Hari ini tepat 7 hari setelah meeting pertama dilakukan bersama Tirta Holding Corporation. Tapi sampai hari ini juga pihak Artha Company belum mendapatkan kabar kelanjutan mengenai meeting tersebut. Berbagai pikiran negatif sudah memenuhi kepala Sekar, tentang bagaimana hasil meeting yang seminggu lalu belum juga membuahkan hasil. “Wah diphp-in gue!” Batinnya.
Terdengar seperti langkah yang terburu dari sebelah kanan Sekar, terlihat sosok Rama yang sedang berjalan ke arahnya dengan langkah yang terkesah buru-buru. Sekar yang melihat hanya mengernyitkan alisnya.
“Kenapa sih? Kaya dikejer-kejer setan!” Kata Sekar.
Rama berusaha mengatur ritme nafasnya yang ngos-ngosan. “Cobak tebak, Mbak,, hahh gue bawa kabar apaan!” Jawab Rama sambil menaik turunkan alisnya menggoda Sekar.
Memutar bola matanya malas.
“Buru Rama! Jangan kebiasaan bikin orang penasaran tuh..” Jawab Sekar malas.
“Ck. Mbak gak asyik banget!”
“Yaudah dehhh... jadii kita udah dapet balasan dari pihak THC...”
“Kenapa? Apa? Ditolak yaa proposal kitaa? Duhkan bener firasat gue tuh!! Gagal gue!!” Sekar langsung saja memotong omongan Rama ketika ia mendengar bahwa THC memberi respon terkait meeting mereka tempo hari lalu.
“Makanya orang ngomong jangan asal dipotong dulu, Buk! Dengerin ampek selesai dulu!” Jawab Rama kesal yang omongannya belum selesai tapi sudah dipotong duluan sama Sekar.
“Yaudah apa.. lanjutin.” Jawabnya lemas, benar-benar lemas tak ada daya. Dia sudah tak berekspektasi tinggi lagi. “Tamat sudah.” Batinnya.
“Gue udah baca email dari mereka, intinya pihak THC minta ketemu sama pemimpin meeting kemarin yang artinya mereka pengen ketemu sama loe mbak, Sekar! Tapi diemail tersebut tuh gak dijelasin ditolak atau diterima juga sih..” jelas Rama.
“Haa maksudnya gimana? Mereka mau ketemu gue gitu? Tapi gak bilang proposal kita diterima atau gak gitu?” Tanya Sekar memperjelas yang disampaikan oleh Rama.
“Yup! Bener banget. Dan mereka udah kasih jadwal pertemuannya hari ini jam 10.00 pagi di kantor mereka yaitu THC Tower.. Gimana?”
Disatu sisi Sekar gembira karena ini menandakan bahwa sebenarnya proposalnya miliki kesempatan untuk terjalinnya kerjasama meskipun sedikit. Satu sisi dia juga bingung. Kenapa harus bertemu dengannya? Kalau memang mereka tertarik harusnya mengadangan rapat lagikan?.
“Gue sendiri apa bareng tim?”
“Maksud gue, mereka pengen gue datang kesana tuh sendiri cuman gue doang, apa bareng-bareng tim yang meeting kemaren?” Sekar memastikan kembali.
“Loe doang sih, Mbak. Tertulis ibuk Sekar Arumi untuk segera bertemu dengan bapak Ksatria Wicaksana Adiningrat gitu tuh.” Jawab Rama.
Tanpa berfikir lama Sekar bergegas menyiapkan tasnya untuk segera menuju THC Tower. Mungkin memang ada baiknya dia memenuhi undangan dari pihak THC dan mungkin saja ada kabar baik yang bisa ia dengar disana nanti.
“Sekar, Gimaan gimana? Katanya pihak THC ngasih kabar yaa?” Maya datang dengan memberikan pertanyaan. “Acc nih proposal kitaa?” Lanjutnya sambil menatap ke arah Sekar dan Rama bergantian.
“Belum pasti sih, Mabk. Tuh mbak Sekar lagi siap-siap buat ke THC Tower, pihak mereka mau ketemu sama mbak Sekar ceunah..” Rama menjelaskan.
Maya beralih menatap Sekar yang siap-siap untuk segera pergi.
“Perlu di antar gak? Biar gue atau Rama atau ditemenin siapa gitu..”
“Gausah gak perlu. Gue bisa sendiri pakai taxi online. Kalian disini aja doain guee, byeee.” Jawab Sekar yang langsung melangkahkan kakinya keluar dari gedung kantor.
——
Disinilah sekarang Sekar berada. Disalah satu gedung tertinggi yang berada dijakarta. THC Tower. Setelah hampir menempuh 30menit, akhirnya Sekar telah sampai dilobi kantor Tirta Holding Corporation. Melangkahkan kakinya kebagian resepsionis guna menyampaikan kedatanganya kekantor tersebut.
“Permisi, Mbak. Saya Sekar Arumi dari pihak Artha Company. Saya kesini atas undangan dari bapak Ksatria Wicaksana Adiningrat.” Jelas Sekar kepada resepsion cantik didepannya.
“Baik sebentar ya, Mbak. Kita konfirmasi dulu ke asistennya pak Satria.”
Sekar hanya menganggukan kepala sembari tersenyum. Pandangannya menyapu seluruh interior gedung yang sangat megah ini, dan sangat pantas dinobatkan sebagai gedung tertinggi dan termegah. Tidak sampai 5menit Sekar menunggu pihak resepsionis kembali membuka suara.
“Baik mbak Sekar, sudah ditunggu oleh bapak dilantai paling atas.. mari saya bantu antar sampai kelantai ruangan pak Satria.” Kata sang resepsionis sembari melangkah didepan Sekar.
“Deg degan mampus gue! Rasanya jantung gue turun ke ginjaalll.” Batin Sekar yang sudah mulai melangkahkan kakinya memasuki lift. Melihat angkak yang tertera didalam lift semakin membuat jantung Sekar berdetak lebih kencang.
“All is well..all is well..all is well Sekar..” Mengelus dadanya perlahan agar sedikit menenangkan kegugupannya. Yaa siapa yang tak gugup jika berhadapan langsung dengan seorang CEO, apalagi ini CEO yang akan bekerjasama dengan perusahaan tempatnya bekerja, salah-salah bukannya mendapatkan kesepakatan kerjasama malah zonk!.
“Ya tuhan. Kenapa harus ketemu gue sih, kenapa gak sesama CEO aja gitu ketemuanya. Gue mah apa atuhh..”
Ting.
Tak lama terdengar bunyi yang menandakan bahwa lift sudah sampai membawa mereka ke lantai yang dituju.
“Mari mbak..” Sang resepsionis memberi arah kepada Sekar.
Sekar tak jua membuka suaranya. Ia hanya menganggung dan tersenyum sampai akhirnya sang resepsionis membawanya kepada sosok yang sangat ia kenal yang ia temui seminggu yang lalu orang tersebut tak lain adalah asistennya Satria. Max.
“Pak Max selaku asisten pak Satria akan mengantarkan anda mbak..” Jelas sang resepsionis.
“Baik, Terima kasih.” Akhirnya Sekar membuka suaranya ketika sang resepsionis hendak meninggalkannya dengan Max.
“Selamat pagi nona Sekar, Selamat datang di Tirta Holding Corporation.” Max menyapa Sekar sembari mengulurkan tangannya.
“Selamat pagi pak Max, Terima kasih atas undangannya. Sebelumnya pak maaf, kenapa ya saya sampai dipanggil kesini? Apa ini menyangkut soal proposal tempo hari, Pak?” Sekar menyambut uluran tangan Max dengan mengutarakan pertanyaan mengapa hanya ia yang diseret kesini.
“Kalau soal itu bisa nona Sekar tanyakan langsung oleh pak Satria. Saya hanya perantara antara pak Satria dan nona Sekar. Mari saya antar ke ruangan beliau..” Max menjelaskan.
Sekar hanya bisa mengikuti langkah kaki pria jangkung dihadapanya. Dengan tetap menenangkan dirinya sendiri karena bohong jika ia tak khawatir sedikitpun, apalagi ini menyangkut pekerjaannya.
“Silahkan Nona Sekar, pak Satria sudah menunggu anda.”
Kata Max sambil membuka pintu ruangan Satria.
Disisi lain, Satria sudah menyadari kedatangan Sekar yang saat ini sedang berjalan bersama Max menuju keruangannya. Satria mendapatkan kabar bahwa perempuan tersebut sudah sampai ke kantornya sekitar 10 menit yang lalu melalui pihak resepsionis. Satria memperhatikan Sekar melalui dinding kaca ruanganya. Duduk dengan tegap menanti seseorang yang selama seminggu ini berhasil memenuhi bayang-bayangnya.
Sungguh Sekar rasanya ingin pingsan saja saat itu juga. Ketika dirinya memasuki ruangan Satria dan pintu ruangan tersebut yang langsung begitu saja ditutup dari luar oleh Max membuatnya tak berkutik sedikit pun jua. Karena begitu Sekar masuk dan bertemu tatap dengan lelaki dihadapannya ini, seolah-olah seluruh syaraf tubuhnya membeku.
“Kenapa dia ngeliatin gue begitu amat!! Yaallah tolong.” Batin Sekar yang mendapati Satria menatapnya begitu dalam, membuatnya tak bisa bergerak. Syaraf tubuhnya seketika mati saat itu juga. Apalagi ketika pria itu mengeluarkan suara beratnya yang khas.
“Silahkan duduk Sekar..” Satria bersuara, tatapannya tak lepas dari Sekar.
Sekar mengerjapkan mata beberapa kali. Mencoba untuk tidak memperlihatkan ketakutannya. Meskipun ia benar-benar takut. Sambil melangkah dengan hati-hati mendekati bangku yang dimaksud oleh Satria.
“Ya tuhan tolong! Gue serasa mau dimakan sama ni orang.”