Tok tok tok
Sekar melangkahkan kakinya kearah sumber suara dimana pintu kamar kostnya baru saja ada yang mengetuk.
“Iya sebentar...”
“Loh mang Adi ada apa?” Tanya Sekar kepada mang Adi selaku penjaga kost. Iya kost yang dihuni oleh Sekar ini memiliki penjaga yang bertugas menjaga lingkungan kost selain itu beliau juga biasanya yang membantu penghuni kost untuk memperbaiki apa saja yang rusak misal ada bohlam lampu yang mati atau seperti sekarang ada titipan paket sejenisnya.
“Ini loh mbak, Sekar. Ada yang nitip paket buat, Mbaknya.” Jelas mang Adi.
Sekar mengerutkan alisnya. Ia merasa sedang tidak membeli apapun, kenapa ada paket.
“Buat saya? Dari siapa ya mang?”
“Wah gak tau tuh, Mbak. Laki-laki yang ngantar katanya titip buat mbak Sekar Arumi.” Lanjut mang Adi sembari menyerahkan bingkisan yang berukuran cukup besar. Sekar mengambil bingkisan tersebut sambil mengucapkan terimakasih kepada mang Adi.
“Siapa yang ngirim paket malam-malam begini?” Sekar bertanya kepada dirinya sendiri sambil menggoyang-goyangkan paket tersebut. Namun disaat yang bersamaan ketika Sekar ingin membuka pembungkus paketnya, tiba-tiba nada dering ponselnya mengintrupsi kegiatannya. Tak butuh waktu lama Sekar langsung saja menerima panggilan tersebut.
“Apa paketnya sudah kamu terima?”
Tanya suara dari sebrang sana.
“Paketnya dari bapak ya?” Sekar tau siapa yang menelponnya. Orang inilah yang membuat moodnya rusak seharian ini, dan apalagi ini paket yang datang ternyata dari pria aneh yang tak lain adalah Satria.
“Saya tanya kamu. Jawab dulu pertanyaan saya, baru kamu boleh tanya balik!”
Balas Satria dengan suara tegasnya.
Sekar memutas matanya malas, meskipun ia yakin Satria tak akan bisa melihatnya.
“Iya sudah. Ini maksudnya apa ya pak? Saya belum buka paketnya, takut isinya bom lagi.” Jawab Sekar enteng.
“Buka! Kenakan itu nanti pada saat acara besok malam.”
“Pak.. wajib banget emang saya harus ikut bapak? Bapak lebih baik pergi sama pak Dimas selaku CEO saya pak, saya cuman karyawan biasaa..” Sekar berusaha merayu Satria dengan suara yang terkesan memelas.
“Terserah kamu. Nasib Artha Company ada ditangan kamu.” Gertak Satria.
“P-ak..”
Tut tutt
Satria langsung saja mematikan sambungan telpon secara sepihak. Padahal Sekar belum menyelesaikan kalimatnya.
“Shibal saekkiyaaaa aarrghhh!!!”
Sekar berteriak kencang dengan mukanya ditutup oleh bantal. Sungguh emosinya sudah berada diubun-ubun. Apa-apaan pria ini. Memutuskan secara sepihak terus apa? Mengancamnya soal projek kerjasama lmereka.
“Dia ngancam gue barusan! Apa katanya nasib Artha Company ada ditangan guee.. wahhh gila ni orang! Bodo amat gue gak peduli!” Ucapnya sungut-sungut sambil membuang bingkisan yang belum sempat ia buka tadi kesembarang arah.
“Ada orang kaya begitu ya allah!! Mentang-mentang punya kuasa suka-suka udelnya sendiri!” Keluh Sekar masih sambil meninju-ninju bantal tidurnya berusaha menyalurkan emosinya yang membuncah.
Malam itu berakhir dengan Sekar yang masih menahan kesal atas tingkah laku Satria yang menurutnya semena-mena. Sementara disisi lain Satria tersenyum sangat tipis, ia bisa menebak wanita itu yang tak lain adalah Sekar pasti sedang sangat kesal kepadanya. Tapi ia tak peduli.
“Let’s we see. Pilihan apa yang kamu ambil Sekar.” Gumam Satria sembari mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya diatas meja kerja.
——
Suara intercome mengintrupsi kegiatan Sekar, segara saja ia angkat telpon intercome tersebut karena tertulis disitu bahwa yang menelpon datang dari ruang pak Dandi selaku atasan divisinya.
“Siang pak Dandi, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Sekar langsung.
“Sekar, Keruangan saya sekarang!” Titah Dandi yang langsung mengakhiri percakapan tersebut.
“Firasat gue gak enak nih! Mana langsung dimatiin lagi telponnya..” Batin Sekar.
Ia mendesah. Apalagi kira-kira hari ini, apakah kesialan kemarin belum selesai? Apa akan ada kesialan part 2 hari ini. Tanpa berlama-lama lagi Sekar langsung saja menuju keruangan Dandi. Ia tak mau atasannya menunggu lama apalagi jika diperhatikkan dari suaranya sepertinya Dandi sedang dalam mood yang kurang bagus. Maka ia harus menyiapkan mental kalau-kalau akan kenak imbas dari mood atasannya.
“Pak..” Sekar mengetuk pintu ruangan sambil memasukkan kepalanya sedikit ke arah dalam.
“Silahkan masuk Sekar.” Titah Dandi.
“Gimana proses projek baru kita? Katanya lagi mengajukan proposal ke Tirtha Holding Corporatian kan? Berhasil?”
Ini yang ia takutkan. Pasalnya ini sudah seminggu lebih dan dia belum bisa membuat Tirtha Holding Corporation menandatangani kontrak kerjasama untuk mau menjadi investor mereka. Dengan susah payah menelan salivanya Sekar membuka suara tergagap-gagap.
“A-anu pak itu.. pihak THC belum membari keputusan finalnya.” Sekar menjawab langsung menundukkan kepalanya.
“Kok bisa! Ini sudah lebih dari seminggu masak keputusan finalnya belum ada. Gimana sih!”
“Kamu datangilah THC Tower minta meeting ulang guna meyakinkan mereka! Jangan sampai lepas Sekar, ini kesempatan bagus! Mereka itu perusahaan besar loh!!” Lanjut Dandi.
Sekar hanya bisa menundukkan kepala sambil memainkan tangannya. Tak mungkin ia cerita soal dirinya yang diajak keacara bersama Satria. Bisa-bisa atasannya ini menyuruhnya untuk menerima tawaran Satria. Dan Sekar tak mau itu, seolah-olah dia sedang menjual dirinya agar memperlancar kerjasama kepada pihak THC.
“Saya gak mau tau. Kesepatakan itu harus terjadi! Pak Dimas CEO kita itu udah nanyain saya terus soal ini. Persoalan yang satu belum kelar, sekarang saya di rong-rong soal projek ini.”
“Sekarang kamu keluar. Pusingg kepala saya!” Lanjut Dandi.
Setelah mendudukan bokongnya dikursi kerja Sekar mendesah merenungi nasibnya. Kepalanya ia sandarkan diatas meja.
“Dikira dia doang yang pusing. Gue juga!” Gerutu Sekar sambil mengantukkan kepalanya diatas meja.
Seakan kesialannya tiada akhir. Dan berlanjut kepart 3. Bunyi pesan masuk dari hpnya semakin membuat Sekar ingin menghilang seketika dari bumi, melarikkan diri kebulan kemana pun sejauh mungkin agar ia tak bertemu dengan yang orang baru saja mengirim pesan kepadanya.
Shibal Saekkiya
“Asisten saya akan menjemputmu jam 7 malam.”
Isi pesan tersebut mampu membuatnya kesal tak berujung. Ia kesal bukan main, menghentak-hentakkan kakinya untuk menyalurkan kekesalannya. Sekar merasa semenjak pertemuanyaa dengan Satria hari-harinya dipenuhi dengan kesialan tiada akhir.
“Tolong siapapun lempar gue kebulan.” Ngenes Batin Sekar.