Aloha Readers !
Ada yang nungguin SatriaSekar nggak nih??
Ikutin terus kisah dua sejoli ini sampai tamat yaa guys hihi. Jangan lupa tap♥️nya. Terimakasih banyak-banyak!!
HAPPY READING..!
Sekar membuka matanya perlahan.
“Eenghh”. Sekar kembali memejamkan mata kuat saat mendapati sinar cahaya matahari pagi yang begitu terang. Kepalanya sedikit pusing.
“Kau tertidur seperti orang mati!”. Sentak suara bariton itu.
Sontak Sekar membuka matanya lebar. Dia terkejut bukan main saat mendengar suara seorang pria dan ditambah terkejut lagi ketika ternyata pria itu sedang duduk dengan santainya memperhatikkan Sekar dari sudut kamar.
“TUNGGU!”. Batin Sekar.
Sekar mulai benar-benar sadar ketika mendapati dirinya sedang berada ditempat yang sangat asing dan diatas tempat tidur mewah. Satria hanya memperhatikan tingkah laku Sekar yang terlihat kebingungan.
“Aku ada dimana? Kenapa bisa disini? Dan anda ! Anda kenapa bisa ada disini?”. Tanya Sekar panik. Karena seingatnya, dia sedang menunggu taxi online sambil memainkan ponselnya dan tiba-tiba..
“ANDA MENCULIK SAYA!!!”. Teriak Sekar.
Satria menggelengkan kepala. Masih setia menatap wanita yang sedang duduk diatas tempat tidur dengan histeris.
“Pertama, kau ada dirumahku. Kedua, aku disini karena ini rumahku. Dan Ketiga..”. Satria menggantungkan kalimatnya. Berjalan menghampiri Sekar dan duduk di pinggiran tempat tidur.
“Aku tidak menculikmu. Aku hanya menyimpan barang berhargaku ditempat yang tepat”. Ucap Satria dingin dengan mengelus pipi Sekar lembut.
Sekar yang masih belum bisa mencerna semuanya dengan benar hanya bisa menahan nafas saat tangan pria itu menyentuh wajahnya. Sekar seketika sadar langsung menepis kasar tangan Satria. Sekar memperhatikkan pakaiannya, dia akhirnya bisa bernafas lega saat masih memakai pakaian yang sama dan lengkap.
“Tenang.. Aku belum menyentuhmu, jadi kau tak perlu takut”. Seru Satria membuat bulu kudu Sekar merinding.
Sebenarnya apa ini? Sekar masih bertanya-tanya, kenapa dia bisa berakhir disini, dan apa maksud dari semua perkataan yang pria itu sampaikan. Otaknya tiba-tiba seperti berhenti berfungsi. Sekar menangkup wajahnya dan menyugarkan rambutnya. Menatap tepat kearah Satria berada.
“Kenapa saya bisa berada sini? Kalau anda tidak menculik saya lantas ini apa namanya?”. Sungut Sekar.
“JAWAB PAK SATRIA! KENAPA SAYA ADA SINI DIRUMAH ANDA!!”. Teriak Sekar saat tak mendapatkan jawab dari Satria.
“Karena kau nakal sayang!”. Jawab Satria yang langsung berubah marah. Pria itu mengepalkan tangannya, rahangnya mengetat kala mengingat Sekar telah disentuh oleh lelaki lain selain dirinya!
“Apa yang anda bicarakan pak?”. Alis Sekar mengerut. Dia sungguh tidak mengerti maksud dari pria ini.
“Saya mau pulang”. Lanjut Sekar turun dari tempat tidur melalui sisi lain.
“Kau tidak boleh pulang. Dan tidak akan bisa pulang!”. Sentak Satria.
“Anda sudah gila yaa? Anda sudah menculik saya! Ini sudah tindakan kriminal!”. Sekar mempercepat langkahnya menuju pintu kamar. Namun sepertinya langkah kecilnya kalah oleh langkah kaki Satria. Laki-laki tersebut menahan Sekar dan mendekapnya kuat.
“Aarghhhh ! Lepasin ! Lepasin ! Saya mau pulang ! Anda ini kenapa sih pak Satria”. Sekar berteriak dan terus memberontak melepaskan diri dari dekapan pria sinting ini.
“Sudahku bilang kau tidak boleh keluar dari dalam kamar ini Sekar! KAU DENGAR TIDAK!”. Bentak Satria kencang hingga membuat Sekar menegang ditempatnya. Tubuh Sekar gemetar mendengar pria ini berteriak. Sekarang rasanya ia ingin menangis.
Satria mencekal wajah Sekar kuat, menaikkannya agar wanita ini bisa melihat kearahnya.
“Kau harus jadi wanita penurut Sekar. Jangan membuatku marah sayang”. Ucap Satria penuh penekanan. Suaranya memang terdengar lembut tapi sangat menyeramkan bagi Sekar.
“Ssttt.. S-akitt”. Seru Sekar gemetar saat Satria tak kunjung melepaskan cengkraman pipinya.
“Makanya jangan nakal. Kau harus menurut denganku”. Jawab Satria menangkup wajah Sekar dan menyatukkan kedua kening mereka.
“Kau pria sinting!”. Ucap Sekar dengan berani.
Bukannya marah hal tersebut malah membuat Satria tertawa kecil.
“Kau akan menyukai pria sinting ini”. Jawab Satria sambil tersenyum.
Sekar mendorong kuat tubuh Satria dan memundurkan langkahnya. Menatap tajam kepada Satria, Sekar mendekap tubuhnya sendiri sebagai bentuk perlindungan. Dia masih tak habis pikir kenapa dirinya bisa berakhir disini, ditempat ini bersama pria sinting didepannya ini.
“Kau harus makan. Ini sudah lewat dari jam makan siang. Aku tidak ingin merawat orang sakit”. Seru Satria santai. Pria menggenggam ponselnya dan menghubungi seseorang untuk membawakan makanan yang akan dimakan oleh Sekar.
“Kalau begitu biarkan aku pulang!”. Sungut Sekar menatap tajam kearah Satria. Namun pria itu seolah-olah menulikkan telinganya.
Tak berapa lama pintu kamar diketuk dari luar, seorang wanita yang tidak terlalu tua tapi juga tidak terlalu muda terlihat sedang membawa nampan berisikan beberapa jenis makanan dan minuman. Sekar yang melihat ada peluang untuk dirinya kabur langsung mengambil kesempatan itu. Ia melihat wanita itu masih sibuk menata makanan diatas meja sedang Satria sibuk dengan ponselnya. Tanpa berpikir panjang Sekar langsung berusaha kabur.
Namum sayang lagi-lagi usahanya gagal. Satria berhasil mencegah wanita itu dengan menahan kedua lengannya kebelakang menggunakan tangan kanannya. Dan tangan kirinya mencengkram kuat pipi sekar.
“Aargh! Eenghh!”. Sekar meringis. Gerakan pria dibelakangnnya ini lebih cepat dari pada yang Sekar bayangkan. Sekarang lagi-lagi dia berada didekapan pria gila ini.
“Kau benar-benar menguji kesabaranku!”. Ucap Satria penuh penekanan tepat disamping telinga Sekar. Sekar memejamkan matanya kuat saat merasakan nafas Satria menyapu ditelinganya.
“Kau cepatlah selesaikan pekerjaanmu dan keluar dari sini!”. Bentak Satria pada wanita yang tadi membawakan makan untuk Sekar.
“Lepaskan!”. Teriak Sekar. Tapi Satria tak mengindahkan permintaan Sekar. Pria itu kembali mengunci pintu kamar dan memasukkan kuncinya kedalam saku celananya.
“NGGAK MAU! LEPAS SATRIA!”. Teriak Sekar semakin kencang saat Satria memaksanya untuk jalan.
“Kau lebih suka dipaksa ternyata”. Ujar Satria yang langsung membopong tubuh Sekar seperti sekarung beras.
“Aaaaa! Turun! Turunkan aku sinting!!”. Teriak Sekar mengentakkan kakinya.
Plaakkk!
“KAU GILA!!”. Teriak Sekar saat Satria memukul kuat b****g Sekar lantaran wanita itu masih saja berisik dan berontak.
Satria langsung menjatuhkan Sekar dikursi. Nafas wanita itu terengah-engah dan menatap tajam Satria.
“Duduk. Diam dan makan”. Seru Satria.
“Apa sebenarnya yang kau inginkan? Kenapa menahanku disini!”. Sungut Sekar tak mengindahkan perintah Satria.
“Aku menginginkan dirimu”. Ucap Satria tenang menatap mata Sekar.
“Sekarang makanlah dulu. Aku tak mau kau kurus dan kehilangan b****g montokmu itu”. Lanjut Satria menggoda Sekar dengan menaik turunkan alisnya.
“Sinting!”. Seru Sekar menatap tajam pada Satria. Sebenarnya wanita ini sudah tak berselera untuk makan. Namun ketika matanya melihat jejeran makanan yang terlihat menggiurkan mendadak perutnya keroncongan. Sekar menelan salivanya kasar melihat menu-menu yang sangat lezat. Perutnya lapar, tapi gengsi juga kalau dirinya dilihat rakus oleh Satria.
“Peduli setan! Yang penting makan”. Batin Sekar.
Sekar tak memperdulikan Satria yang sudah duduk dihadapannya. Ia sibuk dengan kegiatannya mengisi perut dengan beberapa makanan lezat didepannya ini. Marah-marah dan berusaha kabur ternyata cukup menguras tenaganya. Sepertinya Sekar harus mengisi cukup tenaganya agar bisa melarikan diri lagi. Walaupun sepertinya mustahil bisa keluar dari sini karena sedari tadi Satria selalu memperhatikkannya.
Satria memperhatikkan Sekar dalam diam. Entah kenapa Satria sampai melakukan hal gila ini dengan menculik dan menyekap Sekar didalam salah satu rumah miliknya. Tak banyak yang tau memang jika Satria memiliki sebuah rumah mewah ini. Hanya dia dan Max yang tau, dan rumah ini selalu dibersihkan dan dirawat oleh beberapa pekerja meski sang tuan rumah tak pernah berkunjung. Sampai akhirnya Satria mengunjungi rumah ini serta membawa seorang wanita.
Yang ada didalam kepala Satria adalah jangan sampai ada yang memiliki apalagi sampai berani-beraninya menyentuh wanita itu. Dia seperti melihat Lily pada dalam diri Sekar, layaknya seperti Lily, Sekar pun tak boleh ada yang memiliki selain Satria. Terdengar gila memang, tapi inilah Satria.
“Aku rasa jika matamu itu terbuat dari laser, aku bisa mati seketika”. Ujar Sekar tanpa menghentikan kegiatannya memotong daging steak dipiringnya.
Satria menaikkan alisnya sebelah, tak mengerti dengan maksud wanita ini. Sekar akhirnya mengangkat kepalanya memandang kearah Satria.
“Kau terus melihatku! Ku sarankan kau untuk berhenti melakukannya sebelum matamu berpindah keatas piringku dan menjadi menu cuci mulutku”. Ucap Sekar tenang menatap tepat dimata Satria sambil mengarahkan steak knife yang ia pegang kedepan mata Satria. Jika Satria berpikir Sekar akan takut terhadapnya, maka pria itu salah. Kalau Satria bisa mengancamnya terus-terusan Sekar juga bisa berlaku yang sama. Dia bukan wanita lembek.
Satria tertawa kecil sambil menggaruk alisnya yang tak gatal.
“Kau cukup berani”. Seru Satria menganggukkan kepalanya dan berdiri dari duduknya. Memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Sedang Sekar hanya mengendikkan bahunya.
“Makanlah yang banyak, aku akan keluar sebentar”. Ucap Satria dan langsung menglangkah menuju pintu. Sekar menghentikan makanya dan langsung beralih menghadap Satria.
“Kau mau kemana? Kau mau pergi dan meninggalkanku sendirian disini?”. Sentak Sekar.
Satria menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Sekar.
“Jadi kau ingin aku tetap disini? Tidur berdua dengamu diatas sana?”. Jawab Satria menggoda Sekar.
“Dalam mimpimu!”.
“Aku ingin pulang. Apa alasanmu menyekapku disini?”. Tanya Sekar menatap tajam pada Satria.
“Kalau aku bilang karena aku menginginkanmu, apa kau percaya?”. Satria balik bertanya dengan sorot mata yang dalam.
Praangg!!
Sekar yang merasa kesal segera meraih gelas yang berada disampingnya dan melempar gelas itu kearah Satria namun sayangnya lemparan tersebut meleset tidak mengenai tubuh Satria.
“Lain kali kau harus belajar membidik sasaran dengan tepat”. Seru Satria yang langsung melangkah keluar dan kembali mengunci pintu kamar tersebut dari luar.
Sekar yang mendengar suara pintu dikunci langsung berlari dan menggedor kuat pintu tersebut.
“SATRIA BUKA PINTUNYA!!”.
Buughh ! Bugghh ! Bughh!
“KELUARKAN AKU DARI SINI SIALAN!!”. Lagi teriak Sekar tak menyerah sambil terus memukul kuat daun pintu.
Bughh ! Buughh ! Buughh!
“SIAPA PUN TOLONG AKU”.
Merasa sia-sia berteriak seperti orang gila pun tidak akan membuat pintu dihadapnnya terbuka Sekar berhenti ditempatnya berdiri meremas rambutnya kuat.
“Ya tuhan apa sebenarnya terjadi”.
“Hidupku benar-benar sial setelah bertemu dengan pria sinting itu!”.
“Dan sekarang aku nggak tau apa niatnya menyekapku seperti ini”. Gumam Sekar kepada dirinya sendiri.