Happy Reading !!
Satria mengejar Sekar dan mencekal lengan wanita itu.
“Kau mau kemana?” Tanya Satria mengernyitkan alisnya.
Menghela nafas kasar. “Kita pulang saja pak!” Jawab Sekar tapi tidak mau menatap kearah Satria.
“Saya sudah membawakan makanan dan minuman untukmu. Tadi kamu bilang haus dan lapar!” Suara Satria berubah tegas, menatap tajam Sekar.
Siapa yang masih berselera untuk makan setelah kejadian tadi. Hilang sudah rasa lapar Sekar bersamaan dengan emosinya yang membuncah.
“Sudah tidak!” Sekar menjawab tak kalah tegas. Suaranya terkesan ketus dan masih tidak mau menatap kearah Satria.
Satria yang melihat tingkah laku Sekar menyulut emosinya seketika mencengkram lengan Sekar kuat. Di saat wanita lain diluar sana berusaha menarik perhatiannya, selalu menatap nafsu kepadanya dan selalu bersedia menerima perintahnya. Tapi lihatlah wanita didepannya ini. Dengan beraninya Sekar mengacuhkannya, menatapnya tak suka, menolak pemberiannya. Susah payah Satria mengambil makanan dan minuman yang ia bawa, tapi wanita ini menolak beralasan tidak bernafsu! Berani sekali dia.
“Ssttt aww! Sakit pak Satria!” Sekar meringis saat merasakan cengkraman tangan Satria menguat ketika menggenggam lengannya. Matanya berkaca-kaca. Apa-apa pria ini! Bentar-bentar manis bentar-bentar bisa seperti singa yang kelaparan bersikap semaunya sendiri.
Satria yang tersadar melepaskan cekalannya. Memijit pangkal hidungnya. Semenjak bertemu dengan Sekar emosi Satria seolah-olah selalu dipermainkan. Padahal selama ini Satria cenderung orang yang sangat bisa mengontrol emosinya, apalagi dihadapan orang banyak.
Tanpa banyak kata Satria langsung meraih pinggang Sekar dan membawanya keluar dari ballroom. Sekar yang lagi mendapatkan perlakuan semena-mena oleh Satria berusaha memberontak melepaskan diri dari jeratan Satria.
“Nurut Sekar! Jadi gadis penurut!” Suara bariton Satria terdengar menyeramkan ditelinga Sekar apalagi ketika nafas hangat pria itu berhembus didekat telinganya. Sekar bergidik ngeri! Dan mau tak mau mengikuti langkah Satria. Mereka berdua telah sampai disamping mobil Audi R8 Spyder milik Satria.
“Gila! Ini orang sekaya apa sih. Gue kerja lembur bagai kuda sampai nenek peot juga nggak bakal kebeli ni mobil.” Batin Sekar ketika mengetahui mobil mahal didepannya ini adalah salah satu mobil koleksi Satria. Satria membukakan pintu penumpang untuk Sekar, namun yang dimaksud tak kunjung memasuki mobil.
“Masuk Sekar!” Seru Satria tegas menatap nyalang kepada Sekar. Wanita ini benar-benar keras kepala! Pikirnya. Sekar hanya membalas tatapan Satria tak kalah tajam.
“Saya bilang masuk, masuk!” Bentak Satria dan mendorong tubuh Sekar masuk kedalam mobil.
Sekar mendengus kesal. Ia masih enggan untuk bersuara. Sekar berusaha tak menyanggah segala ucapan Satria. Satria mengalihkan pandangannya kearah Sekar ketika ingin menyalakan mesin mobil. Dan mendapati wanita itu belum memakai seatbeltnya. Ingatkan Satria untuk menambah tingkat kesabarannya menghadapi wanita keras kepala satu ini.
Satria meraih seatbelt disisi bangku Sekar menautkan pengaitnya dan mengencangkan pengait tersebut diatas perut Sekar.
Seeett!!
Sekar terkejut dengan perbuatan Satria yang sangat tiba-tiba mendadak tegang menahan nafasnya lantaran posisi mereka saat ini hanya berjarak 3ruas jari saja bahkan Sekar bisa merasakan hembusan nafas hangat Satria mengenai hidungnya. Sekar menelan salivanya susah payah.
“Aku tidak akan tanggung jawab jika kau terpental Keluar dari mobil!” Seru Satria kembali ke posisinya semula.
Sekar menghembuskan nafasnya secara perlahan. Berdekatan dengan Satria selalu mampu membuatnya kehabisan oksigen. Sekar selalu dibuat menegang dengan segala tingkah impulsif Satria.
“Benar-benar sinting!” Batin Sekar.
Setelah melalui perdebatan yang sengit. Akhirnya Satria mengalah dan mengikut kemauan Sekar untuk diantarkan pulang. Sebenarnya Satria berniat mengajak wanita itu untuk makan malam disalah satu restaurant mewah di ibu kota. Namun Sekar menolak mentah-mentah ajak Satria. Sekar lebih memilih makan indomie rebus dikostannya dengan tenang daripada makan di restaurant mahal tapi tidak bisa menikmatinnya. Karena Sekar sudah merasa sumpek berada didekat Satria, dan ingin segera pulang beristirahat.
Mobil mahal Satria baru saja berhenti didepan pagar kostan putri yang tak lain adalah kostannya Sekar sendiri. Sekar segara membuka seatbeltnya dan menatap ke arah Satria sebentar.
“Saya sudah menuruti keinginan bapak, saya harap bapak juga bisa segera menandatangin kontrak kerjasama kita. Terimakasih sudah bersedia mengantar, saya permisi.” Seru Sekar tenang dan langsung meninggalkan Satria tanpa sempat mendengarkan jawaban pria tersebut.
Satria hanya memperhatikan punggung Sekar yang perlahan menjauh. Mengambil ponselnya yang ada disaku dan menghubungi seseorang.
“Max, Saya mau kamu siapkan seseorang untuk memantau mengawasi segala kegiatan yang Sekar lakukan!” Tegas Satria langsung memutuskan panggilan sepihak tanpa mau menunggu jawaban dari asisten pribadinya itu.
Max yang belum sempat menjawab perintah majikannya hanya bisa menghela nafas kasar. Memijit pangkal hidungnya.
“Singa kalau sudah bangun dari tidurnya suka bikin pusing.” Ujar Max pada dirinya sendiri.
**
Ini sudah lewat dua hari dari pertemuannya dengan Satria diacara perluncuran produk baru salah satu partner bisnis pria itu. Tapi sampai saat ini Sekar juga belum menerima kabar baik dari pria aneh yang sialnya sangat ia butuhkan. Pria itu juga sudah tidak ada menghubunginya lagi. Ada sedikit rasa takut mengingat pada saat itu dia telah membuat Satria kesal, tapi juga itu ada alasannya. Dan sungguh sangat tidak bijaksana jika hal itu jadi alasan Satria menunda atau menolak proposal mereka.
“Apa gue telfon aja ya?” Tanya Sekar pada dirinya sendiri. Sekarang dia berada dimeja kerjanya sedang menimbang-nimbang apakah ia akan menghubungi pria itu lebih dulu atau tidak. Tapi dia sudah ditagih terus-terusan oleh atasannya.
Sekar akhirnya memilih untuk mengubungi Satria, namun saat ingin mencari nama kontak pria tersebut kegiatannya urung ia lanjutkan lantaran terpotong karena Rama memanggil dirinya.
“Mbak Sekar!” Panggil Rama.
“Kenapa?” Sekar mengerutkkan alisnya.
“Plis tuhan semoga ini kabar baik!” Batin Sekar.
“Kita dapat email dari pihak THC. Mereka katanya bakal melanjutkan kerjasama ini tapi dengan satu syarat. Dan kita diundang kesana buat ngobrolin syarat yang mereka ajukan dan pak Dimas harus ikut serta dalam pertemuan tersebut.” Jelas Rama panjang kali lebar.
“Aaaa” Sekar setengah memeki senang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Wait syarat?”
“Tunggu tadi loe bilang ada syaratnya? Mereka mau kerjasama sama kita asal kita memenuhi syarat dari mereka gitu dan pak Dimas CEO kita wajib ikut?” Tanya Sekar.
“Yes! Dan ternyata pak Dimas udah dapat kabar ini duluan. Tadi sekertarisnya ngabarin gue.” Jawab Rama menjentikkan jarinya.
“Oke nggak apa. Kita terima aja dulu. Loe balas email mereka bilang kita setuju dan akan segera memenuhi undangan mereka. Loe kabarin Maya juga..” Sekar menjeda ucapannya melihat jam yang melingkar ditangan kanannya.
“Gue mau kita ke THC Tower jam 10 nanti! Jangan lupa konfirmasi ke sekertaris pak Dimas.” Lanjut Sekar.
Rama langsung melaksanakan perintah Sekar. Sekar bersyukur Rama memberi kabar kepadanya lebih dulu sebelum wanita itu sempat menghubungi Satria. Sekar tak ingin Satria besar kepala, meskipun disini sebenarnya Sekar yang sangat membutuhkan pria itu.
**
“Sir” Max menyambangi meja kebesaran Satria. Sedang pria itu sibuk memperhatikan beberapa printan foto seorang wanita yang sudah 2hari tak ia lihat. Satria sedikit menolehkan pandangannya pada Max yang sedang berdiri disebrang mejanya.
“Jadi tak ada kegiatan spesifik yang wanita itu lakukan selain kekantor dan berada dikostannya?” Tanya Satria. Ya foto yang sedang dipandangi oleh Satria adalah foto Sekar yang ia dapat dari orang suruhannya untuk memantau segela aktifitas keseharian wanita itu.
“Iya Sir, Dari laporan orang kepercayaan kita nona Sekar hanya melakukan aktifitas seperti biasanya.”
“Terkait hal itu juga. Pihak Artha Company juga sudah membalas email dari kita dan mereka mengatakan ingin mengadakan pertemuan itu hari ini Sir. Mereka akan tiba pukul 10 nanti.” Lanjut Max menjelaskan maksud kedatangannya menemui Satria.
Satria mengangkat kepalanya menatap Max penuh. “Ternyata dia sudah tidak sabar ya!” Batin Satria.
“Baiklah. Kalau begitu segera siapkan ruang meetingnya.” Satria menganggukkan kepala sembari memberi perintah kepada asistennya itu.
“Siap Sir.” Max menundukkan kepala segera meninggalkan Satria.
Sekar, Rama, Maya, Dimas beserta sekertarisnya telah sampai di THC Tower saat ini mereka bertiga sedang menuju keruang meeting diantar oleh seorang resepsionis utusan Satria.
“Gila ya pantes aja keluarganya dinobatkan jadi salah satu orang terkaya di indonesia.” Bisik Maya kagum dengan kemewahan THC Tower.
“Gedung ini juga punya mereka kan?” Lanjut Maya yang hanya dijawab anggukkan oleh Sekar. Sekar sedang memikirkan apa sebenarnya sedang direncanakan oleh pria itu dengan meminta syarat kepada mereka dan mengikut sertakan CEOnya langsung. Biasanya investor hanya meminta namanya tercantum sebagai donatur dari projek yang biasanya ia kerjakan dan memang biasanya seperti itu. Jarang ada pihak investor yang meminta syarat khusus seperti ini.
Satria memasuki ruang meeting diikut dengan Max dibelakangnya. Pria tersebut menatap Sekar sekilas sebelum akhirnya bertemu tatap dengan CEO Artha Company.
“Pak Satria, Terima kasih atas undangannya.” Dimas menjabat tangan Satria.
“Selamat datang di Tirta Holding Corporation, pak Dimas. Senang bisa bertemu dengan anda.” Jawab Satria tapi tatapannya menatap ke wanita yang sudah dua hari ini dia tak melihat wajah manis itu.
“Senang bertemu denganmu lagi.” Batin Satria tak melepaskan pandangannya.