Sudah seminggu ini Sekar dan timnya pindah kantor dan menempati salah satu lantai gedung THC Tower sebagai tempat mereka mengerjakan projek yang berada dibawah naungan Tirta Holding Corporation. Dan selama itu juga Sekar tidak ada lagi berhubungan dengan Satria. Pria itu juga sudah tidak ada mengubunginnya lagi.
“Baguslah. Jadi gue bisa bekerja dengan tenang”. Batin Sekar.
Sebenarnya bukan sengaja Satria menghindari Sekar. Justru pria itu sangat ingin menemui dan melihat wajahnya. Itulah alasan kenapa Satria meminta syarat kepada pihak Artha Company untuk memindahkan tim Sekar berada dikantornya. Satria saat ini sedang mengadakan kunjungan rutin kesalah satu kantor cabang THC yang berada diluar kota.
Satria sedang beristirahat dikamar hotelnya. Max baru saja membawakannya laporan kerja hari ini dari kantor cabangnya dan salah satu laporan yang paling Satira tunggu-tunggu. Laporan tersebut adalah laporan yang berisikan foto-foto keseharian Sekar selama ia tinggal keluar kota, yang Satria dapatkan khusus dari orang kepercayaannya. Satria mengesampingkan laporan kinerja kantor cabangnya terlebih dahulu dan mulai membuka amplop yang berisi foto-foto keseharian Sekar.
Tidak ada yang aneh dari lembar pertama dan kedua foto tersebut. Sampai pada lembar ketiga, keempat dan seterusnya, mata Satria menyipit sempurna guna memastikan sekali lagi jika pandangannya tak salah. Foto tersebut menampilkan kedekatan Sekar dengan 2 orang pria yang berbeda. Foto ketiga dan keempat melihatkan seorang pria yang sedang menggelayut manja dilengan Sekar dan Sekar tampak tersenyum dalam foto tersebut. Sedangkan foto keempat dan seterusnya pria yang bersama Sekar yang ia ketahui sebagai CEO Artha Company yang tak lain adalah Adimas Putra Aditya atau yang dikenal Dimas sedang menyentuh pipi wanita itu dan sangat terlihat kalau wajah Sekar tersipu malu.
“SIALAN !!”. Sengit Satria yang terlihat emosi ketika melihat foto-foto itu. Nafasnya terengah-engah menahan emosi.
“Tidak ada yang bisa menyentuhmu selain aku Sekar!”.
“Dan tidak ada yang boleh memilikimu selain aku!”.
“Kamu punyaku Sekar!”. Seru Satria penuh penekanan saat melihat tajam kearah foto-foto Sekar. Satria meremas salah satu foto itu dan melemparnya asal.
“Aarrghhh!!”. Teriak Satria melempar gelas champagne yang berada disampingnya. Entah kenapa dia tidak mau kehilangan Sekar. Tidak suka ketika Sekar bersama pria lain selain dirinya. Lily tidak boleh bersama pria lain selain Satria. Ralat, wanita itu buka Lily. Tapi Satria tetap tidak suka jika Sekar bersama dengan pria lain apalagi pria tersebut sampai menyentuhnya! Memikirkannya saja sudah membuat kepala Satria panas.
“Tidak akan kubiarkan seorang pun berada didekatmu”. Seru Satria seorang diri. Tak lama pria itu menghubungi seseorang melalu ponselnya.
“Kekamarku sekarang!”. Seru Satria yang langsung memutuskan panggilannya.
Max yang baru saja ingin mengistirahatkan tubuhnya mendadak membatalkan niatnya tersebut dan segera menuju ke kamar tuanya. Setelah dihubungin untuk segera menemui Satria, Max tanpa menunda lagi dan langsung menuju kekamar pria tersebut. Sesampainya didalam kamar, pria itu dikejutkan dengan kondisi kamar yang berantakan dengan terdapat pecahan gelas kaca dihadapannya.
“Sir. Ada apa? Kenapa ada pecahan kaca? Anda baik-baik saja Sir?”. Max mengkhawatirkan kondisi Satria, tapi jika diperhatikan bosnya ini tidak terlihat ada yang terluka.
Satria tidak menjawab pertanyaan Max. Dia sedang memikirkan sebuah rencana. Alisnya naik sebelah dan senyum menyeringai tampil diwajah tampan itu.
“Aku mau besok kau membawa Sekar dan mengurungnya disalah satu rumah pribadiku!”. Perintah Satria yang masih setia menunjukkan senyuman menyeringainya.
Max mengerutkan alisnya tak paham. Apa maksud bosnyanya. “Maksudnya Sir?”. Tanya Max.
“APA KAU TIDAK BISA MENDENGAR APA YANG AKU PERINTAHKAN BARUSAN !”. Bentak Satria menatap tajam asisten pribadinya ini.
“Aku bilang bawakkan Sekar kepadaku. Kurung dia didalam rumahku. Kalau bisa ikat dia bila perlu! Agar dia tak bisa kabur dari ku!”. Ucap Satria penuh penekanan. Matanya menunjukkan kobaran amarah.
Max menelan salivanya susah payah. Dia masih tidak mengerti kenapa tiba-tiba bosnya berprilaku diluar akal sehat seperti ini. Apa yang menyebabkan Satria bisa semarah ini sampai-sampai berniat untuk menculik Sekar. Iyakan? Amx tidak salah menyimpulkan bahwa dia diperintahkan untuk menculik wanita itu.
“T-atapi untuk apa Sir?”.
“Bodoh Max! Kenapa kau malah bertanya”. Batin Max merutuki dirinya sendiri.
Satria meraih kerah baju Max, menariknya kuat paksa untuk dibawa kehadapannya. Dan menatap tajam pada pria itu. Max yang sedikit terhuyung dan terangkat akibat tinggi badannya yang lebih rendah dari Satria mendadak pias. Takut-takut jika ini adalah malam terakhirnya berada didunia.
“Kau hanya perlu menjalankan perintahku! Apa kau sudah bosan hidup dan bekerja denganku? Katakan jika iya, biarku buang kau jauh dari sini!”. Ujar Satria yang semakin mengetatkan kepalannya dikerah baju Max. Rahang pria itu mengeras semakin menampakkan kengeriannya.
“Ti-tidak Sir”. Jawab Max terbata-bata menggelengkan kepalanya. Sungguh saat ini dia benar-benar takut mendapati bosnya yang sedang gila ini. Satria melepas genggamannya.
“Ba-baik Sir. Saya akan memerintahkan beberapa orang untuk segera membawa nona Sekar dan mengurungnya dirumah anda”. Lanjut Max sambil menundukkan kepalanya.
“Sekarang kau keluar dari sini!”. Perintah Satria.
Tanpa pikir panjang Max langsung saja pergi meninggalkan Satria seorang diri. Dia harus segera pergi sebelum bosnya berubah pikiran.
“Oh terimakasih tuhan kau telah memberiku umur panjang”. Ucap syukur Max sembari melangkah jauh dari kamar Satria.
“Kau akan menjadi milikku selamanya”. Seru Satria menatap pemandangan malam dari atas kamar hotelnya. Perlahan tersenyum jahat ketika memikirkan tak akan ada seorang pun sekarang yang bisa menyentuh wanitanya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam lewat. Sekar baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dia beserta tim yang mengerjakan projek Artha Company terpaksa lembur demi keberhasilan projek itu sendiri. Saat ini Sekar sedang menunggu taxi online yang sudah ia pesan dari 10menit yang lalu namun taxi tersebut belum juga menampakkan wujudnya.
“Mbak, sedang nunggu jemputan ya?”. Tanya salah satu satpam gedung.
“Eh iya pak. Udah 10 menitan tapi kok belum sampai-sampai ya taxinya”. Jawab Sekar sambil memperhatikan arah pintu masuk area gedung.
“Nunggu di dekat post satpam saja mbak. Kasian mbaknya nunggu disini sendirian, sudah mulai sepi soalnya”. Ajak sopan satpan tersebut.
“Oh nggak papa pak disini saja. Paling juga bentar lagi datang kok taxi onlinenya”. Tolak Sekar halus. Bukan apa-apa, toh tidak akan ada yang berbuat jahat kepadanyakan di gedung mewah ini? Pasti amanlah. Pikirnya.
“Ya sudah mbak kalau begitu. Saya permisi”. Pamit satpam tersebut yang hanya dijawab senyum dan anggukan kepala oleh Sekar.
Padahal tanpa Sekar sadari, dari tadi sudah ada yang memperhatikan dirinya dari jauh. Sekar tidak tau bahwa dirinya sedang terancam bahaya.
Sekar berusaha untuk menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel berselancar di akun media sosial miliknya sambil menanti taxi online pesanannya tiba. Tak berselang lama, tiba-tiba.
“Eenggghhh eeengghh!”. Sekar seketika kehilangan kesadarannya.