15. Menyimpannya ditempat yang tepat!

1587 Kata
Terimakasih yang sudah baca tulisanku yang sangat jauh dari kata sempurna ini, semoga kalian menikmati kisah SatriaSekar yang aku tulis. Temenin terus kisah mereka berdua sampai akhir yaaw, aku jamin ceritanya bakal makin seruww hihihi babayyy HAPPY READING !! “APA!! KAU GILA YA!”. Teriak Sekar mendengarkan permintaan Satria yang menurutnya sangat sangat gila. Pria ini apa katanya? Ingin menikah dengan Sekar?! Bagaimana bisa mereka yang baru beberapa minggu bertemu Satria sudah ingin menikahi dirinya saja. Pertemuan mereka juga bukan pertemuan manis ala-ala anak remaja. Justru menurut Sekar pertemuannya dengan Satria adalah gerbang kesialan. Setiap hari setelah bertemu dengan pria itu hidupnya dipenuhi dengan kesialan satu dan kesialan lainnya. “Sudah kuduga, kau akan menolaknya”. Ucap Satria mengendikkan bahunya. “Yang benar saja!”. Sungut Sekar “Kita itu baru kenal beberapa minggu, kau menculik terus mengurungku disini! Sekarang kau meminta hal gila itu!”. Lanjut Sekar. “Memangnya apa yang buruk dari hal itu?”. Tanya Satria santai. “Kau ini! Seorang CEO perusahaan Top 3 tapi kelakuanmu lebih buruk dari seorang tukang becak!”. Sekar meluapkan amarahnya. “Hahaha”. “Ternyata selain untuk dikulum, Bibirmu ini juga pintar menyindir orang lain rupanya”. Bukannya marah Satria justru tertawa mendengar umpatan Sekar kepadanya. Sekar hanya menatap heran pada Satria. Pria ini benar-benar pria gila! Pikirnya. “Kau tidak akan rugi menikah denganku. Ayolah, siapa yang tidak tergila-gila dengan pria tampan lagi kaya Sekar..”. Lanjut Satria. “Ada! Aku orang itu! Aku tidak gila terhadap pria gila seperti mu SATRIA!”. Seru Sekar menekankan kalimat terakhirnya. “Jadi kau tidak mau menikah denganku?”. “Tidak!”. “Kenapa?”. “Karena.. karena aku hanya akan menikah dengan pria yang ku cintai. Dan kau bukan pria yang kucintai, kau jauh dari pria standar idamanku!”. Jawab Sekar menantang Satria. Satria tersenyum tipis, menjauhkan dirinya dari Sekar dan berjalan menuju pintu. Dia harus kembali kekantor, setumpuk pekerjaan sudah menunggu Satria dengan manis disana. Satria membalikkan badannya sebelum benar-benar meninggalkan kamar tersebut. “Kalau begitu kau harus belajar mencintaiku”. Seru Satria mengedipkan mata sebelah kirinya kepada Sekar dan langsung keluar dari kamar dan tidak lupa mengunci pintu kamar tersebut dari luar. “KAU BENAR-BENAR SINTING!”. Teriak Sekar kencang yang masih bisa didengar oleh Satria, pria itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mengingat tingkah brutal Sekar. Baru kali ini dia bertemu dengan seorang wanita dan menolak dirinya mentah-mentah. Membuat Satria semakin ingin memiliki wanita itu hanya untuk dirinya seorang!. Satria sudah berada diluar halaman rumah yang menjadi tempat ia menyembunyikan Sekar. saat ini pria itu sedang memasuki mobilnya. “Kita kembali kekantor Sir?”. Tanya Max ketika tuannya sudah duduk dengan manis dikursi penumpang. “Hmm”. Deham Satria sebagai jawaban. Jika seperti ini Satria kembali pada mode dingin tak tersentuh. Saat bersama Sekar saja seperti seorang casavona yang penuh bualan. Tapi jika sudah diluar dan bertemu dengan yang lain, pria ini kembali kesetelan pabrik. Sementara itu setelah ditinggalkan lagi oleh Satria, Sekar memikirkan cara bagaimana ia bisa keluar dari sini. Sekar tak bisa terus-terusan berada disni, ini sudah hampir satu minggu dirinya diculik dan dikiring oleh Satria. Bagaimana kalau ayah dan ibunya sedang menghubungi diri, sedang Sekar sendiri sekarang tak tau dimana ponselnya disembunyikan oleh Satria. “Masa iya aku turutin permintaanya Satria?”. Tanyanya pada diri sendiri. “Gak! Gak mungkin! Sama aja gilanya kalau aku ngikuti kemauan laki-laki sinting itu!”. “Tapi gimana dong semua akses ditutup begini! Jendela aja pakai ditralis segala!”. “Ck! Bener-bener kaya dipenjara gue!”. Gerutu Sekar. Meskipun dirinya difasilitasi dengan pakaian mewah, makanan-makanan enak serta beberapa buku yang Sekar minta untuk menemaninya membunuh kebosanan tapi hal itu tidak membuatnya tenang dan senang. “Gue harus mikirin cara lain!”. Tekad Sekar agar bisa keluar dengan selamat dari sangkar emas ini. ** Satria baru saja menyelesaikan pekerjaannya, jam sudah menunjukkan pukul 16.16 tapi Satria masih betah berada dalam kantornya. Satria sedang memperhatikan rekaman cctv yabg ada di ipadnya. Iya. Pria itu memasang kamera cctv dikamar yang ditempati oleh Sekar. Satria penasaran apa saja yang dilakukan oleh wanita itu jika ditinggal oleh dirinya. Wanita itu terlihat mondar-mandir kesana kemari, sesekali melayangkan tinjuan ke udara dan mengguncang-guncangkan trali jendela yang ada dikamarnya. Hal itu membuat Satria tersenyum melihat tingkah aneh Sekar. Wanita itu masih berusaha untuk keluar dari dalam kamar. Terdengar suara ketukan pintu dari luar dan tak lama setelahnya masuklah Max kedalam ruangan kerja Satria. Pria itu melangkahkan kakinya dan berdiri tepat didepan meja kerja Satria. Max sempat sekilas melihat apa yang sedang ditonton oleh sang majikan. “Sebenarnya, kenapa anda sampai menculik dan mengurung nona Sekar Sir?”. Tanya Max hati-hati. Bahkan sampai saat ini dia tidak tau alasan pasti majikannya menculik dan menyembunyikan Sekar disalah satu rumahnya Satria. Bahkan pria itu sampai membuat keterangan izin tidak masuk kerja palsu untuk Sekar yang dikirim ke Artha Company. Sehingga tidak ada yang curiga dengan ketidakhadiran wanita itu dilingkungan kerjanya. Satria mengangkat kepalanya menatap tajam kearah Max. “Aku tidak menculiknya! Aku hanya menyimpang barangku ditempat yang tepat!”. Jawab Satria garang. “Hah barang? Wah udah nggak waras bos gue nih! Bisa-bisanya nona Sekar disamain sama barang!”. Batin Max kaget mendengar penuturan Satria. Max tak berani bertanya lebih jauh lagi. Cukup sekali saja Max merasakan amukan singa! Tidak untuk yang kedua kalinya. Max hanya bisa berdoa semoga tuannya ini tidak semakin berbuat hal gila lainnya. “Mobil sudah siap?”. Tanya Satria. “Sudah Sir, anda ingin pulang sekarang?”. “Hm. Hari ini pulang ke apartment”. Jawab Satria. “Tapi tadi pak Tirto berpesan untuk anda pulang kerumah Sir, akan ada acara makan malam dengan keluarga pak Dermawan”. Kata Max menyampaikan amanat tuan besarnya. “Sekarang yang tuan mu aku atau papi?”. Tanya Satria. “Baik Sir. Pulang ke apartment”. Jawab Max langsung menundukkan kepalanya dan segera mengundurkan diri untuk menghubungi driver. Satria tau hari ini akan ada makan malam bersama rekan bisnis papinya. Bukan Satria tak tau kemana tujuannya tersebut. Tirto sudah beberapa kali menyinggung soal anak perempuan dari Dermawan. Ia tahu sang papi berniat akan menjodohkan dirinya dan anak dari rekan bisnisnya itu. Makanya Satria memilih pulang ke apartmentnya sendiri malam ini. Satria sudah berada didalam mobilnya menuju ke apartment pribadinya. Seperti biasa perjalanan pulang kantor kota jakarta dipenuhi oleh kemacetan. Satria tiba-tiba teringat oleh Sekar. Sedang apa wanita itu? Satria sedikit merindukan mulutnya yang bawel, mulut yang berani mengatainya sinting dan pria gila. Satria tersenyum tipis jika mengingatnya. Hal itu juga terlihat oleh Max yang ada didepan. “Udah gila ya ketawak-ketawak sendiri!”. Batin Max bergidik ngeri. Ponsel yang berada disaku celana Max bergetar hebat menandakan adanya panggilan masuk. Max memeriksa panggilan masuk tersebut dan ternyata panggilan itu berasal dari bos besarnya yang tak lain adalah papinya Satria sendiri. Max melihat kebelakang arah kursi penumpang yang ditempati oleh Satria, Max melihat Satria tengah memejamkan matanya. Max dibuat bingung haruskan ia menjawab panggilan tersebut atau dia biarkan saja. Dia tak mau mendapat amukkan dari Satria lagi. Satria yang terganggu dengan suara bisinh dari ponsel Max pun akhirnya bersuara tanpa membuka matanya. “Ponselmu bising sekali Max! Aku ingin istirahat sebentar”. Tegas Satria. “A-anu i-ini Sir. Pak Tirto menelpon saya, apa harus saya angkat?”. Tanya Max tergagap. Seketika Satria membuka matanya menaikkan sebelah alisnya. Tak menyangka papinya akan menghubungi Max, karena Satria sengaja mematikan ponselnya agar terhindar dari panggilan kedua orang tuanya. “Terserahmu. Kalau kau masih ingin bekerja denganku, kau tau harus melakukan apa”. Seru Satria dengan tenang dan kembali menutup matanya sambil bersedekap. Tak perlu ditanya untuk yang kedua kalinya. Itu artinya Max tidak boleh menerima panggilan masuk tersebut. Tanpa pikir panjang Max langsung merubah nada dering ponselnya menjadi hening. Ia tak mau membangunkan singa yang sudah anteng. “Tinggal bilang nggak susah amat sih bos! Pakai ngancem segala”. Gerutu Max dalam hati. Satria sudah berada digria tawang miliknya. Pria itu sedang menyandarkan dirinya di sofa ruang tv, membuka lilitan dasi dari lehernya dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Beberapa hari ini cukup melelahkan bagi Satria. Satria sudah sibuk dengan urusan kantor sekarang makin sibuk dengan mengurus seorang wanita yang ia sembunyikan. Satria memijit kepalanya sendiri. Besok masih hari jum’at dan dia masih harus disibukkan dengan pekerjaan yang tiada henti. Apalagi tadi Max sempat mengingatkan dirinya bahwa besok akan ada beberapa meeting diluar kantor. Ingin rasanya Satria kabur dari semua ini dan hidup tenang tanpa beban. Mengingat hal itu, tiba-tiba Satria terpikirkan untuk menghabiskan waktu weekendnya bersama Sekar. Satria juga penasaran bagaimana reaksi wanita itu, melihat Satria yang akan tidur bersamanya dan menghabiskan waktu selama weekend hanya berdua. Satria tersenyum tipits. “Can’t wait!”. Seru Satria sambil meninggalkan ruang tv dan segera memasuki kamar pribadinya dan segera membersihkan badan. Setelah selesai dengan segala rangkaian rutinitasnya, akhirnya Satria bisa membaringkan tubuh lelahnya diatas kasur empuk ini. Pria itu sambil menatap lurus kearah foto besar yang terpajang didinding kamarnya. “Apa kau melihatnya dari sana Ly?” “Kau pasti tidak suka atas apa yang aku lakukan terhadap perempuan itu”. “Sudah bisa kubayangkan kau akan mengomeliku dari atas sana”. Seru Satria tersenyum tipis. “Ternyata dia juga cerewet sepertimu sayang”. Lirih Satria berbicara pada pajangan besar yang menampilkan sosok wanita yang sangat cantik dengan senyum manisnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN