Meeting berlangsung hingga pukul 11.00 siang. Selama meeting berlangsung sebenarnya Satria tidak betul-betul fokus dengan apa yang disampaikan Sekar dan tim. Pria tersebut hanya memperhatikan Sekar. Memperhatikan bagaimana caranya berbicara, senyum tipis yang kadang diperlihatakkan. Mata coklat yang indah. Satria bisa saja meminta rangkuman tentang meeting hari ini dari asistennya Max. Asistennya tersebut pasti sudah merangkum segala materi yang disampaikan oleh Sekar. Didalam ruangan meeting hanya tersisakan beberapa orang saja termasuk Satria, Max, Sekar dan beberapa anggota tim yang mendampingi Sekar.
“Saya sangat berharap segara mendapat kabar baik dari pihak Tirta Holding Corporation terkait proyek kerjasama yang akan kita laksanakan, Pak..”
Sekar membuka suara sembari mengantarkan kepergian kedua calon investornya. Sekar mengulurkan tangan untuk menunjukkan rasa terimakasih karena pihak Tirta Holding Corportion sudah sudi untuk datang dan melakukkan meeting presentasi di perusahaannya bekerja.
“Senyum ini..”
Satria menghela napas. Sembari menyambut uluran tangan Sekar.
“Terimakasih atas jamuannya. Asisten saya akan segera mengfollow up tentang kerjasama kita secepatnya.” Satria menatap lurus mata yang sangat familiar baginya.
Sebenarnya Sekar sedikit salah tingkah ditatap sedemikian dalam oleh Satria yang tak lain calon investornya. Bukannya Sekar tak merasa jika sedari tadi meeting dilaksanakan, Satria sudah memperhatikkannya. Bahkan mata pria ini selalu saja menatap matanya. “Jangan geer deh kar!” Sekar mengingatkan dirinya sendiri.
“Baik pak, Terima kasih Pak Satria, Terimakasih Pak Max.” Sekar juga menyalami Max selaku asistennya Satria.
“Hati-hati dijalan, Pak.” Lanjutnya sebelum kedua orang penting ini benar-benar hilang. Dan senyum yang selalu ditampilkan oleh Sekar.
Satria hanya melihat dan segera berlalu dari hadapan Sekar. “Kenapa dia selalu tersenyum!”
Mobil Satria sudah jauh meninggalkan gedung Artha Company. Sekarang dirinya sedang menuju perjalanan kembali kekantor untuk meninjau ulang hasil meeting hari ini dan beberapa berkas lainnya yang sudah menanti untuk segera di beri tanda tangan Satria.
Hampir 15menit perjalanan diisi oleh kesunyian. Akhirnya Satria bersuara.
“Max, Tolong kamu carikkan segala sesuatu tentang Sekar Arumi. Saya ingin tau semuanya, dari mana dia berasal, siapa orang tuanya, apakah dia punya saudara yang lain. Semua tentang Sekar Arumi. Saya mau berkasnya sudah ada besok diatas meja saya!” Titah Satria kepada Max.
Satria sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Rasa penasaran tentang siapa Sekar sesungguhnya sudah terasa sampai keubun-ubun. Karena tak mungkin ada 2 orang begitu mirip kecuali mereka kembar. Walau hanya berbeda dari tinggi badannya saja, jika orang lainpun melihat pasti mereka mengira Sekar dan Lily adalah saudara kembar. Mata wanita itu, senyumnya, segala yang ada pada dirinya sangat sangat mirip dengan Lily kekasih hati Satria. Setau Satria Lily merupakan anak tunggal dan tak mungkin memiliki kakak atau adik, apalagi saudara kembar. Atau satria tidak pernah mengetahui hal ini.
“Apa benar Lily memiliki saudara kembar?” Pikirnya.
“Baik Sir, Akan segara saya cari tau tentang nona Sekar.” Jawab Max. Tanpa menunggu lama, Max langsung saja menghubungi detektif yang biasa membantunya dalam mencari suatu hal tentang seseorang.
Sepulang dari pertemuan tadi yang membawanya kepada seseorang yang sangat mirip dengan Lily membuat perhatian Satria terhadap pekerjaan Sedikit teralihkan. Fokusnya sudah tidak ada, kepalanya berisi tentang bayang Sekar. Gadis itu sekarang memenuhi isi kepala Satria. Pekerjaan yang telah memantinya didepan mata tak urung jua segera ia kerjakan. Dia hanya memikirkan Sekar, siapa Sekar, darimana Sekar berasal, bagaimana bisa mirip dengan seseorang, apakah mereka bersaudara dan masih banyak sekali yang menjadi pertanyaannya.
Satria menyandarkan badannya kekursi. Dia kehilangan fokus. Dipijitnya batang hidung diantara mata yang mulai berdenyut. Kepalanya mulai terasa sakit, antara memikirkan pekerjaan dan memikirkan Sekar.
Menghela nafas kasar.
“Apakah itu kamu Ly? Apa benar kamu memiliki saudara kembar?”
“Tapi jika benar perempuan itu Lily, harusnya di mengenaliku bukan?”
“Dia benar-benar sangat mirip denganmu Ly..”
“Hanya sedikit pendek..” Ucap Satria sambil menerawangan kejadian beberapa saat sebelumnya. Senyum tipis muncul dari wajahnya.
Tanpa Satria sadari. Itu adalah senyuman pertama setelah hampir 5tahun ini dia tak pernah menampilkan senyuman barang sedikitpun. Seolah senyumnya ikut menghilang bersamaan dengan perginya sang kekasih hati.
——
“Halo Ayah Ibu...”
“Sekar rinduuu..”. Sekar menatap sendu layar handphone yang menampilkan wajah kedua orang tua yang sangat ia cintai, mereka sedang melakukan panggilan video call.
“Halo anak Ayahh.. Bagaimana kabarmu, Nak?” Jawab Candra sembari tersenyum melihat anaknya disebrang sana.
“Kabar Sekar sehat Ayah. Ayah dan Ibu bagaimana? Sehat-sehatkan..” Sungguh Sekar sangat merindukkan kedua orang tuanya yang berada dibandung.
“Ibuk sama Ayah sehat Kar, Gimana kamu weekend ini pulang kebandung tidak?”. Hesti menimpal pertanyaan sang anak.
“Pulang dong Bu, Sekar sudah rindu dengan ayah dan ibuk. Apalagi masakkan ibuk kangen bangeett..” Mata Sekar sudah berkaca-kaca berusaha untuk tidak menangis didepan kedua orang tuanya.
Candra hanya tertawa kecil melihat tingkah manja sang anak. Meski sudah dewasa dan memilih untuk merantau ke ibu kota, tak menghilangkan sifatnya yang satu ini
“Kamu ini,, sudah tua masih saja manja sekar.”
“Biarin! Namanya Sekar rindu, Yah.” Jawab Sekar cemberut. Seolah-olah dirinya ngambek lantaran diejek oleh sang ayah.
Setelah melepaskan rindu beberapa menit dengan orang tuanya. Panggilan video tersebut akhirnya telah usai setelah Sekar berpamitan untuk segera istirahat. Karena dirinya merasa lelah setelah seharian ini bekerja. Ditambah pagi tadi menghadapi keadaan hactic sangat menguras mental dan tenaga Sekar.
“Kenapa pak Satria mengeliatin gue gitu banget yaa. Kaya gue punya utang aja sama beliau.” Sekar mengerutkan keningnya sembari mengingat beberapa kejadian tadi siang.
“Apa kita pernah ketemu sebelumnya terus gue buat sesuatu hal yang bikin dia rugi, makanya tadi dia ngeliatin gue segitunya..” Tanya Sekar kepada dirinya sendiri. Sembari mengingat apakah dia dan Satria pernah bertemu sebelumnya, tapi Sekar merasa bahwa tadi pagi adalah pertemuan pertama mereka. Tapi kenapa Satria menatapnya seperti itu ya.
“Aahh udah ah. Gak mau dipikirin, ntar dikira geer lagi gue! Tapi emang bener kok pak satria ngeliatin gue mulu. Ah bodo mau tidur ajah!” Seru Sekar yang langsung memejamkan matanya. Toh besok ia harus tetap menghadapi kenyataan. Lebih baik sekarang dia tidur dan segera memasuki dunia mimpi.
——
Beberapa hari setelah pertemuan kemarin. Sekar masih menunggu kabar selanjutnya dari pihak Tirta Holding Corporation, masalahnya belum ada berita apapun dari pihak THC mengenai hasil meeting yang beberapa hari lalu mereka laksanakan. Jujur saja Sekar sedikit cemas apakah meeting mereka berhasil atau malah pihak insvestor tidak tertarik dengan hasil persentasi mereka kemarin.
Sekar melangkah menuju salah satu kubikel tempat anggota timnya.
“Rama.. gimana ada kabar dari THC?” Sekar menanyakan rasa penasarannya kepada Rama selaku asisten pengawasnya.
“Belum nih Mbak, Padahal udah lewat 3 hari setelah meeting. Apa pihak mereka gak tertarik ya sama proposal kita?”
“Husss jangan gitu! Proposal kita udah paling bagus. Mungkin mereka masih sibuk kali, ya secara perusahaan besar. Kan gak kita aja yang mau kerjasama sama mereka..” Maya menimpal ucapan Rama sembari menenangkan Sekar yang terlihat cukup khawatir. Tentu saja ini proyek pertama yang Sekar tangani setelah menjabat sebagai ketua tim divisinya. Ada sedikit kekhawatiran jika proyeknya gagal maka yang patut disalahkan adalah Sekar karena selaku kepala tim ia tak bisa memberikan yang terbaik.
Menghela nafa kasar dengan tangan kirinya dilipat kebawah d**a dan tangan tangannya bermain diseputar dagu. Kebiasaan yang ia lakukan ketika sedang gelisah.
“Ya sudah. Tunggu aja beberapa hari lagi. Semoga ada kabar baik, saya harap meeting kemarin membuahkan hasil yang bagus. Dan pihak THC bersedia teken kontrak kerjasama dengan kita.”
Beberapa anggotanya hanya sekedar menganggukkan kepala. Setelah mengucapkkan kalimat tersebut. Sekar segera kembali ke kubikelnya sendiri.
Sementara ditempat lain. Satria yang baru saja selesai dengan pekerjaannya sedang menatap sebuah berkas yang beberapa hari ini belum sempat ia lihat lantaran pekerjaannya mendadak padat. Sebuah berkas yang beberapa hari lalu ia minta kepada Max, dan saat ini berkas tersebut ada dihadapannya.
Satria memandangnya sejenak. Tertulis di cover berkas tersebut “Biodata Sekar Arumi”. Dan sebuah pas foto berukuran 4x4 menampilkan wajah ayu seorang gadis, yang beberapa hari lalu ia temui dan sampai sekarang masih memenuhi isi kepalanya. Perlahan Satria sentuh permukaan pas foto tersebut.
“Sekar Arumi.” Lirih Satria menyebut nama gadis tersebut.