11. Bukan Siapa-siapa.

1403 Kata
Satria memutuskan pandangannya beralih kepada Dimas. “Silahkan duduk pak Dimas”. Lanjut Satria. “Jadi bagaimana pak Satria? Apa kedatangan kami kesini akan mendengarkan kabar baik dari bapak?”. Tanya Dimas tersenyum. Jujur saat ini jantung Sekar sedang bekerja dengan hebat. Sekar tak berani memandang ke arah Satria baranh sedikitpun. Ia takut kalau ternyata pria itu membahas kejadian beberapa hari lalu dan membatalkan kerjasama yang akan terjalin. Alhasil Sekar hanya menunduk dan memainkan jarinya diatas pahanya. Satria memperhatikan Sekar. Pris tersebut tersenyum tipis. “Saya suka dengan projek kalian. Satu sisi juga menguntungkan untuk kedua pihak. Tapi saya ingin mengajukan satu syarat”. Ucap Satria sambil melirik kearah Sekar. Sekar yang mendengarkan penuturan Satria menaikkan kepalanya menatap Satria. Mata mereka bertemu dan bersitatap sebentar sebelum akhirnya Satria yang memutuskan tatapnya duluan. Apa yang akan diminta pria ini? Pikirnya. “Selagi saya dan tim saya bisa menyanggupi syarat yang bapak minta, kita tidak masalah dengan hal itu pak Satria”. Jawab Dimas meyakinkan calon investor yang berada dihadapannya ini. “Baik”. Satria menganggukkan kepalanya. “Saya ingin tim Artha Company mengerjakan projek tersebut di kantor saya. Jadi saya bisa memantau bagaimana kinerja mereka. Saya tidak mau uang saya terbuang sia-sia begitu saja, karena tidak bisa memastikan mereka bekerja dengan baik”. Seru Satria. “Wahh. Bener-bener ngeremehin banget yaa ! Mentang-mentang punya duit jadi mandang orang lain nggak lebih baik dari dia gitu !!”. Batin Sekar emosi mendengar penuturan Satria yang seolah-olah merendahkan kemampuan timnya dan Artha Company. Matanya sudah menatap Satria nyalang ia sudah lupa untuk mengontrol diri ketika berhadapan dengan Satria. “Oh. Haha..” Dimas tertawa kecil menanggapi Satria. “Pak Satria tak perlu khawatir. Tim saya sudah sangat mahir dibidangnya. Dan untuk masalah itu juga tidak masalah, benarkan Sekar?”. Tanya Dimas yang beralih menatap Sekar. Sekar yang ditanya tersentak kaget. Ingin rasanya menjawab tidak. Tapi apalah daya dia hanyalah karyawan biasa sedang yang bertanya adalah CEOnya sendiri. Menatap Dimas mengerjabkan matanya beberapa kali dan berganti menatap pada Satria, Sekar menganggukan kepalanya. “I-iyaa pak. Tidak masalah”. Jawab Sekar. Satria tersenyum tipis melihat respon Sekar. Pris tersebut sudah berhasil membawa Sekar kedalam genggamannya. “Baiklah. Asisten saya sudah menyiapkan dokumen-dokumennya yang perlu ditanda tanganin. Untuk ruang kerjanya juga sudah kita siapkan. Tim anda sudah bisa pindah besok kesini dan segera melaksanakan pekerjaannya”. Jelas Satria panjang lebar. Satria dan Dimas sedang menandatangin surat kerjasama dan beberapa surat-surat penunjang lainnya. Sekar, Rama dan Maya hanya sebagai penonton mereka hanyalah pekerja untuk para CEO yang sedang membubuhi tanda tangan berharganya. Iya satu tanda tangan itu mungkin bisa bernilai ratusan atau bahkan miliaran rupiah. “Terimakasih atas kepercayaannya kepada kami pak Satria. Saya harap kerjasama ini bisa membantu untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas kedua pihak”. Seru Dimas menjabat tangan Satria. “Sama-sama pak Dimas. Saya harap saya tidak memberikkan kesempatan kepada pihak yang salah”. Ujar Satria menerima jabatan tangan Dimas. “Tentu tidak pak. Saya jamin itu”. Jawab Dimas. Satria juga ikut menyalami para tim yang dibawa Oleh Dimas yang tak lain adalah Sekar sendiri selaku ketua tim tersebut. “Senang bekerjasama dengan anda ibuk Sekar Arumi”. Ucap Satria penuh penekanan menatap dalam iris coklat didepannya. Sekar tersentak kaget. “Senang bekerjasama dengan anda pak”. Jawab Sekar sekedar menghormati Satria sebagai investornya sekarang. “Asyik cita-cita gue bisa kerja dikantor ini kesampaian walaupun buat sementara hihi”. Bisik Maya yang didengar oleh Sekar dan Dimas yang berada disamping mereka. “Asyik apanya!”. Gerutu Sekar tak suka. Kalau dia berada disini otomatis intensitasnya bertemu dengan Satria akan semakin sering dan Sekar sangat malas harus berhadapan dengan pria aneh bin ajaib yang suka semaunya sendiri itu. “Loh kamu harusnya senang Sekar. Bisa masuk gedung ini tuh idaman orang-orang loh”. Seru Dimas menanggapi Sekar. “Ck! Tetap kemana-kemana Artha Company yang paling best pak”. Jawab Sekar malas. Mendengar penuturan Sekar membuat Dimas tertawa kecil dan mengucap pelan kepala wanita itu. Tanpa mereka sadari dari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan semua kedekatan itu dari belakang termasuk dengan sikap Dimas yang terkesan menunjukkan sikap yang manis dengan mengusap kepala karyawan wanitanya. Satria mengepalkan tangannya kuat. Matanya menatap tajam. Jika matanya itu bisa mengeluarkan cahaya laser mungkin mereka yang ada didepan sana sudah tidak berbentuk lagi akibat tembakan laser yang datang dari mata Satria. “Apakah wajar sikap seorang pemimpi seperti itu kepada bawahannya?”. Tanya Satria menahan gejola amarahnya. “Maaf Sir?”. Tanya Max yang tak paham dengan maksud pertanyaan Satria. Bukan tanpa alasan timbulnya ketidak sukaan Satria. Hal itu disebabkan karena jika diperhatikan umurnya dan umur Dimas tidaklah terpaut jauh, pria itu juga termasuk salah satu must wanted man yang sering wira wiri dimajalah-majalah tentang kesuksesannya diusia muda. Sukses dan juga tampan wanita mana yang tak menginginkan pria seperti itu. Jadi tidak menutup kemungkinan Dimas Sekar untuk saling memiliki ketertarikan. Apalagi paras cantik Sekar pantas-pantas saja untuk bersanding dengan pria seperti Dimas. Dan Satria tidak suka itu! “Suruh orang kepercayaan kita untuk tetap mengawasi Sekar!”. Perintah Satria dan langsung menuju keruangannya sendiri. “Haahh kenapa lagi tu orang”. Seru Max menggelengkan kepalanya setelah Satria menjauh menuju keruang kerja pria itu. ** Satria malam ini memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya. Mereka sedang menikmati makannya masing-masing. “Bagaimana pekerjaanmu?”. Tanya Tirto kepada Satria. “Hmm. All is good”. Jawab Satria enteng tanpa memutuskan perhatian dari piring makanannya yang ada didepan pria itu. “Ehem. Mas, kata teman mami kemarin waktu ikut hadir dipeluncuran produk terbarunya pak Andrew. Beliau ngeliat kamu bawak seorang perempuan, emang bener?”. Tanya Maryam hati-hati kepada sang anak. Maryam takut jika Satria tak ingin membahasnya tapi Maryam juga tidak bisa menutupi rasa penasarannya. Lantaran selama ini dia perpikir bahwa sang anak belum bisa melupakan mendiang Lily, tapi setelah mendengar kabar ini Maryam tentu saja tak ingin melewatkannya. “Wah siapa? Pacar barunya mas Satria ya? Kok nggak dikenalin ke kita sih!”. Seru Dinda yang semangat ketika mendengar berita bahwa kakaknya sudah memiliki kekasih yang baru. Sebenarnya juga Dinda berharap kakanya itu bisa bertemu dengan orang baru dan melupakan masa lalunya. Toh hidup tetap berjalan, mau sampai kapan Satria berada dimasa lalu terus. Pikir Dinda. Satria menghentikkan kegiatan makanya dan membanting sendoknya kasar diatas meja menghaskan suara hentakkan nyaring yang membuat seluruh anggota keluarga yang berada disitu tersentak. Pandangannya masih menatap piring yang ada didepannya. “Bukan siapa-siapa ! Dan kalian nggak perlu bertemu dengannya”. Tegas Satria menatap Maryan dan Dinda bergantian. Tirto yang melihat reaksi berlebihsan sang anak membuka suaranya. “Kalau siapa-siapa juga nggak apa. Kamu harus tetap menjalankan hidupmu. Jangan berlarut terlalu lama dengan masa lalu!”. Seru Tirto. “Mas!”. Bisik Maryam mengingatkan suaminya. Dia takut jika hal ini memancing emosi sang anak. Karena hal ini selalu menjadi hal yang sangat sensitif untuk dibahasa oleh Satria. Satria menatap tajam kearah Tirto. Tangannya mengepal kuat. Satria paling tidak suka jika sudah membahas masa lalu yang berkaitan dengan Lily. “Nggak ada satu orang pun yang bisa menggantikan posisi Lily dihati saya. Dan tidak ada seorang pun yang bisa memaksa saya untuk melakukan hal itu !”. Suara berat Satria mengisi kesunyian percakapan tersebut. Satria mendorong kursinya kasar dan meninggalkan ruang makan begitu saja. Ketiga orang yang masih diruang makan tidak bisa berkata-kata. Mereka hanya saling memandang satu sama lain. Hal ini sering terjadi ketika menyinggunh soal masa lalu Satria. Dan ini menjadi salah satu alasan Satria memilih tinggal di apartmentnya. Satria memilih pergi dari rumah mengendarai mobilnya laju. Ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan emosinya. Satria tidak suka ada orang lain yang mengatur soal perasaannya. Tidak ada yang mengerti bagaimana terpuruknya dia ketika harus menerima kenyataan bahwa orang yang sangat Satria cintai pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Tanpa Satria sadiri mobil yang dikendarai olehnya berhenti tepat didepan pagar tinggi sebuah bangunan yang tak asing lagi baginya. Entah mengapa Satria mengarahan setir mobilnya untuk mendatangi tempat ini. Menghempaskan badannya kekursi dan memejamkan mata sesaat. Wanita itu muncul dalam bayang-bayangnya. Satria seolah melihat senyumnya, matanya yang menatap Satria tajam dan suaranya yang masih terasa jelas dipendengaran Satria. Menghelas nafasnya kasar, kembali membuka matanya dan memperhatikan bangunan yang berada disebalik pagar tinggi itu. “Sekar Arumi”. Gumam Satria pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN