16. Aku tidak suka.!

1665 Kata
Alohaaa Semoga kalian masih betah nungguin cerita SatriaSekar, aku jamin bakal makin seruww Abiieezz xixixixi Makasih juga yg sudah mampir dan tap ♥️ temenin kisah SatriaSekar sampai akhir yaww babay !! HAPPY READING..!!! Dikediaman rumah besar Tirto, 3 anggota keluarga sedang menikmatin sarapan paginya masing-masing. “Papi jadi hari ini buat nemuin Satria dikantor?”. Tanya Maryam membuka obrolan. “Hhmm, anak itu tidak ada kabar dari kemarin. Papi jadi nggak enak sama pak Dermawan sudah datang kerumah membawa anaknya, tapi Satria nggak kunjung datang”. Jawab Tirto sedikit kesal lantaran sang anak tak bisa diajak kerjasama. “Papi yakin mau ngejodohin mas Satria sama anaknya teman papi itu? Jauh banget dari seleranya mas Satria pii..”. “Almarhuma kak Lily itu anggun cantik elegan, yang tadi malam kaya ulet keket gitu ihh. Dinda aja nggak srekk!”. Seru Dinda menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadap wanita yang katanya akan dijodohkan kepada sang kakak. “Husshh jangan ngomong gitu kamu dek!”. Kata Maryam mengingatkan anak bungsunya. Sedang Dinda hanya mengendikkan bahunya tak peduli. Tirto memang berencana untuk mengenalkan seorang wanita kepada anaknya, wanita itu merupakan anak dari sahabatnya sendiri dan juga salah satu rekan bisnisnya. Mengingat Satria tak kunjung mengenalkan wanita lain setelah kepergian tunangannya 5tahun yang lalu. Menurut Tirto, Satria harus tetap menjalankan hidupnya dengan bertemu dengan orang baru, tidak melulu terikat oleh kisah dimasa lalu. Tirto mengerti Satria sangat mencintai almarhuma Lily, tapi mau sampai kapan Satria terus-terusan dalam suasana berkabung. “Nggak ada salahnya mencoba”. Seru Tirto menimpali ucapan Dinda. Ketiga orang dewasa tersebut telah menyelesaikan sarapan pagi mereka. Dinda dengan kegiatannya sebagai seorang mahasiswa, Maryam seperti pada umumnya ibu-ibu sosialita yang akan berkumpul dan saling memamerkan harta kekayaan, Tirto seperti niatnya diawal ingin bertemu dengan anak sulungnya yang sekarang sudah menggantikan dirinya sebagai CEO dari perusahaannya sendiri. Satria mengangkat kepalanya kala mendengar pintur ruangnya terbuka begitu saja. Ketika melihat siapa yang datang Satria langsung menyandarkan badannya dikursi kebesarannya. Sebenarnya Satria sudah bisa menebak siapa yanh datang, karena selain adik perempuannya dan kedua orang tuanya tak ada yang berani asal masuk begitu saja keruang kerjanya. “Papi”. Sapa Satria. “Kau susah sekali untuk dihubungin dari kemarin Satria”. Seru Tirto. “Satria lagi banyak kerjaan pi, nggak sempet ngurusin yang lain-lain”. Jawab Satria menghampiri sang ayah yang sudah duduk manis disofa ruangannya. “Sibuk menghindar?”. Satria mengerutkan alisnya, pura-pura tidak tau maksud sang papi. “Menghindar? Menghindar soal apa?”. Tanya Satria. Pembicaraan mereka terpotong saat seorang office boy membawa minuman yang telah Satria minta untuk tamunya yang tak lain adalah papinya sendiri. “Ya menghindar dari acara makan malam yang tadi malam berlangsung”. Tirto to the point dengan maksudnya. Satria menggelengkan kepalanya sambil menggaruk alisnya yang tak gatal. Ia enggan untuk menanggapi pernyataan sang papi. “Kamu masih ingat sama anaknya pak Dermawan? Si monika, seinget papi dulu kalian satu sekolah, dia baru pulang dari Sidney”. Seru Tirto menceritakan tentang salah satu anak sahabatnya. Sudah Satria duga kemana arahnya. Demi tuhan Satria sudah sangat malas kita orang tuanya mulai mengenalkan atau menjodoh-jodohkan dirinya seperti ini. Soal pasangan biar jadi urusan Satria, Satria tidak peduli jika sampai nanti dia masih belum bisa melupakan mendiang kekasih hatinya atau belum bisa menemukan pengganti wanita yang sudah tertanam dihatinya itu. Satria menghela nafasnya kasar. “Nggak inget, lagian dia jauh dibawah Satria pi. Satu almameter mungkin iya tapi tidak satu angkatan”. Jelas Satria malas. ”setidaknya kamu kenal”. “Nggak kenal!”. Jawab Satria cepat. Tirto memperhatikan anak sulungnya. Lelaki paruh baya itu sudah menebak jika respon anaknya akan seperti ini, tapi tak ada salahnya mencoba toh. Menghela nafasnya kasar. “Kalau begitu kenalan dulu”. Ujar Tirto. Jika Satria beralasan tidak mengenal Monika, maka itu bagus mereka bisa saling kenal terlebih dahulu. Satri mengerutkan alisnya, menatap tak suka kepada sang papi. “Pi, Satria tau kemana maksud papi. Tapi sebelumnya Satria minta maaf, papi nggak usah repot-repot soal urusan hati Satria. Kalau memang tuhan kasih kesempatan Satria buat jatuh cinta lagi bagus, kalau nggak Satria juga nggak masalah. Papi sama mami cukup doakan aja”. Seru Satria panjang lebar menjelaskan perasaannya kepada sang papi. Satria paling tidak suka apalagi dipaksa-paksa perihal hati dan perasaannya. Tirto tertegun mendengar penuturan anak sulungnya. Memang selama ini Tirto tidak begitu peduli soal kehidupan asmara sang anak. Selagi perempuan dan pria yang bibawa anak-anaknya adalah orang-orang yang memiliki background yang baik dan tidak mempunyai histori kriminal selebihnya Tirto tidak mempermasalahkan hal lainnya. Tirto pandangi sang anak, pria itu menyesap secangkir kopi yang telah disajikan sebelum kembali melanjutkan perbincangan mereka. Ia tatap kembali sang anak, Tirto berusaha untuk tidak terlalu menekan Satria. Dia paham betul anaknya ini, jika semakin ditekan akan semakin menolak. “Papi dan mamimu semakin hari semakin menua Satria. Kami juga ingin melihat anak-anak kami bahagia bersama keluarga kecilnya, kami juga menginginkan seorang cucu”. Seru Tirto pelan. “Tidak ada salahnya mencoba, cobalah dulu untuk berkenalan dengan Monika. Papi janji, jika kamu merasa tidak cocok papi tidak akan memaksa”. “Papi merasa tidak enak karena sudah mengiyakan ajakan Dermawan untuk saling mengenalkan anak kami”. Lanjut Tirto. Satria menaikkan sebelah alisnya saat mendengarkan penuturan sang papi. Tidak akan memaksa katanya?!. “Papi yakin tidak akan maksa Satria? Kalau ternyata Satria nggak cocok sama perempuan itu?”. Tanya Satria memastikan sekali lagi tentang pernyataan papinya. “Monika anak yang cantik Satria, papi yakin kamu akan suka. Tapi kalau kamu tetap merasa tidak cocok, papi tidak akan memaksa”. Jawab Satria. “Oke deal!”. Seru Satria menganggukkan kepalanya sambil menyesap minuman didepannya. “Lily pastinya juga ingin melihatmu bahagia dan menjalani kehidupanmu sendiri Satria. Justru mendiang Lily akan sedih melihatmu yang terus terikat oleh masa lalu”. “Jangan bawa-bawa Lily didalam pembicaraan kita pi!”. Tegas Satria menatap garang kepada sang papi. Pria itu paling tidak suka almarhuma tunangannya dibawa-bawa. Satria langsung berdiri dan kembali kemeja kerjanya meninggalkan sang papi. “Kalau nggak ada hal lain lagi, papi boleh pulang sekarang”. Ujar Satria yang secara tidak langsung mengusir Tirto. Tirto tidak marah atas perlakuan sang anak. Salahnya sendiri yang membahas persoalan yang sangat sensitif bagi Satria. Pria paruh baya itu lantas berdiri dari duduknya dan menatap kearah sang anak. “Pergilah temui Monika saat jam makan siang nanti, papi sudah mengatur jadwal pertemuanmu dengannya. Asisten pribadimu akan mengantarmu nanti”. Seru Tirto setelahnya langsung pergi meninggalkan kantor sang anak. Satria menatap tajam kepergian sang ayah. Tangannya mengepal menahan emosi yang dirasakannya. “Sialan!”. Sentak Satria memukul meja kerjanya. ** Satria akhirnya memilih untuk memenuhi keinginan papinya agar ia bertemu dengan seorang wanita yang sudah diatur oleh orang tuanya. Pria itu berpikir jika cepat bertemu cepat juga selesai kegiatan jodoh menjodoh sialan ini selesai. Karena sang papi juga sudah berjanji jika Satria tidak suka dengan perempuan pilihan orang tuanya, Satria boleh menolak tanpa perlu dipaksa lagi tentang perjodohan ini. Belum apa-apa Satria sudah dibuat kesal lantaran sudah sampai 20menit dirinya tiba direstoran yang sudah ditentukan tapi sampai saat ini perempuan yang bernama Monika itu belum juga menampakkan batang hidungnya. “Sungguh membuang-buang waktuku saja”. Kesal Satria. Pria tersebut menatap tajam kearah asisten pribadinya berada. Max yang mendapat hardikkan dari bosnya sedikit berdeham melonggarkan dasinya. Pria itu merasa tercekik hanya dengan tatapan tajam dari Satria. Pria itu menyesap kopinya tak menghiraukan tatapan dan omelan bosnya. Jika ditanggapi juga percuma, jadi lebih baik diamkan saja. “Hai, kamu pasti Satria kan?”. Byuurrr!! Max menyemburkan kopi yang baru saja masuk kedalam mulutnya kala ada seorang wanita datang menyapa dengan gaya pakaiannya yang sangat, sangat minim memperlihatkan belahan dadanya yang cukup besar. Ditambah corak dressnya dan hanya sejengkal dari atas betis itu sangat mecolok. “Jangan bilang ini perempuan yang bakal dijodohkan oleh tuan besar kepada pak Satria?”. Tanya Max dalam hatinya. Satria menelisik penampilan wanita yang baru saja menyapanya ini. Memperhatikan dari atas sampai bawah mengerutkan dan menaikkan sebelah alisnya melihat bagaimana penampilan wanita ini yang menurutnya sangat aneh. “kau cosplay jadi macam tutul?”. Tanya Satria yang tak menghiraukan sapaan wanita. Max yang mendengar perkataan bosnya berusaha menahan tawanya yang akan keluar. Monika yang mendapatkan cibiran dari Satria berusaha tak memasukkan kedalam hatinya. “Ternyata benar kamu Satria. Aku Monika Lavina Dermawan”. Seru Monika yang sudah duduk dihadapan Satria sambil mengulurkan tangannya kepada pria didepannya ini. Meskipun sedikit kesal karena dicibir tapi Monika memilih untuk membiarkannya lantaran wanita itu sudah terpesona dengan ketampan Satria. Jika sudah begini mana bisa dia menolak perjodohan ini. Pria seperti Satira adalah pria idamannya, tampan luar biasa kesempurnaan fisik yang sungguh luar biasa. Monika sampai bergidik ngeri memikirkan hal yang aneh-aneh. Satria hanya menatap tangan lentik yang berada didepannya tanpa ingin menyambut juluran tangan tersebut. Satria sibuk memikirkan apakah papinya benar-benar ingin menjodohkannya dengan wanita seperti ini. “Papi mami sehat mau punya mantu model begini?”. Tanya Satria dalam hati. Menggaruk alisnya yang tak gatal. “Kau tidak minta maaf karena sudah membuatku menunggu?”. Tanya Satria yang terdengar dingin. Monika menarik tangannya yang tak dapat balasan dari Satria. “Pria ini cukup dominan”. Pikir Monika. “Maaf, tadi abis dari salon dan sedikit macet”. Jawab Monika dengan suara manja yang dibuat-buat olehnya. Biasanya jika Monika sudah mengeluarkan jurus andalannya ini, semua pria akan luluh terhadapnya. Mendengar jawaban dari Monikan yang terdengar tidak masuk akal membuat Satria enggan berbasa basi lebih lama lagi dengan wanita nyentrik bin aneh ini. Orang gila mana yang tidak mengetahui kalau jakarta itu kota tersibuk dan penuh kemacetan. “Buang-buang waktu saja!”. Batin Satria. Pria itu langsung bangkti dari tempat duduknya dan langsung pergi meninggalkan Monika seorang diri. Satria meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. “Aku tidak suka dengan perempuan itu, jadi hentikan niat papi untuk menjodohkannya denganku!”.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN