14. Ribuan kupu-kupu terbang (21+)

1626 Kata
Aloha manteman! Semoga kalian suka yaa sama cerita SatriaSekar. Emang alurnya agak sedikit lambat guys, tapi ceritanya bakal seru kok. Author jamin ?? Jadi jangan lupa tap ♥️ agar akoh semangat, karena jujur dapat ♥️ dari kalian tuh kaya suntikkan semangat gitu buat aku hihihi. HAPPY READING !! Sudah 3 hari Sekar terkurung dalam kamar sialan ini. Sekar juga sudah mencari dimana ponselnya berada tapi tidak ia temukan bahkan tas kantor yang sempat ia bawa pun tidak ada didalam kamar ini. Entah dimana Satria menyembunyikan barang-barangnya. Dan selama itu pula Satria tidak menampakkan batang hidungnya. Kemana pria sinting itu, setelah mengurungnya berhari-hari disini dia tak lagi mengunjungi Sekar. Meskipun Sekar diberi makanan dan beberapa pakaian ganti tapi hal itu tidak membuatnya senang apalagi tenang. Bagaimana kalau ada yang mencarinya? Apalagi teman-teman kantornya Maya dan Rama pasti mempertanyakan ketidakhadirannya beberapa hari ini padahal mereka lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan projek kerja mereka yang juga dibawah naungan THC yang tak lain perusahaannya Satria sendiri. Seperti pagi ini, Sekar sedang melihat pemandangan dari dalam jendala kamarnya. Sebenarnya kalau diperhatikan pemandangan diluar sana cukup menyejukkan hati. Sepertinya rumah ini terletak jauh dari pusat kota, karena mustahil ada penghijauan disekeliling rumah besar ini bila terletak dipusat kota jakarta. Sekar termenung memikirkan nasibnya yang seperti burung terkurung didalam sangkar emas. Jika saja jendela didepannya ini tak bertrali mungkin Sekar sudah berhasil kabur. Sialnya semuanya seperti sudah disiapkan matang-matang oleh Satria agar wanita itu tidak bisa kabur bahkan kedalam lobang kecil sekalipun. “Sudah merindukanku?”. Tanya suara bariton itu mengejutkan Sekar dari kegiatannya merenung. Sekar mengerutkan alisnya. Sejak kapan pria itu masuk? Dia tak mendengar ada suara pintu terbuka. Atau karena dia melamun jadi tak sadar. Sekar bersedekap menatap tajam pada Satria. “Sampai kapan aku harus berada dikamar sialan ini?”. Tanya Sekar langsung pada intinya. Satria mengendikkan bahunya santai terus melangkahkan kakinya menuju Kearah Sekar. “Apa tujuanmu menculik dan menyekapku disini?”. Lagi tanya Sekar. “Ck! Aku baru saja sampai, tapi mulutmu sudah cerewet tanya ini dan itu”. Sentak Satria pria itu menyelipkan rambut Sekar kesamping telinga wanita itu. Sekar menyentak kasar tangan Satria menyingkirkan tanga pria tersebut dari wajahnya. Ia tatap mata kanan dan kiri Satria bergantian. “Apa motifmu melakukan ini padaku?”. Tanya Sekar yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. “Apa kau menjalin hubungan dengan Dimas? CEO Artha Company tempatmu bekerja”. Bukannya menjawab pertanyaany Sekar, Satria malah memberikan Sekar pertanyaan balik. Sekar mengerutkan alisnya, matanya masih tetap menatap Satria. “Apa yang kau bicarakan?”. Sungut Sekar. “Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri pria itu menyentuh dan mengelus wajah cantikmu ini. Dan lagi..”. Satria menggantungkan kalimatnya yang tadinya pria itu mengelus lembut pipi Sekar kini berubah m mencengkram kuat pipi Sekar. “Sepertinya kau tidak cukup puas dengan satu pria kau juga bermain dengan Rama? Teman satu timmu?”. Lanjut Satria yang sudah terlihat seperti orang kesetanan. Entah kenapa setiap kali Satria mengingat foto-foto yang memperlihatkan keintiman Sekar dengan pria lain membuat kepalanya mendidih. “Kalaupun mereka menyetuh seluruh bagian yang ada pada tubuhku itu tidak ada urusannya denganmu! Mau aku bermain dengan 10 pria manapun juga tidak ada urusannya denganmu!”. Ucap Sekar tak kalah garang. Ia tidak takut sama sekali dengan Satria. Pria gila ini benar-benar ikut membuatnya gila. Memangnya siapa dia bisa mengatur Sekar! Satria mengetatkan rahangnya nafasnya terdengar kasar pria ini seperti siap ingin menelan Sekar hidup-hidup. Wanita ini benar-benar berani melawannya, bahkan wanita dihadapannya ini tak takut sedikitpun disaat mata wanita lain memandangnya dengan tatapan penuh pemujaan tapi wanita dihadapannya ini menatapnya dengan tajam. Satria menatap mata kanan kiri Sekar bergantian, dan beralih menatap bibir penuh Sekar. Bibir ini yang berani berteriak, mengatainnya sinting, bibir ini yang tak kenal takut. Cup! Satria mencium bibir Sekar. Awalnya hanya sekedar mengecup, tapi berakhir melumatnya penuh nafsu. Sekar masih bergeming matanya melebar menerima ciuman Satria yang mendadak dan membuatnya menegang seketika. Pria itu menyesap bibir Sekar kuat dan sedikit menggigitnya agar terbuka dan semakin mempermudah Satria mengulum bibir penuh Sekar. “Sstt.. Engghh”. Sekar melenguh merasakan bibirnya digigit oleh Satria dan saat itu juga Sekar tersadar dari keterkejutannya mencoba mendorong d**a Satria. Tapi tak berhasil lantaran Satria menahan leher belakang Sekar dan semakin memperdalam kulumannya. Satria mencengkram pipi Sekar yang berakhir membuat bibir wanita itu semakin terbuka didalam kuluman Satria. Seperti mendapatkan segelas air dingin dipadang gurun sahara, Satria semakin bernafsu mengulum bibir Sekar menyesapnya kuat lidahnya juga tak tinggal diam ikut membelit lidah Sekar dan menghisapnya kuat. “Eenghh”. Sekar melenguh lagi. Kepalanya terasa pening akibar ciuman penuh nafsu yang dilakukan oleh Satria. Wanita ini yang tadinya memberontak kini mengikuti ritme permainan bibir Satria tangannya yang tadi ia gunakan untuk memukul d**a pria itu kini meremas kuat baju Satria. ini pertama kalinya bagi Sekar. Meski terlihat amatir Satria tetap menikmatinya dan justru disitulah letak sensasi memabukkan. Sekar merasa aneh pada tubuhnya. Ada gelenyar aneh berdesir didalam darahnya, seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan didalam perutnya. Kuluman dua sejoli itu sukses menghasilkan suara decapan yang mengisi seluruh penjuru kamar. Setelah kehabisan nafas akhirnya Satria melepaskan ciumannya. Meski rasanya ia ingin melakukan hal lebih dari ini tapi Satria berusaha menahan dirinya. Nafas kedua manusia ini terengah-engah. “Kalau bibirmu ini berani berkata seperti tadi lagi..”. Satria menyentuh bibir bawah Sekar dengan ibu jarinya. “Kau tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada bibirmu ini atau bahkan bukan hanya pada bibirmu saja. Tapi yang lainnya juga”. lanjut Satria berbisik tepat diatas bibir Sekar. Pria itu kembali mencium bibir bawah Sekar dan menariknya. Satria tersenyum puas ketika berhasil membuat wanita itu terdiam tak berkutik. “Kau mau lagi?”. Tanya Satria sambil memanyunkan bibirnya seolah meminta ciuman itu lagi lantaran Sekar masih bergeming ditempatnya berdiri. “Berani menyentuhku sekali lagi ku pastikan kau tidak akan memiliki masa depan !”. Tegas Sekar mengarahkan pandangannya kebagian aset Satria dan kembali menatap pria itu. “Uuhh takut sekali”. Seru Satria sambil menutup asetnya berakting seolah-olah ia takut mendengar ancaman dari Sekar. Sekar menatap tajam pada Satria. Sebenarnya apa yang pria ini inginkan darinya? Jika diingat-ingat Sekar bukan dari anak sultan yang akan mewarisi harta melimpah. Dia juga bukan wanita yang sangat cantik luar biasa sampai ada yang berniat menculik dan menyekapannya kecuali Satria pria gila itu. Sekar hanya wanita biasa yang menjalani kehidupan yang sangat biasa juga. Lantas apa yang membuat pria didepannya ini melakukan hal semacam ini kepadanya?! Apa jangan-jangan Sekar akan diperjual-belikan oleh seorang mafia?! Sekar bergidik ngeri memikirkannya. “Sebenarnya apa yang kau inginkan Satria?”. Tanya Sekar meninggikan suaranya. Bahkan wanita itu sudah melupakan panggilan “pak” kepada Satria. “Apa kau akan menjualku pada seorang mafia keji?”. Tanya Sekar lagi sambil mengerutkan alisnya. Satria yang mendengar pertangaan Sekar tertawa terbahak-bahan. Sampai menitikan air matanya. “Kau lucu sekali Sekar”. Seu Satria setelah selesai dengan tawanya. “Kau pikir aku tidak mempunyai kehidupan diluar sana. Aku punya pekerjaan yang harus ku selesaikan, dan aku miliki keluarga yang menunggu kabarku!”. Bentak Sekar. Sekar lelah, lelah selalu berteriak, lelah selalu berusaha kabur dan lelah menghadapin pria didepannya ini. Sekar menghela nafasnya kasar. Pria ini tak kunjung menjawab satu pertanyaanpun yang ia ajukkan. “Apa yang kau inginkan dariku?”. Kali ini Sekar melunakkan suaranya. Mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur. “Jika aku mengatakan keinginanku apa kau akan memenuhinya?”. Tanya Satria. Sekar hanya menganggukan kepalanya. “Apapun itu? Kau yakin?”. Tanya Satria sekali lagi. Sekar memicingkan matanya. Jika di iyakan dia curiga Satria akan meminta hal-hal gila, tapi jika dia menjawab tidak bisa dipastikan Sekar akan mendekap dikamar mewah ini seumur hidupnya. “Asal kau tidak meminta hal-hal gila!”. Tegas Sekar. Satria menglangkah perlahan mendekati Sekar. Saat ini pria itu berdiri tepat dihadapan Sekar, menundukkan kepalnya meraih wajah cantik wanita ini. “Kau saja sudah membuatku gila sayang. Jadi aku tak perlu hal gila lainnya”. Seru Satria memandang Sekar. Sekar memutar bolanya malas. Rasanya dia sudah muak dengan kata-kata gombal yang keluar dari mulut pria satu ini. “Ku tebak sudah banyak korban berjatuhan akibat menerima rayuan manis dari sang casanova”. Ucap Sekar mengejek Satria sambil mengendikkan bahunya. Sudut bibir Satria terangkat, menciptakan senyuman smirk. Satria menyentuh bibir halus Sekar, dan ibu jarinya sedikit menarik bibir bawah Sekar. Sekar yang tak ingin kejadi tadi terulang kembali langsung menghempas jauh tangan Satria. “Kau takut aku akan menggigitnya lagi?”. Tanya Satria berniat mengejek balik Sekar. “Aku akan berlaku lembut, asalkan kau menjadi wanita yang penurut”. Seru Satria mengucap puncak kepala Sekar. “Dalam mimpimu!”. Ketus Sekar. Pria didepannya ini benar-benar sudah tidak tau malu lagi berbicara dengan. “Bahkan ada kegiatan yang lebih seru dibanding yang tadi, kau penasaran? Mau mencobanya?”. Tanya Satria menggoda Sekar menaik turunkan alisnya. “Satria!”. Bentak Sekar sambil memukul Satria menggunakan bantal yang ada didekatnya. Satria tertawa kecil tak peduli dengan tindakan Sekar, pria itu meraih bantal yang digunakan untuk memukulnya dan membuangnya jauh dan berhasil meraih pergelangan tangan Sekar. “Cepat katakan kau mau aku berbuat apa, menyuruhku membangun seribu candi dalam waktu semalam begitu?”. Tanya Sekar lagi mengingatkan keinginan pria itu. “Kau yakin mau mendengarkan keinginanku?”. Satria balik bertanya. Sekar memutar bola matanya malas. “Dari tadi bicaramu hanya mutar-mutar disitu saja! Katakan apa yang kau inginkan dariku? Selagi itu bukan permintaan yang gila, aku akan memenuhinya..” Seru Sekar meyakinkan Satria. Satria menatap dalam mata wanita didepannya ini. Raut wajahnya berubah serius, rahangnya yang tegas semakin terlihat sempurna. “Aku ingin kau menikah denganku”.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN