ini, Sekar sudah mempunyai pekerjaan yang mapan. Bahkan beberapa bulan yang lalu dia baru saja naik jabatan, dengan segala prestasi di tempat ia bekerja dan sebenarnya kalau diperhatikan Sekar itu cantik. Defenisi cantik nusantara, tidak terlalu tinggi memang. Tapi wajahnya menampilkan pesona yang khas, lesung pipi yang manis, kulit bersih kuning langsat, rambut hitam yang panjang, mata coklat yang indah.
Tapi ada satu yang masih sering menjadi pertanyaanya. Kenapa dia tak kunjung mempunyai tambatan hati. Apakah benar-benar tidak ada yang menginginkannya ? Padahal dia cantik, pintar, karirnya bagus, mandiri.
“Kurang apa gue?!” Batinnya.
Bukan ingin sombong. Tapi faktanya memang begitu.
Sekar Arumi. Gadis cantik kelahiran bandung tersebut merupakan anak satu-satunya dari pasangan Hesti Wijaya dan Candra Kesuma. Meskipun anak satu-satunya tidak dijadikan alasan untuk Sekar menjadi gadis manja yang terkesan menye-menye. Justru kebalikkannya. Sekar sangat mandiri, memiliki kepribadian yang tegas, dia tidak ingin merepotkan orang banyak jadi selagi bisa dikerjakan sendiri kenapa tidak. Justru hal inilah yang tanpa sadar terkadang membuat laki-laki minder untuk sekedar mendekatinya.
“Loh seharusnya dia seneng dong dapat perempuan yang mandiri gak menye-menye. Aneh!”
Kata Sekar pada waktu itu ketika dirinya diceramahi oleh temannya untuk tidak terlalu mandiri sebagai perempuan, katanya lelaki lebih suka terhadap perempuan yang manja.
Seperti hari-hari biasanya. Hari ini Sekar sudah berada dikantor dan sedang menyiapkan beberapa berkas-berkas yang akan dipergunakan untuk kepentingan meeting yang akan diberlangsung pada jam 08.30 nanti.
“Ih gue deg degan deh kar!”
“Meeting kali ini gak main-main nih! Bukan investor kaleng-kaleng...”
Maya menyerukan kegelisahannya kepada Sekar yang masih sibuk memperhatikkan segala kelengkapan meeting.
“Emang sejak kapan kita meeting main-main, Maya..”
“Udah tenang! Ntar gue keikutan panik kaya, Elu!”
Sekar berusaha menenangkan Maya. Walaupun terkesan tenang sebenarnya Sekar juga agak sedikit gelisah. Mengingat investor mereka kali ini datang dari perusahaan besar yang cukup terkenal. Perusahaan tempatnya bekerja akan mengadangan proyek yang membutuhkan suntikkan dana dari beberapa investor. Salah satunya dari perusahaan yang sebentar lagi akan mereka temui.
“Loe kok kayanya tenang banget sih. Gue aja tangannya udah mulai keringetan nih..”
“Deg degan juga. Tapi yaudah yang penting kita persiapkan sebaik mungkin biar gak ada yang kurang terus biar investor kita juga tertarik buat kerjasama sama perusahaan kita. Udah deh tenang all is wel!”
Sebenarnya ucapan tenang itu tidak hanya ia tujukkan kepada maya melainkan untuk dirinya juga. Karena meeting kali ini akan dipimpin oleh dirinya. Sudah kebayang bagaimana suasan hatinya antara excited tapi juga nervous. Bagaimana pun juga ia harus memaksimalkan segala kemampuannya agar meeting tersebut membuahkan hasil yang manis.
——
Sepertinya Satria datang lebih cepat dari pada waktu yang telah ditetapkan. Melihat jam yang berada ditangan kirinya menunjukkan angka 07.59. Benar saja. Jika mengikuti waktu yang telah ditetapkan meeting akan berlangsung pada pukul 08.30. Dan semakin didukung dengan keadaan ruang meeting yang masih sunyi. Tadi saja ketika Satria dan Max asistennya datang mereka diantarkan oleh resepsionis, dan disuguhkan secangkir kopi hangat.
“Sepertinya kita datang lebih cepat dari waktu yang ditentukkan, Max.” Satria membuka suara.
“Sepertinya begitu, Sir. Apa perlu saya sampaikan kepada pihak Artha Company untuk memajukan jadwal meetingnya?” Tanya Max dengan sedikit memberi usul.
“Tak apa. Biar saja kita tunggu.”
Sementara itu diruangan lain salah satu tim yang ditunjuk untuk melakukakn meeting kepada pihak Tirta Holding Corporation sedang panik karena mendengar kabar bahwa calon investor mereka sudah tiba. Bahkan lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan.
“Haaa.. kok udah datang aja? Bukannya jam 08.30 yaa. Aduhh ayok deh jangan bikin mereka nunggu.” Ucap Sekar mengingatkan kepada anggota timnya untuk segera bergegas keruang meeting dimana investor mereka telah menunggu.
“Tenang tenang. Fighting! Loe pasti bisa!”
Maya memberi semangat kepada Sekar dan segera menyusul dibelakangnya.
“Rama, berkas dan file udah gak ada yang ketinggalan kan?” Tanya Sekar memastikan sekali lagi sebelum mereka benar-benar memasuki ruangan meeting.
“Aman buk bos, Udah relax relax!”
Menarik nafasnya panjang. Sekar berhenti sejenak didepan pintu ruang meetingnya. Kemudia menghela nafas panjang dan segera membuka pintu untuk segera menjumpai investor yang telah menanti kedatangan mereka.
Begitu melangkahkan kakinya untuk masuk keruangan meeting. Sekar langsung menyapu pandangannya keseluruh ruang guna memastikan bahwa benar sang investor telah datang.
“Maaf pak Satria pak Max. Saya dan tim sedikit terlambat, saya harus memastikan sekali lagi bahwa berkas-berkas sudah lengkap dan siap untuk dijadikkan bahan meeting pagi ini.”
Ucap Sekar sembari sedikit membungkukkan badannya tanda permohonan maaf. Meskipun sebenarnya dia tak bersalah lantaran memang jam meeting jika sesuai dengan yang sudah ditetapkan belum berlangsung di jam sekarang. Beberapa anggota dari timnya mengikuti dibelakang. Dan mulai merapikan dan mempersiapkan segala perlengkap meeting dari layar infokus dan memberi berkas hardcopy kepada calon investor meskipun mereka telah menerima softfilenya.
Sementara baik Satria ataupun Max membeku ditempatnya. Mereka berdua begitu terkejut ketika untuk pertama kalinya melihat pemimpin meeting kali ini yang akan dipimpin oleh Sekar. Bukan karena pemimpin rapatnya seorang wanita, melainkan karena wanita tersebut mirip sekali, sangat sangat mirip dengan seseorang yang mereka kenal.
“Sir..” Max mengingatkan karena Satria tak kunjung merespon ucapan Sekar.
Satria tergugu. Tak tau harus bagaimana merespon. Perempuan ini, perempuan didepannya yang baru saja masuk dan berbicara kepadanya. Perempuan ini sangat mirip dengan..
“Saya Sekar Arumi, yang memimpin rapat pagi ini, Pak. Dan ini beberapa anggota tim saya. Sekali lagi saya minta maaf atas keterlambatan saya dan tim, dan selamat datang di Artha Company semoga kita bisa saling bekerjasama..”
Sekar kembali bersuara sambil menampilkan senyum yang menawan dan mengulurkan tangannya kepada Satria. Sekar sedikti mengerutkan alisnya karena semenjak dirinya memulai percakapan lelaki yang ada didepannya ini hanya melihat tanpa bereaksi.
“Apa meraka kecewa ya? Aaiisshh!”
“Sir!” Kembali Max mengingatkan bosnya dan sedikit menyenggol lengan Satria agar bosnya ini segera sadar dari keterkejutannya.
Satria tersadar. Sembari menyambut uluran tangan Sekar.
“Aah iya.. ta-tak apa. Memang sepertinya kami yang kecepatan datangannya.” Satria menjadi sedikit terbata-bata.
“Eheem. Boleh silahkan dimulai jika memang sudah siap.” Lanjutnya sembari melepaskan tautan tangannya terhadap Sekar. Satria berusahan menetralkan kegugupannya berusaha Serelax mungkin. Sekar hanya membalas dengan senyuman.
“Sir, Bukakah nona Sekar sangat mirip dengan nona Lily?” Max membuka suara demi memastikkan kembali bahwa ia tak salah melihat Sekar seperti melihat kekasih hati tuannya.
“Fokus ke meeting, Max!” Sebenarnya Satria juga ingin memastikkan. Tapi untuk sekarang dia berusaha untuk lebih fokus ke meeting. Urusan Sekar mirip dengan Lily bisa ia urus belakangan.
Tak bisa dipungkiri olehnya. Sekar sangat mirip dengan Lily. Hanya saja gadis ini sedikit lebih pendek jika dibandingkan dengan Lily yang memiliki postur tubuh lebih tinggi.
“Tak mungkinkan gadis ini benar-benar Lily?”
“Apa Lily memiliki saudara kembar atau...” Batin Satria. Banyak sekali pertanyaan yang bersarang dikepalanya sekarang. Satria hanya memperhatikan setiap gerak gerik yang sedang Sekar lakukan. Matanya tak lepas dari gadis itu.
“Apakah dia...”