8. Jadi Malu hihihi

1338 Kata
Selama Max bekerja sebagai asisten pribadi Satria, sangat jarang sekali ditemukan tuannya ini tersenyum untuk sesuatu hal yang remeh temeh. Tapi barusan Max melihat senyum kecil terbit dibibir tuannya yang terkenal acuh, dingin apalagi semenjak kepergian Lily sang kekasih. Satria hanya tersenyum sesekali itupun ketika melihat tingkah lucu Lily dan itu sudah lewat 5tahun lalu. Dan selama itu pula Max tak pernah lagi melihat wajah cerah dan senyum diwajah Satria, tapi sekarang jika diperhatikan senyum itu terbit kembali setelah pertemuan pertamanya dengan seorang gadis yang tak lain adalah Sekar. Satria tersenyum tipis setelah mengirim pesan singkat kepada Sekar. Menunggu beberapa menit namun tak kunjung mendapat balasan dari pesan tersebut. “Sebenarnya apa yang anda rencanakan terhadap nona Sekar, Sir?” Tanya Max mendapati Satria tersenyum dan menyimpan ponselnya kedalam saku jas. Mendapati pertanya tersebut. Satria merenung. Sebenarnya dia pun tak tau apa yang akan dilakukannya terhadap Sekar. Hanya saja ia ingin selalu melihat gadis itu, Satria hanya mengikuti kata hatinya. Atau memang sedang melepas rindu kepada sosok yang selama ini telah pergi dan sekarang dia bisa melihatnya lagi, meskipun pada kenyataanya mereka adalah dua orang yang berbeda. “Max, Nanti jemput Sekar dikostannya sebelum jam 7malam.” Tidak menjawab pertanyaan Max. Satria memilih memberikan perintah kepada asistannya. “Baik Sir, Apa anda ikut serta dalam menjemput nona Sekar?” Tanya Max memastikan. “Tidak perlu. Saya bawa mobil sendiri. Nanti ketemu ditempat acara saja.” Lanjut Satria. “Baik, Sir.” Max menundukkan kepalanya tanda hormat dan segera meninggalkan Satria seorang diri. Satria menautkan kedua tangannya diatas meja. Menatap lurus kedepan. “Dia sedikit keras kepala. Tidak sepertimu Ly.” Gumam Satria seorang diri. Satria teringat sesuatu segera ia raih kembali telpon genggamnya dan menghubungin asisten pribadinya. “Max, Siapkan mobil. Kita akan pergi kerumah Lily.” Satria mematikan sambungan telepon tersebut. Dia baru menyadari bahwa sudah sangat lama tidak berkunjung ke rumah pujaan hatinya. “Baik, Sir!” Jawab Max disebrang sana dan langsung menghubungi driver yang akan mengantar mereka ketempat yang ingin Satria tuju. Setelah menghabiskan waktu 55menit diperjalanan akhirnya Satria sampai disebuah tempat dipinggiran kota Jakarta. Menggunakan kacamata hitamnya dan berjongkok memandangi pusara batu nisan yang bertuliskan nama Almas Valencia Lily. Meletakkan bouquet bunga Lily menjadi bunga favorita sang kekasih diatas pusaranya. Lily meninggal dunia tempatnya 5tahun lalu setelah beberapa bulan pertunangan mereka. Lily meninggal dunia akibat penyakit leukimia yang dideritanya beberapa tahun sebelum pertunangan mereka. Disaat Satria dan Lily sedang mempersiapkan acara pernikahan yang tidak ingin mereka tunda lebih lama lagi, Lily mengalami kondisi yang cukup drop dan berakibatkan fatal. Salah satu penyesalan terbesar Satria adalah tidak sesegara mungkin menikahi sang tunangan, nasi sudah jadi bubur Lily pun sudah beristirahat dengan tenang. Namun Satria masih belum bisa melupakan gadis yang sudah tertanam dalam dihatinya itu. “Kau bahagia? Setelah meninggalkan diriku seorang diri disini?” “Apa kau juga melihatnya dari sana? Gadis itu,” “Dia sedikit mengobatin rasa rinduku terhadapmu.” Satria berbicara sendiri pada pusara Lily, berharap sang kekasih bisa mendengar dan menjawabnya dari sana. Sungguh dia sangat merindukan suara cerewet yang selalu ia dengar dari Lily. Rindu yang teramat sakit adalah ketika kita merindukan seseorang tapi tak bisa lagi menyentuh, melihat, bahkan mendengar suaranya. “Aku sangat merindukanmu,” “Apa kau tak berniat mampir kemimpiku lagi?” “Sudah menemukan pangeran yang lebih tampan dariku disana hmm?” Lagi Satria bertanya pada gundukan pusara didepannya sambil membelai pelan batu nisan itu. Satria menghabiskan waktunya yang tersisa untuk melepas rindu dengan sang kekasih. Kendati hanya menyambangi pusaranya saja sudah cukup mengobati sedikit rasa rindu dihati. Setelah puas mengunjugi pusara Lily. Satria memilih untuk kembali keapartementnya karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 15.25 dan sebentar lagi jam pulang kantor akan tiba dan sudah tidak ada pekerjaan lagi yang bisa ia selesaikan dikantor. “Apa ada tempat lain yang ingin dituju, Sir?”. Tanya Max setelah beberapa saat mereka menjauh dari areal pemakaman. “Tidak kita langsung keapartment.” Jawab Satria tanpa mengalihkan pandangannya melihat kaca mobil sebelah kanan dengan tangan yang menopang dagu. Beraktifitas penuh seharian ini membuat tubuh Satria merasakan teramat lelah. Pria satu ini akhirnya memilih untuk berendam air hangat di jacuzzi miliknya dengan segelas wine Screaming Eagle Cabernet produksi tahun 1992 ditangan. Memejamkan mata ketika menyesap wine tersebut. “Hhmm.” Satria berdeham memperhatikkan gelas wine yang ia guncang perlahan. Merasa tak rugi setelah mengeluarkan uang sebesar 6,3 Miliar hanya untuk satu botol wine. “Perfect” Batinnya. Satria memikirkan Sekar. Bagaimana gadis itu sekarang? Apakah dia akan menolak tawarannya atau bagaimana? “Can’t wait !” Gumam Satria menaikan sebelah alisnya serta bibir yang tersenyum. Bukan senyuman manis melainkan sebuah seringaian yang ia tunjukkan. ** Sekar menatap pantulan dirinya. Ia sedang menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia pilih. Setelah 30menit sampai dikostanya Sekar segera membuka bingkisan yang beberapa hari lalu dikirim oleh pria aneh itu. Ini keputusan yang berat, tidak mengikuti perintah pria itu pekerjaannya terancam. Ikut pria itu baru memikirkannya saja sudah membuatnya kesal bukan main. “Aaiisshh!! Kenapa harus gue coba!” Sentak Sekar mengacak-cacak rambutnya sendiri. “Tenang Sekar cuman untuk malam ini aja. Terus gue paksa dia buat Acc proposal gue. Kalau gak, liat aja gue boom tu THC Tower!!” Tunjuk Sekar kepada dirinya yang berada dicermin. Sekar segera mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dia harus tampak sempurna demi menarik perhatiaan. “Waaiit? Perhatian siapa? Pria aneh itu? No way !” Batin Sekar menyanggah pikirannya sendiri sambil menyilangkan tangan didepan d**a. Sekar melakukan semuanya sendiri mulai make up sampai hair do ia lakukan seorang diri. Berterimakasih pada dirinya karena memiliki bakat terpendam dan hasilnya sangat memuaskan. “Cantik juga gue. Hihi. Sekarang pakai bajunya nih!”. Batin Sekar ketika melihat dirinya sendiri didepan cermin. Sekar memakai gaun pemberian Satria. Gaun ini cantik, bahkan sangat cantik ketika dikenakan oleh Sekar dan membentuk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Tapi ada satu hal yang membuat sekar kurang percaya diri. “Apa ini gak terlalu terbuka ya?” Gumam Sekar meraba bahu dan paha kiri yang terekspose. Gaun bermodel sabrina dan terdapat bagian yang terbelah disebelah kiri pahanya ini membuat sedikit gamang memakainya. Saat masih kalut dengan pikirannya. Ponsel Sekar berbunyi nyaring menandakan adanya panggilan masuk. Mengernyitkan alisnya karena yang menghubunginnya menggunakan nomor baru yang tak ia kenali. Sekar mengangkat panggilan tersebut dan segera membawanya kesamping telinga. “Selamat malam, nona Sekar. Saya Max, Saya ditugaskan pak Satria untuk menjemput anda. Apakah anda sudah siap nona?” Tanya Max langsung membuka suara ketika Sekar menjawab panggilan telepon darinya. “Oh, pak Max !” Jawab Sekar sembari melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 7 kurang 20menit. “Sebentar lagi. Mungkin 5menit lagi begitu.” Lanjut Sekar. “Baik Nona, saya sudah didepan pagar kostan anda dan saya akan menunggu.” Kata Max memberi tau keberadaanya pada Sekar. “Baik, Pak. Terima kasih.” Ucap Sekar sebelum panggilan diputuskan oleh Max. Sekar kembali memperhatikkan penampilannya. Semua sudah sempurna hanya perlu beberapa semprot parfum favortinya maka semue telah selesai. Sekar melangkah keluar menuju pagar kost dan siap menghampiri Max yang telah menunggunya. Gadis tersebut agak kesusahan berjalan akibat gaunnya yang sedikit kepanjangan padahal dia sudah mengenakan heels setinggi 12cm. “Malam, Pak Max. Maaf menunggu lama.” Sapa Sekar tersenyum kepada pria yang saat ini membelakangi dirinya. Max yang menyadari ada yang memanggil dirinya segera berbalik badan dan saat menyadiri seseorang yang memanggilnya ini adalah Sekar. Max sedikit terpana oleh penampilan Sekar malam ini. Gadis ini memang sudah cantik tapi menurutnya semakin cantik dengan penampilannya sekarang. Max segera menggelengkan kepalanya, bisa bahaya jika bosnya tau dirinya sempat terpana oleh perempuan yang sedang berada dalam pengawasan sang tuan. Sekar yang mendapati Max menatapnya tanpa berkedip menundukkan pandangan melihat dirinya sendiri. “Aneh ya saya pakai beginian pak Max?” Sekar meringis. “T-tidak, Nona. Nona sangat cantik ! Mari nona, pak Satria sudah menunggu.” Jawab Max segera membuka pintu mobil Alphard milik Satria. Sekar yang mendapati pujian dari Max membuat dirinya merona. “Heemm jadi maluu hihi.” Batin Sekar sambil menyentuh pipinya menutupi rasa malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN